
Di ballroom hotel JW Marriot, Bangkok.
"Dimana dia?"
Ranida tampak kebingungan, seakan mencari seseorang. Ia berkeliling ballroom dengan pandangan tak tentu arah.
"Kamu mencari siapa, sayang?" tanya Mama Chotika seraya menghampiri Ranida.
"Oh, aku sedang mencari Great, Ma, Pa."
"Memangnya kemana dia? Bukankah, kalian selalu bersama?" tanya Papa Thagoon heran.
"Tadi aku ke toilet sebentar, Pa. Dan ketika aku kembali, ternyata Great sudah tidak ada."
"Apa kamu sudah menghubungi ponselnya?" tanya Mama Chotika lagi.
"Sudah, Ma. Tapi tidak ada jawaban."
Mama Chotika dan Papa Thagoon saling bertatapan dan menjadi ikut bingung.
"Sebentar, Papa akan menghubungi Jac..."
Papa Thagoon mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dan langsung menelepon Jac.
"Halo, Jac," sapa Papa Thagoon.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" jawab suara dari seberang telepon.
"Apa Great bersamamu saat ini?"
"Tidak, Tuan. Saat ini, tuan muda Great sedang mengadakan rapat penting dengan pihak kontraktor proyek departemen store, Tuan."
"Apa!? Kenapa malam-malam begini?"
"Sebenarnya, hal ini sudah dibicarakan oleh pihak kontraktor 3 hari yang lalu, Tuan. Tapi, karena tuan muda terlalu sibuk, maka rapatnya ditunda hingga malam ini."
"Kenapa Great tidak memberitahu padaku? Dan kenapa David tidak bisa menghandle urusan ini?"
"Pihak kontraktor ingin bertemu langsung dengan tuan muda, Tuan. Makanya, David tidak bisa menghandle rapat sendirian."
"Baiklah. Aku akan menghubungi David sekarang. Terima kasih atas informasinya, Jac."
"Sama-sama, Tuan."
Kemudian sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa, Pa?" tanya Mama Chotika cemas.
"Tidak apa-apa, Ma. Papa akan menghubungi David terlebih dahulu."
Lalu, Papa Thagoon berjalan menjauh dari Ranida dan Mama Chotika sambil terus menempelkan ponsel ditelinganya.
"Halo, David?" sapa Papa Thagoon.
"Ya, Tuan," jawab seseorang dari seberang telepon.
"Apa Great bersamamu?"
__ADS_1
"Ya, Tuan. Tuan Great sedang mengadakan rapat dengan pihak kontraktor."
"Berikan ponselmu kepadanya, aku ingin bicara dengannya."
"Maaf, Tuan. Saat ini, tuan Great sedang melakukan presentasi, jadi tidak mungkin saya menyerahkan ponsel ini, Tuan."
"Ck, baiklah. Katakan saja pada Great, bahwa saat ini, istrinya sedang cemas menunggunya. Jadi, selesaikan rapat secepat mungkin dan segeralah pulang."
"Baik, Tuan. Nanti akan saya sampaikan kepada tuan muda."
"Terima kasih, Vid."
"Sama-sama, Tuan."
Lalu sambungan terputus.
"Sebenarnya ada apa, Pa? Dimana Great?" tanya Mama Chotika khawatir.
"Great sedang mengadakan rapat dengan pihak kontraktor proyek. Tapi, Papa mengatakan pada David, untuk segera menyelesaikan rapat tersebut. Sehingga, Great bisa segera pulang."
"Oh, deear... Kamu sabar ya," ujar Mama Chotika seraya mengelus kepala Ranida.
"Ya, Ma. Mai pen rai (tidak apa-apa)." Ranida tersenyum menatap Mama Chotika.
Yang benar saja. Bisa-bisanya dia meninggalkan istrinya dimalam pengantin. Dasar laki-laki kurang ajar. Awas saja kau Great. Aku tidak akan melepaskanmu besok malam. Kau harus menjadi santapan lezatku. Batin Ranida.
...***...
Keesokan harinya.
Didalam kamar hotel. Great dan Nicha, tampak masih tertidur pulas. Dengan posisi saling membelakangi dan tangan Great memeluk pinggang Nicha.
