Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 22


__ADS_3

Keesokan harinya.


Nicha sedang terburu-buru untuk pergi kuliah. Karena hari itu, jadwal kuliahnya pagi dan masih ada ujian terakhir. Sementara Great masih tertidur pulas dikamar Nicha.


GLONTANG!


Suara jam weker Nicha terjatuh, saat Nicha hendak mengambil buku diatas meja belajarnya.


Aduh! pekik Nicha pelan.


Mendengar suara gaduh. Perlahan Great membuka matanya. Tampaklah Nicha sedang membereskan buku-bukunya.


"Kamu sedang apa? Kenapa pagi-pagi sudah berisik. Mengganggu orang tidur saja."


"Hehehe. Maaf, aku sedang membereskan bukuku. Hari ini ada kuliah pagi. Jadi aku harus cepat-cepat, agar tidak terlambat."


"Jadi hari ini kamu kuliah?"


Nicha mengangguk.


"Kenapa tidak libur saja."


"Heh! Asal sekali kamu bicara. Bagaimana mungkin aku seenaknya meliburkan diri. Memangnya kampus itu milik orang tuaku?"


Nicha bertolak pinggang menatap Great.


"Lalu jika kamu pergi. Siapa yang akan merawatku disini?"


Mendengar ucapan Great, lalu Nicha menghampirinya.


"Sudah tidak panas," ucap Nicha seraya memegang kening Great.


"Suhu tubuhmu sudah menurun. Jadi, kamu sudah bisa merawat dirimu sendiri. Minumlah obatnya lagi, setelah makan ya. Maka, tubuhmu akan segera pulih. Aku sudah menghangatkan buburnya didapur. Dan aku juga sudah memasak makan siang untukmu, jika aku pulang terlambat. Kamu tinggal makan saja. Oya, obatnya juga sudah aku taruh di atas meja makan beserta air minum. Setelah minum obat, tidurlah dulu. Jangan pergi kemana-mana, karena kamu akan sangat mengantuk. Baiklah, aku pergi."


Setelah berbicara panjang lebar. Nicha bergegas keluar rumah dengan membawa tasnya.


Kenapa dia cerewet sekali. Bahkan aku hampir tidak bisa mengingat perkataannya tadi. Gumam Great.


Dan tiba-tiba...


KRIUK! KRIUK! Terdengar bunyi dari dalam perut Great.


Aduh aku lapar... Ujar Great. Langsung saja ia beranjak dari kamar dan menuju dapur.


Setelah beberapa menit, Great telah menghabiskan buburnya. Lalu ia segera meminum obat yang telah disediakan oleh Nicha. Setelah itu, beranjak kembali kekamar.


Oya, aku harus menelepon Namfah terlebih dahulu. Ujar Great.


Lalu Great meraih ponselnya diatas nakas dan langsung menelepon sekretarisnya.


"Halo Namfah. Hari ini, aku tidak bisa kekantor, karena aku merasa tidak enak badan. Jadi, jika ada dokumen yang harua aku selesaikan, bawalah ke apartemenku. Dan pastikan untuk meneleponku dulu sebelum kamu menuju ke apartemenku ya. Oya, 1 lagi... Usahakan menghubungiku setelah jam makan siang. Mengerti?"


"Baik Pak," jawab dari seberang telepon.


Kemudian Great mematikan ponselnya. Dan benar saja, rasa kantuk sudah menghinggapi mata Great. Seketika, Great tertidur lagi dikamar Nicha.


...***...

__ADS_1


Di Universitas Rangsit.


Hari itu, kuliah telah selesai. Nicha dan Renata sedang membereskan notebook mereka.


"Senangnya, ujian telah berakhir..." ucap Renata sambil tersenyum lebar.


Nicha juga ikut tersenyum, mendengar ucapan temannya.


"Oya Nich. Hari ini, aku ada urusan. Dan sepertinya, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Maaf ya..." ucap Renata dengan tatapan sedih.


"Tidak apa-apa Ren. Kamu tidak usah mengkhawatirkanku. Aku bisa naik angkutan umum."


"Baiklah, kalau begitu. Kamu hati-hati ya. Aku harus segera pergi. Daaah Nicha..." Renata melambaikan tangan dan bergegas pergi meninggalkan Nicha.


Sedangkan Nicha hanya membalas tersenyum, lalu berjalan menuju keluar kelas.


Nicha sedang berdiri dihalte menunggu angkutan umum yang akan ia naiki. Dan tiba-tiba, sebuah mobil sedan berhenti tepat didepan Nicha.


"Hai Nich," sapa seorang laki-laki dari dalam mobil.


"Oh. Hai, Rei," jawab Nicha sambil tersenyum.


"Kamu sudah pulang kuliah?"


Nicha mengangguk.


"Ayo, aku antar pulang," ajak Rei sambil membukakan pintu mobil untuk Nicha.


