Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 32


__ADS_3

Di apartemen Renata.


Malam itu, Renata sudah tertidur pulas. Sedangkan Nicha, tampak masih termenung seperti memikirkan sesuatu. Dan tiba-tiba, ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Nicha segera melihat kelayar ponselnya.


Great:


[Pom kitteung khun (Aku merindukanmu).]


Nicha membaca pesan tersebut tanpa ekspresi. Lalu masuk lagi pesan kedua.


Great:


[Kho thod kab khun (Aku minta maaf kepadamu), atas kejadian kemarin. Aku harap kita bisa bertemu. Sehingga tidak ada kesalah pahaman antara kita.]


Lagi-lagi, Nicha tidak membalas pesan dari Great. Ia sudah sangat lelah dengan semua kejadian yang menimpanya, sejak Great datang dikehidupannya. Saat ini, hanya ada 1 hal dalam benak dan hatinya. Yaitu, menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin dan segera pergi dari kota Bangkok untuk kembali ke desa.



Malam semakin larut. Akhirnya, Nicha tertidur disebelah Renata dan bersamaan dengan itu, tidak terdengar lagi pesan masuk dari Great.


...***...


Dikediaman Great.


Great tampak kebingungan seperti orang yang kebakaran jenggot. Ia berjalan mondar mandir didalam kamarnya. Sedangkan tangannya terus menggenggam ponsel, berharap Nicha akan membalas pesan yang telah ia kirimkan.


Please Nichaa... Balas pesanku! Gumam Great.



...***...


Pagi harinya di kediaman Great.


Great telah terbangun dari tidurnya. Sambil mengerjapkan matanya, tiba-tiba ia teringat kepada Nicha dan langsung meraih ponselnya untuk melihat pesan masuk.


Bahkan dia tidak membalas pesanku semalam... Apa yang harus aku lakukan? Batin Great.


Sesaat, Great terpaku diatas ranjangnya memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Nicha.


Mungkin aku harus ke apartemen Renata untuk menemuinya. Ya, hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa bertemu dengan Nicha. Batin Great.


Sejurus kemudian, Great langsung beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit, ia keluar dari kamar mandi dan langsung meraih pakaiannya dari dalam lemari. Tak butuh waktu lama untuknya merapikan diri. Lalu ia bergegas keluar dari kamarnya.


Dengan langkah cepat, Great menuruni anak tangga. Namun, ketika ia hendak melangkah keluar rumah. Seseorang memanggilnya.


"Mau pergi kemana kau Great?" tanya Papa Thagoon.


Great tidak menyangka, Papanya akan mengetahui kepergiannya. Sambil memejamkan matanya, ia menahan kekesalannya.

__ADS_1


Shit! Batin Great.


"Aku ... akan pergi ke kantor Pa," jawab Great sambil melemparkan senyuman yang dipaksa.


"Benarkah?" tanya Papa Thagoon curiga.


"Ya, tentu saja," jawab Great yakin.


"Kau ke kantor dengan berpakaian seperti itu?" ucap Papa Thagoon menunjuk kearah tubuh Great.


"Oh, ini... Kebetulan hari ini sekretarisku berulang tahun, Pa. Jadi, seluruh karyawan akan merayakan ulang tahun Namfah hari ini. Makanya aku memilih untuk berpakaian santai saja."


Habislah aku. Semoga Papa percaya dengan alasanku. Batin Great.


"Hari ini kau tidak perlu pergi kemana-mana. Papa ingin membicarakan sesuatu denganmu. Lagi pula, perayaan ulang tahun sekretarismu itu, tidak terlalu penting. Ikut Papa sekarang!" Papa Thagoon bergegas menuju ke taman belakang.


Haish! Aku sudah duga, pasti akan seperti ini... Batin Great.


Dengan langkah gontai, ia mengikuti Papanya menuju taman. Setelah sampai di taman, Papa Thagoon langsung duduk di kursi panjang, sedangkan Great duduk di kursi lainnya.


"Great... Papa punya pertanyaan untukmu."


"Pertanyaan apa Pa?"


Papa Thagoon menatap Great lekat drngan ekspresi yang tak bisa diartikan. Beliau seperti sedang merangkai kalimat untuk disampaikan kepada Great.


Great nampak bingung dengan pertanyaan Papanya. Ia terdiam sejenak menundukkan kepalanya.


"Apa 2 pilihan itu Pa?"


"Keinginan Papa dan kematian Papa."


