
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Kak May?" tanya Nicha.
"Tentu saja boleh. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Mmm, sebenarnya... Apa hubungan Kak May dan Great?"
"Oh, itu... Aku adalah anak dari supir pribadi keluarga Warinton. Dan sekarang, Papaku sudah menjadi asisten pribadi keluarga Warinton. Beliau juga diberi kepercayaan untuk mengelola beberapa restoran milik keluarga Warinton."
"Hah!? Apa mungkin Kak May adalah anak dari tuan Jacob?"
"Yup. Kamu sungguh pintar," jawab Kak May seraya tersenyum kepada Nicha.
Tinggallah Nicha termenung bingung mencerna semua kejadian yang terjadi padanya."
...***...
Di kediaman keluarga Warinton.
Great memasuki rumahnya dengan ekspresi biasa. Dengan santai, Great menyapa kedua orang tuanya yang sedang duduk diruang tengah bersama Ranida.
"Kau dari mana saja, Great?" tanya Papa Thagoon.
"Apa Jac tidak mengatakannya kepada Papa?" Great berbalik bertanya pada Papanya.
"Papa ingin mendengar langsung dari mulutmu. Sebenarnya, rapat penting apa yang membuat kau tega meninggalkan istrimu dimalam pengantin kalian."
Great sedikit tersentak dengan ucapan Papanya. Ia melirik kearah Ranida yang sudah memasang wajah muram.
"Apa kau tidak kasihan dengan Ranida. Dia sangat sedih karena kau tega meninggalkannya," sahut Mama Chotika.
"Tapi, meeting semalam memang sangat penting, Ma, Pa. Jika aku tidak hadir, maka proyek pembangunan departemen store akan terkendala."
"Baiklah, kami mengerti Great. Tapi, kau harus meminta maaf kepada istrimu sekarang," perintah Mama Chotika seraya melirik kearah Ranida.
Mendengar perintah Mamanya, Great segera meraih tangan Ranida yang duduk disampingnya.
"Maafkan aku sayang. Aku mengerti kau pasti marah, tapi urusanku juga sangat penting."
Seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya masih merajuk, Ranida tidak menghiraukan ucapan suaminya.
"Aku akan melakukan apapun, agar kamu mau menerima permintaan maafku, sayang."
Great terpaksa sedikit merayu Ranida, karena ia ingin kedua orangtuanya mengira bahwa ia sangat mencintai Ranida.
"Baiklah, aku akan menerima permintaan maafmu. Tapi, dengan 1 syarat..." ucap Ranida seraya melempar senyuman nakal kearah Great.
"Apa itu?" tanya Great bingung.
Melihat suaminya masih belum mengerti keinginannya. Akhirnya, Ranida mendekatkan bibirnya ke telinga Great.
"Aku ingin bercinta denganmu," bisik Ranida.
DEG!
Lagi-lagi Great tersentak. Ia sadar, cepat atau lambat, ia dan Ranida akan melakukan hubungan tersebut, layaknya suami istri yang tengah menikmati malam-malam bersama. Tapi, ia tidak menyangka akan secepat ini. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan istrinya. Great langsung memutar otak, untuk menyusun rencana agar ia bisa terbebas dari ular betina yang siap memangsanya.
"Sayang, kenapa kamu melamun?" tanya Ranida membuyarkan pikiran Great.
"Oh... Ti-tidak, tidak apa-apa," jawab Great sambil tersenyum kuda.
"Jadi apa kita langsung kekamar?" seloroh Ranida tanpa malu.
"Apa!? Mmm, bagaimana jika nanti malam saja, sayang. Karena saat ini aku masih agak letih," sangkal Great dengan memasang wajah lelah.
"Ehem, ehem. Sepertinya kalian sudah tidak sabar untuk pergi ke kamar?" sindir Papa Thagoon.
"Iya, Pa," balas Ranida.
__ADS_1
"Tidak juga, Pa," sahut Great.
"Hahaha... Kenapa jawaban kalian berbeda?" seloroh Papa Thagoon.
"Sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu. Mungkin saja, Great sudah lapar setelah rapat tadi. Bukan begitu Great?" sahut Mama Chotika.
"Ah, iya, Ma. Aku memang sudah sangat lapar. Ayo Rani, kita makan siang terlebih dahulu," kata Great seraya menarik tangan Ranida.
Great begitu sumringah, karena Mamanya seakan mengetahui isi hatinya dan mengajak untuk makan siang bersama. Namun, berbeda dengan Ranida yang memasang wajah cemberut, karena lagi-lagi gagal untuk mendapatkan mangsa yang telah lama ia incar.
