
Di kediaman Roni.
Ting. Tong... Ting. Tong...
Haish... Siapa yang datang malam-malam begini? Gerutu Roni dengan langkah malas menuju pintu rumahnya.
Dan betapa terkejutnya Roni, kala mendapati seorang laki-laki muda yang ia kenal, tengah berdiri dibalik pintu rumahnya.
"Great!" pekiknya.
"Ron. Boleh gue masuk?"
"Eh... I-iya. Ayo masuk!"
Setelah Great melangkah masuk, dengan segera Roni menutup pintu rumahnya.
"Duduk bro!" ujar Roni pada Great.
Great mengangguk dan segera duduk disofa, diikuti oleh Roni.
"Kenapa muka lo kusut gitu? Kayak baju yang belum disetrika," seloroh Roni.
"Sialan lo. Gue lagi stres nih," sahut Great sambil menghempaskan tubuhnya disandaran sofa.
"Hah! Stres? Gimana bisa pengantin baru stres sih, Great. Lagi pula, kalo emang lo stres masalah kerjaan, lo tinggal minta obat aja sama istri lo."
"Obat? Obat apaan?" tanya Great bingung.
"Ya obat hisaplah. Sama obat enak-enak. Pasti stres lo langsung hilang deh," seloroh Roni.
"Ah, lo nih. Pikiran lo nggak pernah jauh-jauh dari hal kotor. Dasar mesum."
"Yaelah bro. Pikiran kayak gitu, wajarlah buat pria dewasa kayak kita. Kalo nggak pernah mikir kayak gituan, mungkin nggak normal tuh laki."
"Ya lah."
"Tapi, gimana rasanya, man? Pasti nikmat banget ya?" goda Roni.
"Nikmat apaan? Malah gue belum nyobain," jawab Great datar.
"What!? Serius lo? Kok bisa?"
"Biasa aja kali. Muka lo tuh, kayak orang dapat lotre aja."
"Ya abis, gue syok banget. Sekarang lo harus cerita sama gue. Atau, Ranida lagi datang bulan ya?"
"Bukan itu. Jadi, pas malam pengantin, gue kabur..."
__ADS_1
Belum sempat Great melanjutkan ucapannya, dengan cepat Roni langsung memotong kalimat Great.
"Gila lo! Kenapa bisa? Trus lo kabur kemana?"
"Makanya, dengerin dulu penjelasan gue. Jadi, gue kabur sama cewek gue ke kamar hotel. Dan gue bilang sama Jac, untuk sampein ke Papa gue, kalo gue ada meeting sama pihak proyek."
"Wah, bajingan lo Great! Bisa-bisanya lo tidur di kamar hotel dan ninggalin istri lo sendirian dimalam pengantin kalian. Gue nggak nyangka kelakuan lo seburuk itu. Tampang sih ganteng, tapi kepribadian lo nggak lebih baik dari seekor anjing."
Roni tampak sangat marah. Ia menatap Great dengan tatapan jijik, layaknya melihat seekor anjing jalanan yang sangat kotor.
"Ron, jangan asal nuduh gitu dong. Lo belum dengerin penjelasan gue. Jadi, gue sama Ranida itu sebanarnya..."
Lalu Great mulai menceritakan semua kejadian dalam hidupnya yang berhubungan dengan Ranida dan Nicha. Sementara Roni, mendengarkan dengan seksama, setiap kalimat yang keluar dari mulut Great.
"What!? Aduh gila. Cerita lo itu bener-bener drama banget, man. Gue sampe puyeng ngebayanginnya," ujar Roni sambil memegangi kepalanya.
"Nah, lo aja puyeng yang cuma ngebayangin. Gimana gue?"
"Jadi, kenapa sekarang lo datang kesini?"
"Gue mau minta tolong sama lo."
"Apa yang bisa gue bantu?"
"Tolong yakinkan Preem, buat jadi saksi dipernikahan gue sama Nicha."
Roni sangat terkejut. Sampai-sampai dia bangkit dari sofa.
"Wah, maaf Great. Kalo untuk itu, kayaknya gue nggak bisa."
"Ayolah, Ron. Gue mohon banget sama lo. Gue bener-bener udah nggak bisa bertahan hidup sama Ranida. Gue mau, semua ini cepat selesai. Dan satu-satunya cara untuk mengakhiri semuanya adalah dengan menikahi Nicha."
