
Malam itu juga, Rei bergegas menemui Bella. Segera, ia menaiki mobil dan langsung melaju meninggalkan rumahnya. 30 menit berlalu, Rei menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah kafe. Lalu, ia bergegas masuk kedalam kafe.
"Hai sayang!" seru seorang Bella yang telah menunggu Rei didalam kafe.
Kemudian Bella berdiri, hendak memeluk Rei. Namun Rei berusaha menghindar dengan menahan kedua tangan Bella.
"Auwh... Ada apa denganmu, sayang?" tanya Bella heran.
"Seharusnya, aku yang bertanya padamu. Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Nicha!?"
Rei berusaha untuk menahan amarahnya. Namun tetap saja, ia tidak bisa mengontrol nada bicaranya.
"Kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba bertanya hal tentang wanita itu kepadaku? Memangnya apa salahku, Rei?"
"Sudahlah Bel. Aku tidak ingin berbelit-belit. Jawab saja dengan jujur. Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Nicha? Dan dimana dia sekarang?"
"Apa? Haha. Aku tidak salah dengar? Kamu bertanya tentang keberadaan wanita jalang itu padaku...? Aku tidak tahu!"
Bella menatap tajam kearah Rei. Lalu, ia kembali terduduk dengan wajah masam.
"Hhh... Baiklah. Ayo kita bicara baik-baik. Aku minta maaf padamu, karena aku sedikit emosi. Tapi, aku juga merasa khawatir dengan keadaan Nicha. Maka dari itu aku mohon, beritahu aku, apa yang sudah terjadi antara kamu dan Nicha. Sampai membuatnya harus meninggalkan rumahnya."
Bella menatap Rei lekat. Perlahan ia menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Aku telah membuat kesepakatan dengan wanita itu..."
"Kesepatan? Kesepakatan apa?" Rei bertambah bingung.
"Kesepakatan bahwa dia tidak akan mengganggu calon suamiku lagi jika dia ingin tetap mendapatkan beasiswa kuliahnya."
"I'ts unbelieveable..." Rei menatap Bella sinis seraya menggelengkan kepalanya.
"Rei, jangan memandangku seperti itu. Aku melakukan ini, karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu tidak pernah mengerti hal itu, Rei?"
"Bella... Harus berapa kali lagi aku katakan? Bahwa Nicha tidak pernah menggodaku dan aku pun tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya."
"Lalu kenapa kamu begitu mengkhawatirkan wanita itu? Hah! Bukankah sekarang, kamu berusaha mencarinya, karena mengetahui bahwa Great akan menikah dengan Ranida. Dan ini kesempatan bagimu untuk kembali mendekati wanita itu? Benar begitu, kan?"
Bella mengeluarkan seluruh isi hatinya. ia merasa sudah tidak sanggup untuk memendam semuanya. Rasa cemburu yang teramat sangat, telah membuat pikiran dan hatinya menjadi kacau. Tak terasa cairan beningpun menetes dari pelupuk matanya.
Rei yang melihat kekasihnya marah hingga meneteskan air mata. Merasa terenyuh, lalu ia berdiri dan duduk disebelah Bella seraya meraih kepala Bella dan menaruh dibahunya.
"Aku juga sangat mencintaimu Bel. Bukankah, kamu tahu itu...? Apa perlu aku mengungkapkannya lagi kepadamu?" ucap Rei sambil membelai lembut kepala Bella.
Mendadak Bella menengadahkan kepalanya. Setelah mendengar ucapan Rei.
"Benarkah, kamu sangat mencintaiku Rei?" tanya Bella lirih.
__ADS_1
Rei hanya mengangguk. Seakan mengerti keinginan Bella. Dengan perlahan, Rei mendekatkan wajahnya kearah Bella. Begitupun dengan Bella, ia begitu antusias dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Rei.
Seketika, kedua pasang bibir mereka bertaut. Rei ******* lembut seluruh bagian bibir Bella. Semakin lama, semakin dalam ciuman antara mereka berdua. Seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, Bella dan Rei tidak menghiraukan tatapan para pengunjung kafe yang sedari tadi memerhatikan dan menggunjingkan mereka.
Setelah hampir 1 menit mereka berciuman. Akhirnya, Rei melepaskan bibirnya dari bibir Bella.
"I love you," bisik Rei seraya mencium kening Bella.
Bella tampak senang dengan perlakuan Rei terhadap dirinya. Wajahnya kini berubah merah merona, dari sebelumnya yang tampak marah.
...***...
Sementara ditempat lain. Great dan Ranida nampak bersiap untuk oergi meninggalkan restoran.
"Hoah... Sayang, aku lelah sekali," ucap Ranida manja.