...***...
Great nampak sedang menatap layar ponselnya, dengan jari-jemarinya yang saling berloncatan menekan beberapa huruf.
[Kamu sedang apa, Nich?] tanya Great.
Tak butuh waktu lama. Dan pesan balasanpun masuk.
[Sedang memikirkanmu. ðŸ¤] balas Nicha.
Auwh... Wanita ini benar-benar. Awas saja, kalau aku sudah kembali ke Ratchaburi. Aku akan langsung melahapmu, Nich. Gumam Great seraya tersenyum simpul.
[Tentu saja. Kamu bahkan tidak akan pernah bisa melupakanku sedetikpun. Karena kamu begitu terpesona oleh ketampananku. Ya kan? 😎]
[Ya, kamu memang benar. Aku hampir tidak bisa melupakan pesona laki-laki yang kurang ajar sepertimu. Tidak tahu sopan santun. Seenaknya saja keluar masuk rumah orang lain tanpa izin. Dan sekarang, dengan teganya kamu menahanku disini. Huh!]
Setelah membaca pesan balasan dari Nicha, Great kembali teringat, kala pertemuan pertamanya dengan Nicha.
[Maafkan aku, Nich. Berapa kali, aku harus mengatakannya padamu. Ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu.]
[Baiklah. Lalu bagaimana dengan keadaan orang tuamu? Apa kamu sudah mengatakan tetntang hubungan kita kepada mereka?]
[Aku belum bisa mengatakannya, karena keadaannya belum kondusif. Tapi besok, aku pasti akan berbicara kepada orang tuaku tentang hubungan kita.]
[Great, apa kamu yakin?]
[Apa kamu yakin akan mengatakannya besok? Bahkan kamu baru saja menikahi Ranida kemarin?]
Great terdiam sejenak, membaca pesan balasan dari Nicha. Lalu dengan sigap, ia langsung menghubungi kontak Nicha. Dan terjadilah pembicaraan panjang antara Great dan Nicha. Dengan mimik wajah yang agak serius, Great berbicara panjang lebar ditelepon. Entah apa yang sedang Great rencanakan kali ini.
Setelah hampir 1 jam berbicara ditelepon. Tiba-tiba, hubungan telepon terputus.
Haish. Kenapa tiba-tiba terputus?
Great memeriksa layar ponselnya. Ternyata, baterai ponselnya telah habis. Seketika, Great hendak men -charge ponselnya. Lalu, ia sibuk mencari charger ponselnya dengan membuka semua laci nakas. Tapi tiba-tiba...
PRANG!
Lengan Great tidak sengaja menyenggol tas Ranida yang ada diatas nakas. Alhasil, seluruh isi tas tersebut berhamburan keluar. Jadilah, Great harus membereskan kekacauan karena ulahnya. Tapi, ketika Great sedang membereskan semua barang-barang Ranida yang tercecer, tiba-tiba ada satu benda yang menyita perhatian Great.
Botol apa ini? Gumam Great.
Karena penasaran dengan botol bening yang berisi bubuk berwarna coklat tersebut. Akhirnya, Great mencoba membuka botol tersebut dan membauinya.
Sepertinya aku mengenali aroma ini...
Sepintas Great tampak berpikir. Lalu ia segera men-charge ponselnya dan menyalakannya. Setelah ponselnya menyala, Great langsung memotret botol tersebut, lalu meng-upload di aplikasi pencarian.
Ternyata benar dugaanku...
Tanpa aba-aba, Great bergegas ke dapur untuk mengambil sesuatu. Sesampainya didapur, ia menukar botol tersebut dengan botol berisi bubuk kayu manis yang hampir sama seperti botol milik Ranida. Lalu, langsung ia masukkan kembali botol tersebut didalam tas Ranida.
...***...
Malam haripun tiba. Ranida telah bersiap dikamar. Sambil mengoles wajahnya dengan krim malam, Ranida membayangkan malam pertamnya bersama Great yang sebentar lagi akan terlaksana. Tak lupa ia memakai lingeri yang super seksi dibalik piyama tidurnya. Berharap Great akan langsung menegang, ketika melihat tubuhnya yang montok dan seksi.
Tak lama kemudian, orang yang ditunggu pun datang. Dengan memasang wajah letih, Great masuk kedalam kamar. Dan langsung disambut oleh Ranida.
__ADS_1
"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat lelah?" tanya Ranida seraya membelai wajah Great.
