
Setelah membaca pesan terakhir dari Ranida. Great menghentikan percakapan pesannya dengan Ranida. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu. Ranida seperti wanita nakal yang merindukan belaian dari seorang pria dan sangat membutuhkan kepuasan birahi. Entah kenapa, Great menjadi ragu dengan keperawanan Ranida.
Bagaimana bisa aku menikahi wanita seperti dia? Gumam Great.
Sejurus kemudian, Great bergegas untuk pulang kerumahnya.
...***...
Dikediaman Great.
Sore hari yang cerah. Angin sepoi dan matahari sore bersinar redup membuat suasana terasa nyaman. Tampak, Papa Thagoon sedang bersantai ditaman belakang rumah.
"Sore Pa." sapa Great kepada Papanya.
"Oh, sore Great. Kau baru pulang?"
"Iya Pa," jawab Great seraya duduk disebelah Papa Thagoon.
"Beberapa hari ini, Papa tidak melihatmu dirumah. Apa kau menginap di apartemen?"
"Iya Pa. Beberapa hari ini, pekerjaanku sangat banyak. Karena proyek pembangunan departemen store yang baru telah memasuki tahap awal. Jadi, aku harus memastikan semua sudah dipersiapkan dengan baik. Maka, untuk tahap berikutnya tidak terjadi kendala."
Papa Thagoon tersenyum seraya mengangguk bangga terhadap kemampuan anaknya mengelola perusahaan.
"Papa bangga denganmu Great. Kamu memang pantas menjadi pewaris Warinton Grup."
Great tersenyum mendengar pujian dari Papanya.
"Mmm, Pa. Ada yang ingin aku bicarakan..."
"Mengenai apa?"
"Pertunanganku dengan Ranida."
"Oh, baguslah. Sekarang kau sudah bisa memikirkan tentang kelanjutan hubunganmu dengan Ranida. Hum?"
"Ya Pa. Dan setelah aku memikirkan hubunganku dengan Ranida. Maka aku mengambil keputusan untuk..."
"Untuk apa Great? Kenapa kau menjadi gugup begitu. Katakan saja, jika kau ingin segera menikah dengan Ranida? Benar kan?"
Great menggeleng pelan, menjawab pertanyaan Papanya.
__ADS_1
"Apa? Jadi tebakanku salah? Lalu apa keputusan itu? Katakanlah..."
"Aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Ranida, Pa."
"Apa!? Keputusan macam apa itu Great? Kau ini adalah seorang laki-laki terhormat. Bagaimana mungkin kau memutuskan hal serendah itu? Dan bagaimana pandangan orang lain terhadap keluarga kita? Mereka akan menganggap keluarga kita telah mempermainkan keluarga Panhakarn."
"Tapi aku tidak mencintainya Pa!"
"Omong kosong! Cinta itu akan muncul ketika kalian selalu menghabiskan waktu bersama. Itulah yang belum bisa kau lakukan, karena kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Dengar Great, kau adalah seorang laki-laki dewasa. Seharusnya, kau juga bisa berpikir dewasa. Pikirkan bagaimana perasaan Ranida yang akan merasa bahwa kau hanya ingin mempermainkannya. Dan bagaimana dengan Warinton Grup? Saham kita akan menurun drastis karena keputusan konyolmu itu."
"Jika aku tetap bertunangan dengan Ranida dan sampai menikahinya. Itu berarti, aku telah lebih menyakitinya. Lebih baik, Ranida mengetahui kebenarannya sekarang disaat dia masih berstatus lajang. Sementara untuk masalah perusahaan, aku akan berusaha mengatasinya Pa. Aku yakin, perusahaan kita tidak benar-benar akan terpuruk, jika aku membatalkan pertunanganku dengan Ranida."
"Apa kau bilang? Jadi kau berpikir untuk menceraikan Ranida setelah menikah nanti. Tidak Great! Papa tidak akan membiarkannya. Kau harus langkahi dulu mayat Papa jika kau ingin memutuskan hubungan dengan Ranida. Dan Papa ingin, pernikahanmu dipercepat menjadi bulan depan. Dalam 1 bulan ini bereskanlah pekerjaanmu yang mendesak. Dan berikanlah mandat kepada asistenmu untuk meng-handle proyek departemen store, selama kau menikah nanti. Mengerti!""
Great tampak kesal dengan keputusan Papanya yang terus mendesaknya untuk melanjutkan hubungan dengan Ranida.
"Tidak! Aku tidak bisa menuruti kemauan Papa lagi. Bahkan tadi Papa mengatakan kalau aku sudah menjadi laki-laki dewasa. Maka aku berhak untuk memutuskan kehidupanku sendiri. Maafkan aku Pa."
