Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 23


__ADS_3

Ketiga anak laki-laki tersebut tampak ketakutan melihat anak perempuan yang baru saja berteriak kepada mereka.


"Wah, itu Nicha!" seru salah satu anak laki-laki.


"Iya. Ayo cepat pergi. Jangan sampai kita terkena pukulannya," timpal anak laki-laki lainnya.


Sejurus kemudian, dengan sekuat tenaga mereka mengayuh sepedanya untuk kabur. Setelah mereka pergi, Nicha menghampiri Rei yang sedang berusaha bangkit.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nicha.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih."


"Huh! Dasar pengganggu. Awas saja, kalau nanti aku bertemu dengan mereka lagi. Tidak akan aku biarkan mereka kabur."


Rei hanya melongo melihat perilaku anak perempuan dihadapannya. Lalu dari kejauhan, datanglah seorang laki-laki muda menghampiri Rei dan Nicha.


"Tuan, Tuan tidak apa-apa? Maaf, saya agak lama ditoilet."


"Tidak apa-apa Steve."


Kenapa dia dipanggil Tuan? Dan siapa paman ini? Mereka terlihat seperti bukan orang biasa. Batin Nicha.


"Hei. Kamu kenapa?" Rei memyadarkan Nicha dari lamunannya.


"Eh, tidak. Aku tidak apa-apa. Oya, aku harus segera pergi. Sampai jumpa." Nicha berpamitan kepada Rei dan Steve.


"Hei. Tunggu!" ucap Rei.


Seketika Nicha berbalik.


"Bisakah, kita mengobrol sebentar?"


Nicha nampak bingung. Dan akhirnya, ia mengangguk tanda setuju. Lalu, Rei memberikan tanda kepada Steve untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian Steve, tiba-tiba terdengar suara penjual es krim. Sontak, Nicha menoleh kearah penjual es krim tersebut. Seakan mengerti keinginan Nicha, lalu Rei langsung menghampiri Nicha.


"Apa kamu mau es krim?"


"Ah, tidak usah. Lagi pula aku tidak membawa uang."


"Tidak apa-apa. Ayo aku belikan."


Rei menggandeng tangan Nicha dan berjalan menghampiri penjual es krim. Tinggallah Nicha terperanga, melihat tangannya digandeng oleh Rei. Setelah mendapatkan es krimnya, Nicha mengajak Rei, untuk duduk diatas 'bola dunia'. Namun, Rei merasa takut, tapi Nicha terus membujuknya.



"Tidak apa-apa. Nanti biar aku yang naik duluan. Setelah itu, aku akan memegangi es krimmu dan kamu bisa naik dengan mudah. Oke?" ucap Nicha.


Akhirnya Rei tersenyum dan menyetujui ide Nicha. Setelah Nicha sampai diatas, lalu Rei memberikan es krimnya kepada Nicha. Kemudian Rei segera memanjat untuk sampai keatas.

__ADS_1


Sesampainya Rei diatas, mereka berdua duduk berdampingan sambil menikmati es krim mereka.


"Nama kamu siapa?" tanya Rei.


"Tanicha. Tapi biasa dipanggil Nicha," ucap Nicha sambil tersenyum.


"Oh, Nicha. Tapi ngomong-ngomong, kenapa anak-anak tadi sangat ketakutan setelah melihatmu?"


"Hahaha. Mereka itu anak-anak nakal yang sering mengganggu anak-anak lain di taman ini. Setiap aku melihat mereka, tanganku terasa gatal dan ingin sekali memukul mereka. Aku selalu menghalangi aksi mereka. Makanya, saat mereka melihatku, mereka langsung lari ketakutan. Hahaha."


Nicha menjelaskan kepada Rei sambil tertawa bangga. Sementara Rei hanya bisa terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.


"Tapi kalau aku lihat, kamu lebih muda dariku. Kamu terlihat masih kecil sekali. Apa, kamu benar-benar bisa memukul?"


Nicha tersentak mendengar ucapan Rei yang seakan meremehkan dirinya. Langsung saja, Nicha menonjok lengan Rei sekuat tenaga.


"Aoowh... Sakit. Kenapa kamu menonjokku?"


"Aku pikir, kamu ingin merasakan tonjokkan dari anak kecil," jawab Nicha tersenyum sinis.


"Astaga... Baiklah, aku minta maaf telah meremehkanmu. Ternyata tonjokkanmu kuat juga untuk anak kecil sepertimu. Kalau aku boleh tahu, berapa umurmu?"


"Umurku 8 tahun."