Nicha tidak bisa menolak ajakan Rei. Langsung saja Nicha masuk kedalam mobil. Namun, disaat yang bersamaan, ada sepasang mata yang memerhatikan mereka dari dalam mobil yang berada dibelakang mobil Rei.


Sejurus kemudian mobil tersebut melaju mengikuti mobil Rei.


Didalam mobil Rei.


"Hemm, Nich... Apa hari ini kamu ada waktu luang?"


"Memangnya kenapa Rei?"


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kamu ada waktu?"


Nicha melirik jam tangannya.


"Tapi, jika kamu tidak bisa, juga tidak apa-apa. Aku akan langsung mengantarmu pulang," ucap Rei dengan raut wajah tidak enak kepada Nicha.


"Oh, tidak usah. Sepertinya aku mempunyai banyak waktu sampai siang nanti. Memangnya kemana kamu akan mengajakku pergi?"


"Kamu akan melihatnya nanti," ucap Rei sambil tersenyum kepada Nicha.


Nicha pun membalas tersenyum. Kemudian, Rei menambah kecepatan mobilnya Dan melewati lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau. Sedangkan mobil yang mengikuti Rei, tertinggal jauh dibelakang. Namun, ketika mobil tersebut hendak menyusul mobil Rei, seketika lampu lalu lintas berubah merah.


Shit! Kenapa tiba-tiba, lampunya berubah merah. Gerutu wanita tersebut.


Kemudian, wanita itu meraih ponselnya seraya menghubungi seseorang.


"Halo, Ren. Maaf aku mengganggu."


"Tidak apa-apa, Kak Bella. Ada apa meneleponku?" ucap Renata dari seberang telepon.

__ADS_1


"Mm, aku ingin bertanya tentang temanmu yang tempo hari belajar dirumahmu. Siapa namanya?"


Renata terdiam sejenak.


"Maksud Kak Bella, Nicha?"


"Oh, ya. Nicha. Apa kamu tahu dimana rumahnya?"


"Untuk apa Kak Bella bertanya alamat rumah Nicha? Kalau Kak Bella ingin kerumah Nicha, biar aku antar..."


"Ah, tidak usah Ren. Aku hanya ingin tahu saja. Tolong kirimkan alamatnya segera ya Ren. Karena aku sangat membutuhkan itu. Terima kasih Renata. Bye."


"I-iya Kak. Sama-sama."


Kenapa Kak Bella membutuhkan alamat rumah Nicha? Batin Renata bingung.


Sementara didalam mobil, Bella sedang menunggu pesan dari Renata. Kemudian terdengar bunyi pesan masuk pada ponsel Bella.


TING!


Bella segera membaca pesan tersebut. Dan sejurus kemudian, ia langsung melajukan mobilnya.


...***...


Disebuah taman bermain.


Rei dan Nicha sedang duduk dibangku taman sambil memegang segelas minuman.


"Jadi, tempat ini yang ingin kamu beritahukan padaku?" tanya Nicha kepada Rei.


Lalu Rei mengangguk.


"Apa kamu mengingat sesuatu setelah melihat tempat ini?"


Nicha termenung seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Maaf, Rei. Tapi aku tidak ingat apapun."


"Jadi, kamu tidak ingat. Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan mengulang kejadian waktu itu kepadamu."


Rei terlihat kecewa, karena Nicha tidak mengingat sesuatu tentang kenangan ditempat itu. Akhirnya dengan perlahan, ia kembali menceritakan kejadian masa lalunya bersama Nicha ditempat itu.


FLASHBACK ON.


Tampak di taman itu, ada beberapa anak-anak yang sedang bermain. Mereka bermain ayunan, jungkat-jungkit, seluncuran, dan ada yang bermain sepeda. Namun, di sisi lain taman, ada beberapa anak laki-laki yang sedang mengganggu seorang anak laki-laki lain yang sedang bermain sepeda.


Anak laki-laki itu, tampak terjatuh dari sepedanya karena didorong oleh salah satu anak laki-laki lainnya.


"Hei! Kamu adalah Tuan muda Reinhard bukan? Kenapa kamu bermain sendirian? Di mana pengasuhmu? Hah!" tanya salah satu anak laki-laki sambil duduk di atas sepedanya.


"Dasar, anak manja. Kamu ini sudah besar. Tapi masih saja didampingi pengasuhmu. Atau jangan-jangan, kamu masih memakai popok dibalik celanamu. Hahahaha!"


Mendengar hal itu, Reinhard kecil hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya. Namun, belum sempat Rei kecil membalas ejekan anak laki-laki tersebut. Tiba-tiba terdengar suara anak perempuan yang mengagetkan mereka.


"Woy! Sedang apa kalian!"


Seketika 3 orang anak laki-laki itu beserta Rei kecil, menoleh kearah suara itu berasal.

__ADS_1


__ADS_2