Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 53


__ADS_3

"Saya, adik dari calon mempelai pria. Jadi, bisakah kita melanjutkan pernikahan ini?"


Sontak, semua wajah yang hadir ditempat itu, bernapas lega melihat kehadiran Preem. Begitupun dengan Nicha dan ibunya. Bahkan kaki Great terasa sedikit lemas karena saking senangnya melihat kedatangan adiknya.


Kemudian, acara pernikahan pun berlangsung dengan lancar. Semua bertepuk tangan, kala menyaksikan Great dan Nicha yang telah menyelesaikan sesi tukar cincin. Dengan tersenyum simpul, Nicha membungkukkan badannya kearah Great seraya mencium kaki Great sebagai penghormatan seorang istri kepada suami. Lalu, Great dengan lembut membelai kepala Nicha dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.



Setelah, semua selesai. Kemudian Roni, mengantarkan petugas Khet untuk meninggalkan acara. Lalu, satu persatu tamu undangan memberikan selamat kepada Nicha dan Great. Dan acara ditutup dengan makan bersama.


Tepat jam 12 siang. Acara pernikahan Nicha dan Great telah berakhir. Seluruh tamu undangan telah pulang kerumah mereka masing-masing. Tinggallah, Great, Nicha dan keluarganya serta Preem juga Roni yang masih tetap tinggal.


"Hhh... Akhirnya selesai juga," seloroh Great sambil menghela napas panjang.


Seketika, semua mata tertuju pada Great. Begitu pula dengan Preem.


"Dan semua ini berkat aku kan, Kak?" sahut Preem dengan tersenyum lebar.


Alih-alih, berterima kasih pada adiknya. Malah Great menjitak kepala Preem.


TUK!


"Aduh! Kenapa kakak memukul kepalaku?" pekik Preem sambil mengusap kepalanya.


"Kenapa kau sampai terlambat. Hah? Bagaimana kalau petugas tadi sudah terlanjur pergi, karena terlalu lama menunggu kedatanganmu."


"Ya, kakak harus bersabar untuk menikahi Kak Nicha dilain hari," ucap Preem dengan lugunya.


"Kau ini..." Great tampak geram dengan perkataan adiknya. Namun, Nicha dan Roni segera menahan Great yang hendak memukul Preem.


"Sudahlah Great. Kita memang harus berterima kasih pada Preem, karena dia sudah jauh-jauh datang kesini untuk menjadi saksi pernikahan kita. Kenapa kamu malah ingin memukulnya?" ucap Nicha.


"Iya, bro. Kita juga sudah usahakan untuk secepat mungkin kesini, tapi karena dijalan ada kemacetan yang agak panjang, jadi kita terlambat."


"Wah, beruntung sekali aku mempunyai kakak ipar seperti Kak Nicha. Tidak sia-sia aku kesini untuk menjadi saksi pernikahan kalian. Dan mendapatkan kakak ipar yang akan selalu membelaku."


Nicha tersenyum simpul mendengar ucapan Preem.


"Hei, aku juga membelamu, Preem," ujar Roni tak mau kalah.


"Oh ya, kamu juga, sayang. Terima kasih sudah membelaku. Hehe. Eh, kenapa tiba-tiba turun hujan," ucap Preem sambil mengusap titik air diwajahnya.


"Oh ya, benar. Ayo, kita segera masuk kedalam rumah, sebelum kalian kebasahan," tawar ibu Nat.

__ADS_1


Dan semua pun mengangguk setuju. Lalu, berlari kecil mengikuti ibu Nat masuk kedalam rumah. Setelah tiba diruang tengah, semua pun duduk berdampingan disofa.


"Kalau ibu boleh tahu, berapa umur nak Preem? Kelihatannya, nak Preem masih sangat muda," ucap ibu Nat.


"Umur saya 18 tahun, Bu. Dan sekarang sedang persiapan masuk universitas."


"Wah, ternyata benar dugaan ibu. Nak Preem masih ABG dan sangat cantik."


"Kalau saya, pacarnya Preem, Tante. Nama saya Roni," seloroh Roni.


"Oh, iya. Nak Roni ini, kekasih nak Preem? Tapi sepertinya, usia kalian jauh berbeda," cetus ibu Nat.


"Ibu..." Nicha sedikit menegur ibunya.


"Eh, maaf-maaf. Maksud ibu, nak Roni terlihat lebih dewasa, begitu," jelas ibu Nat malu.


"Ya tentu saja, Bu. Roni ini adalah temanku. Jadi, pantas saja kalau dia audah terlihat agak tua," celetuk Great.


