Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 15


__ADS_3

"Tidak ku sangka, kita bertemu disini Tuan Great," ucap Rei.


"Ya. Ini takdir yang menyenangkan."


"Apakah kita bisa mengobrol sebentar sambil minum kopi?"


"Tentu saja. Aku sangat merasa terhormat, bisa minum kopi bersama pengusaha tambang terbesar di Thailand."


"Ah... Anda terlalu berlebihan. Mari..." Rei mempersilahkan Great berjalan lebih dulu.


Lalu mereka berjalan menuju sebuah kafe.


"Jadi, sedang apa anda disini?" tanya Great kepada Rei.


"Oh. Aku sedang menghadiri acara pembukaan toko buku milik temanku."


"Wah, sepertinya bukan teman biasa. Apa dia seorang wanita?"


"Hahaha. Anda bisa saja. Ya dia seorang wanita," ucap Rei sambil menyeruput kopinya.


"Hahaha. Baiklah. Sepertinya aku mengerti. Aku tidak akan bertanya lagi padamu." Lalu Great juga tampak meminum kopinya.


"Lalu bagaimana denganmu Great. Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku kesini bersama partner-ku."


"Jadi anda sedang mengadakan meeting direstoran ini?"


Great agak kaget mendengar pertanyaan Rei.


Mungkin dia berpikir partner yang aku maksud adalah partner bisnis. Ya sudahlah, aku ikuti saja prasangka dia. Batin Great.


"Ya. Tadi aku baru saja selesai meeting dengan partner bisnisku," ucap Great dengan senyum yang dipaksakan.


"Wah. Jarang sekali bos besar sepertimu mengadakan meeting ditempat umum seperti ini."


"Ya. Hanya meeting yang santai saja. Kebetulan, klienku menyukai masakan Jepang. Dan restoran Jepang yang terkenal, hanya ada di mall ini, bukan?"


"Ya. Anda benar. Akira Back, memang restoran Jepang yang sangat terkenal di Thailand. Oya, ngomong-ngomong bagaimana dengan proyek baru anda? Aku dengar, Warinton Grup akan membangun departemen store terbesar pertama di Asia Tenggara."


"Ya. Dan sekarang aku sedang menjalankan tahap awalnya."


"Atau jangan-jangan, meeting barusan adalah tentang proyek ini?"


"Insting-mu sangat tajam Rei."


"Wah, tebakanku benar ya."


Lalu mereka tertawa bersama.


"Dan bagaimana denganmu? Apakah area tambang baik-baik saja, akhir-akhir ini?"


"Ya. Sekarang sudah berjalan normal kembali. Sebelumnya terjadi banyak kendala. Karena banyaknya bencana alam yang terjadi akibat cuaca ekstrem. Tapi, semua masih dapat ditangani."


"Anda sangat handal Tuan Rei. Aku berpikir, usaha tambang itu sangat menjanjikan, tapi juga sangat beresiko."


"Ya. Aku menyukai tantangan Great. Dan sepertinya, aku menemukannya dalam dunia tambang ini."

__ADS_1


"Wow. You're so cool man," Great sangat terkagum dengan Rei.


"Anda sangat pandai memuji Tuan Great. Bisnis yang anda jalani pun tidak kalah menantang dengan bisnisku. Anda mempunyai intuisi dan permikiran yang hebat dan aku pikir, tidak ada orang yang mempunyai kemampuan berpikir seperti anda."


"Wah. Kata-kata anda bisa membahayakanku Rei."


"Benarkah?" ucap Rei dengan wajah bingung.


"Ya. Karena bisa saja, kepalaku menjadi besar dan meledak, akibat pujian yang anda berikan."


"Hahahaha."


Seketika mereka melepaskan tawa bersama.


Setelah selesai mengobrol. Mereka berjalan bersama keluar kafe dan saling berjabat tangan mengucapkan salam perpisahan.


Setibanya di Akira Back restoran. Great langsung menghampiri Ranida yang sudah memasang wajah masam.


"Hei. Kenapa kamu cemberut begitu Ran?"


"Kamu tidak perlu bertanya. Sudahlah, sekarang aku mau pulang!" Ranida hendak bangkit, tapi Great segera menahannya.


"Tunggu Ran. Kenapa terburu-buru. Bahkan, kamu belum memakan semua makanan ini?"


"Aku sudah tidak berselera makan."


"Hei. Ada apa ini? Oh, baiklah. Apakah, kamu marah karena aku agak lama?"


"Great! Ini bukan agak lama tapi sangat lama. Apa saja yang kamu lakukan ditoilet selama hampir 1 jam? Apa kamu tertidur disana? Atau kamu bertemu wanita cantik yang menggoda hatimu, sehingga kamu melupakan aku?"


