Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 21


__ADS_3

Setelah 30 menit, Nicha selesai memasak. Lalu ia bergegas membawa hasil karyanya untuk diberikan kepada Great.


Didalam kamar Nicha.


"Maaf, agak lama aku memasak ya?"


"Tidak juga. Humm, wanginya sangat enak. Apa yang kamu masak?"


"Karena kamu sedang sakit. Maka aku pikir, akan membuatkan bubur ayam saja untukmu. Nah, cobalah!"



Great mematung ketika Nicha menyodorkan semangkuk bubur ayam kepadanya.


"Kenapa? Kamu tidak ingin memakannya? Apa kelihatannya buruk?"


Great memandang Nicha sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa?"


Kemudian Great membuka mulutnya tanda ingin disuapi oleh Nicha.


"Hah! Kamu ingin aku suapi?"


Great segera mengangguk.


"Hhh, Kamu ini manja sekali. Baiklah, karena saat ini kamu sedang sakit, maka aku akan berbaik hati kepadamu."


"Ayo buka mulutmu..."


Lalu Nicha memberikan suapan pertamanya kepada Great. Tanpa aba-aba, Great langsung membuka mulutnya dan melahap suapan bubur dari Nicha.


"Bagaimana? Enak tidak?"


"Humm, ini sangat lezat."


Nicha tersenyum lebar melihat perilaku Great.


"Oya Nich. Apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?"


"Tentang apa?" ucap Nicha sambil terus menyuapi Great.


"Tentang hubungan kita."


"Apa!?"


Seketika mata Nicha melotot mendengar pertanyaan Great.


"Hahaha. Aku hanya bercanda. Kamu ini, serius sekali."


"Huh! Dasar usil," gerutu Nicha.


"Mmm, aku ingin tahu. Kenapa kamu, berbicara seperti tadi kepada temanmu itu?"


"Berbicara bagaimana? Aku tidak mengerti," ucap Nicha sambil menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat.


Seketika Great mengambil mangkuk yang berada dipangkuan Nicha dan menaruhnya diatas nakas.


"Eh, kenapa ditaruh mangkuknya?" Nicha kebingungan.


"Jawab pertanyaanku dengan jujur. Kenapa, kamu berbohong kepada temanmu tentang hubungan ini?"


Great memandang mata Nicha dalam.


"Apa? Hubungan? Aku tidak mempunyai hubungan dengan siapapun," ucap Nicha sambil melirik kearah lain.


"Tapi, aku ingin menjalin hubungan denganmu... Maukah, kamu menjadi kekasihku, Nich?"


Nicha terkejut mendengar ucapan Great. Kini, kedua mata sepasang insan itu saling menatap lekat.


"Oh ya. Jam berapa sekarang? Aku harus segera pergi bekerja. Maaf, sepertinya kamu harus melanjutkan makanmu sendiri. Aku pergi dulu..."


Baru saja Nicha hendak bangkit, tapi Great dengan cepat menarik tangan Nicha, sehingga tubuh Nicha terjatuh dalam pelukan Great.


"Kamu tidak perlu bekerja malam ini. Aku akan memberitahu Jac, kalau kamu tidak bisa bekerja hari ini karena ada urusan penting," bisik Great ditelinga Nicha.


Setelah mendengar bisikan Great. Nicha segera melepaskan pelukan Great,lalu duduk berhadapan dengan Great.


"Apa!? Mana bisa begitu..."

__ADS_1


"Tentu saja bisa. Apa kamu lupa, siapa pemilik tempatmu bekerja?"


Nicha terdiam mencari alasan lain.


"Lalu jika nanti Jac bertanya padaku, urusan penting itu. Aku harus jawab apa?"


"Jawab saja. Kamu sedang merawat bosmu yang sedang sakit. Bukankah itu hal yang sangat penting?"


Mendengar hal itu, Nicha menjadi salah tingkah. Langsung saja, ia memukul lengan Great.


"Auwh. Kenapa kamu memukul orang yang sedang sakit?"


"Karena kamu memang pantas untuk dipukul."


Great melempar senyum manisnya kepada Nicha sambil terus menatapnya. Nicha yang mendapat tatapan dari Great menjadi salah tingkah.


"Kenapa kamu terus menatapku? Ayo cepat ambil ponselmu?"


"Apa?"


"Bagaimana kamu akan memberitahu Jac, kalau tidak meneleponnya?"


"Oh ya. Aku sampai lupa."


Kemudian Great meraih ponselnya dan menelepon Jac.


"Sudah," ucap Great sambil menutup teleponnya.


Tiba-tiba Nicha mengulurkan tangannya dan menaruh telapak tangannya diatas kening Great.


"Apa kamu mau pergi ke dokter?" tanya Nicha.


"Tidak perlu."


"Tapi suhu tubuhmu masih tinggi."


"Apa kamu khawatir kepadaku?" tanya Great sambil melirik nakal kearah Nicha.


"Haish... Untuk apa aku khawatir padamu. Aku hanya ingin kamu cepat sembuh dan segera pergi dari rumahku."


Alih-alih marah kepada Nicha. Tapi malah, Great langsung menarik tangan Nicha untuk mendekat kepadanya.


"Jika kamu ingin aku segera sembuh, maka kamu harus selalu ada disampingku," ucap Great sambil menaruh kepalanya dibahu Nicha.


"Selamat beristirahat," bisik Nicha kepada Great yang masih terlelap.


Setelah itu, Nicha bergegas mandi dan memasak untuk makan malam.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Perlahan Great membuka matanya. Ia merasa sedikit pusing dan terus memegang kepalanya. Lalu ia bersandar pada bagian kepala ranjang. Tak lama kemudian, Nicha masuk kedalam kamar.