"Ini semua seperti dalam dongeng. Bagaimana bisa, seorang putra mahkota sepertimu, mencintai seorang gadis miskin sepertiku?" bisik Nicha sambil membelai pipi Great.
"Tentu saja bisa. Karena, kamu adalah seorang wanita istimewa, untuk pria yang istimewa seperti diriku," jawab Great seraya membuka matanya.
"Kamu terlalu yakin, tuan muda. Bagaimana kamu bisa mengatakan aku wanita yang istimewa?"
"Karena kamu wanita yang kuat dan mandiri. Berhati baik, suka menolong orang lain. Dan tidak pernah menyimpan dendam terhadap orang lain."
Kedua mata Great dan Nicha saling bertemu. Agak lama mereka bertatapan.
"Berjanjilah padaku, jangan pernah berusaha menjauhiku lagi. Hum?"
Nicha terdiam sejenak, menatap dalam, kedua mata Great. Kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
Great tersenyum. Hatinya seperti merasakan kebahagiaan yang besar saat itu. Dan tanpa aba-aba, ia mulai mendekati wajah Nicha, hendak mencium kening Nicha. Lalu, turun kebagian bibir Nicha. Lagi-lagi, mereka berciuman mesra dipagi hari. Hampir saja, mereka melakukan hal yang lebih jauh lagi, jika tidak dihentikan oleh suara getaran ponsel.
__ADS_1
"Haish... Siapa yang menelepon pagi-pagi begini," sungut Great.
Nicha hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Great.
"Hei, kenapa kamu tersenyum. Urusan kita belum selesai. Setelah menerima telepon, aku akan melanjutkannya lagi. Mengerti?" ancam Great.
Mata Nicha membulat mendengar ancaman dari kekasihnya. Lalu, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Halo, Jac. Ada apa?"
"Tuan... Dimana tuan sekarang?"
"Aku masih dihotel. Memangnya, kenapa Jac?"
"Maaf, Tuan. Sebaiknya, sekarang tuan harus cepat menemui tuan besar. Karena, semalam beliau cemas mencari tahu keberadaan tuan."
"Lalu apa yang kau katakan pada Papaku?"
"Saya mengatakan, sesuai perintah tuan."
"Bagus. Tapi pagi ini, aku masih ada urusan. Aku harap kau bisa menolongku lagi, Jac."
"Saya akan membantu tuan, semampu saya. Tapi saya khawatir, tuan besar akan mencari tahu dengan cara yang lain."
"Kau tenang saja, Jac. Urusanku tidak akan lama. Jika nanti Papaku mencariku lagi, kau hanya perlu menahan Papaku selama 2 jam. Setelah itu, aku akan segera menemui beliau."
"Baiklah kalau begitu, tuan. Semoga urusan anda cepat terselesaikan."
"Terima kasih, Jac."
Lalu, Great menutup sambungan ponselnya.
"Teerak (Sayang), kita harus segera berkemas sekarang. Aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat," ucap Great sambil beranjak dari ranjang.
Apa aku tidak salah dengar? Barusan, dia memanggilku apa? Batin Nicha.
"Hei! Kenapa kamu malah melamun?" seru Great menyadarkan Nicha dari lamunannya.
"Eh... I-iya, Great. Tadi kamu bicara apa?" tanya Nicha bingung.
"Heuh... Ayo bangun...!" Great menarik tangan Nicha.
"Eeh, kamu mau apa?"
Great terus saja menarik tangan Nicha menuju kamar mandi.
"Ayo cepat masuk!" perintah Great seraya membuka pintu kamar mandi.
"Heh? Kenapa kamu mengajakku ke kamar mandi? Jangan katakan, kalau kita akan..." Nicha menatap Great dengan curiga.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" sindir Great seraya menyentil dahi Nicha.
"Auwh!" pekik Nicha sambil mengusap dahinya.
"Sudah ayo masuk. Bersihkan dirimu cepat. Setelah ini, kita harus segera pergi."
Great meraih handuk dan memberikan kepada Nicha, lalu mendorong Nicha masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.
__ADS_1
Kenapa dia bisa berpikir hal kotor semacam itu? Dasar gadis mesum.
Great tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.