
"Se-sedang apa kamu disini? Dan bagaimana kamu bisa masuk kedalam rumahku?"
"Hei wanita aneh! Apa kamu lupa? Bukankah, kamu sendiri yang telah memberikanku kunci rumahmu tempo hari?"
"Apa maksudmu?"
Nicha terdiam dan berusaha berpikir sejenak.
"Atau kamu sudah menggandakan kunci rumahku ya?"
"Yup! Benar sekali. Otakmu cerdas juga," ucap laki-laki itu dengan santai sambil melahap mie instannya.
"Hish! Dasar laki-laki brengsek! Beraninya, kamu menggandakan kunci rumah orang lain tanpa seizin yang punya rumah."
Nicha melempar tasnya diatas sofa, lalu menghampiri laki-laki itu hendak menarik laki-laki itu untuk keluar dari rumahnya.
"Keluar dari rumahku sekarang!" pekik Nicha.
"Hei. Apa-apaan kamu. Siapa bilang ini rumahmu. Rumah ini juga menjadi milikku sekarang..."
Laki-laki itu menepis tangan Nicha dari lengannya.
"Apa katamu?"
"Aku bilang, rumah ini sudah menjadi rumahku juga."
Dengan raut wajah bingung. Nicha terus berusaha mencerna ucapan laki-laki itu.
"Kamu sudah menikmati semua barang-barang yang telah ku beli kan?"
"Apa?"
"Kamu masih belum mengerti juga? Hhh... Kamu pikir, siapa orang yang baik hati membelikan barang-barang mewah untuk ditaruh dirumahmu?"
"Maksudmu... Kamu adalah orang yang membelikanku semua barang-barang itu?"
"Tepat sekali. Jadi secara otomatis, rumah ini juga menjadi rumahku," jawab laki-laki itu dengan bangga.
"Ma-mana bisa begitu..." Nicha tidak mau kalah.
"Tentu saja bisa. Atau kamu mau aku mengambil kembali semua barang-barang itu?"
"Ja-jangan!"
"Hemm, baiklah. Karena kamu sudah menghargai barang-barang pemberianku maka aku akan menghibahkannya untukmu."
"Tapi kenapa kamu melakukan itu semua?"
"Malam itu, kamu telah menyelamatkan nyawaku. Maka aku harus membayarnya, karena aku tidak ingin berhutang budi kepada orang lain."
Kemudian laki-laki itu berjalan menuju dapur untuk menaruh mangkuk mienya yang telah kosong.
"Lalu siapa kamu sebenarnya?" tanya Nicha.
"Oya, kita belum berkenalan... Perkenalkan namaku Prama Raikasit." Laki-laki itu menjulurkan tangannya kearah Nicha.
"Aku Tanicha. Biasa dipanggil Nicha," ucap Nicha tanpa membalas uluran tangan Prama.
"Baiklah Nicha. Mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan kehadiranku dirumah ini. Karena mungkin, aku akan sering berkunjung kesini," ucap Prama sambil duduk kembali disofa dan menyalakan televisi.
"Apa kamu tidak mempunyai rumah? Dan kenapa kamu harus berkunjung kerumahku? Apa tidak ada tempat lain yang bisa kamu kunjungi selain rumah ini?"
"Kamu ini cerewet sekali. Jika kamu keberatan aku berkunjung kesini, tidak apa-apa. Akan aku angkut semua barang-barang yang telah ku beli dirumah ini."
__ADS_1
Lalu Prama bangkit dari duduknya. Seketika, Nicha mencegah dan memegangi lengan Prama.
"Eh, jangan-jangan! Maksudku bukan seperti itu. Kamu boleh sesering mungkin berkunjung kesini. Tidak apa-apa. Hehehe."
Akhirnya, Prama kembali duduk dan menikmati acara televisi. Sedangkan Nicha berjalan hemdak menuju dapur.
SRENG! SRENG!
"Kamu sedang apa?" tanya Prama sambil menghampiri Nicha didapur.
"Apa kamu tidak melihat? Aku sedang masak!"
"Kenapa kamu memasak malam-malam?"
Nicha mengecilkan kompornya, lalu berbalik menatap Prama.
"Jika aku tidak memasak. Maka aku tidak bisa makan! Apa kamu mengerti?"
"Oh, begitu," jawab Prama datar sambil berlalu.
Selesai memasak, lalu Nicha membawa hasil masakannya ke meja makan. Kemudian, ia langsung menyantap makan malamnya.
"Oya, ada peraturan yang harus kamu patuhi jika berkunjung kerumah ini," ucap Nicha sambil melahap makan malamnya.
"Apa itu?"
"Kamu tidak boleh masuk kedalam kamarku. Mengerti?"
