
Tak butuh waktu lama, setelah Ranida meminum obat yang diberikan oleh Great. Ia pun langsung tertidur pulas diatas ranjang.. Tinggallah Great, terdiam memerhatikan Ranida dengan senyum liciknya.
FLASHBACK ON.
Ketika Great sedang mengambil obat didapur. Sebenarnya, ia tidak pernah menyimpan obat pencegah demam berdarah. Lagi pula, obat seperti itu memang tidak ada. Dan ia sangat terkejut, ketika Ranida dengan mudahnya, percaya bahwa Great mempunyai obat semacam itu. Akhirnya, Great menyusun rencana untuk mengerjai Ranida.
Diambillah sebutir obat penenang yang ia simpan didalam kotak obatnya. Ia berharap, Ranida akan tidur pulas sampai pagi hari tiba. Dan pada akhirnya, tidak akan terjadi apa-apa antara dirinya dan Ranida malam itu.
Dengan wajah penuh kemenangan dan senyuman liciknya. Great membawa obat tersebut beserta air minum kepada Ranida.
FLASBACK OFF.
"Maafkan aku Ran. Karena hanya dengan cara ini, aku bisa mempertahankan keperjakaanku. Dan kamu bisa beristirahat dengan total. Agar rasa lelahmu segera hilang. Bukan begitu, sayang..."
Great menyeringai sinis membelai rambut Ranida. Kemudian, ia pun melancarkan rencana berikutnya.
Satu-persatu kancing baju Ranida, ia lepaskan perlahan. Lalu, Great berusaha membuka pakaian Ranida. Sehingga, hanya tersisa pakaian dalamnya saja. Entah kenapa, Great begitu cuek ketika melihat tubuh Ranida yang hanya tertutupi oleh pakaian dalam. Tidak ada getaran yang membuat hatinya berdesir, apalagi hasrat untuk melakukan hubungan suam istri.
Setelah melucuti pakaian Ranida. Selanjutnya, Great menutupi tubuh Ranida dengan selimut tebal. Sehingga, hanya terlihat wajah Ranida saja yang sudah tertidur pulas.
Malam ini, aku telah mengabulkan keinginanmu Ran. Dan besok pagi, pasti kamu akan terkejut bahagia, karena berpikir bahwa kita sudah melakukan hubungan intim. Heuh, kau memang sangat hebat Great. Rencanamu sungguh briliant. Bisik Great.
...***...
Keesokan paginya. Perlahan, Ranida mengerjapkan matanya sambil sedikit menguceknya. Lalu, ia segera mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh sudut kamar.
Ternyata aku tertidur dikamar Great. Tapi, kemana dia pergi? Dan...
Ranida menghentikan ucapannya, kala ia membuka selimut dan mendapati tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Apa yang terjadi semalam? Apakah, aku telah melakukan hubungan badan dengan Great? Batin Ranida bingung.
Lalu terdengar bunyi getaran dari ponsel Ranida.
Drrrt. Drrrt.
Ranida segera meraih ponselnya dan mendapati nama Great dilayar ponselnya. Seketika, Ranida langsung menjawab panggilan dari kekasihnya itu.
"Hai, sayang!"
"Pagi, Ran. Apa kamu baru bangun?" sahut dari seberang telepon.
"Iya. Aku baru saja bangun. Tapi, dimana kamu, Great? Kenapa kamu meninggalkan aku sendirian disini?"
__ADS_1
"Maafkan aku Ran. Pagi ini, aku mempunyai agenda penting. Jadi, aku harus segera tiba dikantor sebelum jam 8 pagi."
"Oh, begitu."
"He'em... Oh ya. Bagaimana tidurmu semalam?" sindir Great.
"Ah, benar. Ada yang ingin aku tanyakan Great."
"Tentang apa?" tanya Great berpura-pura.
"Apa semalam, kita telah melakukannya?"
"Melakukan? Melakukan apa, sayang?" Great berusaha menahan tawanya.
"Itu... Melakukan hubungan suami istri," jawab Ranida malu.
"Oh, itu... Ya, sayang. Kita sudah melakukannya."
"Benarkah?" Ranida tampak sangat terkejut.
"Ya... Apa kamu tidak merasakannya semalam?"
Great benar-benar ingin tertawa mendengar reaksi Ranida. Tapi, ia harus tetap berpura-pura agar rencananya tidak diketahui oleh Ranida.
"Mungkin kamu terlalu lelah, setelah pertempuran semalam. Makanya, kamu tidak bisa mengingatnya, sayang."
"Apa benar begitu?" Ranida masih tidak yakin.
"Ya, mungkin saja. Oh, akan aku beritahu padamu, sedikit adegan kita semalam ya."
Great, mulai merangkai cerita bohong, tentang kejadian semalam.
