
Sesampainya dirumah. Nicha segera masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian. Namun langkahnya terhenti, kala merasa ada seseorang yang mengikutinya.
"Kamu mau apa?" tanya Nicha seraya berbalik dan mendapati Great yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Aku ingin beristirahat dikamar," sahut Great polos.
"Mmm, nanti dulu. Aku ingin berganti pakaian. Jadi, kamu tunggu dulu disini ya."
"Apa!? Kenapa aku harus menunggu diluar? Aku tidak mau."
Great tampak sedikit kesal, dan langsung membuka pintu kamar hendak masuk kedalamnya.
"E-eh, Great. Tunggu!" pekik Nicha yang juga menyusul Great.
Sejurus kemudian, pintu kamar ditutup oleh Great dan langsung saja ia menguncinya.
"A-apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Nicha gugup.
"Apa lagi? Tentu saja, aku ingin meminta hakku sebagai seorang suami. Kenapa kamu masih saja bertanya, sayang," ucap Great seraya berjalan mendekati Nicha.
Nicha tampak ketakutan, ia terus melangkah mundur untuk menghindari Great. Sampai akhirnya ia terjatuh duduk ditepi ranjang.
"Tu-tunggu Great. Aku ingin mandi dulu, karena aku merasa sedikit berkeringat."
"Jadi, kamu merasa gerah?" tanya Great sambil menyeringai menatap istrinya.
"I-iya. Aku pergi kekamar mandi dulu ya."
Nicha segera bangkit dan hendak keluar dari kamar. Namun, langkahnya kembali terhenti, karena Great langsung memeluknya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya diperut Nicha.
"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini sayang, karena sekarang aku telah berkuasa atas semua yang ada dalam dirimu. Apa kamu mengerti?" ucap Great sambil mendekatkankan bibirnya ditelinga Nicha.
"Hmm... Iya Great, aku mengerti. Tapi sekarang aku ingin kekamar mandi terlebih dahulu, karena udara disini terasa panas. Hehe."
Nicha mencari alasan sekenanya. Tapi, tidak semudah itu Great mempercayainya.
"Baiklah. Tapi sebelum kamu kekamar mandi, tolong bukakan dulu kemejaku ini, karena aku juga merasa gerah.
"Hah! Hemm... Jika kamu merasa gerah, aku akan membukakan jendelanya. Agar terasa lebih sejuk."
Lalu Nicha bergegas melangkah menuju jendela hendak membukanya.
"Nich!" panggil Great.
__ADS_1
"Ya," ucap Nicha seraya berbalik menatap Great.
"Kemarilah!" perintah Great sambil memberikan isyarat untuk mendekat padanya.
"I-iya,"
Aduh! Habislah aku. Batin Nicha.
Dengan langkah ragu dan wajah gugup. Nicha mendekati suaminya.
"Ayo, bukakan kancing kemejaku," pinta Great sambil menatap tajam kearah Nicha.
Dengan tertunduk takut, akhirnya Nicha menuruti perintah Great. Dan satu persatu, ia membuka kancing kemeja suaminya. Great tampak sumringah melihat istrinya yang sudah mau menuruti perintahnya. Ditatapnya wajah istrinya yang mulai bersemu merah, lalu ia berpaling melirik bagian bahu Nicha yang terbuka. Ya, bahu yang putih nan mulus itu seakan menggoda Great, meminta diberi sentuhan dan kecupan. Great yang merasa hasratnya mulai bangkit, tanpa aba-aba, ia langsung mengarahkan sebelah tangannya dan menggelitik bahu Nicha. Sontak, Nicha menggeliat kegelian. Tapi Great masih tidak berhenti, malah semakin naik ke bagian leher Nicha.
"Great, hentikan! Aku geli," ujar Nicha.
Namun, Great hanya tersenyum menatap istrinya. Tak terasa, wajah Nicha mulai menghangat. Tidak ingin suaminya sadar akan wajahnya yang mulai memerah, Nicha langsung berbalik hendak melangkah pergi. Tapi, lagi-lagi Great segera melingkarkan tangannya diperut Nicha.
"Kamu mau kemana, sayang."
Nampaknya Great sudah tidak tahan untuk tidak mengecup bahu Nicha. Langsung saja, ia mendaratkan bibirnya dibahu Nicha dan menciuminya hingga ke leher. Dan ketika sampai ditelinga Nicha, Great memberikan sedikit gigitan lembut.
"Auwh! Apa yang kamu lakukan?"
Uummhh... uummhh..
Nicha mendesah, merasakan lembutnya ciuman dari bibir suaminya. Perlahan, Nicha mulai membuka kemeja Great. Kini, tidak ada lagi rasa malu antara mereka berdua. Seakan gairah birahi telah menguasai hati dan pikiran mereka. Akhirnya, mereka pun larut dalam kenikmatan surgawi.
Setelah puas ******* manis bibir istrinya. Great mulai melancarkan aksi berikutnya. Ya, perlahan ia mulai membuka gaun pengantin Nicha. Dan...
