Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 38


__ADS_3

Bella dan Rei telah selesai memilih gaun di bridal shop milik Saisuda. Lalu, mereka langsung berpamitan pulang.


"Terima kasih ya Sai, atas bantuannya," kata Bella.


"Sama-sama. Jangan merasa sungkan. Aku malah senang bisa merancang gaun yang istimewa, untuk wanita yang istimewa seperti dirimu," balas Saisuda sambil menggenggam tangan Bella.


"Lalu, kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" tanya Saisuda lagi.


"Kami belum menentukan tanggalnya. Tapi yang pasti, secepatnya. Makanya, selagi ada waktu, aku ingin mempersiapkan semuanya sebaik mungkin."


"Oh, begitu," sahut Saisuda dengan tersenyum.


"Ngomong-ngomong, Ranida juga memesan gaun pengantin padamu, Sai?"


"Ya. Rani adalah teman kuliahku dulu. Tadi dia kesini untuk mengambil gaun pengantinnya, bersama calon suaminya. Tentunya kamu juga mengenal tunangan Rani, benarkan Bel?" sindir Saisuda.


"Oh... Tentu saja aku mengenalnya,. Siapa yang tak kenal dengan seorang Great Warinton,. Tapi tunggu, tadi kamu bilang, mereka telah bertunangan sebelumnya?" sahut Bella.


"Ya. Kira-kira 2 bulan lalu, mereka menggelar acara pertunangan secara private."


Bella dan Rei tampak terkejut mendengar pengakuan Saisuda.


Kurang ajar, kau Great. Beraninya, kau mempermainkan perasaan Nicha, dengan berjanji akan menikahinya. Lihat saja, aku akan melakukan pembalasan yang setimpal untukmu.


Wajah Rei terlihat merah padam, menahan amarah terhadap Great.


Jadi, mereka telah bertunangan sebelumnya. Kau memang brengsek Great. Bisa-bisanya, kau ingin menikahi wanita jalang itu, sementara kau telah bertunangan dengan Ranida. Tunggu saja, aku akan membuat drama ini semakin menarik.


Bella berbicara sendiri dalam hatinya, seraya tersenyum sinis.


"Bella... Kenapa kamu melamun?" tanya Saisuda membuyarkan pikiran Bella.


"Oh... Tidak, tidak apa-apa Sai. Baiklah kalau begitu, aku pamit pergi dulu ya, Sai. Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu."


"Ya sama-sama. Hati-hati dijalan."


Bella memeluk Saisuda, lalu berjalan pergi.


Didalam mobil Rei.


"Apa kamu mendengar yang dikatakan Saisuda tadi, sayang?" tanya Bella.


"Ya," sahut Rei datar seraya menyalakan mobilnya.


"Tidak ku sangka, ternyata Great menipu kita. Dia benar-benar pria kurang ajar," ujar Bella dengan menatap tajam kedepan.


"Sudahlah Bel. Apapun yang dilakukan Great, itu bukan urusan kita. Sekarang kita fokus saja, pada rencana pernikahan dan mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin."


"Iya, sayang. Kamu benar. Untuk apa aku memikirkan urusan mereka. Oh ya, bisakah kita mampir ke sebuah restoran, sayang. Karena aku sangat lapar."


"Baiklah, aku akan mencari restoran yang bagus, untuk tempat makan kita."

__ADS_1


Bella mengangguk senang dengan senyum lebar.


...***...


Setelah mengantarkan Bella pulang. Rei, melajukan mobilnya menuju sebuah rumah. Tak butuh waktu lama, dan mobil Rei sudah terparkir didepan rumah tersebut.


Kenapa rumahnya tampak sepi sekali? Gumam Rei sambil memerhatikan rumah Nicha dari dalam mobil.


Kemudian Rei berjalan menuju pintu rumah tersebut dan mengetuknya.


TOK! TOK! TOK!


"Nicha, apa kamu didalam? Ini aku Rei."


Rei terdiam sejenak, menunggu jawaban dari dalam. Namun, sudah hampir 5 menit ia menunggu, jawaban pun tak kunjung terdengar.


Apa dia sedang pergi? Batin Rei.


Lalu, Rei mengeluarkan ponselnya hendak menelepon Nicha.


TUUUT... TUUUT... TUUUT...


Seketika sambungan terputus oleh suara operator yang meminta Rei untuk meninggalkan pesan suara.


Bahkan dia juga tidak mengangkat telepon dariku. Gerutunya.


Karena merasa jenuh menunggu, akhirnya Rei menuju mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Nicha.


...***...


Hari sudah menjelang malam. Rei bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Dibawah siraman shower, Rei menatap nanar kearah tembok kamar mandi.


Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Kenapa semua ini menjadi rumit? Lalu, dimana Nicha sekarang?


