Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 45


__ADS_3

Didalam mobil Great.


"Memangnya kita akan kemana, Great?" tanya Nicha sambil memakai safety beltnya.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, di Ratchaburi," jawab Great seraya menyalakan mesinn mobil, lalu melaju pergi meninggalkan basement hotel.


"Ratchaburi? Untuk apa kita kesana?"


"Disana ada sebuah rumah yang aku beli dari seorang teman. Untuk sementara, kamu tinggal dulu disana. Sampai aku bisa meyakinkan kedua orang tuaku. Maka aku akan menjemputmu dan kita akan langsung menikah."


"Apa!? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti tahanan? Aku tidak mau!" ketus Nicha dengan muka cemberut memandang kedepan dengan tangan terlipat didadanya.


"Teerak (Sayang), aku mengerti ini akan sulit bagimu. Tapi, hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa selalu bertemu denganmu. Aku tidak sanggup, jika harus berpisah lagi denganmu, Nich."


Great menatap Nicha sekilas dan langsung menggenggam tangan Nicha. Lagi-lagi, Nicha tak berdaya dengan perlakuan Great terhadap dirinya. Saat ini pikirannya menjadi bercampur aduk. Disatu sisi, ia tidak sanggup melihat pria yang ia cintai harus menderita lagi karenanya, tapi juga ia merasa bingung, apakah keputusan Great kali ini sudah benar.


Selama perjalanan tak hentinya Nicha terkagum akan keindahan pemandangan kota Ratchaburi.



Setelah 1,5 jam berlalu. Akhirnya mobil Great berhenti dihalaman sebuah rumah dengan desain klasik berwarna putih dan kaca-kaca besar menghiasi seluruh sisi rumah tersebut.


Kemudian, Nicha segera turun dari mobil. Berjalan mendekati rumah tersebut dengan menatap kagum ke segala penjuru.



"Waah... Rumah ini sangat besar dengan halaman yang sangat luas," seloroh Nicha.


Great hanya tersenyum melihat tingkah laku Nicha yang begitu terkagum oleh pemandangan disekitar rumah tersebut.


"Kamu akan meninggalkan aku untuk tinggal dirumah sebesar ini, Great?"


Great mengangguk menjawab pertanyaan Nicha.


"Hah!? Bagaimana aku akan hidup sendirian ditempat terpencil seperti ini? Kamu benar-benar tidak berperasaan," rajuk Nicha.


Melihat Nicha mulai merajuk, lalu Great berjalan menghampirinya.


"Siapa yang akan membiarkanmu tinggal disini sendirian, hum? Coba lihat dibelakangmu sekarang..."


Sepintas, Nicha langsung membalikkan badannya. Lalu tampaklah seorang wanita muda yang sedang berdiri didepan pintu rumah sambil melemparkan senyuman kepada Nicha.


"Si-siapa wanita itu, Great?" tanya Nicha bingung.


"Ayo aku kenalkan..." Great langsung menarik tangan Nicha menuju tempat wanita tersebut berdiri.


"Sawadhi kab, P'May (Halo, Kak May)," salam Great pada wanita tersebut seraya menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


"Sawadhi kha, Great (Halo juga, Great)," sahut wanita tersebut.


"Perkenalkan, Kak May. Ini Nicha..." ucap Great memperkenalkan Nicha pada wanita tersebut.


"Oh... Jadi ini wanita yang sudah memikat hatimu, Great," seloroh wanita tersebut.


Mendengar hal itu, Great hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


"Perkenalkan, aku Maylada Susri. Kamu bisa memanggilku Kak May..." ucap wanita tersebut seraya mengulurkan tangannya kearah Nicha.


"Aku Nicha. Tanicha Thanachart..." sahut Nicha sambil menjabat tangan Maylada.


Lalu mereka berdua saling melempar senyuman. Seketika, Great merasa sangat haus, lalu membuyarkan tatapan meraka berdua.


"Kenapa cuaca terasa sangat panas. Aku ingin minum sesuatu yang dingin..." ujar Great sambil berjalan masuk kedalam rumah.


Kak May dan Nicha hanya tersenyum mendengar ucapan Great. Lalu mereka berdua ikut masuk kedalam rumah.


"Apa kalian sudah sarapan?" tanya Kak May kepada Great dan Nicha.


"Belum," seru Great.


"Sudah," sahut Nicha.


Nicha dan Great, sontak berpandangan. Sementara Kak May mengernyitkan dahinya menatap mereka berdua.


"Jadi, jawaban siapa yang harus aku percayai?" tanya Kak May memandang Great dan Nicha secara bergantian.


"Tentu saja aku. Kalau Nicha merasa sudah sarapan, biarkan saja. Dia tidak perlu ikut sarapan bersama kita," sindir Great seraya melirik Nicha.


Sementara Nicha hanya bisa memajukan bibirnya mendengar sindiran dari Great.