Ketika Nicha dan Rei sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba terdengar suara wanita paruh baya yang memanggil nama Nicha.


"Nichaaa! Nichaaa! Kamu dimana sayang? Ayo pulang."


"Ibuu! Aku disini!" seru Nicha.


"Maaf, sepertinya aku harus segera pergi. Terima kasih untuk es krimnya. Sampai jumpa lagi."


Nicha bergegas turun. Namun, ketika ia sudah berada dibawah, Rei memanggilnya lagi.


"Nicha!" panggil Rei.


Nicha menoleh kearah Rei.


"Bagaimana, jika besok kita bertemu lagi disini? Aku ingin bermain lebih lama denganmu."


Nicha hanya terdiam. Lalu ia melemparkan senyum sambil mengangguk. Dan bergegas pergi mendatangi ibunya.


FLASHBACK OFF.


"Jadi... Anak laki-laki itu adalah kamu, Reinhard?"


Rei mengangguk. Sementara Nicha tampak terdiam seperti masih tidak percaya dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


"Lalu kenapa setelah hari itu, kamu tidak datang lagi ke taman Nich?" tanya Rei seraya menoleh kearah Nicha.


"Apa?"


"Aku menunggumu di taman. Berharap kamu akan datang lagi untuk menemuiku. Tapi, sampai sore hari aku menunggu. Kamu tidak juga datang."


Nicha terdiam sesaat. Ia seperti mengingat kenangan masa kecilnya.


"Hari itu, ayahku jatuh sakit. Beliau harus di opname di rumah sakit. Aku melihat ibuku sangat sedih dan terpuruk. Karena itu, aku sampai lupa untuk menemuimu di taman," ucap Nicha dengan wajah sedih.


"Maafkan aku Nich..." ujar Rei dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa," balas Nicha tersenyum.


"Selama 3 tahun, ayahku menderita sakit. Sampai akhirnya, tepat dihari kelulusanku, disaat teman-temanku merayakan kelulusan mereka dengan sukacita. Sementara aku, harus merayakan kelulusanku dengan dukacita di depan jasad ayahku. Hiks. Hiks..." Nicha menangis tersedu-sedu mengingat kenangan pahit yang ia alami semasa kecil.


Melihat Nicha menangis, Rei merasa iba. Langsung saja ia meraih kepala Nicha untuk bersandar dibahunya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, ayahmu pasti sudah bahagia di sana, melihat putrinya menjadi orang yang mandiri dan kuat. Dan sekarang, kamu juga sudah mempunyai seseorang yang akan menjagamu seperti ayahmu..."


Nicha tersentak dengan ucapan Rei. Langsung saja ia menegakkan kepalanya, menatap Rei.


"Great akan menjagamu dengan sangat baik. Kamu beruntung, mempunyai kekasih seperti Great..."


Rei menatap mata Nicha dalam. Begitu juga Nicha, ia seperti merasa bersalah telah berbohong kepada Rei.


Maafkan aku Rei. Aku terpaksa membohongimu tentang hubunganku dengan Great. Batin Nicha.


"Ah, sudah semakin siang. Ayo kita kembali ke mobil. Akan aku antar kamu pulang."


Nicha mengangguk. Kemudian mereka berdua memasuki mobil. Tak berapa lama, mobil melaju meninggalkan taman.


...***...


Bella telah tiba di depan rumah Nicha. Beberapa menit, ia mengamati rumah Nicha. Namun, ia tidak mendapati mobil Rei disana.


Sepertinya Rei tidak ke sini? Lalu, ke mana mereka pergi? Jangan-jangan Rei berselingkuh dibelakangku... Gumam Bella dengan pandangan tajam kedepan sedangkan tangannya sudah mencengkram stir dengan kuat.


...***...


Sementara di kamar Nicha. Great terlihat sudah bangun dari tidurnya. Ia merasa bosan, lalu beranjak keluar kamar.


Apa dia masih belum pulang kuliah? Batin Great seraya mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


Merasa perutnya lapar. Lalu Great menuju meja makan dan segera duduk untuk menyantap makan siang yang telah disediakan sebelumnya oleh Nicha. Selesai makan, Great bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Karena merasa sudah lebih baik, Great berniat untuk berangkat ke kantor. Setelah merapikan diri, Great bergegas menuju keluar rumah Nicha.


Ketika Great sedang menutup pintu rumah Nicha. Tiba-tiba, terdengar suara wanita yang memanggil namanya dari arah belakang.

__ADS_1


"Great!" seru wanita itu.


Seketika Great menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya ia melihat wanita yang sedang berdiri dihadapannya.


__ADS_2