
"Bella!" pekik Great yang tak kalah terkejut pula.
"Apa yang sedang kamu lakukan dirumah ini?" tanya Bella.
Great hanya terdiam. Mulutnya terasa kelu, seolah terkunci mendengar pertanyaan Bella. Disaat yang bersamaan, mobil Rei telah tiba didepan rumah Ncha.
Itu seperti mobil Bella. Batin Rei melihat sebuah mobil di depannya. Lalu Rei memarkirkan mobilnya, tepat di belakang mobil tersebut.
"Mmm, terima kasih atas tumpangannya. Sampai jumpa," ucap Nicha seraya membuka pintu mobil.
"Nich!" seru Rei menahan Nicha keluar.
"Ya." Sejenak Nicha menoleh kearah Rei.
"Bolehkah aku mampir ke rumahmu?"
"Apa!?" Nicha mendadak panik.
"Mmm, maafkan aku. Aku tidak bermaksud lancang terhadapmu. Aku hanya..." Seketika Rei merasa tercekak dan tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Oh... Tidak, tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut, karena tidak biasanya kamu mampir ke rumahku."
"Jadi, apa boleh?"
Nicha mengangguk. Seketika Rei tersenyum, karena dapat lebih lama lagi bersama Nicha.
Semoga Great sudah pergi. Batin Nicha.
Lalu, mereka berdua keluar dari mobil. Namun, mereka berdua kembali terkejut, ketika mendapati sosok Bella dan Great yang sedang berdiri di depan pintu rumah Nicha.
"Bella!" seru Rei seraya berdiri tepat disamping Bella.
"Akhirnya kamu datang juga Rei..." ucap Bella.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rei dengan sedikit rasa takut.
"Apa? Kamu bertanya padaku, apa yang aku lakukan? Seharusnya itu adalah pertanyaanku kepadamu. Apa yang telah kamu lakukan dengan wanita ini!? Hah!" ucap Bella dengan sedikit emosi.
"A-aku..." Rei menjadi gugup.
"Bagaimana? Kamu tidak bisa menjawabnya?" Bella menatap Rei sinis.
"Tu-tunggu sebentar Nona Bella. Akan aku jelaskan..." Nicha memberanikan diri untuk berbicara kepada Bella, tapi dengan cepat Bella menahan ucapan Nicha.
"Diam, kamu! Dasar wanita murahan. Beraninya kamu menggoda calon suamiku. Dasar pelacur!"
Seketika tangan Bella mendarat tepat dipipi lembut Nicha.
PLAK!
Great dan Rei sangat terkejut dengan perlakuan Bella kepada Nicha.
__ADS_1
"Bella!" pekik Great dan Rei berbarengan.
"Oh... Jadi kalian berdua begitu kompak membela wanita ini. Aku jadi penasaran, apa yang telah kamu lakukan, sehingga kedua laki-laki ini begitu membelamu. Tolong ajarkan padaku, bagaimana trik untuk memuaskan para laki-laki ini sehingga mereka menjadi penurut kepadamu?"
Nicha benar-benar marah mendengar ucapan Bella yang sudah merendahkan dirinya.
"Cukup Bella! Kamu tidak pantas berkata seperti itu kepada Nicha." Great membela Nicha.
"Kenapa Great? Kenapa kamu sangat marah kepadaku karena wanita ini? Oh, aku mengerti. Jadi, setelah aku mencampakkanmu, lalu kamu bertemu dengan wanita ini. Dan dia memberikan seluruh tubuhnya untuk memuaskanmu. Dan akhirnya, kamu jatuh cinta kepadanya. Heuh! Rendah sekali, seleramu Great."
"Jaga bicaramu Bella. Nicha bukan wanita seperti yang kamu bicarakan. Dia adalah wanita yang istimewa untukku. Bahkan lebih istimewa dari dirimu..." ucap Great memburu.
Seketika mata Nicha membulat sambil menatap kearah Great. Begitu pun dengan Bella, ia sampai terperanga mendengar ucapan Great.
"Apa? Haha. Kamu tidak bisa menyamakan level diriku dengan wanita seperti ini. Apa lagi menyebut dia lebih istimewa dariku. Dia hanya wanita jalang. Dasar pelacur!"
Bella hendak menampar Nicha lagi, namun Great segera menahan tangan Bella.
"Cukup Bella! Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi terhadap Nicha."
"Dia memang pantas mendapatkannya. Kamu tidak perlu melindunginya. Carilah wanita yang lebih pantas untukmu. Bukan seperti dia!"
"Dia sangat pantas untukku! Karena sebentar lagi aku akan menikahinya. Jadi aku harap, kamu bisa bersikap sopan terhadap calon istriku."