"Hei. Sebaiknya, anda berpikir dulu sebelum bicara, Bung. Kalau saya sudah tua. Lalu, bagaimana dengan anda?" sindir Roni.


"Hahahaha. Kak Roni benar. Hahaha."


Tanpa sadar, Han tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Roni. Sontak, semua menatap kearah Han. Dan menyadarkannya bahwa yang dilakukannya itu tidak sopan.


"Eh, maaf-maaf. Saya, permisi ke kamar dulu."


"Hmm... Lalu, bagaimana kabar orang tua nak Preem? Kapan kembali dari luar negeri?"


Semua nampak tertegun, mendengar pertanyaan ibu Nat.


"Oh, ituuu..."


Preem merasa bingung untuk menjawab pertanyaan ibu Nat, dan malah menatap kearah Great. Lalu dengan sigap, Great menjawab pertanyaan ibu Nat.


"Mmm, semalam aku mendapat kabar. Kalau Papa dan Mama akan kembali ke Thailand sekitar 3 hari lagi, Bu."


"Oh, begitu rupanya."


"Mmm, Bu. Aku akan mengantar Preem untuk istirahat dikamar dulu. Roni dan Preem pasti sangat lelah, karena perjalanan jauh."


"Oh, baiklah kalau begitu."


Kemudian, Nicha mengajak Preem untuk kekamarnya. Namun, tak disangka Roni pun mengikuti langkah Preem. Melihat gelagat Roni, Great dengan sigap menghadangnya.

__ADS_1


"Lo mau kemana, bro?"


"Lah... Gue mau istirahat dikamar bareng sama Preem."


PLETAK!


Great menjitak kepala Roni.


"Auwh! Lo ini kenapa suka sekali menjitak kepala orang sih, Great!?"


"Dan kenapa juga, lo selalu suka berpikiran mesum terus. Hah!"


"What! Siapa yang mesum. Gue kan cuma mau, istirahat dikamar bareng sama Preem."


"Ya, nggak bisa lah. Lo sama Preem itu bukan suami istri. Jadi, mana bisa istirahat dalam 1 kamar. Nah, kalau gue sama Nicha baru bisa," seloroh Great seraya memeluk bahu Nicha.


Tapi, dengan sigap Nicha melepaskan tangan Great dari bahunya.


"Maaf, tuan muda Great. Sepertinya anda harus sedikit bersabar jika ingin istirahat bersama saya. Karena kamar saya sempit dan hanya ada 1 kasur. Jadi hari ini, anda masih harus beristirahat dikamar Han terlebih dahulu. Karena disana ada kasur lantai yang bisa kalian gunakan untuk beristirahat."


"What!" pekik Great tidak percaya.


"Hahaha. How pitty you are, man," celetuk Roni sambil menepuk bahu Great.


"Sudahlah, Kak Nicha. Ayo kita tinggalkan para pria bodoh ini. Aku sudah sangat mengantuk," seloroh Preem yang kemudian bergegas pergi meninggalkan Great dan Roni.


"Hei, Preem. Apa kau bilang!?" seru Great dan Roni serempak.


Didalam kamar Nicha.


"Maaf ya Preem, kalau kamarku agak sempit. Ya, beginilah kondisi rumah di desa. Tidak seperti di Bangkok yang mempunyai gedung-gedung megah."


"Tidak apa, Kak. Lagi pula, aku senang berada dirumah Kak Nicha. Suasana disini sangat asri dan nyaman. Ditambah lagi, kehangatan keluarga Kak Nicha. Membuat aku merasa betah tinggal disini," jelas Preem sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Benarkah?" tanya Nicha yang tengah duduk didepan meja riasnya seraya melepaskan anting-anting ditelinganya.


"Iya. Aku senang, akhirnya Kak Great bisa menikah dengan kakak," celetuk Preem sambil menatap ke langit-langit kamar.


"Kenapa kau bisa berkata seperti itu, Preem? Apakah sebelumnya, kau telah mengetahui tentang aku?" tanya Nicha heran seraya menghampiri Preem.


"Iya. Sejujurnya, aku telah mengetahui tentang Kak Nicha sejak lama," ucap Preem sambil bangkit dan duduk ditepi ranjang.


"Benarkah? Sejak kapan?" tanya Nicha antusias sambil duduk disebelah Preem.

__ADS_1


"Jadi, pada hari itu..."


Lalu, Preem mulai menceritakan awal mula ia mengetahui tentang hubungan Nicha dan kakaknya.


__ADS_2