Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 25


__ADS_3

Didalam apartemen Bella.


"Kenapa kamu mengajakku ke apartemenmu Bel? Tidak bisakah kita berbicara ditempat lain?"


"Karena disini lebih privacy Rei. Aku lebih nyaman berbicara denganmu jika hanya ada kita berdua saja," ucap Bella sambil memainkan kancing kemeja Rei.


Sebenarnya, apa yang dia rencanakan? Batin Rei curiga.


"Baiklah Bel. Aku akan mulai menjelaskan padamu," ucap Rei seraya melepaskan tangan Bella dari kemejanya.


"Baiklah, apa yang ingin kamu jelaskan sayang..." tanya Bella sambil duduk disofa.


"Semua yang kamu lihat tadi, tidak seperti yang kamu pikirkan. Dan kamu harus meminta maaf kepada Nicha atas apa yang telah kamu lakukan terhadap dirinya."


"Apa!? Kamu tidak salah, menyuruhku untuk meminta maaf kepada wanita itu? Tidak! Aku tidak mau. Lagi pula, harusnya dia yang meminta maaf kepadaku, karena telah mencoba merayu calon suamiku."


"Nicha bukan wanita penggoda Bel. Dan dia tidak pernah mencoba merayuku!"


"Oh, begitu. Jadi, kamu ingin mengatakan bahwa kamulah yang mendekati wanita itu? Seleramu sungguh rendah Rei. Memang apa kurangnya aku dibandingkan dengan wanita itu, sampai kamu tega berselingkuh dibelakangku?" ucap Bella dengan mata berkaca-kaca.


"Bella... Kamu tenang dulu. Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Selingkuh dengan siapa? Aku menganggap Nicha seperti adikku sendiri, karena dia adalah teman kuliah Renata," jelas Rei sambil memegang kedua bahu Bella.


"Lalu, kemana kamu mengajak wanita itu pergi? Kalian berkencan bukan?"


Rei menggeleng mendengar ucapan Bella.


"Tadi itu, aku melihat Nicha sedang menunggu angkutan umum. Aku merasa kasihan padanya, lalu aku menawarkan untuk mengantarnya pulang. Dan dalam perjalanan pulang, Nicha berniat untuk membeli buku. Akhirnya, kami mampir dulu ke sebuah toko buku terdekat."


"Benarkah itu?" Bella masih belum yakin dengan ucapan Rei.


"Tentu saja. Untuk apa aku membohongi calon istriku sendiri," ucap Rei sambil menatap lekat kedua mata Bella.


Maaf, aku harus sedikit berbohong kepadamu Bel. Batin Rei.


Heuh... Apa kamu sedang mencoba bermain denganku Rei. Aku tidak akan tertipu olehmu. Batin Bella.


"Hemm, baiklah kalau begitu. Tapi ada 1 syarat yang harus kamu penuhi, untuk membuat aku bertambah yakin padamu."


"Syarat? Apa itu?"


Bella mendekatkan wajahnya kearah Rei. Lalu...


CUP!


Bella langsung mengecup singkat bibir Rei. Sontak Rei terkejut dan langsung mendorong tubuh Bella.


"Apa yang kamu inginkan Bel?"


"Ayolah Rei. Kenapa kamu bersikap naif. Disini hanya ada kita berdua, lalu apa lagi yang harus kita lakukan?"


Bella semakin liar. Ia langsung menyambar kancing kemeja Rei dan hendak membukanya.


"Bella, Bella. Tunggu. Apa kamu yakin ingin melakukannya?"


"Tentu saja aku yakin sayang. Apa kamu tidak ingin menikmati tubuh calon istrimu yang cantik ini? Aku akan memberikan semuanya kepadamu sayang," bisik Bella.


"Tentu saja aku juga ingin. Tapi aku pikir ini terlalu cepat. Sebaiknya kita menunggu sampai pernikahan berlangsung."


"Itu terlalu lama sayang. Kenapa kamu sangat munafik. Lagi pula, tidak ada yang mengetahui jika kita melakukannya disini..."


Rei benar-benar tidak bisa menahan aksi Bella. Disisi lain, ia juga tidak bisa membuang hasrat laki-lakinya.


Bella memang sangat cantik dan seksi. Batin Rei seraya menelan salivanya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama. Bella telah berhasil membuka kemeja Rei. Perlahan tapi pasti, Bella menuntun Rei untuk merebahkan tubuhnya disofa. Lalu terjadilah pergumulan antara dua insan tersebut.


Rei berusaha tidak menjadi liar. Ia menciumi leher dan ******* bibir Bella dengan lembut. Hatinya masih merasa apa yang sedang ia lakukan adalah salah. Tapi, ia juga tidak bisa menahan rudalnya yang sudah siap meluncur.


Ketika Rei sedang asyik bermain dileher dan bibir Bella. Perlahan, Bella meraih ponselnya. Lalu ia menekan icon camera diponselnya. Tidak ada yang tahu, kenapa Bella merekam aksinya bersama Rei saat itu.


...***...


Sementara dikantor Great. Tampak, Ranida sedang berjalan menuju ruangan Great. Namun, segera dicegah oleh Namfah, sekretaris Great.


"Maaf Nona Rani. Tuan Great sedang tidak berada diruangannya."


"Auwh, dia tidak ke kantor hari ini?"


"Saat ini Tuan Great sedang berada di apartemennya karena tidak enak badan."


"Oh begitu. Baiklah, aku akan segera ke sana. Terima kasih atas infonya."


"Sama-sama Nona."


Kemudian Ranida beranjak pergi. Dan tak berapa lama setelah kepergian Ranida, datanglah Jacob hendak menemui Great diruangannya.