"Haha... Baiklah, aku mengerti. Ayo sekarang kita sarapan bersama," ajak Kak May.


Great langsung mengikuti langkah Kak May menuju ruang makan. Namun, tidak dengan Nicha. Ia masih terpaku ditempatnya berdiri. Great yang menyadari hal itu, langsung berbalik menatap Nicha.


"Hei... Kenapa kamu masih berdiri disitu? Apa perutmu tidak lapar?" tanya Great.


Mendengar ucapan Great, Nicha semakin memajukan bibirnya dan berkata...


Nicha segera melangkah keluar. Namun, Great segera menahan langkah Nicha dengan memeluknya dari belakang.


"Apa kamu merajuk padaku?"


Seketika Great dan Nicha saling berpandangan.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi. Ayo, kita sarapan bersama. Hum?"


Walaupun Great sudah berusaha merayu Nicha. Namun, Nicha masih tetap tidak merubah mimik wajahnya yang masih tampak kesal.


"Apa aku harus memborgol tanganmu lagi, agar kamu tidak dapat lepas dariku?"


"Hish... Baiklah, ayo kita sarapan," sahut Nicha seraya berjalan menuju meja makan.


Great hanya tersenyum sambil menatap Nicha dari belakang, lalu mengikutinya menuju meja makan.


Setelah selesai sarapan, Great berpamitan kepada Kak May dan Nicha untuk kembali ke Bangkok.


"Aku titip Nicha padamu Kak May. Tolong jaga dia baik-baik," ucap Great.


"Tentu saja tuan muda. Aku pasti akan menjaga permaisurimu dengan baik disini, kau jangan khawatir."


"Dan untukmu, aku harap kamu akan menjadi anak baik selama disini. Jangan menyusahkan Kak May. Mengerti?"

__ADS_1


Nicha mengangguk pelan sambil terus menatap Great.


"Aku harap, kamu akan segera kembali lagi kesini Great."


"Aku pasti akan secepatnya kembali kesini, karena aku tidak akan sanggup berpisah denganmu lagi, Nich."


Lalu Great mencium kening Nicha.


"Aku mencintaimu," ucap Great lirih.


"Aku juga."


Kini, kedua pasang mata Great dan Nicha saling bertatapan. Melihat adegan tersebut, Kak May merasa kehadirannya diabaikan.


"Ehem, ehem..."


Mendengar Kak May berdehem, Great dan Nicha menjadi salah tingkah dan kembali tersadar.


"Baiklah, aku harus segera pergi. Jaga dirimu baik-baik," ucap Great seraya tersenyum, lalu berjalan masuk kedalam mobil.


Tak henti-hentinya, Nicha menatap kepergian Great sampai mobilnya sudah tak terlihat lagi.


"Kamu sungguh beruntung, Nich..." ujar Kak May.


"Hah? Kenapa Kak May?" tanya Nicha yang berpaling menatap Kak May.


"Great adalah laki-laki baik dan setia. Bahkan dia tidak pernah bergonta-ganti pasangan, walaupun banyak wanita yang tergila-gila padanya."


"Benarkah?" tanya Nicha kaget.


"Ya. Setahuku, dia hanya sekali berhubungan dengan wanita,.yang bernama Bella. Apa Great telah menceritakannya padamu?"


"Tidak... Great tidak pernah menceritakan tentang hubungan asmaranya dimasa lalu."


"Auwh... Berarti kamu tidak mengetahui tentang Bella?"


"Aku tahu tentang Nona Bella dari seorang teman. Dia menceritakan padaku, bahwa Nona Bella adalah mantan kekasih Great."


"Oh, begitu," ucap Kak May sambil mengangguk pelan.


"Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Hubungan mereka sudah lama kandas. Karena Bella memutuskan hubungannya dengan Great. Dan sekarang, dia sudah bertunangan dengan pria lain," sambung Kak May.


"Tidak apa-apa Kak. Aku mengerti."


"Oh ya, apa kamu tahu? Great pernah berkata padaku, bahwa ketika dia telah menemukan seorang wanita yang benar-benar ia cintai. Maka, ia akan membawanya kesini."


Nicha terdiam sesaat, mendengar ucapan Kak May.


"Maksud Kak May?" tanya Nicha bingung.


"Oh, Nich... Kamu masih belum mengerti juga? Bahkan sekarang kamu sudah berada disini. Itu berarti, Great benar-benar mencintaimu. Jadi, kamu jangan pernah meragukan cinta Great kepadamu. Karena, dia akan berusaha untuk menjaga wanita yang ia cintai."


"Hemm, Kak May... Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Tentu saja boleh. Apa yang ingin kamu tanyakan?"

__ADS_1


Nicha menatap Kak May dalam. Berusaha menguatkan dirinya, untuk mengatakan sesuatu.


...***...


__ADS_2