
Di apartemen Renata.
"Maaf ya Nich. Aku harus meninggalkanmu sendirian. Karena kalau aku tidak pulang sekarang, orang rumah pasti akan curiga. Tapi aku janji, besok aku akan segera kembali."
"Iya Ren. Kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja disini. Lagi pula, selama 7 hari ini, kuliah sedang libur. Jadi, pasti aku akan aman di apartemenmu."
"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan keluar apartemen jika tidak ada hal penting. Dan sebisa mungkin beritahu aku dulu, jika kamu ingin pergi keluar. Oya, jika ada seseorang datang, kamu harus melihat ke layar cctv terlebih dahulu sebelum membukakan pintu. Mengerti?" jelas Renata.
"Ya, ya. Baiklah... Kamu ini seperti nenekku saja. Sangat cerewet," ucap Nicha seraya tersenyum.
"Hei. Jangan samakan aku seperti nenekmu. Apa kamu lupa, aku ini malaikat penyelamatmu. Ingat itu!"
"Hahaha. Ya, ya... Terima kasih ya malaikat penyelamatku yang cantiiik."
"Nah, itu baru benar," balas Renata seraya memeluk Nicha.
Setelah puas berpelukan. Kedua sahabat itu pun saling berpandangan. Entah kenapa, Renata masih merasa berat untuk meninggalkan sahabatnya itu.
"Hei! Kenapa kamu diam saja. Ayo segera pergi. Atau kamu mulai tertarik padaku ya?" goda Nicha.
"Hah! Bicaramu sangat konyol. Dasar gadis usil... Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Daaah..."
Renata berjalan meninggalkan Nicha seraya melambaikan tangannya. Begitu pun dengan Nicha yang juga membalas lambaikan tangan Renata dengan seulas senyuman.
Setelah tidak terlihat lagi sosok Renata, Nicha kembali masuk kedalam apartemen dan langsung menguncinya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi.
Heuh... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Oya, aku akan memasak saja. Kira-kira, bahan makanan apa saja yang tersedia di lemari es? Gumam Nicha.
Dan ketika ia hendak menuju dapur. Terdengar suara bel berbunyi.
TING... TONG...
Entah kenapa saat itu Nicha berpikir, bahwa yang menekan bel adalah Renata.
Kenapa Renata kembali lagi? Apa mungkin ada yang tertinggal? Batin Nicha.
Langsung saja, Nicha membuka pintu apartemen. Tapi dugaannya salah dan ia sangat terkejut mendapati 2 orang laki-laki bertubuh kekar dan besar serta mengenakan kacamata hitam.
"Benarkah anda Nona Nicha?" tanya salah seorang dari laki-laki itu.
DEG!
Jantung Nicha serasa ingin copot. Ia begitu ketakutan. Keringat dingin pun mulai membasahi telapak tangan dan punggungnya. Ia sangat menyesal, kenapa begitu ceroboh dengan membukakan pintu tanpa melihat kelayar cctv terlebih dahulu, seperti yang diperintahkan oleh Renata.
Siapa mereka? Apa mereka pembunuh bayaran yang dikirim oleh Nona Bella untuk membunuhku? Ya Tuhan, tolong selamatkan aku. Batin Nicha.
__ADS_1
"Nona... Nona tidak perlu takut. Jawab saja pertanyaan kami. Apa benar anda Nona Nicha?" tanya laki-laki itu lagi.
"Eeeuh... Ya, sa-saya Nicha. Kalian siapa?" jawab Nicha terbata.
Lalu kedua laki-laki itu pun tersenyum, seraya memberikan sebuah kotak besar kepada Nicha.
"Tuan Jac mengirimkan ini untuk anda..." ucap salah seorang laki-laki itu.
Nicha tampak bingung sambil melihat kearah kotak beaar yang disodorkan oleh laki-laki tersebut.
"Apa ini?"
"Kami tidak tahu Nona. Kami hanya diperintahkan untuk memberikan ini kepada anda. Terimalah Nona."
Dengan sedikit ragu, Nicha menerima kotak besar tersebut.
"Baiklah Nona. Tugas kami telah selesai. Kami permisi."
Kedua laki-laki itu pun membungkukkan badan mereka seraya berjalan pergi. Tinggallah Nicha terdiam dalam kebingungan sambil memegangi kotak besar tersebut.