Great membungkukkan badannya kearah Papa Thagoon seraya berjalan meninggalkan Papanya.
"Great! Beraninya kau! Akh, akh..."
"Astaga, Papa!"
Mama Chotika langsung berlari menghampiri suaminya. Sejurus kemudian, Great pun menoleh kearah Papanya, dan betapa terkejutnya ia mendapati Papanya sudah tersungkur ditanah.
"Papa!" Great berlari menghampiri Papanya.
"Great, apa yang terjadi? Kenapa Papamu pingsan begini?" tanya Mama Chotika.
Great hanya terdiam. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal yang menyebabkan Papanya pingsan.
"Nanti saja aku ceritakan Ma. Sebaiknya sekarang, kita bawa Papa masuk ke kamar..."
Mama Chotika mengangguk. Sejurus kemudian, Great mengangkat tubuh Papa Thagoon dengan dibantu security rumah.
Setelah tiba dikamar, Great segera membaringkan Papanya diatas tempat tidur. Kemudian, Great langsung menghubungi dokter keluarga Warinton.
Setelah menunggu 30 menit. Akhirnya dokter pun datang. Dan langsung memeriksa keadaan Papa Thagoon.
"Kondisi jantungnya masih belum stabil. Mudah-mudahan setelah meminum obat, kondisi jantungnya akan kembali normal."
__ADS_1
"Tapi, tidak mengkhawatirkan kan Dok?" tanya Mama Chotika khawatir.
"Untuk saat ini belum. Tapi, jika beliau mengalami syok lagi, mungkin akan lebih parah. Jadi saya harap, perlakukan beliau dengan baik dan jangan sampai mengatakan sesuatu yang dapat membuatnya syok," jelas dokter sambil memberikan obat kepada Mama Chotika.
"Terima kasih Dok," ucap Mama Chotika dan Great.
Lalu dokter itu hanya membalasnya dengan mengangguk seraya berjalan keluar diantar oleh Great.
Setelah mengantar dokter pergi. Great kembali kekamar Papanya.
"Sekarang katakan kepada Mama, apa yang sudah terjadi, antara kau dan Papamu?
Lalu Great menjelaskan semua yang terjadi kepada Mama Chotika.
"Apa? Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu kepada Papamu Great. Apa kau tidak mempertimbangkan tentang kesehatan Papamu?"
"Aku mengaku salah Ma. Kho thod (maaf). Tapi, keputusanku itu juga penting Ma, karena menyangkut masa depan dan perasaanku."
"Dengar Great! Untuk saat ini, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan Papamu. Lagi pula, kenapa kau berpikir untuk membatalkan pertunanganmu dengan Ranida? Padahal sebelumnya, kau tampak menerima perjodohan ini."
"Karena sekarang aku sudah memiliki seseorang untuk aku perjuangkan Ma..."
"Apa!? Maksudmu kamu menyukai wanita lain?" Mama Chotika tampak kaget mendengar pernyataan Great.
Great mengangguk.
"Auwh, biarkan Mama menjernihkan pikiran Mama sebentar..."
"Atau jangan-jangan kau masih berhubungan dengan Bella?" tanya Mama Chotika lagi.
"Bukan Ma. Aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun kepada Bella. Lagi pula, sekarang Bella sudah bertunangan dengan pria lain."
"Lalu siapa wanita itu?"
Great berpikir sejenak mendengar pertanyaan Mamanya.
"Nanti aku akan mengenalkannya kepada Mama, jika waktunya sudah tepat."
"Maafkan Mama Great. Sepertinya dalam masalah ini, Mama tidak dapat membantumu. Mama harap, kau akan tetap menjadi anak laki-laki yang patuh dan berbakti kepada orang tuamu. Karena ini semua sudah terlanjur terjadi. Jika sejak awal, kau mengatakan kepada kami, bahwa kau mempunyai seorang wanita yang kau sukai. Mungkin ceritanya akan berbeda dan mungkin Papamu akan mempertimbangkan wanita itu."
"Mama minta maaf Great. Bukan maksud Mama menyuruhmu untuk mengorbankan perasaanmu. Tapi berpikirlah rasional. Saat ini, dalam hidupmu hanya ada 2 pilihan, apakah kau sanggup mengorbankan perasaanmu demi Papamu yang telah membesarkan dan mendidikmu hingga menjadi seperti sekarang? Atau kau harus mengorbankan Papamu demi perasaanmu kepada wanita yang baru saja kau kenal?"
__ADS_1