
Setelah mendapatkan dokumennya, Great segera berangkat kekantor. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman selama perjalanan.
Setelah 60 menit Great telah tiba dikantornya. Sambil menenteng goodie bag pemberian Nicha, Great langsung menuju ruangannya. Sejurus kemudian, Great sudah terduduk gagah disinggasananya.
Lalu Great mengeluarkan bento pemberian Nicha dan menaruhnya diatas meja kerjanya. Beberapa detik, Great menatapi bento tersebut, kemudian terlihat ia mengeluarkan ponsel dari kantongnya.
CEKREK! CEKREK!
Great memfoto bento tersebut berulang kali.
Kalian sangat menggemaskan. Ujar Great dengan tersenyum sambil memandangi hasil jepretannya. Namun, senyumannya harus menghilang. Ketika ada suara pintu diketuk.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!" jawab Great seraya memasukkan bento tersebut kedalam laci mejanya.
Setelah pintu terbuka. Terlihatlah, sekretaris Great sedang berdiri bersama seorang wanita yang sangat cantik.
"Pagi sayang!" Wanita itu langsung berjalan masuk keruangan Great.
"Oh... Pagi Ran!" Lalu Great memberikan tanda kepada sekretarisnya untuk menutup pintu.
Rani segera menghampiri Great kemudian mencium pipi Great.
"Kenapa pagi-pagi sekali kamu datang?"
"Huh! Pertanyaan apa itu? Sepertinya, kamu tidak senang dengan kedatanganku..." Ranida memajukan bibirnya.
"Bukan begitu maksudku Ran. Jangan langsung marah dong... Maafkan aku ya," ucap Great sambil duduk disebelah Ranida.
"Hem. Aku maafkan," jawab Ranida datar.
"Lalu apa itu yang kamu bawa?" Great melihat kearah tangan Ranida yang sedang menggenggam goodie bag.
"Oh. Ini, aku bawakan sarapan untukmu. Aku membuatnya sendiri."
Kemudian Ranida menyerahkan goodie bagnya kepada Great.
"Wah, sepagi ini kamu sudah memasak untukku... Terima kasih ya," ucap Great tersenyum.
"Semoga kamu suka dengan hasil masakanku," balas Ranida dengan tersenyum pula.
"Sepertinya enak. Baunya harum sekali."
Ranida tersipu malu, mendapat pujian dari Great.
"Oya Great. Siang nanti, apa kamu bisa pergi denganku?"
"Kemana?"
"Aku ingin menonton film bersamamu."
"Mm, tapi hari ini aku ada meeting dengan beberapa klien untuk proyek departemen store yang baru."
"Hhh... Sejak kita bertunangan, kamu hanya sibuk dengan pekerjaanmu saja. Tidakkah kamu bisa perhatian kepadaku sebentar saja."
__ADS_1
Ranida terlihat hendak bangkit dari duduknya. Tapi Great segera menahannya.
"Maafkan aku Ranida. Tapi, kamu kan sudah tahu. Kalau pekerjaanku memang sangat banyak. Dan aku harus menyelesaikan ini semua, sebelum pernikahan kita."
Ranida hanya terdiam.
"Oya. Bagaimana, kalau kita menonton besok saja. Karena, jadwalku kosong besok."
"Tentu saja aku mau. Huumm, Great aku sangat mencintaimu." Ranida tersenyum kegirangan sambil memeluk Great.
Sedangkan wajah Great hanya terlihat mengembangkan senyum yang dipaksakan. Sebagai seorang laki-laki jantan. Ia tidak bisa mengecewakan tunangannya. Walaupun, hatinya menolak.
Tak berapa lama, Ranida tampak berpamitan kepada Great untuk pulang. Dan Gteat segera mengantar Ranida kedepan pintu ruang kerjanya.
Setelah kepergian Ranida, Great segera mengeluarkan bento pemberian Ranida dan menyandingkan dengan bento pemberian Nicha.
Bento milik Ranida terlihat sangat lezat tapi apakah benar, dia membuatnya sendiri. Kelihatannya seperti masakan restoran.
Kemudian Great beralih memandang bento milik Nicha.
Sepertinya aku lebih menyukai kalian. Karena, kalian terlihat menggemaskan dan yang terpenting adalah orang yang membuat kalian. Dia telah membuat kalian dengan sepenuh hati. Maka dari itu, aku tidak akan mengecewakannya.
Dan seketika, Great segera menyantap bento pemberian Nicha dengan lahapnya.
...***...
Dikantor Reinhard.
Tampak Rei sedang berbicara ditelepon.