"Baiklah, aku akan segera mengantarmu pulang. Sebelum itu, kamu tidur saja dulu sebentar dimobil ya. Akan aku atur posisi joknya agar kamu bisa istirahat dengan nyaman..." ucap Great pada Ranida seraya mengatur posisi sandara. jok yang diduduki Ranida.
"Terima kasih sayang. Tapi, bagaimana kalau kita ke apartemenmu saja? Karena rumahku terlalu jauh dari sini. Aku sudah sangat lelah, Great," rengek Ranida.
Hah! Untuk apa dia ingin ke apartemenku lagi? Bagaimana aku harus menolaknya kali ini. Tapi, kasihan juga Rani. Tampaknya, ia sudah sangat kelelahan. Batin Great.
"Baiklah, kita akan beristirahat di apartemen terlebih dahulu."
Ranida tersenyum senang. Dengan terpaksa, Great melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
KLIK!
Pintu terbuka. Lalu Great mempersilahkan Ranida untuk masuk terlebih dahulu.
Tanpa aba-aba, Ranida langsung menghempaskan tubuhnya disofa. Sementara Great berjalan menuju ke kamar mandi.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Ranida.
"Aku dari kamar mandi," jawab Great sambil berjalan menghampiri Ranida.
"Apa kamu ingin tidur di kamar?" tanya Great lagi.
"Bolehkah?" sahut Ranida yang langsung berdiri mendekati Great.
"Te-tentu saja boleh. Biar aku disini saja. Aku ingin menonton tv," jawab Great dengan terbata.
"Huumm, tapi aku ingin ditemani..."
Ranida merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Great seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim.
Haish... Apa lagi sekarang? Bisik Great dalam hati.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mengantuk..."
Belum selesai, Great berkata. Ranida langsung mengecup singkat bibir Great.
CUP!
"Aku mohon. Untuk kali ini, jangan menolak ajakanku, Great. Hum?"
Great tersentak. Tubuhnya seperti mendapat sengatan listrik tegangan tinggi. Wajahnya berubah pucat pasi, tangannya menjadi dingin dan mengeluarkan keringat. Ia benar-benar takut dan bingung, bagaimana harus memulainya. Karena, selama berhubungan dengan mantan kekasihnya dulu, ia pun belum pernah melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Bahkan berciuman pun hanya sesekali ia lakukan ketika pasangannya sedang merajuk.
"Ayolah Great..." Ranida meraih tangan Great dan menuntunnya masuk kedalam kamar.
Ketika Great telah masuk kedalam kamar. Tanpa aba-aba, Ranida langsung mengunci pintunya.
"Sekarang kamu tidak perlu malu, sayang. Lakukan saja, apa yang kamu inginkan terhadapku. Tubuh ini, aku persembahkan seluruhnya untukmu."
Ranida membelai lembut wajah Great. Lalu turun ke bagian kancing baju Great dan hendak membukanya. Namun tiba-tiba...
PLAK!
Dengan reflek, Great menampar pipi Ranida.
"Auwh! Great, apa yang kamu lakukan!?" pekik Ranida sambil memegangi pipinya.
"Ma-maafkan aku Ran. Tadi itu, ada nyamuk di pipimu. Nah, lihatlah ini..."
Great menyodorkan telapak tangannya kearah Ranida. Benar saja, ada seekor nyamuk yang sudah gepeng dengan bercak darah menempel di telapak tangan Great.
"Hih! Itu bukan nyamuk yang berbahaya kan Great?" ucap Ranida bergidik ngeri.
Sepintas, Great mendapatkan ide cemerlang, untuk mengerjai Ranida.
"Sebentar aku lihat. Astaga... Sepertinya, ini nyamuk demam berdarah Ran. Coba kamu perhatikan, kaki nyamuk ini berwarna belang, hitam putih kan?" ujar Great sambil menunjuk kaki-kaki nyamuk tersebut.
"Oh my God. Kamu benar, sayang. Aduuh, bagaimana ini? Aku tidak ingin mengidap penyakit demam berdarah. Great, tolong aku," ucap Ranida ketakutan seraya memegangi tangan Great.
"Kamu tenang dulu ya. Sepertinya, aku mempunyai obat anti demam berdarah. Sebentar aku ambilkan..."
Great bergegas menuju dapur dan membuka kotak obat
"Ini, minumlah. Obat ini sangat manjur untuk mencegah demam berdarah."
Great menyodorkan sebutir obat dan segelas air minum. Tanpa aba-aba, Ranida langsung menyambar obat tersebut dan memasukkan kedalam mulutnya serta meminum air yang diberikan oleh Great.
Melihat reaksi Ranida yang seolah percaya dengan aktingnya, Great tersenyum dengan menaikkan sebelah bibirnya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Great rencanakan.
...***...
__ADS_1
Hayooo. Penasaran, penasaran? Tahan dulu pemirsa. Tunggu lanjutannya, 2 hari lagi ya. Hehe. 😁