Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 51


__ADS_3

Di kantor administrasi sipil, Nakhon Sawan.


Great dan Nicha sedang berkonsultasi tentang tata cara pernikahan dengan petugas kantor administrasi. Sepintas, Great tampak serius mendengarkan arahan dari petugas kantor dan sesekali bertanya perihal tentangpernikahann.. Sementara Nicha, dengan setia menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut petugas tersebut.


Setelah merasa cukup. Lalu, Great dan Nicha berpamitan kepada petugas tersebut, lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Aku pikir, kita dapat langsung menikah sore ini..." ujar Great dengan wajah lesu.


"Hei... Memangnya apa bedanya sore ini atau besok pagi? Toh, waktunya tidak terlalu lama, kan?" seloroh Nicha.


"Tentu saja sangat berbeda, Teerak (Sayang). Kalau kita dapat menikah sore ini. Maka malamnya, aku tidak akan tidur sendiri lagi. Tapi jika besok pagi kita baru menikah? Lantas, dengan siapa aku akan tidur malam nanti?


"Kamu tenang saja, Great. Kamu bisa tidur bersama dengan Han. Bagaimana?"


"Huft!" Great mendengus kasar.


Nicha hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya tersebut.


Sesampainya dirumah Nicha. Ibu Nat, segera menyambut kedatangan mereka.


"Bagaimana hasilnya, Nich?" tanya ibu Nat penasaran.


"Kami sudah menyerahkan semua dokumen yang di butuhkan, Bu. Tapi, petugas Khet mengatakan bahwa kami baru bisa melaksanakan pernikahan besok pagi. Karena hari sudah sore."


"Oh, begitu. Ya sudah, lebih baik sekarang kita makan bersama. Pasti kalian sudah lapar, kan?"


"Aku masih kenyang, Bu. Dan aku akan pergi ke kamar sebentar, ada hal yang harus aku lakukan."


Lantas, Nicha dengan santainya pergi meninggalkan Great dan ibunya.


Eh... Kenapa dia meninggalkanku sendiri disini? Dasar wanita tidak tahu terima kasih. Awas saja kau, Nich. Jika sudah menikah nanti, aku tidak akan pernah melepaskanmu dari cengkramanku. Gerutu Great dalam hati.


"Nak Great, apa ingin makan sekarang?"


"Eh... Tidak usah, Bu. Nanti saja, saya belum lapar. Oya, apa Han sudah kembali dari rumah temannya, Bu?"


"Oh ya. Han sudah pulang. Sekarang dia sedang bermain game dikamarnya. Apa nak Great ingin bermain bersamanya?"


"Wah, tentu saja aku mau, Bu. Main game adalah kegemaranku."


"Baiklah. Mari ibu antar ke kamar Han."


Lalu Great mengikuti langkah ibu Nat menuju kamar Han. Dan benar saja, ketika pintu kamar dibuka, Han sedang asyik bermain game dengan tangannya yang sibuk memegang stik game.


"Han, ada seseorang yang ingin bermain bersamamu," ujar ibu Nat membuyarkan fokus Han.


"Eh, ibu," sahut Han seraya menekan tombol pause pada gamenya.


"Perkenalkan, ini Kak Great. Dia adalah calon suami kakakmu."


"Oh... Halo Kak Great. Apa kakak ingin bermain bersamaku?" tanya Han antusias.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sudah lama tidak bermain game. Ngomong-ngomong, game apa yang sedang kau mainkan?"


Sejjurus kemudian, Great dan Han sudah tampak akrab dengan saling berlomba bermain game untuk menjadi pemenang. Melihat pemandangan tersebut, ibu Nat hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Didalam kamar Nicha.


Tampak Nicha sedang menekan beberapa nomor dan hendak melakukan panggilan.


TUUUT... TUUUT...TUUUT.


"Halo!" sapa seorang wanita dari seberang telepon.


"Hai, Ren."


"Nicha! Akhirnya kamu menghubungiku. Bagaimana kabarmu? Aku sangat khawatir dengan keadaanmu, Nich."


"Aku baik-baik saja, Ren. Maaf ya, beberapa hari ini aku tidak menghubungimu."


"Ya, kau sangat jahat. Sejak, kamu memutuskan untuk bekerja di wedding organizer milik temanku, aku tidak bisa menghubungi nomor ponselmu. Aku sangat cemas dengan keadaanmu."


"Maafkan aku, Ren. Ada sesuatu hal yang mengharuskan aku mengganti nomor ponselku."


"Ada apa? Kenapa kamu harus berganti nomor ponsel?"


"Hemm, aku tidak bisa menceritakannya sekarang padamu. Tapi yang pasti, saat ini aku baik-baik saja. Jadi, jangan khawatir tentang diriku lagi, ya "


"Huft... Kamu selalu begitu. Tidak bisakah, kamu menceritakan semuanya padaku, Nich. Aku sangat penasaran."