"Apa Tuan Great ada diruangan?" tanya Jacob kepada Namfah.


"Maaf Tuan. Saat ini, Tuan Great sedang berada di apartemennya. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Oh. Tapi aku ingin menyerahkan dokumen penting dan harus menemui beliau sekarang."


"Oh, kalau begitu... Tuan dapat langsung ke apartemennya saja."


"Baiklah, bisa tolong berikan padaku alamat apartemennya?"


Lalu Namfah menulis diatas selembar kertas. Dan memberikan kertas tersebut kepada Jacob.


"Terima kasih." Jacob segera bergegas pergi.


TUUT. TUUT. TUUT.


"Halo Namfah. Ada apa?" jawab suara dari seberang telepon.


"Maaf mengganggu Tuan. Saya ingin memberitahukan, bahwa saat ini Tuan Jacob dalam perjalanan ke apartemen anda, untuk menyerahkan dokumen penting.


"Oh, baiklah kalau begitu."


"Dan ada satu lagi Tuan. Nona Ranida juga dalam perjalanan ke apartemen anda. Karena tadi, dia datang ke kantor untuk mencari anda."


"Apa!? Ranida juga akan ke apartemenku?"


"I-iya Tuan." Namfah menjadi gugup mendengar suara Great yang tampak panik.


"Baiklah Namfah. Terima kasih." Great segera menutup teleponnya.


Dengan berat hati, Great meninggalkan rumah Nicha, menuju apartemennya. Beruntung, Great tiba lebih cepat di apartemennya sebelum kedatangan Ranida dan Jacob.


Dan ketika Great hendak merebahkan tubuhnya disofa. Terdengar suara bel berbunyi.


TING, TONG. TING, TONG.


Great segera melihat kearah layar cctv. Tampaklah sosok Ranida.sedang berdiri didepan pintu apartemennya.


Kenapa Ranida datang lebih dulu? Apa yang harus aku lakukan terhadap wanita ini. Dia pasti akan merenggut keperjakaanku, jika aku membiarkan dia masuk. Ayolah Great, berpikir-berpikir...


Great begitu panik dengan kedatangan Ranida. Tapi, dia juga tidak mendapat ide lain, selain menerima Ranida di apartemennya.

__ADS_1


"Hai sayang!" ucap Ranida dengan tersenyum lebar ketika Great membuka pintu apartemennya.


"Hai Ran."


Seketika, Ranida langsung memeluk Great dan menempelkan telapak tangannya dikening Great. Sementara Great hanya bisa terdiam dengan tingkah Ranida.


"Tadi aku ke kantormu, lalu sekretarismu bilang, bahwa kamu sedang di apartemen karena tidak enak badan. Makanya, aku langsung kesini."


"Aku tidak apa-apa Rani. Hanya sedikit pusing saja. Kamu tidak perlu khawatir."


"Huft, biarpun hanya sekedar pusing, aku tetap saja khawatir. Karena kamu adalah tunanganku. Hemm, berapa lama kita akan mengobrol didepan pintu Great?"


"Oh ya. Maaf, aku sampai lupa. Ayo masuk!" Great menjadi kikuk.


"Kamu mau minum?" tanya Great kepada Ranida yang telah duduk manis disofa.


"Boleh. Aku ingin minuman dingin."


"Baiklah. Tunggu sebentar..." Great bergegas menuju dapur.


"Apa tidak ada pembantu di apartemenmu Great?"


"Aku tidak suka ada orang lain di apartemenku. Karena, aku ingin apartemenku menjadi tempat private untukku."


"Oh, begitu. Tapi, apartemenmu cukup rapi tanpa seorang pembantu," ucap sambil Ranida mengedarkan pandangannya.


"Kamu pasti tidak percaya, jika aku yang merapikan apartemenku sendiri." ucap Great seraya berjalan menghampiri Ranida dengan membawa 2 gelas minuman.


"What? Seorang Great Warinton merapikan apartemen?"


Great mengangguk dengan bangga.


"Humm... Kamu memang laki-laki idaman Great. Aku beruntung bisa bertunangan denganmu." Ranida langsung memeluk lengan Great manja.


Great yang merasa risih dengan perlakuan Ranida segera mengelak dan berusaha melepaskan tangan Ranida dari lengannya.


"Kamu terlalu berlebihan Ran. Ayo segera diminum, selagi dingin." Great melihat kearah minuman yang sudah ia taruh diatas meja.


"Apa kamu sudah ke dokter?" tanya Ranida setelah meminum jusnya.


"Tidak perlu. Aku sudah merasa lebih baik sekarang."


"Mm, begitu."


"Oya, ada apa kamu mencariku Ran?"


"Ih!" Tanpa aba-aba, Ranida memukul lengan Great.


"Hei. Kamu kenapa?"


"Pertanyaan macam apa itu? Apa aku tidak boleh mengunjungi tunanganku sendiri?" ucap Ranida sambil memajukan mulutnya.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya bertanya saja, mungkin ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku?" ucap Great sambil memegang kedua bahu Ranida dan menghadapkan kearahnya.


Seketika Ranida tersenyum mendengar ucapan Great.


"Tentu saja aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepadamu."


"Apa itu?" Great penasaran.


"Aku ingin menagih janjimu sewaktu di bioskop."


DUAR!

__ADS_1


Jantung Great seperti berhenti berdetak. Ia tidak menyangka, Ranida masih ingat dengan janjinya sewaktu di bioskop.


Argh! Kau bodoh Great. Kenapa bisa kau menanyakan hal bodoh seperti itu? Kau seperti membangunkan singa betina yang sedang tidur. Habislah hari ini kau Great menjadi santapan singa ini. Batin Great.


__ADS_2