Seketika Bella, Rei dan juga Nicha terkejut dengan pernyataan Great. Dan dalam beberapa detik, seluruh mata menatap Great dengan tatapan tidak percaya.
"Oh, baguslah kalau begitu. Aku harap kamu bisa menjaga calon istrimu yang sangat istimewa ini. Dan jangan sampai ia keluyuran diluar untuk menggoda laki-laki lain tanpa sepengetahuanmu."
"Nich, kamu tidak apa-apa? Biar aku lihat pipimu." Great mencoba meraih pipi Nicha yang terkena tamparan dari Bella. Tapi, dengan segera Nicha menepis tangan Great.
"Sebaiknya kamu pergi. Aku hanya ingin sendiri saat ini..." Nicha bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Kemudian Great segera menyusul Nicha. Namun, belum sempat Great masuk, Nicha sudah menutup pintunya dan menguncinya.
Haish. Kenapa dia masih saja mengunci pintunya. Sudah tahu, kalau aku akan dengan mudah membuka kuncinya. Batin Great.
Sejurus kemudian, Great berusaha membuka pintu rumah Nicha dengan kunci yang ia punya, namun hasilnya nihil.
Shit! Ternyata dia memakai kunci slot. Gerutu Great.
"Nicha! Biarkan aku masuk. Kita harus bicara Nich!" seru Great.
"Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak ingin bicara apapun denganmu. Pergi!" seru Nicha dari dalam rumah.
"Nicha, aku mohon. Jangan seperti ini, kita harus bicara. Aku tidak akan pergi sebelum kamu keluar atau aku akan mendobrak pintu ini."
"Pergi! Aku bilang pergi! Jangan pernah ganggu hidupku lagi!"
Nicha benar-benar kacau saat itu. Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Tinggallah Great termenung diluar, ia sangat mengkhawatirkan Nicha. Tapi, ia juga tidak tega untuk mengganggunya. Great berpikir, Nicha mungkin membutuhkan waktu untuk sendiri.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, Rei menambah kecepatan mobilnya hendak mengikuti mobil Bella. Dan tak butuh waktu lama, ketika melihat celah dari sisi kanan mobil Bella, Rei langsung menyusul mobil Bella.
"Bel, kita harus bicara!" seru Rei dari dalam mobilnya.
Tapi, Bella tetap tidak membuka kaca mobilnya dan tidak menghiraukan Rei. Karena merasa tidak dihiraukan, Rei membunyikan klakson mobilnya berulang kali.
Haish! Apa yang sedang dia lakukan? Membuat malu saja. Gerutu Bella.
Karena Rei tidak berhenti membunyikan klaksonnya. Akhirnya Bella membuka kaca mobilnya.
"Sebenarnya apa maumu Rei?"
"Kita harus bicara Bel."
"Aku tidak mau."
"Jika kamu tidak mau, maka aku akan terus membunyikan klakson ini."
Hish! Dasar menyebalkan. Batin Bella.
"Baiklah, kita akan bicara. Ikuti aku, akan ku tunjukkan tempat untuk kita bicara..."
Rei mengangguk. Lalu melajukan mobilnya mengikuti mobil Bella. Sejurus kemudian, mobil Bella memasuki area parkir sebuah apartemen.
Apa ini? Kenapa Bella mengajakku kesini? Batin Rei.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bella dan Rei keluar dari dalam mobil mereka.
"Kenapa kamu mengajakku kesini Bel?" tanya Rei seraya menghampiri Bella.
"Tadi kamu sendiri kan yang mengatakan bahwa kita butuh bicara. Dan aku rasa, disinilah tempat yang tepat untuk kita bicara."
"Apa?" Rei sangat kebingungan.
"Sudahlah, ayo kita ke atas..." ajak Bella sambil menarik tangan Bella.
Lalu mereka berdua berjalan menuju lift. Setelah berada di dalam lift, Bella segera menekan tombol bertuliskan angka 9. Tak lama kemudian...
TING!
Lift berhenti di lantai 9. Lalu Bella menggandeng tangan Rei seraya keluar dari lift menuju ke apartemennya.
KLIK!
Pintu apartemen terbuka setelah Bella memasukkan beberapa password. Dengan segera Bella mengajak Rei untuk masuk ke apartemennya.
...***...
Gimana kak? Lumayan tegang ya, episode kali ini. Konfliknya udah berasa belum? Kalo masih kurang, diepisode selanjutnya bakal lebih menguras air mata dan tenaga. Jadi, siapin jantung dan tisu ya guys.
Jangan lupa, vote mingguannya 🤗
__ADS_1