"Dan aku sangat menyukai gunung kembarmu, sayang. Itu sesuatu yang sangat kenyal dan padat. Tak henti-hentinya, aku menciumi gunung kembarmu. Dan kamu pun begitu menikmatinya, sayang."
Mendengar hal itu, wajah Ranida bersemu merah. Ia sangat malu sekaligus senang mendapat pujian dari kekasihnya.
"Humm, sayang. Jangan dilanjutkan lagi. Aku menjadi sangat malu," ujar Ranida manja.
"Haha, baiklah. Tapi kamu tidak perlu malu. Karena tubuhmu sangat indah dan seksi. Aku menyukainya."
Ranida kembali tersipu.
"Oh ya. Aku harus kembali ke ruang rapat. Karena akan ada meeting bersama para investor, sebentar lagi. Dan jika nanti kamu ingin pulang. Aku sudah meminta pegawaiku untuk menunggumu didepan apartemen, mereka yang akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
"Baiklah, sayang. Semoga meetingmu berjalan lancar. I love you."
"Love you too."
Lalu, sambungan teleponpun terputus. Saat itu, Ranida masih tidak percaya, bahwa dia telah melewati malam tadi dengan bercinta bersama Great.
Ia kembali menghempaskan tubuhnya dikasur. Kedua matanya tampak berbinar menatap ke langit-langit kamar. Senyuman terukir indah dibibirnya. Lalu ia mengusap-usap sisi ranjang yang lain. Membayangkan, Great yang tertidur disebelahnya semalam. Pikiran Ranida membumbung tinggi saat itu. Sampai-sampai ia malu dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Setelah puas berkhayal tentang kejadian semalam. Ranida bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Hampir 45 menit, Ranida berada di kamar mandi. Kemudian, ia tampak mengucek-ngucek rambutnya yang basah seraya keluar dari kamar mandi dan hendak mencari pakaian di dalam almari Great.
Hemm... Apa ada baju yang bisa aku pakai? Gumam Ranida.
Ia memilah-milah satu-persatu pakaian Great yang tergantung rapi didalam almari.
Sepertinya, t-shirt ini cocok untukku...
Ranida mengambil t-shirt pria berwarna merah dengan setelan celana berwarna krem. Setelah, berganti pakaian. Ranida merasa lapar, lalu ia menuju dapur untuk mencari makanan.
Hemm... Apa yang bisa aku makan ya?
Ranida membuka lemari es dan menemukan sereal serta sekotak besar susu cair. Lalu, ia menuang sereal itu kedalam mangkuk dan menuang susu cair juga.
Mmm, ini terlihat lezat.
Ranida membaui hidangan sereal yang telah tersaji dihadapannya. Lalu, ia segera duduk dan menyantapnya dengan lahap.
Ketika ia sedang asyik menikmati sarapannya. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah kotak obat yang terbuka, menempel ditembok dapur.
Bahkan karena kejadian semalam, ia lupa menutup kotak obatnya... Ujar Ranida.
Tak butuh waktu lama bagi Ranida, untuk menghabiskan sarapannya. Lalu, ia menaruh mangkuknya yang telah kosong kedalam wastafel dan mencucinya. Sejurus kemudian, ia hendak menutup pintu kotak obat. Tapi, lagi-lagi pandangannya terhenti. Kala melihat sebotol obat yang bertuliskan Alprazolam (Benzodiazepine).
Bukankah, ini obat tidur?
Ranida menatap curiga dan mengambil botol obat tersebut. Seketika, ia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu dengan cepat, ia meraih ponselnya, dan mengetik sesuatu dilayar ponselnya.
Heuh, jadi benar... Great telah memberiku obat tidur semalam. Makanya, aku sampai tidak ingat kejadian semalam. Bukan karena aku kelelahan. Tapi, memang tidak terjadi apa-apa tadi malam. Seharusnya, aku sadar sejak awal bahwa dia mengerjaiku dengan mengatakan bahwa ada obat pencegah demam berdarah... Argh, kenapa kau sangat bodoh Ranida. Ranida menjambak rambutnya, saking kesalnya.
Pasti, Great sedang menertawakanku sekarang. Karena kebodohanku yang dengan mudah ia bohongi. Awas kau Great! Tunggu pembalasanku...
Kedua mata Ranida menyala seperti akan mengeluarkan api yang siap membakar apa saja yang dilihatnya saat itu. Hatinya begitu panas, karena mengetahui bahwa Great telah mempermainkannya.
...***...
__ADS_1
WADAW, NGERI RANIDA. LAGIAN SIH GREAT. MAIN-MAIN SAMA SINGA BETINA. HABISLAH KAU GREAT, JADI SANTAPAN SINGA ITU. WAAAUM! 🦁😡