Apa ini? Jangan-jangan di dalam kotak ini terdapat bom. Tapi, kenapa Tuan Jac memberikan sebuah kotak kepadaku? Apa mungkin dia marah, karena aku mengundurkan diri dari restoran dan memberikan kotak berisi bom ini untuk membunuhku?
Nicha mulai berpikir hal konyol, seperti yang sering ia lihat difilm. Tapi, dengan segera ia membuang pikiran itu.
Ah, tidak... Tidak mungkin, Tuan Jac melakukan hal itu...
Apa aku harus membukanya sekarang? Atau nanti saja, ketika Renata sudah kembali...? Tapi aku merasa penasaran dengan isinya... Bagaimana ini?
Dengan rasa penasaran yang menggebu, akhirnya Nicha membuka kotak besar tersebut. Seketika matanya membulat sempurna, kala ia mendapati sebuah gaun berwarna biru yang terlipat rapi didalam kotak tersebut.
A-apa ini...? Kenapa Tuan Jac memberikan sebuah gaun kepadaku?
Belum juga rasa penasarannya terjawab, lagi-lagi Nicha dibuat terperanga, melihat sebuah amplop berwarna merah muda yang terselip dibawah gaun tersebut.
Amplop apa ini? Gumam Nicha.
Perlahan ia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan secarik surat, kemudian membacanya. Agak lama Nicha membaca tulisan dalam surat tersebut. Seketika, wajahnya berubah muram, bagaikan seorang anak kecil yang kehilangan sandalnya.
...***...
Dikediaman Great.
Tampak Great sedang berbicara ditelepon dengan mimik wajah serius.
"Halo Jac. Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta? Baiklah, terima kasih, Jac."
__ADS_1
Seketika telepon pun terputus.
Sekarang aku harus memberitahu Nicha. Ujar Great.
Dengan lihai, jari-jemari Great menekan huruf-huruf yang terdapat dilayar ponselnya.
[Bagaimana kabarmu? Pasti sekarang, kamu telah menerima kotak pemberianku. Aku harap kamu suka dengan gaun yang aku berikan.]
Sejurus kemudian, ia telah mengirim pesan tersebut ke nomor ponsel Nicha.
Aku harap kamu membalas pesanku kali ini Nich... Aku mohon. Lirih Great.
Namun, sudah hampir 30 menit Great menunggu. Tak satupun pesan masuk dari Nicha.
Aaargh... Kenapa kamu tega menyiksa aku seperti ini, Nichaa!
Great begitu kesal. Hatinya sangat tersiksa dengan perasaannya kepada Nicha. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyalurkan hasrat cintanya tersebut. Saking kesalnya, lalu Great melempar ponselnya, hingga membentur tembok dan hancur berkeping-keping.
...***...
Keesokan harinya di apartemen Renata.
Nicha baru saja selesai mandi dan samar-samar, ia mendengar suara dari arah ruang tengah.
"Renata!" pekik Nicha.
"Oh... Hai Nich," ucap Renata sambil menaruh beberapa kantong belanja diatas meja.
"Apa yang kamu bawa?"
Nicha berjalan menghampiri Renata dan melihat kearah meja.
"Ini... Aku membeli beberapa makanan, untuk persediaan. Jadi, kamu tidak perlu keluar apartemen untuk belanja."
"Ya ampun... Renata, kamu terlalu berlebihan. Bahkan dengan menumpang di apartemenmu saja, aku sudah sangat tidak enak. Sekarang malah kamu membelikan segala keperluanku. Bagaimana aku akan membalasnya Ren?" ucap Nicha lirih.
"Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan untuk membalas semua apa yang aku lakukan. Karena aku pun tidak mengharapkan kamu untuk membalasnya. Tapi aku hanya meminta 1 hal padamu..."
"Apa itu?"
"Kamu harus fokus dengan kuliahmu agar kamu bisa lulus dengan predikat terbaik dan gapailah cita-citamu sehingga kamu mencapai kesuksesan... Itulah, yang aku minta darimu Nich. Maka aku harap, kamu tidak mengecewakanku."
Seketika kedua mata Nicha berkaca-kaca, mendengar ucapan sahabatnya itu. Dan tanpa aba-aba, Nicha langsung memeluk Renata sambil berurai air mata. Begitu pun Renata, ia menyambut pelukan Nicha dengan senyuman.
"Terima kasih Ren. Terima kasih banyak," ucap Nicha sambil terisak.
__ADS_1
"Ya. Sama-sama," jawab Renata sambil mengusap punggung Nicha.