
Nicha sangat terkejut mendapati laki-laki yang menarik tangannya adalah Great.
"Tu-tuan!" pekiknya.
Namun, Great terus saja menarik Nicha. Dan menuntun Nicha agar mengikutinya.
"Tuan, apa yang anda lakukan? Tolong lepaskan tanganku."
Nicha kembali memberontak. Tapi kekuatannya tidak sebanding dengan genggaman tangan Great. Lalu dengan sigap, Great memencet tombol dengan lambang panah keatas. Seketika, lift terbuka dan Great langsung menarik Nicha untuk masuk kedalam lift.
Setelah pintu lift tertutup, Great kembali menekan tombol bertuliskan angka 9, kemudian liftpun beranjak naik.
Didalam lift, Great dan Nicha hanya terdiam. Mereka tidak saling bicara ataupun berpandangan. Tak lama kemudian, liftpun telah sampai dilantai 5 hotel. Great kembali menarik tangan Nicha dan menuntunnya keluar lift, menuju ke sebuah kamar. Setelah tiba didepan pintu kamar, Great segera mengeluarkan sebuah kartu dan langsung ia tempelkan pada mesin scan.
KLIK!
Pintu kamarpun terbuka. Great menarik tangan Nicha agar mengikutinya masuk kedalam kamar. Tapi, lagi-lagi Nicha memberontak.
"Aku tidak mau!" seru Nicha.
"Masuklah," pinta Great dengan lembut.
"Tidak! Aku tidak akan menuruti perintahmu lagi. Aku sudah muak denganmu!"
Melihat kemarahan dimata Nicha, Great tidak membalas ucapannya. Langsung saja, ia menggendong tubuh mungil Nicha dan membawanya masuk kedalam kamar. Lalu dengan otomatis, pintu kamar kembali terkunci.
"Lepaskan tanganku. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi. Biarkan aku pergi..."
Nicha memberontak sekuat tenaga. Tapi tetap saja, tubuhnya tidak berdaya melawan kekuatan Great yang jauh lebih besar dari dirinya.
Melihat Nicha yang semakin memberontak, Great malah semakin menguatkan genggaman tangannya. Lalu mendorong tubuh Nicha hingga bersandar ditembok. Dengan kedua tangan Great yang menahan tangan Nicha keatas. Great menatap wajah Nicha lekat. Ia sangat merindukan pemandangan yang saat ini terpampang dihadapannya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Nich," ucap Great lembut.
"Bullshit! Aku tidak akan termakan oleh rayuanmu lagi. Kamu hanyalah seorang penipu ulung yang bertopengkan seorang putra mahkota. Tapi sebenarnya, hatimu sangat licik. Kamu bajingan, Great! Lepaskan aku!" teriak Nicha.
"Bicaralah sesukamu, Nich. Aku akan mendengarkannya. Caci aku sepuasmu. Aku akan menerimanya," ujar Great dengan terus menatap Nicha.
Nicha menatap tajam kearah Great. Ingin rasanya ia menumpahkan segala kekesalannya kepada Great saat itu. Namun, hal itu urung dia lakukan. Entah kenapa, saat itu, Nicha merasa bahwa dirinya menjadi tak berdaya karena tatapan Great terhadap dirinya. Akhirnya, Nicha mencoba untuk mencari jalan tengah dan melembutkan suaranya, berharap Great akan melepaskannya.
"Untuk apa aku mencaci seorang tuan muda seperti dirimu. Bahkan kamu terlihat sangat sempurna. Aku tidak pantas mencaci dirimu. Maka dari itu, aku mohon lepaskan aku. Aku hanya ingin hidup seperti manusia normal lainnya. Dan tolong, mulai saat ini, jangan ganggu hidupku lagi," ucap Nicha lirih.
"Tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu, Nich. Aku sangat mencintaimu. Aku mohon padamu, mengertilah. Dan jangan berkata bahwa kamu ingin pergi dari hidupku. Bisakah kita memulai dari awal lagi, Nich?"
"Heuh... Memulai apa Great? Aku bahkan tidak mencintaimu dan sekarang kamu sudah menikah dengan wanita lain."
"Jangan berusaha membohongiku, Nich. Aku tahu, kamu juga merasakan hal yang sama. Kamu juga mencintaiku kan? Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu pergi ke restoran itu, untuk menemuiku?"
"Apa? Mencintaimu? Dengar baik-baik, tuan muda Great. Aku hanya wanita miskin, aku tidak pantas mencintaimu. Waktu itu, aku memang datang ke restoran untuk menemuimu. Tapi, kamu sudah pergi terlebih dahulu. Dan mulai hari itu, aku sadar bahwa kamu hanya mempermainkanku. Dan betapa bodohnya aku telah berkhayal untuk mencintaimu."