"Lo yakin ini cara terbaik? Trus, kalo orang tua lo nggak mau nerima pernikahan lo sama Nicha, gimana? Belum lagi, gimana perasaan Ranida dan keluarganya, man? Mereka pasti akan marah besar. Dan bisa jadi, keluarga Panhakarn akan menarik semua saham dari perusahaan keluarga lo. Apa lo nggak mikirin itu?"
"Gue udah pikirin semuanya matang-matang. Dan gue yakin semua akan baik-baik aja. Jadi gue mohon, lo harus bisa yakinin Preem, buat jadi saksi pernikahan gue. Lo mau kan bantu gue, Ron?"
"Aduh, Great. Kenapa lo harus bawa-bawa gue dalam masalah pelik lo itu. Dan kenapa lo nggak ngomong langsung aja sama adik lo, buat minta dia jadi saksi pernikahan lo."
"Haish! Preem pasti nggak akan mau, kalo gue yang minta. Dan gue takut, dia akan kasih tahu ke orang tua gue tentang masalah ini. Jadi, satu-satunya orang yang akan dia dengerin dan dia turutin itu cuma lo. Karena lo pacarnya kan?"
"Hhh... Sebenarnya gue juga nggak yakin, kalo Preem akan nurut dengan perkataan gue. Tapi, demi lo, gue akan coba."
"Thanks bro. Lo emang sahabat terbaik gue."
Kemudian Great memeluk Roni dengan erat. Dengan senyum yang mengembang, ia terus mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu. Berbeda dengan Roni, yang masih tampak kebingungan.
"Sekali lagi, gue ucapin terima kasih banget sama lo, Ron," ucap Great seraya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ya, sama-sama. Yaudah, sekarang lo istirahat aja dulu disini."
"Nggak perlu. Masih ada urusan yang harus gue selesaikan."
"Lo mau kemana malam-malam begini?"
"Gue akan berangkat ke Ratchaburi, untuk bertemu sama Nicha dan membicarakan perihal pernikahan."
"Jadi, lo akan langsung menikah sama Nicha?"
"Iya. Kalo bisa, sore nanti gue akan langsung nikah. Dan besoknya gue akan memperkenalkan Nicha dengan orang tua gue."
"Wah, lo bener-bener crazy man. Dalam beberapa hari aja, lo udah nikah sama 2 wanita sekaligus."
"Ini juga, diluar dari perkiraan gue Ron. Tapi, gue benar-benar nggak bisa menuruti kemauan orang tua gue lagi. Gue udah dewasa, Ron. Dan sudah saatnya gue memperjuangkan seseorang yang gue cintai. Gue nggak bisa kehilangan Nicha lagi," ucap Great lirih.
"Wow... The power of true love kayaknya nih. Gue percaya lo bisa melakukannya, man. Dan gue pasti akan membantu lo," kata Roni sambil menepuk bahu Great.
"Terima kasih, Ron."
...***...
Suan Phueng, Ratchaburi.
Waktu menunjukkan jam 4 pagi. Great telah tiba di pekarangan rumahnya. Kemudian, ia langsung memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam rumah dengan menggunakan kunci duplikat yang ia miliki. Keadaan rumah masih sangat sepi, karena memang hari masih terlalu pagi untuk beraktifitas.
Pasti dia masih tertidur dikamarnya. Gumam Great.
Lantas, Great segera menuju ke kamar Nicha.
Bahkan pintu kamarnya pun tidak ia kunci. Dasar ceroboh.
Tanpa aba-aba, Great masuk ke dalam kamar Nicha. Dengan langkah perlahan, ia mendekati ranjang Nicha. Ia mengamati setiap inci tubuh Nicha dari ujung kepala sampai kaki.
Ketika tidurpun dia sangat menggemaskan.
Lalu Great mulai merangsek naik ke atas ranjang. Perlahan ia mendekati tubuh Nicha dari arah belakang dan memeluknya.
Aku sangat merindukanmu, Nich. Bisik Great.
Tanpa aba-aba, ia langsung membaui aroma rambut Nicha.
Rambutnya sangat harum.
Setelah puas menghirup aroma rambut Nicha. Lalu Great kembali mendaratkan bibirnya dibagian tengkuk Nicha. Ia menciumi leher belakang Nicha dengan lembut. Tak terasa, samurainya mulai memberontak.
Seakan merasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya, Nicha mulai menggeliat dan membalikkan badannya. Dan betapa terkejutnya ia, kala membuka matanya...
__ADS_1
"Great!" pekiknya pelan.