TOK! TOK! TOK! Terdengar suara pintu diketuk.
Haish! Siapa lagi yang datang? Kenapa harus disaat seperti ini, sih! Sungut Great.
Wajah Great tampak merah padam. Ya, siapa yang tidak kesal, jika urusan ranjangnya harus terganggu oleh suara ketukan pintu. Jangankan suara ketukan pintu, bahkan dengungan seekor nyamuk terbang pun bisa membuat kepala terasa ingin pecah, jika sudah menyangkut urusan ranjang.
"Sudahlah, Great. Sebaiknya bukakan dulu pintunya. Siapa tahu, ibuku yang mengetuk pintu. Hum?" pinta Nicha.
"Pokoknya, jika urusan kita disini sudah selesai, aku ingin kita tinggal di Suan Phueng, agar aku bisa leluasa bercinta denganmu dan tidak ada satupun orang yang dapat mengganggu kita," ucap Great dengan nada agak kesal seraya memakai kembali kemejanya.
Melihat tingkah suaminya, Nicha hanya bisa tersenyum geli.
Sejurus kemudian, Great membuka pintu kamarnya. Dan seketika, ia terkejut melihat seorang wanita muda yang tengah berdiri didepan pintu.
__ADS_1
"Kejutan!" seru wanita itu.
"Preem! Kenapa kau kembali lagi kesini?" tanya Great kesal.
"Hah! Kenapa kakak berkata seperti itu pada adik kakak sendiri? Baru saja, beberapa jam kakak menikah dengan Kak Nicha. Tapi, kakak sudah bisa membentakku seperti itu. Kakak sungguh keterlaluan!" rajuk Preem.
"Eh... Bukan begitu maksudku. Aku hanya kaget dan heran, kenapa kau bisa kembali lagi kesini."
"Huh! Aku kembali karena jalanan sangat macet. Ternyata ada genangan air yang cukup tinggi yang menghambat perjalanan menuju Bangkok. Jadi aku pikir, untuk kembali lagi kesini. Daripada nanti mobilku mogok karena terendam oleh genangan banjir."
"Oh, begitu. Lalu, dimana Roni?"
"Dia sudah berada dikamar Han. Kak Nicha, apa aku boleh bermalam dikamarmu?" tanya Preem sambil melongok kearah Nicha.
"Eh, Preem. Ya, tentu saja boleh," jawab Nicha seraya membetulkan selendangnya dan berjalan menghampiri Preem.
"Eeeh, tidak boleh. Kenapa kau harus tidur dikamar ini? Jika kau ingin menginap disini, kau bisa tidur bersama dengan ibu Nat. Benarkan, sayang?" ucap Great pada Nicha.
"Eh, tidak perlu. Kau bisa tidur disini, bersamaku Preem. Dan biarkan Great tidur bersama Roni dikamar Han. Menurutku, itu lebih baik," jawab Nicha datar. tanpa memperdulikan wajah suaminya yang nampak kesal.
"Ya. Aku setuju padamu, Kak. Terima kasih, Kak. Karena sudah mengizinkanku tidur bersamamu."
Akhirnya dengan berat hati, Great harus keluar dari kamar istrinya dan tidur dikamar Han.
Didalam kamar Han.
"Haish! Kenapa lo membawa Preem kembali kesini lagi, Ron? Kalian kan bisa menginap dihotel, jika tidak bisa kembali ke Bangkok," sungut Great pada Roni.
"Sorry, man. Gue ngajak Preem kesini, karena emang dia yang minta. Dan lagi pula, kata lo, gue sama Preem nggak boleh tidur bareng dalam 1 kamar? Sekarang, lo malah nyuruh gue nginep dihotel bareng Preem, gimana sih lo."
"Yang nyuruh lo nginep dalam 1 kamar siapa? Maksud gue, lo sewa 2 kamar. 1 buat lo dan 1 lagi buat Preem."
"Wooow... Lo gila ya. Terima kasih banyak deh, kalo gitu. Kenapa gue harus sewa 2 kamar cuma buat 1 malam doang. Kayak kurang kerjaan."
"Ish... Dasar emang lo nya aja, mau nyari kesempatan dalam kesempitan," gerutu Great.
"Lagian, emang kenapa sih Great. Toh, kita nginep disini cuma semalam doang. Rileks, man. Masih ada malam-malam berikutnya buat lo enak-enak sama Nicha. Santai, bro."
"Emang, kalo pengantin baru, bawaannya sensitif aja, Kak Roni. Diganggu sedikit marah-marah. Susah emang, berhadapan sama pengantin baru," celetuk Han.
"Hahaha. Betul banget, Han. Tuh, anak kecil aja ngerti," seloroh Roni.
"Haish! Kalian berdua sama aja. Lebih baik, aku pergi kekamar mandi untuk mendinginkan pikiran dan tubuhku," ujar Great seraya melangkah keluar kamar.
__ADS_1
"Ckckck... Great, Great. Pengantin baru yang malang," celetuk Roni.