Tak hentinya Rei berkata dalam hati. Ia benar-benar membutuhkan sebuah penjelasan saat itu. Dan akhirnya, ia tahu siapa yang bisa menjelaskan semua kepadanya.


...***...


Didepan pintu kamar Renata. Tampak Rei sedang berdiri seraya mengetuk pintu.


TOK! TOK!


"Masuk!" seru Renata dari dalam kamarnya.


Rei membuka pintu, kemudian masuk kekamar adiknya.


"Eh, kakak... Ada apa?" tanya Renata.


Rei tak segera menjawab lertanyaan adiknya. Ia berjalan mendekati Renata dan duduk disebelahnya.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, Ren," ujar Rei sambil menatap lekat adiknya.

__ADS_1


"A-apa itu? Kenapa wajah kakak berubah serius sekali. Aku jadi takut. Hehe."


Renata menjadi gugup karena tatapan Rei.


"Apa kamu tahu dimana Nicha sekarang?"


"Hah! Memangnya ada apa dengan Nicha? Bukankah dia berada dirumahnya?"


Renata berpura-pura terkejut dengan ekspresi yang meyakinkan. Ia sangat takut, Rei akan mencari Nicha.


"Tadi sore aku mampir kerumahnya. Dan rumahnya terlihat sangat sepi sekali. Bahkan pekarangan rumahnya pun penuh dengan daun yang berserakan, seperti tak berpenghuni. Sebenarnya apa yang terjadi, Ren?"


"A-aku tidak tahu, Kak! Seminggu ini, kami belum bertemu, karena liburan semester."


Renata tidak berani untuk menatap kakaknya. Ia segera memalingkan wajahnya kearah lain.


"Benarkah? Apa kamu tidak sedang membohongiku?" cecar Rei.


"Un-untuk apa aku berbohong..." sangkal Renata.


"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin sekarang juga, kamu hubungi Nicha dan tanyakan dimana dia sekarang. Karena, tadi aku sudah mencoba meneleponnya, tapi tidak ada jawaban."


"Hemm... ini sudah malam, Kak. Mungkin, Nicha sudah tidur. Tapi aku janji, akan menghubunginya besok. Oke!" ucap Renata sambil menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran.


Seakan tidak ingin termakan oleh rayuan adiknya, Rei segera menggelengkan kepalanya.


"Sekarang masih terlalu sore untuk tidur, Ren. Coba kamu lihat, jam berapa sekarang?" perintah Rei seraya menunjuk kearah jam dinding.


Aduh, bagaimana ini... Batin Renata. Ia tampak cemas, karena terus didesak oleh Rei.


"Kenapa wajahmu berubah pucat begitu, Ren? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"


"Sudahlah Kak. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku sangat mengantuk. Jadi, bisakah kakak keluar dari kamarku sekarang?"


"Tidak! Aku tidak akan keluar dari sini, sebelum kamu menelepon Nicha dan menanyakan keberadaannya."


Renata menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Dengan suara yang berat, ia berkata kepada Rei.


"Baiklah, aku akan memberitahukan sesuatu pada kakak. Bahwa saat ini, Nicha sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Maka dari itu, aku mohon atas nama Nicha. Kakak, jangan lagi mencari tahu kabar dan keberadaan Nicha sekarang. Ya?"


"Tapi kenapa Ren? Saat ini, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Makanya, aku harus bertemu dengan Nicha."


"Cukup Kak! Aku mohon mengertilah. Semua ini sangat sulit bagi Nicha. Kakak jangan menambah penderitaannya lagi..."


"Apa katamu? Aku membuat Nicha menderita? Bagaimana mungkin aku berbuat seperti itu? Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan, sehingga Nicha harus menderita karena perbuatanku?"


Rei tampak kalut seperti orang yang kebakaran jenggot. Ya, ia merasa menjadi kambing hitam dalam masalah ini. Karena memang, ia tidak merasa melakukan kesalahan, tapi malah justru ia menjadi tersangka.


"Kakak memang tidak melakukan apa-apa. Tapi seorang wanita yang begitu mencintai kakak, dia merasa cemburu terhadap Nicha. Dan membuat hidup Nicha menjadi sulit. Maka dari itu, aku mohon pada kakak. Jangan pernah, menemui Nicha lagi. Atau, kehidupan dan masa depan Nicha akan terancam."


Rei bertambah bingung dengan penjelasan Renata. Pikirannya menjadi kusut. Namun, ada hal yang terlintas dalam benaknya, untuk menemui wanita yang dimaksud Renata.

__ADS_1


...***...


Maafkeun othor, kalo ceritanya agak garing ya guys. Karena ini bagian dari alur cerita. InsyaAlloh, diepisode berikutnya, akan ada banyak kejutan untuk kalian. So, tetep pantengin terus asisten pribadi tuan muda.


__ADS_2