
Didalam kamar Great.
Hari sudah malam. Langit berwarna hitam pekat, sepekat hati Great saat itu. Tidak ada bintang yang menyinari. Tampak Great sedang termangu menatap keluar jendela kamarnya. Hatinya benar-benar kacau, pikirannya buntu. Ia sangat bingung, apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Kenapa selalu seperti ini. Apa aku tidak bisa menjalani kehidupanku sesuai keinginanku. Sampai kapan aku harus hidup dalam bayang-bayang orang tuaku. Mereka tidak bisa memperlakukan aku seperti ini terus! Rutuk Great dalam hati.
Seketika tangan Great menyapu seluruh barang-barang yang ada diatas meja kerjanya.
PRANG!
Dalam sekejap, semuanya hancur, sehancur hati Great saat itu. Ia sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Wajahnya kini benar-benar merah seperti api, napasnya memburu tak beraturan. Ia sangat bingung dan marah kepada orang tuanya. Tapi disisi lain, ia juga tidak ingin menjadi anak durhaka. Seketika kepalanya menengadah, dan matanya menangkap beberapa foto yang telah lama terpajang rapi didinding kamarnya.
Foto pertama, Great sedang menaiki sepeda dan Papanya berdiri disampingnya dengan tangan diperban.
FLASBACK ON.
Tampak Great sedang belajar mengendarai sepeda roda 2. Dan Papa Thagoon mengikutinya dari belakang. Ketika sedang asyik bersepeda, mata Great tertuju pada seekor anjing yang sangat besar berjenis Great Dane yang sedang duduk dibawah sebuah pohon dengan rantai dilehernya.
Great terkagum dengan anjing tersebut karena badannya yang begitu besar. Langsung saja, ia menghentikan sepedanya dan mendekati anjing tersebut. Dan tanpa ia sadari, rantai anjing itu tidak tersangkut pada pada batang pohon, melainkan jatuh ditanah.
Sementara Papa Thagoon tampak sedang berbicara dengan ponselnya. Dan setelah selesai berbicara ditelepon, ia menoleh mencari keberadaan Great. Dan betapa terkejutnya ia, mendapati Great yang hendak menyentuh kepala anjing tersebut. Langsung saja, Papa Thagoon berteriak...
"Great jangan!"
Sontak Great terkejut mendengar teriakan Papanya. Dan seketika anjing tersebut menggonggong keras dan bangkit.
"Lari Great! Lari!" seru Papa Thagoon sambil berlari juga menghampiri Great.
Mendengar perintah Papanya, lalu Great segera berlari sekencangnya. Dan benar saja, anjing besar itu pun langsung mengejar Great. Papa Thagoon berlari sekencangnya berusaha menghentikan anjing itu. Dan...
BRUK!
Papa Thagoon berhasil menangkap anjing itu, lalu ia terguling, sehingga sang anjing berada diatas tubuh Papa Thagoon dan berusaha mencakar bahu Papa Thagoon. Selama beberapa detik perkelahianpun terjadi antara Papa Thagoon dan sang anjing. Sampai akhirnya, datang sang pemilik anjing dan memerintahkan anjingnya untuk berhenti.
Great tampak begitu syok melihat Papanya harus berkelahi dengan anjing ganas karena ulah dirirnya. Langsung saja ia berlari menghampiri Papanya.
"Papaaa!" teriak Great seraya berlari kearah Papa Thagoon.
"Oh, maaf Tuan anda terluka parah karena gigitan dan cakaran anjing saya," ucap pemilik anjing tampak menyesal.
"Tidak apa-apa. Tapi saya harap, lain kali anda harus benar-benar memastikan bahwa anjing anda sudah terikat dengan kuat. Karena anjing sebesar ini, sangat berbahaya bagi anak-anak," ucap Papa Thagoon seraya bangkit sambil memegangi tangannya yang terkena gigitan anjing tersebut.
"Saya sangat menyesal dan meminta maaf kepada anda Tuan. Biar saya membawa anda ke dokter. Sepertinya, luka anda cukup parah..." ujar pemilik anjing sambil memandangi baju Papa Thagoon yang penuh dengan darah.
__ADS_1
"Terima kasih. Anda tidak perlu repot-repot, karena supir saya sebentar lagi akan datang."
Benar saja, tak berapa lama datang sebuah mobil sedan hitam berhenti disamping Papa Thagoon. Lalu, turunlah seorang laki-laki dari dalam mobil.
"Tuan! Apa yang terjadi? Kenapa Tuan berdarah seperti ini?"
"Aku tidak apa-apa Jac, kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah Tuan. Mari masuk kedalam mobil."