"Tidak tahu, Ran. Tiba-tiba saja, aku merasa sangat lelah."
"Ooh... Kasihan kamu. Pasti, meeting semalam membuatmu sampai kelelahan seperti ini. Sebaiknya kamu duduk dulu di sini, biar aku ambilkan segelas minuman untukmu."
Lalu Ranida mengambil sebuah gelas berisi minuman yang sudah ia siapkan diatas nakas.
"Nah, minumlah ini!" perintah Ranida seraya menyodorkan gelas tersebut kepada Great.
"Minuman apa ini?"
"Ini minuman herbal, untuk meningkatkan stamina tubuhmu, sayang. Karena aku lihat dari tadi siang, kamu sangat kelelahan karena urusan pekerjaan. Jadi aku memesan bubuk herbal kepada salah satu temanku. Katanya, obat ini sangat manjur untuk memulihkan tubuh yang kelelahan."
Great masih merasa ragu. Sambil mengamati gelas yang sudah digenggamnya. Lalu, kembali menatap Ranida.
"Kamu tidak perlu takut, sayang. Kata temanku, obat ini tidak pahit sama sekali dan tidak mempunyai efek samping. Jadi sangat aman. Ayo diminum!"
Karena terus didesak oleh Ranida. Akhirnya Great meminum minuman tersebut sampai habis. Ranida mengembangkan senyuman liciknya, sambil terus memperhatikan Great.
Akhirnya, malam ini aku akan mendapatkanmu Great. Batin Ranida.
Great telah selesai meminum minumannya. Lalu Ranida menaruh gelas tersebut diatas nakas. Tapi, seketika Great merasakan pusing dikepalanya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Ranida berpura-pura.
"Aku tidak tahu, Ran. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing," ucap Great sambil memegangi kepalanya.
Merasa bahwa obat yang ia berikan kepada Great sedang bereaksi, langsung saja, Ranida membuka piyama tidurnya.
"Kamu mau apa, sayang?" tanya Great yang kebingungan melihat Ranida yang telah memakai lingeri.
"Aku akan memuaskanmu malam ini, sayang. Kamu pasti sangat menginginkannya kan?"
Ranida perlahan merangsek mendekati Great seraya membuka kancing-kancing piyama Great.
"Aaargghh... Panas, panas!" teriak Great.
"Kamu kenapa, sayang?"
"Tubuhku seperti terbakar, Ran. Panas sekali. Tolong aku, Ran. Arrghh, panas!"
"Tenang, sayang. Aku akan segera menolongmu."
Dengan sigap, Ranida membuka kancing-kancing baju Great. Lalu hendak memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, Ran? Aku sedang kepanasan. Kenapa kamu memelukku?"
"Aku akan mendinginkan tubuhmu, sayang. Tenanglah. Kamu pasti akan menikmatinya."
"Tidak, Rani. Aku ingin segelas air putih dingin. Bisakah, kamu mengambilkannya untukku?" pinta Great.
Ranida tampak terkejut sekaligus bingung mendengar ucapan Great. Tapi, ia tidak mempunyai pilihan, kecuali menuruti permintaan Great. Langsung saja, ia memakai kembali piyamanya dan bergegas ke dapur.
Setelah mendapatkan air putih dingin. Ranida kembali ke kamar hendak memberikannya kepada Great. Tapi, betapa terkejutnya ia mendapati Great yang sudah tertidur pulas diatas kasur.
Hah! Kenapa dia bisa tertidur? Batin Ranida.
"Sayang, ini airnya. Kamu harus meminumnya, agar tubuhmu tidak kepanasan," ucap Ranida sambil mengangkat sedikit kepala Great.
"Huumm, aku sangat mengantuk, Ran. Kamu minum saja sendiri," ujar Great dengan mata terpejam.
Haish, kenapa jadi seperti ini? Batin Ranida lagi.
Tapi, Ranida tidak menyerah untuk membangunkan Great. Ia berusaha sekuat tenaga agar Great kembali terjaga. Namun, semua usaha Ranida sia-sia. Tubuh Great terlalu besar dan tidak sebanding dengan tenaga Ranida. Alhasil, Ranida menjadi kelelahan dan tertidur pulas disamping Great.
__ADS_1
Merasa kalau kondisi sudah kondusif. Perlahan, Great membuka matanya. Dan mendapati Ranida sudah tertidur disampingnya. Kemudian, Great beranjak dari kasur dan merapikan piyamanya yang sudah terkoyak tak berbentuk karena ulah Ranida. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan Ranida yang masih tergeletak diatas ranjang.