
Di Sara restoran.
Great memasuki restoran dan langsung mengedarkan pandangannya keseluruh sudut restoran. Lalu datanglah Jacob menghampiri Great.
"Tuan!" sapa Jacob.
"Oh, kebetulan kau ada disini Jac."
"Apakah Tuan butuh bantuanku?"
"Dimana Nicha?"
Tanpa basa-basi, Great langsung menayakan keberadaan Nicha.
"Ke-kenapa Tuan mencari gadis itu?"
"Sudahlah Jac. Jawab saja pertanyaanku. Dimana Nicha?"
"Mmm, sepertinya anda kurang beruntung Tuan. Baru saja, aku menerima surat pengunduran diri dari gadis itu."
"Apa!? Nicha mengundurkan diri?"
"Ya Tuan." Jacob menganggukkan kepalanya.
Shit! Kenapa kamu melakukan ini Nicha? Aku harus segera kerumahnya. Batin Great.
Great bergegas pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Jacob.
"Eh, Tuan!" Jacob mematung dengan wajah heran menatap kepergian Great.
...***...
Dikediaman Nicha.
Tampak Great sedang berdiri didepan rumah Nicha. Wajahnya sayu dan matanya terus saja menatap kearah jendela kamar Nicha yang tampak gelap. Dengan perlahan, ia berjalan menuju pintu rumah Nicha.
Kenapa rumahnya tampak sepi dan gelap? Batin Great.
Great merasa ada yang aneh dengan rumah Nicha malam itu. Dengan segera Great mengetuk pintu rumah Nicha.
TOK! TOK!
"Nicha! Apa kamu didalam? Ini aku Great..."
Kenapa dia tidak menjawab. Apa dia sudah tidur? Batin Great.
Kemudian Great mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya. Dan ketika ia hendak mengarahkan kunci tersebut ke mulut pintu, tiba-tiba...
Hah! Apa ini? Dia sudah mengganti handle pintunya... Shit! Gumam Great.
Ketika Great sedang termenung sesaat, datanglah seorang wanita paruh baya menyapa Great.
"Anda mencari siapa Tuan?"
"Oh. Saya mencari gadis pemilik rumah ini..."
"Maksud anda Nicha?"
"Ya benar."
"Wah, anda sudah terlambat. Baru saja sore tadi, dia pergi dengan membawa koper. Sepertinya, dia akan pergi jauh."
"Me-membawa koper?" Great tampak panik.
Wanita tersebut mengangguk.
__ADS_1
"Apa dia pergi sendirian Nyonya?"
"Tidak. Dia pergi naik mobil bersama seorang wanita."
Seorang wanita? Apakah yang dia maksud Renata? Batin Great.
"Sepertinya, wanita itu adalah temannya. Karena dia sering mengantar Nicha pulang dengan mobilnya," lanjut wanita itu.
"Baiklah, Nyonya. Terima kasih atas informasinya."
Great membungkukkan badannya kearah wanita tersebut. Kemudian, wanita tersebut berlalu meninggalkan Great.
Tinggallah Great kembali terdiam. Ia seperti sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya Sepintas, Great mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Lalu, mulai mencari kontak Nicha dan mencoba menghubunginya.
TUUT! TUUT! TUUT!
Ayolah Nicha. Jawab panggilanku... Batin Great.
Saat itu, hatinya benar-benar remuk. Dan yang bisa menyatukan hatinya seperti sediakala, hanyalah mendengar suara lembut Nicha. Namun, lama sudah ia menunggu jawaban diponselnya. Tapi hanya suara operator yang ia dapatkan.
Kenapa dia tidak menjawab panggilanku? Aku harus mencobanya lagi. Batin Great.
...***...
Di apartemen Renata.
Nicha tampak panik. Wajahnya berubah menjadi gelisah, kala ia menatap layar ponselnya. Menyadari ada sesuatu yang aneh dengan temannya, Renata mencoba mencari jawabannya.
"Kenapa tidak dijawab teleponnya Nich?"
"Ah, tidak perlu. Ini hanya panggilan dari nomor yang tidak dikenal," jawab Nicha gugup.
"Apa kamu mencoba menyembunyikan sesuatu lagi dariku?" tanya Renata sinis.
Seketika Nicha menjadi salah tingkah, karena Renata mulai curiga kepadanya.
Renata segera mengambil ponsel Nicha dari genggaman tangan Nicha. Seketika bola mata Renata membulat, melihat nama yang ada dalam layar ponsel Nicha.
"Ini... Tuan Great Warinton yang meneleponmu?"
Nicha mengangguk takut.
"Nicha. Kenapa kamu masih berusaha menyembunyikan hal ini dariku? Aku akan menjawab panggilan ini..."
Dalam sekejap Renata menekan gambar gagang telepon berwarna hijau. Sementara, Nicha terlihat cemas dengan perbuatan Renata.
"Halo."
"Halo, aku ingin berbicara dengan Nicha."
"Maaf Tuan Great. Nicha sudah tidur. Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Apa kamu tidak sedang berbohong kepadaku Nona Renata?"
"Apa!? Ke-kenapa aku harua berbohong pada anda Tuan. Saat ini, Nicha memang sudah tidur. Jika anda mempunyai pesan, katakan saja padaku, nanti akan aku sampaikan padanya jika ia terbangun."