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Karena aku sangat mengerti dirimu. Oh, atau kamu ingin mengatakan bahwa pernikahan ini, juga atas paksaan orang tuamu, benarkan?"
Great terdiam.
"Sudahlah, Great. Kita tidak akan pernah bisa bersatu. Walaupun, kita saling mencintai... Toh kamu tidak bisa terlepas dari bayang-bayang orang tuamu. Maka dari itu, aku mohon lepaskan saja aku. Kamu harus hidup bahagia dengan istrimu dan aku pun akan memulai hidup baruku bersama ibu dan adikku. Kita akan sama-sama bahagia, walaupun tidak saling memiliki."
Great menatap Nicha dalam. Seakan mencari jawabannya. Dan tanpa aba-aba, Great langsung menggendong tubuh Nicha dan meletakkannya diatas ranjang. Lalu Great hendak membuka kancing-kancing jas dan kemejanya. Sepintas, Great sudah tampak setengah telanjang, dengan kemeja yang terbuka, kemudian ia juga hendak melepas ikat pinggang serta celana panjangnya.
Melihat pemandangan yang begitu mengerikan, Nicha menjadi panik dan sangat ketakutan.
"Great... Apa yang akan kamu lakukan?"
Setelah semua pakaian Great terlepas dan hanya tersisa pakaian dalamnya saja. Lalu, Great naik ke ranjang dan mulai mendekati Nicha. Sontak, Nicha semakin menarik tubuhnya, untuk menjauhi Great.
__ADS_1
"Great... Ja-jangan lakukan itu. Aku mohon..."
Suara Nicha terdengar lirih sambil terus mundur, sampai akhirnya, tubuhnya tersandar pada sandaran ranjang.
"Aku tidak akan melepaskanmu malam ini, Nicha. Setelah ini, kita akan terus bersama untuk selamanya. Aku berjanji padamu."
Sekarang, wajah Nicha hanya berjarak 5 centimeter dengan wajah Great. Merasa semakin tersudut, Nicha mendorong tubuh Great sekuat-kuatnya dan hendak melarikan diri. Namun, Great segera menarik tangan Nicha, sampai akhirnya terjatuh diatas ranjang. Saat itulah, Great langsung menindih tubuh Nicha dan mulai menciumi leher Nicha.
"Great, jangan lakukan ini. Aku mohon..."
Nicha terus memberontak. Tapi Great semakin menguatkan genggamannya dan semakin liar menjamah seluruh bagian leher Nicha. Entah, roh apa yang telah merasuki Great saat itu. Sampai ia berpikir untuk merenggut keperawanan Nicha malam itu.
"Great, aku mohon. Lepaskan aku. Hiks, hiks."
Nicha sangat ketakutan, sampai-sampai ia menangis mendapatkan perlakuan kasar dari Great.
Mendengar isak tangis Nicha, akhirnya, Great menghentikan aksinya. Lalu ia menyingkirkan beberapa helai rambut Nicha yang sudah menutupi sebagian wajahnya.
"Maafkan aku Nich. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku sangat mencintaimu. Maka aku harap, berjanjilah untuk tidak pergi meninggalkanku lagi. Hum?" ucap Great seraya membelai lembut wajah Nicha.
Mendengar permintaan Great, Nicha mengangguk pelan. Rasanya, ia juga sudah tidak berdaya, jika harus terus membohongi dirinya sendiri. Bahwa ia pun begitu mencintai Great.
Great tampak bahagia. Akhirnya, Nicha mengakui bahwa ia pun mencintainya. Lalu, Great kembali mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Nicha. Dan tanpa perlawanan, Nicha menyambut bibir Great dengan ikhlas.
Saat itu, Great dan Nicha seperti pasangan yang tengah dimabuk asmara. Kedua bibir mereka saling berpagutan. Great ******* setiap inci bibir Nicha dengan lembut. Nicha pun berlaku hal yang sama. Ia seperti mendapatkan kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan. Ya, sentuhan bibir dari laki-laki yang sangat ia cintai.
Semakin lama, ciuman mereka semakin dalam. Seakan gairah birahi telah menyelimuti pikiran dan hati Great. Lalu dengan perlahan, Great meraih kancing baju Nicha, hendak membukanya. Dan saat itulah, Nicha menghentikan ciumannya seraya menatap kedua mata Great dalam-dalam.
...***...
__ADS_1
JREENG. HAYO JANGAN DIBAYANGIN YA GUYS. NANTI BISA REPOT URUSANNYA. TAPI KALO BUAT YANG UDAH NIKAH... LANJUTKAN! HEHEHE