"Ya, baiklah. Tapi kamu harus katakan, dimana kamu sekarang?"


"Aku berada di Nakhon Sawan."


"Apa!? Itu bukannya tempat ibu dan adikmu tinggal?" ucap Renata histeris.


"Iya. Aku memang sedang berada dirumah ibuku."


"Kamu sungguh tega, Nich. Kenapa kamu pergi sendiri kesana? Kamu kan bisa memintaku untuk menemanimu, ke Nakhon Sawan."


"Aku tidak pergi sendiri, Ren. Aku pergi bersama Great."


"Hah!? Be-bersama siapa?"


Renata terkejut bukan main, mendengar pernyataan Nicha.


"Aku pergi bersama Great," jelas Nicha.


"Ke-kenapa bisa? Sebenarnya apa yang telah terjadi, Nich? Kamu harus menceritakannya padaku sekarang."


"Ceritanya panjang, Ren. Aku tidak bisa menceritakannya padamu, sekarang. Oya, sebenarnya tujuanku meneleponmu, ingin meminta doa restu darimu."


"Doa restu? Maksudnya?" tanya Renata bingung.

__ADS_1


"Mmm... Besok pagi, aku dan Great akan memikah."


"What! Are you serious?"


"Ya. Aku serius, Ren."


"Kok bisa? Eh, maksudku. Kenapa secepat itu?"


"Aku juga tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi, Ren. Tapi, Great memaksa untuk menemui ibuku dan dia langsung melamarku dihadapan beliau."


"Tapi, bagaimana bisa? Bahkan Great baru saja menikah dengan Ranida 2 hari yang lalu."


"Aku juga sudah berusaha untuk menanyakan hal itu berulang kali. Tapi, keputusannya tetap sama, yaitu akan segera menikahiku. Beruntungnya, pada kartu penduduk, statusnya masih belum berubah. Dan dia memang tidak berniat untuk merubahnya. Sebelum menikah denganku."


"Astaga! Great sungguh gentleman. Dia benar-benar mencintaimu, Nich. Kamu beruntung akan menikah dengannya."


"Ya, aku juga merasa seperti itu. Tapi aku harap, kamu tidak memberitahukan hal ini pada siapapun ya, Ren."


"Tenang saja, sayang. Aku akan menjaga rahasia ini dengan sangaaaat baik. Jadi, kamu tidak oerlu khawatir. Fokus saja, dengan pernikahanmu besok ya."


"Terima kasih, Ren. Kamu memang sahabat terbaikku."


"Ya, tentu saja. Tapi, segera hubungi aku, jika kamu akan kembali ke Bangkok. Aku sudah tidak sabar, ingin mendengar semua ceritamu. Mengerti!"


"Iya, tentu saja. Oh ya... Maaf, aku harus menutup telepon terlebih dahulu, Ren. Karena, ibuku memanggilku. Daaah Renata. Love you so much. Mmmuuuaach!"


"Baiklah. Love you too, Beb. Have fun with your candidate husband. Hehehe."


Setelah mendengar kalimat terakhir Renata. Dengan segera, Nicha menutup sambungan teleponnya. Dan tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


TOK! TOK! TOK!


"Masuk!" jawab Nicha.


"Apa ibu mengganggumu?" tanya ibu Nat seraya masuk ke kamar Nicha.


"Oh, tidak, Bu. Memangnya ada apa?"


Kemudian ibu Nat menghampiri Nicha dan duduk ditepi ranjang.


"Apa kau yakin akan menikah dengan Great?" tanya ibu Nat dengan wajah sendu.


"Hemm, kenapa ibu menanyakan hal itu?" tanya Nicha bingung.


"Entahlah... Ibu merasa, ada sesuatu hal yang Great sembunyikan. Karena lamarannya yang begitu mendadak. Belum lagi, dia hanya datang seorang diri kesini tanpa didampingi kedua orang tuanya. Ibu merasa ada sesuatu yang janggal, Nich," ucap ibu Nat lirih.


Maafkan Nicha, Bu. Karena Nicha tidak bisa menceritakan semuanya pada ibu. Batin Nicha.


"Ibu tenang saja. Kedatangan Great kesini, tidak ada niat buruk. Ia dengan tulus ingin melamar Nicha dihadapan ibu. Lagi pula, Great telah mengatakan alasan kenapa orang tuanya tidak bisa ikut kesini, kan? Dan nanti akan digantikan oleh adik perempuannya."


"Ya. Baiklah, jika kau mengatakan seperti itu. Ibu percaya padamu."

__ADS_1


Sejurus kemudian, Nicha dan ibunya saling berpelukan hangat.


__ADS_2