("Hai Rei. Apa kamu sedang berada dikantor?"
("Iya. Aku sedang dikantor. Ada apa Bel?"
("Oh. Maaf, kalau aku mengganggu waktumu."
("Tidak apa-apa. Memangnya ada apa kamu meneleponku?"
("Mm, begini. Besok adalah hari pembukaan toko bukuku yang pertama. Bisakah, kamu menemaniku besok, sampai acara pembukaannya selesai?"
Lalu Rei tampak melihat daftar agendanya di-notepad.
("Oh, begitu. Mmm... Sepertinya, jadwalku tidak terlalu penuh besok. Baiklah, aku akan menemanimu."
("Wah, aku senang sekali mendengarnya. Jadi, bisakah kamu menjemputku jam 7 pagi besok?"
("Oke. Aku akan menjemputmu besok."
("Terima kasih ya Rei. Sampai jumpa besok."
("Ya sama-sama. See you tomorrow."
Sejurus kemudian Rei menutup teleponnya.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya.
Ranida dan Great sedang berada disebuah mall untuk menonton bioskop. Namun, ketika melewati sebuah toko buku, pandangan Great terhenti.
Bukankah itu Bella? Dia juga bersama Reinhard. Batin Great.
"Ada apa Great?" tanya Ranida.
"Ah... Tidak, tidak apa-apa. Ayo kita menuju bioskop."
Great dan Ranida kembali berjalan menuju bioskop.
Didalam bioskop.
Terpampang dilayar lebar tersebut, adegan film action, romantis. Ranida sangat menikmati setiap adegan difilm tersebut. Namun, berbeda dengan Great yang merasa risih, karena Ranida terus saja memeluk lengannya. Dan sampailah pada adegan ciuman dalam film tersebut. Sebagai pasangan kekasih, ternyata Ranida ingin mempraktekkan adegan itu bersama Great.
Kemudian Ranida sedikit memajukan wajahnya kearah Great. Semakin dekat dan semakin dekat. Ia membisikkan sesuatu ditelinga Great.
"Aku ingin berciuman, sayang," ucap Ranida sambil menjilat telinga Great.
Seketika Great tersentak dengan perilaku Ranida. Dan ia berbisik.
"Apa kamu tidak malu. Disini ada banyak orang. Tahanlah sedikit, kita bisa melakukannya dirumah nanti."
Great mencari alasan sekenanya, untuk menghindar dari perilaku liar Ranida. Ia tidak bisa membayangkan, betapa malu dirinya, jika berciuman ditempat umum.
"Auwh. Ternyata, kamu sangat pemalu, sayang. Baiklah, akan aku turuti perintahmu. Tapi nanti, jika sudah berada dirumah, aku tidak mau hanya berciuman saja, aku mau mendapatkan yang lebih darimu. Ya sayang?"
"Baiklah. Terserah padamu saja."
Saat itu Great berpikir, pasrah adalah jalan satu-satunya agar dia bisa selamat dari serangan Ranida. Untuk selanjutnya, ia akan memikirkan strategi apa lagi yang harus ia jalankan demi menyelamatkan keperjakaannya.
Setelah 1,5 jam berlalu, film pun selesai diputar. Great dan Ranida segera keluar dari dalam bioskop.
"Great aku lapar," ucap Ranida sambil memegang perutnya.
"Baiklah. Ayo kita makan dulu. Restoran mana yang kamu sukai?"
Lalu Ranida mencari restoran untuk tempat mereka makan. Dan pilihannya jatuh pada restoran Jepang.
"Aku ingin makan sushi. Kita makan direstoran ini saja ya?"
Great hanya mengangguk. Kemudian mereka mencari meja kosong direstoran tersebut. Ketika sudah mendapatkan meja kosong. Tiba-tiba Great merasa harus ke toilet.
"Sepertinya aku harus ke toilet dulu. Kamu pesan saja duluan ya. Dan untukku, samakan saja seperti pesananmu. Tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?"
Ranida tersenyum sambil mengangguk. Lalu Great segera keluar dari restoran dan menuju toilet.
Setibanya ditoilet. Great segera menyelesaikan urusannya. Dan setelah merasa lega, ia menuju wastafel untuk mencuci tangan. Namun, pandangannya terhenti, kala ia melihat seseorang yang ia kenal, sedang berdiri disampingnya.
"Tuan Reinhard Sangkapan!" sapa Great kepada seorang laki-laki yang berada tepat disampingnya.
__ADS_1
Mendengar namanya dipanggil. Laki-laki itu pun menatap kearah Great.
"Oh. Tuan Great Warinton," ucap laki-laki itu.