"Baiklah. Katakan saja padanya, jangan pernah berpikir untuk menghindariku. Karena kemanapun dia pergi, aku pasti akan menemukannya."
Seketika sambungan teleponpun terputus. Renata tampak sedikit syok mendengar ucapan Great. Sementara Nicha bertambah bingung mendapati wajah Renata yang tampak pucat.
"Kenapa Ren? Apa yang Great katakan? Kenapa kamu terlihat ketakutan?" tanya Nicha sambil memegangi tangan Renata.
"Sebaiknya, kamu katakan semuanya padaku sekarang Nich..." ucap Renata seraya menatap tajam kearah Nicha.
"Te- tentang apa?"
__ADS_1
"Tentang hubunganmu dengan Tuan Great."
Nicha benar-benar bingung bercampur takut. Ia bingung harus memulai dari mana untuk memberitahu Renata tentang hubungannya dengan Great. Tapi karena Renata terus mendesaknya, akhirnya Nicha menjelaskan semua yang terjadi antara dirinya dan Great. Namun, disela-sela penjelasan Nicha, Renata kembali terkejut.
"Apa!? Jadi selama ini kamu berhubungan dengan Tuan Great? Dan kamu sangat tega, dengan tidak memberitahuku Nich."
Renata tampak kesal dengan Nicha. Wajahnya berubah menjadi merah padam karena menahan amarah yang sangat besar terhadap temannya.
"Ma-maafkan aku Ren. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu. Hanya saja..."
"Sudahlah Nich. Aku tidak ingin mendengar apapun alasanmu. Yang jelas sekarang, kamu harus menjelaskan semuaaanya kepadaku. Ingat jangan mencoba untuk menyembunyikan sekecil apapun dariku. Mengerti!" ucap Renata seraya menunjuk wajah Nicha dengan telunjuknya sambil menatap Nicha tajam.
Nicha mengangguk pelan.
"Baiklah, sekarang lanjutkan penjelasanmu," ujar Renata lagi.
Nicha kembali menceritakan kejadian kemarin, yang menjadi awal permasalahan antara dirinya dengan nona Bella dan juga Great
"Hah! Jadi Great ada bersama kalian, saat kejadian kemarin?"
"Iya." Nicha mengangguk lemas.
"Ya ampun Nicha. How pitty you are..." Renata menggenggam tangan Nicha.
"Pasti saat itu kamu sangat ketakutan. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Kak Bella, jika aku ada diposisinya saat itu. Melihat dua orang pria yang pernah ada dalam hatinya, sedang bersama wanita lain."
Mendengar ucapan Renata, sontak Nicha langsung menengadahkan kepalanya menatap Renata.
"Apa maksudmu Ren? Bukankah Nona Bella hanya cemburu kepada Rei saja?"
"Ya itu juga. Tapi apa kamu benar-benar tidak tahu?"
Nicha menggeleng bingung. Dan tiba-tiba, Renata menjitak kepala Nicha.
TUK!
"Aduh! Sakit Ren. Kenapa kamu memukul kepalaku?"
"Untuk apa kamu mempunyai ponsel, kalau hal seperti ini saja, kamu tidak tahu..."
"Hah...? Tentu saja untuk menelepon dan bertukar pesan. Memangnya untuk apa lagi gunanya ponsel?" jawab Nicha lugu.
"Ya ampun Nicha... Zaman seperti sekarang ini, ponsel tidak hanya untuk menelepon dan bertukar pesan saja. Tapi lebih banyak digunakan untuk sosial media. Memangnya kamu pikir, sekarang masih zaman kuda gigit besi? Zaman telah modern sahabatku..." jelas Renata.
"Memangnya ada ya zaman kuda gigit besi? Setahuku dari dulu, kuda hanya makan rumput..." celetuk Nicha.
"Astaga Nicha. Kamu ini benar-benar... Sudahlah, biar aku jelaskan padamu ya..."
Lalu Renata mulai menjelaskan hubungan antara Bella dan Great dimasa lalu.
"Apa!? Jadi, Great adalah mantan kekasih Nona Bella?"
Renata mengangguk.
"Tapi hubungan mereka jarang diketahui publik, karena tidak ada media televisi yang menyiarkan berita tentang hubungan mereka. Mungkin untuk menjaga privasi masing-masing pihak."
"Lalu bagaimana bisa berita tentang hubungan mereka tersebar di media sosial?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin ada beberapa orang yang tidak sengaja melihat kebersamaan mereka, lalu merekamnya dan menyerahkan pada akun gosip yang sedang hits dimedsos," jelas Renata.
Nicha masih termangu dengan mata yang terbelalak. Ia merasa kejadian yang menimpanya saat ini hampir-hampir memecahkan kepalanya.
"Tapi, aku merasa bangga kepadamu Nich... Karena bisa menaklukan hati seorang tuan muda keluarga Warinton," ucap Renata seraya melemparkan senyuman bangga kepada Nicha.
Namun Nicha hanya membalas dengan senyum kecut. Ia sangat takut dengan kejadian apa lagi yang akan menimpanya, jika ia masih berhubungan dengan orang-orang itu.
__ADS_1
Aku harus bisa menghindari mereka. Ya, hanya itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupku dari berbagai masalah. Ketika kuliahku sudah selesai nanti, aku akan segera kembali ke desa. Dan hidup bahagia bersama ibu dan adikku. Batin Nicha.
...***...