Lalu Papa Thagoon berpamitan kepada sang pemilik anjing tadi. Dan langsung masuk kedalam mobil.
"Kita akan pergi kerumah sakit atau pulang kerumah Tuan?"
"Antar aku dan Great pulang. Biar nanti, dokter Wasan yang akan mengobati lukaku dirumah."
"Baik Tuan."
Great memandangi Papanya dengan berurai air mata.
"Hei, kau kenapa Great?" tanya Papa Thagoon lembut seraya mengusap kepala Great.
"Maafkan aku Pa. Karena ulahku, Papa menjadi terluka parah seperti ini. Hiks, hiks."
"Apa!? Dulu Papa tidak mau sekolah?"
Great terperanga mendengar ucapan Papanya.
"Ya. Dulu ketika Papa masih kecil, Papa sangat nakal dan tidak mau sekolah. Sampai, nenekmu marah dan memukul Papa. Tapi Papa masih tetal tidak mau sekolah. Dan akhirnya, nenekmu mengusir Papa dari rumah. Nah, ketika itulah Papa menyadari bahwa seberapa pun galaknya orang tua, mereka hanya ingin kebaikan untuk anaknya."
"Lalu setelah itu, Papa mau sekolah?"
"Ya, tentu saja. Seperti yang kau lihat sekarang. Papamu ini menjadi sukses, karena rajin belajar dan giat bekerja serta tidak lupa berdoa. Itulah kuncinya Great," ucap Papa Thagoon sambil menatap Great.
Great mengangguk mendengar petuah dari Papanya. Seketika ia bertekad dalam hatinya untuk membahagiakan Papanya dengan rajin belajar sehingga ia bisa menjadi sukses seperti Papanya.
I love you, Dad. You're my hero. Batin Great sambil memandangi Papa Thagoon.
FLASHBACK OFF.
Lalu Great menggeser bola matanya ke bingkai foto yang kedua. Tampaklah disana, Great sedang tersenyum lebar sambil berdiri diatas kapal dengan memegang seekor ikan yang besar didampingi oleh Papa Thagoon.
Dan difoto yang ketiga. Tampak Great memakai baju toga didampingi oleh Papa Thagoon, Mama Chotika dan Preem. Mereka tersenyum bahagia mendampingi Great diupacara wisuda S2 nya.
__ADS_1
Seketika Great menangis, kala semua kenangan itu terbayang jelas dalam memorinya. Malam itu, ia benar-benar kalut. Dan tak tahu harus berbuat apa.
...***...
Di Universitas Rangsit.
Nicha dan Renata sedang duduk dibangku taman kampus. Tiba-tiba...
TING!
Ponsel Nicha berbunyi tanda pesan masuk. Langsung saja Nicha melihat kelayar ponselnya.
Hah! Nomor siapa ini? Batin Nicha.
Dengan sedikit ragu, Nicha hendak membuka pesan dari nomor yang tak dikenal, dan ternyata nomor tersebut mengirimkan sebuah video ke ponsel Nicha.
Video apa ini? Ah sudahlah, pasti hanya orang iseng. Tidak usah dihiraukan Nicha. Batinnya lagi.
Namun, tak lama kemudian, ponsel Nicha kembali berbunyi tanda panggilan masuk.
"Kenapa tidak diangkat Nich?" tanya Renata.
"Tidak usah. Sepertinya hanya orang iseng Ren," jawab Nicha datar.
"Benarkah? Coba sini aku lihat..." Renata langsung meraih ponsel Nicha.
Agak lama Renata memerhatikan nomor yang sedang melakukan panggilan diponsel Nicha. Dan akhirnya, ia mengingat sesuatu.
"Sepertinya, aku mengenal nomor ini," ujar Renata.
"Benarkah?" tanya Nicha heran.
Lalu, Renata mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dan mencari nomor seseorang didalam kontaknya.
"Oh, itu nomor Kak Bella," ucap Renata.
"Apa!? Nona Bella? Apa kamu tidak salah lihat Ren?"
"Iya Nicha. Aku yakin itu nomor Kak Bella. Ini coba lihat..."
Nicha memerhatikan nomor yang terdapat dalam ponsel Renata dan mencocokkannya dengan nomor yang ada dilayar ponselnya.
Astaga! Renata benar, ini nomor Nona Bella. Tapi untuk apa dia meneleponku? Atau ada hubungannya dengan kejadian kemarin?
__ADS_1
Wajah Nicha tampak cemas. Hatinya berdegup tidak karuan. Ia benar-benar takut, Bella akan melakukan sesuatu terhadap dirinya.