"Kamu sudah bangun..." ucap Nicha seraya menghampiri Great.


Great mengangguk sambil memegang kepalanya.


"Apa kepalamu pusing?"


Lagi-lagi Great mengangguk.


"Sebentar, aku ambilkan bubur dan obat untukmu."


Tak berapa lama, Nicha telah kembali, membawa nampan berisi semangkuk bubur, obat dan segelas air putih.


"Kamu harus makan dulu. Baru setelah itu, minum obat ya."


Nicha segera menyuapi Great sampai buburnya habis. Lalu memberikan obat kepada Great. Tanpa aba-aba, Great langsung meminum obat yang diberikan Nicha.


"Mmm, Nich... Aku merasa gerah. Bisakah kamu mengelap tubuhku dengan handuk dan air hangat?"


"A-apa!?"


Nicha tersentak. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa. Disatu sisi, ia merasa malu jika harus melihat tubuh Great tanpa baju. Tapi disisi lain, ia juga merasa kasihan dengan Great.


"Mmm... Apa kamu tidak bisa mengelap tubuhmu sendiri? Aku akan membawakan air hangatnya. Ya?"


"Kamu malu ya?"


"Tentu saja aku malu. Aku ini juga wanita normal kan?"


Nicha segera beranjak ke dapur untuk memasak air. Sementara Great, hanya tersenyum simpul melihat Nicha yang menjadi gugup.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Nicha masuk kedalam kamar dengan membawa sebaskom air hangat beserta handuk kecil.


"Ini air hangatnya. Aku akan menunggu diluar. Oya, ini ada salah satu baju adikku yang tertinggal. Cobalah kamu pakai. Semoga pas ditubuhmu."


"Terima kasih, Nich. Oh ya... Jangan lupa untuk menutup pintunya. Karena aku tidak mau, kalau kamu sampai mengintip," goda Great sambil tersenyum.


"Cih! Siapa juga yang akan mengintip," ketus Nicha sambil berjalan keluar kamar.


Setelah berganti baju. Great keluar dari kamar. Dan mendapati Nicha sedang belajar di sofa.


"Kamu sedang apa?"


"Loh, kamu kenapa bangun. Tetaplah ditempat tidur. Nanti kepalamu semakin sakit."


"Tidak apa-apa. Aku bosan dikamar terus... Apa kamu sedang belajar?" ucap Great seraya duduk disamping Nicha.


Nicha mengangguk.


"Murid yang teladan," ujar Great sambil mengacak-acak rambut Nicha.


"Hei. Rambutku jadi berantakan. Huh!"


Segera Nicha merapikan rambutnya kembali. Lalu, ia menoleh kearah Great yang masih memegangi kepalanya.


"Apa masih sakit?"


Great mengangguk.


"Sini. Taruh kepalamu disini. Aku akan memijat kepalamu."


Nicha mengarahkan kepala Great kepangkuannya. Seketika Great langsung merebahkan tubuhnya.


"Apa terasa nyaman?" tanya Nicha sambil memijat kepala Great.


"Iya. Sangat nyaman. Pijatanmu enak juga."


Nicha tersenyum.


"Oya, kemarin malam... Kenapa kamu tidak datang?"


"Akhir-akhir ini, pekerjaanku sangat banyak. Karena aku bertanggung jawab dalam pembangunan departemen store yang baru."


"Jadi, kamu sakit karena masalah pekerjaan?"


"Hem."


"Untuk selanjutnya, kamu harus lebih memerhatikan kesehatanmu. Berilah mandat kepada karyawanmu juga. Jangan hanya mengandalkan dirimu sendiri."


"Terima kasih, atas perhatianmu Nich," ucap Great tersenyum sambil menengadah kearah Nicha.


Nicha pun membalas tersenyum.


Lalu Great berusaha bangun dari pangkuan Nicha. Dan langsung meraih tangan Nicha.


"Ayo kita kekamar..."


"Apa? Untuk apa kita kekamar?" Nicha merasa ketakutan.


"Aku sudah mengantuk. Sepertinya, obat yang kamu berikan sedang bekerja ditubuhku."


"Oh, begitu. Baiklah, aku akan mengantarmu tidur."


"Memangnya kamu pikir, untuk apa aku mengajakmu kekamar? Jangan-jangan, kamu sedang memikirkan malam pertama kita, ya kan?"


"A-apa yang sedang kamu bicarakan. Sudahlah, ayo segera tidur,"


Nicha yang telah menggelar selimut tebal dilantai. Dan langsung merebahkan tubuhnya diatas selimut tersebut.


"Apa kamu akan tidur di bawah?"


"Tentu saja. Apa kamu pikir, aku akan tidur denganmu dalam 1 kasur lagi?"


"Aku pikir kita akan tidur, seperti malam itu..."


"Waktu itu karena keadaannya darurat. Jika listrik tidak mati, aku juga tidak mau tidur bersamamu."


Setelah beberapa detik, tidak ada jawaban dari Great. Nicha yang merasa khawatir dengan Great, perlahan membalikkan badannya menghadap Great. Dan benar saja, ternyata Great sudah tertidur lelap.


Selamat malam. Mimpi indahlah. Ujar Nicha.

__ADS_1


...***...


Author mau ingetin lagi. Buat para readers yang belum vote. Ayo buruan kasih vote mingguan kalian untuk novel ini ya guys. Biar authornya makin semangat upnya. Terima kasih 🙏🤗


__ADS_2