"Apa!? Pilihan macam apa itu? Bagaimana Papa bisa berkata seperti itu?"


"Sudahlah, jawab saja pertanyaan Papa."


"Akuu... Aku pasti akan memilih kebahagiaan Papa. Apapun akan aku lakukan demi membuat Papa bahagia."


Papa Thagoon tersenyum bangga mendengar jawaban anaknya. Wajahnya yang sedari tadi serius, sekarang telah berseri-seri menatap anak sulungnya itu.


"Baiklah. Kalau begitu, Papa ingin pernikahanmu dengan Ranida bisa terlaksana bulan depan. Apa. kau bisa melakukannya Great?"


"Pa... Tidakkah itu terlalu cepat? Bahkan proyek departemen store yang sedang aku kerjakan, baru saja dijalankan..."


Seakan tidak ingin mendengarkan alasan dari anaknya, langsung saja Papa Thagoon memotong ucapan Gteat.


"Masalah itu, Papa akan minta David untuk meng-handle sementara proyek departemen store. Agar kau bisa fokus untuk mempersiapkan pernikahanmu."


"Tapi Pa..."

__ADS_1


"Papamu benar Great." Mama Chotika berjalan menghampiri suami dan anaknya. Lalu duduk disebelah suaminya.


"Serahkan saja masalah pekerjaan kepada David untuk sementara. Sehingga kau bisa leluasa mengurus pernikahan bersama Ranida. Setelah semuanya selesai, kau bisa kembali bekerja untuk menangani proyek departemen store."


"Ma..." ujar Great menatap wajah Mamanya dengan ekspresi memohon.


Namun Mama Chotika hanya terdiam dan tidak mengindahkan anaknya yang sedang memohon pertolongan untuk membelanya.


"Dengarkan Mama Great. Bahkan Mamamu, sependapat dengan Papa," ucap Papa Thagoon seraya menggenggam tangan istrinya sambil tersenyum.


Saat itu, Great merasa sangat tersudut. Ia berpikir bahwa tidak ada gunanya lagi untuk melawan, karena apapun yang akan ia katakan tidak akan merubah keputusan kedua orang tuanya.


"Baiklah Pa, Ma. Jika memang itu yang kalian inginkan. Aku akan segera mempersiapkan pernikahanku dengan Ranida," ucap Great lirih dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi.


Mendengar hal itu, Papa Thagoon dan Mama Chotika tersenyum bahagia sambil berpandangan.


"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan kembali ke kamarku, Ma, Pa."


"Auwh... Kamu tidak ke kantor hari ini Great?" tanya Mama Chotika.


"Tidak Ma. Aku harus membicarakan tentang persiapan pernikahan dengan Ranida. Lagi pula, hari ini tidak ada agenda penting di kantor."


"Baiklah Great. Segera hubungi Ranida dan persiapkanlah pernikahan kalian sesempurna mungkin. Karena Papa ingin, semua rekan kerja Papa akan berdecak kagum di acara pernikahan kalian.


Great tersenyum getir mendengar ucapan Papanya. Sejurus kemudian, ia membungkukkan badannya kearah kedua orang tuanya seraya berjalan pergi.


Di dalam kamar Great.


Setibanya Great di dalam kamar. Ia langsung menghempaskan badannya di atas kasur. Menatap nanar kearah langit-langit kamar. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Apa sudah berakhir? Semua ini sudah berakhir? Apa aku tidak bisa menyelamatkan hubunganku dengan Nicha? Bagaimana aku akan menjalani kehidupanku setelah ini? Aku tidak boleh menyerah, masih ada yang bisa aku lakukan. Batin Great.


Kemudian Great bangkit dan meraih ponselnya. Ia mencari sebuah kontak, lalu menekannya. Seketika, panggilan teleponpun terhubung.


TUUT. TUUT.


"Halo, Tuan," jawab seseorang dari seberang telepon.


"Halo Jac. Aku butuh bantuanmu..."


Dalam beberapa menit, Great berbicara dengan Jacob ditelepon. Wajah Great tampak sangat serius sambil mulutnya berkomat kamit seperti komandan pasukan yang sedang memberikan instruksi penting kepada prajuritnya.


"Apa kau mengerti Jac?" tanya Great.


"Baik Tuan. Segera akan saya lakukan."


"Terima kasih Jac. Bantuanmu sangat berarti untukku."


"Tidak perlu sungkan Tuan. Saya sangat senang bisa membantu anda."

__ADS_1


__ADS_2