"Lalu kenapa kamu tidak meneleponku?"


"Tadi aku lupa, karena terlalu asyik mengobrol. Karena kita sudah lama sekali tidak bertemu."


"Siapa temanmu itu!?"


"Dia pengusaha tambang terbesar di Thailand. Pasti kamu juga mengenalnya."


"Apakah dia... Reinhard Sangkapan?"


"Ya, benar."


"Kamu sedang tidak berbohong kepadaku kan?" ucap Ranida curiga.


"Untuk apa aku berbohong. Atau, harus aku menelepon Rei dan memberitahunya bahwa tunanganku sekarang sedang marah karena aku terlalu lama mengobrol dengannya?"


Kemudian Great meraih ponselnya, hendak menelepon Rei.


"Eh, jangan-jangan! Kenapa kamu harus melakukan itu, membuat aku malu saja," ucap Ranida dengan ekspresi malu.


"Haha. Jadi, apakah kamu memaafkanku?"


"Ya. Aku sudah memaafkanmu."


"Terima kasih sayang," ucap Great sambil mencubit pipi Ranida pelan.


"Baiklah. Apa sekarang kita sudah bisa makan? Aku sudah sangat lapar."

__ADS_1


"Hem." Ranida hanya berdehem tanda mengiyakan ucapan Great.


Lalu, mereka berdua tampak menikmati makanan mereka.


...***...


Dikediaman Great.


Great mengantar Ranida kerumahnya, untuk menepati janjinya sewaktu dibioskop. Sebenarnya, Great berharap Ranida telah melupakannya. Namun selama perjalanan pulang, ia terus saja membicarakan tentang janji yang Great ucapan dibioskop. Dan tentu saja, sebagai laki-laki jantan, Great harus menepati janjinya.


"Hai Tante!" sapa Ranida ketika memasuki rumah Great.


"Oh, hai Ran! Hari ini kamu terlihat senang sekali," ucap Mama Chotika sambil merapikan tatanan bunga di vas.


"Ya Tante. Hari ini, aku menonton film bersama Great. Lalu kita berjalan-jalan bersama."


"Wah. Itu terdengar menyenangkan Ran. Apa Great memperlakukanmu dengan baik?" tanya Mama Chotika sambil melirik Great.


"Tentu saja, Great memperlakukanku dengan sangat baik Tante," ucap Ranida sambil menatap sinis kearah Great.


Great hanya terdiam mendengar ucapan Ranida.


"Baguslah, kalau begitu."


"Oya Tante. Kita permisi kekamar dulu ya. Karena, aku dan Great sedikit kelelahan setelah berjalan-jalan tadi."


Kedua bola mata Mama Chotika, seketika membulat sempurna, mendengar ucapan Ranida. Dan akhirnya, Mama Chotika hanya bisa tersenyum dengan terpaksa kearah Ranida.


Berbeda dengan Great, keringat dingin sudah memenuhi punggung dan dahinya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Ranida terhadap dirinya ketika mereka hanya berdua didalam kamar. Namun tiba-tiba, ponsel Great bergetar. Langsung saja, ia mengangkat teleponnya.


("Halo. Ya Namfah. Oh, baiklah kalau begitu. Aku akan segera kekantor."


Mendengar Great mengucapkan kata-kata kantor. Seketika wajah Ranida berubah muram.


"Apa kamu akan pergi kekantor Great?"


"Ya Ran. Ada klien yang meminta meeting hari ini. Dia salah satu investor utama diperusahaan dari Singapura. Aku harus segera mengadakan meeting dengannya, karena klienku ini sangat penting."


Ranida hanya terdiam sambil memajukan bibirnya.


"Ya sudah Great. Segeralah berangkat kekantor. Jangan sampai klienmu itu kecewa karena kau terlambat menemuinya," ucap Mama Chotika, beliau seperti mengetahui bahwa anaknya merasa tidak nyaman dengan Ranida.


"Baiklah Ma. Aku berangkat dulu."


"Maaf ya Ran. Aku harus pergi. Nanti, kamu bisa meminta supirku untuk mengantarmu pulang. Oke."


Ranida hanya mengangguk pelan.


Merasa tunangannya sedikit kecewa. Akhirnya Great terpaksa mendaratkan ciuman dikening Ranida.


CUP!


Benar saja. Setelah mendapatkan ciuman dari Great. Wajah Ranida kembali mengembangkan senyuman.


Akhirnya, Great bisa pergi dengan tenang.


Terima kasih Namfah. Kau telah menyelamatkanku. Batin Great seraya berjalan keluar dari rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2