Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 30


__ADS_3

"Nicha! Apa kamu baik-baik saja? Tadi itu telepon dari siapa?" tanya Renata penasaran.


"Dari Nona Bella..." Nicha memandang Renata dengan mata berkaca-kaca.


Renata yang melihat temannya bersedih langsung meraih kepala Nicha untuk bersandar dibahunya.


"Apa yang terjadi Nich? Kenapa kamu menangis?" tanya Renata lembut sambil membelai rambut Nicha.


"Kenapa harus seperti ini Ren? Aku sama sekali tidak bersalah. Tapi, kenapa aku yang harus menjadi korbannya? Kenapa Tuhan sangat kejam kepadaku Ren? Hiks, hiks," ucap Nicha sambil tersedu.


"Tenanglah Nicha... Semua pasti ada jalan keluarnya. Kamu tenang dulu ya."


Renata kembali membelai rambut Nicha. Dengan sabar, ia menenangkan Nicha. Setelah beberapa menit, Nicha tak lagi menangis dan berusaha menegakkan kepalanya.


"Apa sekarang kamu sudah tenang?" tanya Renata.


Nicha mengangguk pelan sambil mengusap air matanya.


"Baiklah. Sekarang kamu ceritakan kepadaku pelan-pelan, apa yang sebenarnya terjadi..."


Lalu Nicha menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada Renata dengan perlahan.


"Ya ampun Nicha... Kenapa kamu tidak menceritakan kepadaku sejak awal?"


"Maafkan aku Ren. Aku pikir ini hanyalah masalah biasa. Dan tidak akan menjadi rumit seperti ini," ucap Nicha dengan wajah menyesal.


Sesaat kedua gadis itu termangu dengan tatapan kosong. Namun tiba-tiba Renata mendapatkan ide.


"Baiklah. Bagaimana kalau sekarang, kita menemui Kak Bella?"


"Apa!? Kamu serius Ren?"


Renata mengangguk yakin.


"Tapi aku pikir itu bukan ide yang tepat. Aku takut, Nona Bella akan mencaci makiku ketika dia melihat wajahku."


"Dengar Nicha. Semua ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Karena pada akhirnya, kamu akan sangat menderita. Mari kita bicarakan secara baik-baik dengan Kak Bella. Aku yakin, dia pasti akan mengerti. Dan seperti katamu tadi, ini hanya sebuah kesalah pahaman saja kan?" ucap Renata sambil menggenggam tangan Nicha.


Nicha masih ragu dengan keputusan Renata. Tapi disisi lain, ia juga tidak mau kesalah pahaman ini berlarut-larut.

__ADS_1


"Baiklah Ren. Aku akan ikut bersamamu untuk menemui Nona Bella."


"Nah gitu dong. Ini baru Nicha yang aku kenal. Yang selalu optimis dan pantang menyerah."


Seketika senyuman mengembang diwajah Nicha. Lalu Renata menelepon Bella dan mengajaknya bertemu disebuah kafe. Sejurus kemudian, Renata dan Nicha masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kampus..


Dalam beberapa menit, mobil Renata sudah tiba didepan sebuah kafe. Lalu, Nicha dan Renata keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam kafe. Terlihat, Bella sudah menunggu kedatangan mereka berdua sambil duduk dan memainkan ponselnya.


"Kak Bella..." sapa Renata.


"Oh! Hai Ren." Bella menyapa Renata dengan senyuman tapi ketika melihat kedatangan Nicha senyumannya langsung menghilang.


Lalu Renata dan Nicha segera duduk berhadapan dengan Bella.


"Well, apa yang ingin kamu bicarakan Ren? Kenapa kamu ingin bertemu disini?" tanya Bella.


"Mmm, aku ingin meminta bantuan Kak Bella..."


"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Bella berpura-pura.


"Aku ingin Kak Bella menolong Nicha untuk mendapatkan beasiswanya kembali."


"Apa? Heuh, Renata bagaimana mungkin aku bisa membantu temanmu ini. Memangnya aku ini siapa? Lagi pula, keputusan itu diambil dari seluruh anggota komite kampus. Aku tidak bisa mengubahnya semudah itu."


Seketika Bella tersenyum sinis kearah Nicha, setelah mendengar ucapan Renata.