"Tentu saja. Lagi pula, untuk apa aku harus masuk kedalam kamarmu."
"Baguslah, jika kamu mengerti..."
Tak butuh waktu lama untuk Nicha menghabiskan makan malamnya. Dan ketika ia hendak menaruh piring kotor kedalam wastafel. Sekilas, ia melihat Prama sedang berjalan menuju kamarnya. Langsung saja, Nicha mengejar Prama yang sudah masuk kedalam kamarnya.
"Apa kamu sedang berusaha menggodaku?"
"A-apa maksudmu?" tanya Nicha gugup.
Kemudian Prama berbalik mendorong tubuh Nicha kesamping. Dan sekarang, posisi mereka berbalik. Nicha terjatuh diatas kasur sedangkan Prama memegangi kedua tangan Nicha sambil menindihnya. Kemudian, Prama mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nicha.
"Ma-mau apa kamu?" Nicha semakin ketakutan.
Namun tiba-tiba, Prama seperti mengendus sesuatu.
"Sepertinya, kamu harus mencuci rambutmu. Karena baunya sangat tidak enak..."
Mata Nicha langsung terbelalak, mendengar ucapan Prama. Kemudian Prama berusaha berdiri dan diikuti oleh Nicha.
"Aku sudah mencuci rambutku! Kemarin pagi..." Nicha sangat malu dengan Prama. Tapi, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa hari itu, ia lupa mencuci rambut karena terburu-buru berangkat kuliah.
"Haha. Ya sudah, pergi sana ke kamar mandi. Dan cuci rambutmu sampai bersih!" Lalu Prama hendak berjalan keluar kamar Nicha.
"Eh, tunggu! Kenapa tadi kamu masuk kekamarku? Apa kamu tidak mendengar peraturan yang sudah ku katakan tadi?"
"Tentu saja aku mendengarnya... Kamu pikir aku tuli?"
" Lalu kenapa kamu masih masuk kekamarku?"
"Bantal disofamu terlalu keras. Aku ingin bantal yang empuk. Aku pikir bantal dikamarmu lebih empuk, jadi aku ibgin meminjamnya. Tapi, aku lihat kamu sedang sibuk didapur. Jadi aku berinisiatif untuk mengambilnya sendiri."
"Kamu kan bisa menungguku sebentar dan memanggilku..."
"Ah, sudahlah! Kamu cerewet sekali. Aku sudah sangat mengantuk. Sini, berikan satu bantalmu..."
__ADS_1
Lalu Nicha memberikan sebuah bantal kepada Prama. Sejurus kemudian, Prama kembali berbaring diatas sofa.
"A-apa kamu akan menginap disini?"
"Hem."
"Ti-tidak boleh."
"Mengapa tidak boleh? Apa kamu lupa bahwa ini adalah rumahku juga?"
Nicha mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat geram dengan perilaku Prama. Tapi, ia juga tidak bisa mengusir Prama. Karena, Nicha tidak mau kehilangan barang-barang mewah yang sudah terpajang indah didalam rumahnya.
Jadilah, malam itu. Prama menginap dirumah Nicha. Sedangkan Nicha langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.
Malam semakin larut. Namun, kedua mata Nicha masih belum juga terpejam. Ini kali pertama, ada seorang laki-laki asing yang menginap dirumahnya. Nicha sangat gelisah dan tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.
Pagi harinya.
Nicha telah selesai dari kamar mandi dan langsung berpakaian. Ia melihat, Prama masih tertidur pulas disofa. Lalu Nicha bergegas hendak membuat sarapan didapur.
Tak berapa lama, Prama terbangun dari tidurnya dan hendak kekamar mandi. Tiba-tiba teriakan terdengar dari dalam kamar mandi.
"Nichaaa! Apa yang sudah kamu makan!? Kenapa kamar mandimu bau sekaliii! Shit!"
Sontak, Nicha yang sedang berada didapur tertawa terpingkal-pingkal, mendengar teriakan Prama dari dalam kamar mandi.
...***...
Yuk beri dukungan kpd author berupa hadiah atau vote. Begini caranya:
Hadiah
Hadiah akan diberikan kepada author, jika readers menukarkan poin readers dengan hadiah yang tersedia.
Vote
Vote hanya bisa readers berikan kepada author seminggu sekali. Karena sistem memberikan kesempatan 1 vote kepada readers setiap hari senin aja. Dan 2 vote untuk pengguna VIP.
Jadi kalo udah hari senin langsung inget buat vote ya. hehehe
Cara dapat poin.
Poin bisa diambil dengan cara buka akun readers. Seperti ini:
Lalu tinggal tap ambil untuk mendapatkan poin readers.
__ADS_1