"Apa benar dia tidak melakukan kesalahan? Coba saja kamu tanyakan padanya Ren. Apa kesalahan terbesar yang telah dia lakukan," ucap Bella sambil menatap tajam kearah Nicha.


Mendengar ucapan Bella, Nicha hanya bisa terdiam. Ia merasa bahwa tidak ada gunanya jika ia membela diri saat itu. Sedangkan Renata, seakan mengerti maksud dari perkataan Bella. Lalu ia, beralih memandang Nicha dengan sendu.


"Maaf Kak Bella. Aku harus mencampuri urusan kalian berdua... Aku rasa ada kesalah pahaman disini."


"Salah paham? Dengar Renata! Apa kamu berada disana kemarin? Sehingga kamu begitu yakin, kalau aku telah salah paham terhadap wanita ini."


"Aku memang tidak melihat kejadiannya Kak. Tapi aku yakin, Nicha tidak bersalah. Dia tidak pernah berniat sama sekali untuk menggoda Kak Rei. Mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa."


"Heuh... Baiklah kalau kamu berkata seperti itu. Jika memang wanita ini tidak berhubungan dengan Rei. Aku ingin meminta buktinya."


"Bukti? Maksud Kak Bella?" tanya Renata sambil terperanga.

__ADS_1


"Iya. Aku ingin kamu pergi sejauhnya dari kota ini. Dan jangan pernah datang kesini lagi atau berusaha menemui Rei. Bagaimana?"


"Hah! Apa tidak ada cara lain Kak?"


Bella menggeleng yakin. Sementara Nicha semakin bertambah kalut, Renatapun tidak jauh berbeda dengan Nicha. Ia terdiam sambil memikirkan sesuatu.


"Begini saja Kak. Aku mohon, biarkan Nicha tinggal di apartemenku. Dan aku pastikan Kak Rei tidak akan mengetahui tentang hal ini... Karena sangat tidak mungkin, Nicha harus meninggalkan kota ini. Lalu bagaimana dengan kuliahnya yang hanya tinggal sebentar lagi."


Sesaat Bella merasa iba juga kepada Nicha. Dan hampir saja, ia menyetujui ide Renata.


"Tapi, bagaimana kalau dia melanggarnya?" tanya Bella sambil melirik acuh kearah Nicha.


"Tidak akan! Aku berjanji tidak akan menemui Tuan Reinhard lagi, Nona. Tapi aku mohon, izinkan aku untuk mendapatkan beasiswaku kembali," ucap Nicha yakin.


"Hhh, baiklah. Aku akan memberikanmu 1 kesempatan. Tapi jika nanti aku mendapati kamu sedang bersama Rei, maka aku tidak akan segan-segan untuk mengirimmu keluar kota bahkan keluar angkasa sekalipun."


Renata dan Nicha tertegun mendengar ucapan Bella.


Apakah benar dia akan mengirimku keluar angkasa. Hih... Itu sangat mengerikan. Batin Nicha sambil bergidik ngeri.


Setelah mereka menyelesaikan pembicaraan. Renata dan Nicha segera bangkit dan berpamitan kepada Bella.


...***...


Di apartemen Renata.


Nicha tampak begitu lelah setelah membawa barang-barangnya. Begitupun dengan Renata. Lalu mereka berdua duduk disofa sambil bersandar.


"Terima kasih Ren, kamu sudah banyak membantuku. Kalau bukan karena bantuanmu, aku tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya."


"Hei. Kenapa kamu berkata seperti itu. Sudah menjadi kewajiban seorang teman menolong sahabatnya yang sedang kesusahan. Bahkan kamu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri Nich."


Nicha benar-benar terharu dengan ucapan Renata.


"Hemm... Dan sekarang, kita harus memikirkan cara, untuk menjaga rahasia ini dari Kak Rei."


"Tenang saja Ren. Aku akan menjaga rahasia ini dengan baik. Dan aku akan berusaha untuk menghindari Kak Rei. Sehingga Nona Bella tidak akan lagi salah paham terhadaku."


Lalu mereka berdua saling berpelukan.

__ADS_1


Terima kasih Ren. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan semua bantuanmu selama ini. Dan aku tidak akan mengecewakanmu, Ren. Sekali lagi terima kasih...


...***...


__ADS_2