Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 19


__ADS_3

Nicha telah selesai bekerja. Ia sedang berjalan menuju rumahnya. Setelah beberapa menit, Nicha telah berada didepan pintu rumahnya.


KLIK!


Seketika pintu terbuka, setelah Nicha membuka kuncinya. Lalu, ia masuk kedalam rumahnya sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


Dia belum datang? Batin Nicha.


Kemudian, Nicha menaruh tasnya dan bergegas kedapur untuk memasak mie instan. Setelah beberapa menit, Nicha membawa hasil karyanya ke atas meja makan dan langsung menyantapnya.


Tak berapa lama, Nicha terlihat sudah menyelesaikan urusan perutnya. Lalu dia melirik jam dindingnya.


Sudah jam 11 malam. Kenapa dia belum datang juga? Apa aku harus meneleponnya? Gumam Nicha


Ah, tidak-tidak. Untuk apa aku meneleponnya. Lagi pula, bukannya bagus, kalau dia tidak kesini. Berarti malam ini aku terbebas dari pria gila itu. Batin Nicha sambil tersenyum penuh kemenangan.


Akhirnya, malam itu, Nicha dapat tidur dengan nyenyak tanpa gangguan dari Great.


...***...


Keesokan harinya, di Universitas Rangsit, Bangkok.


Tampak Renata dan Nicha sedang beristirahat dikantin.


"Astaga. Ujian hari ini, sangat sulit ya Nich," ucap Renata sambil meminum jusnya.


"Iya. Untung saja, semua soal yang terdapat dalam ujian, sudah aku pelajari sebelumnya," ucap Nicha bangga.


"Hei. Ucapanmu itu, sangat sombong sekali Nich," sindir Renata.


"Hahaha. Aku hanya mengatakan kebenaran, Renata. Memangnya kamu tidak bisa menjawab semua soal tadi?"


"Tentu saja, aku bisa menjawab semua soal ujian tadi. Dengan sangat mudah!" ucap Renata dengan mengangkat kedua alisnya.


"Hahahaha. Kenapa kamu terlihat kesal?"


"Huh! Siapa yang kesal. Aku biasa saja."


Nicha hanya tersenyum simpul melihat perilaku temannya.


"Mmm, Nich... Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu?"


"Hei. Kenapa sekarang kamu berubah serius begitu Ren. Seperti orang asing saja. Memangnya, kamu mau bertanya apa? Hum?"


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Apa!? Menyembunyikan apa? Aku tidak mengerti maksudmu."


"Nicha, aku ini sahabatmu dan kita sudah berteman sangat lama. Jadi, kita harus saling terbuka. Benarkan?"


"I-iya. Kamu benar. Tapi aku masih belum mengerti, terbuka dalam hal apa? Semua tentang kehidupanku, sudah aku ceritakan kepadamu. Dan kamu tahu itu kan?"

__ADS_1


"Ada 1 hal yang tidak kmu ceritakan kepadaku..."


"Hah! Apa itu?"


Renata menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


"Apa hubunganmu dengan Great Warinton?" tanya Renata dengan tatapan tajam.


"Apa!?" Nicha sangat terkejut. Wajahnya tampak gelisah mencari jawaban dari pertanyaan Renata.


"Ituu, itu hanya..." Nicha tergugup dihadapan Renata.


"Dengar Nicha! Jika kamu mempunyai hubungan dengan seorang pria, kamu tidak perlu menyembunyikan itu dariku. Aku akan sangat senang, jika kamu bisa membuka hatimu untuk melakukan hubungan dengan lawan jenis. Tapi tolong, jangan jadikan hubunganmu itu, menjadi hal yang bisa merenggangkan persahabatan kita. Hum?"


"Ahaha. Kamu sepertinya salah paham Ren. Kamu tahukan, aku tidak akan melakukan hal yang konyol seperti itu. Aku hanya ingin memikirkan cara untuk menjadi sukses, sehingga aku dapat membahagiakan ibu dan adikku. Dan aku juga, tidak menyukai keluarga Warinton. Menurutku, mereka adalah keluarga yang serakah dan sombong. Jadi, mana mungkin aku berpacaran dengan putra mahkota keluarga Warinton. Itu hal yang mustahil."


"Dan kamu juga harus berpikir rasional Ren. Bagaimana mungkin, Great Warinton menyukai gadis sepertiku? Sedangkan ia bisa saja, mendapatkan seluruh gadis tercantik dinegeri ini, jika dia mau. Ya kan?" lanjut Nicha.


"Benar juga," ucap Renata pelan.


Lalu Nicha mengangguk setuju.


"Tapi kenapa malam itu, kamu tidak menolak ketika Great mengatakan bahwa kamu adalah kekasihnya?"


"Mmm, itu..."


"Dan 1 lagi. Apa kamu tidak tahu, bahwa restoran tempatmu bekerja adalah milik keluarga Warinton?" lanjut Renata.


"Mmm, aku tahu itu. Makanya, pada malam itu aku diancam oleh Great. Jika aku mengatakan yang sebenarnya bahwa kami tidak ada hubungan apapun, maka dia akan memecatku."


"Kurang ajar Great! Bisa-bisanya dia berlaku semena-mena dengan karyawannya sendiri. Ya sudah. Nanti sepulang kuliah, kita pergi ke Sara restoran," ucap Renata dengan menggebu.


"Un-untuk apa?" Nicha panik.


"Aku mau berbicara dengan bosmu itu. Kalau dia tidak bisa seenaknya mengancam karyawannya sendiri demi kepentingan pribadinya. Dan untuk selanjutnya, kamu tidak usah bekerja lagi disana. Bawalah surat pengunduran dirimu. Aku akan meminta pada kakakku untuk menerimamu bekerja diperusahaannya. Bagaimana?"


"Eh, tidak perlu Ren. Aku baik-baik saja kok, bekerja di Sara restoran. Kamu tidak perlu khawatir. Semua masih bisa ditangani. Hehe."


"Hemm... Kamu yakin?"


Nicha mengangguk yakin.


"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung beritahu aku ya."


"Siap komandan!" ucap Nicha sambil memberi hormat kepada Renata.


Setelah puas mengobrol, Renata dan Nicha segera kembali ke kelas, untuk ujian berikutnya.


...***...


Hari sudah menjelang sore. Tampak Nicha yang sedang diantarkan pulang oleh Renata. Setibanya dirumah Nicha.

__ADS_1


"Terima kasih ya Ren. Kamu selalu mengantarkanku pulang."


"Sama-sama. Kenapa kamu berkata seperti itu. Gadis cantik," ucap Renata sambil memeluk Nicha.


"Baiklah, aku pulang ya. Ingat, kalau kamu punya masalah apapun. Kamu harus menceritakan semuanya kepadaku. Dan jangan pernah menyembunyikan apapun dariku. Karena cepat atau lambat, aku pasti akan mengetahuinya."


"Iya, iya. Kamu seperti polisi saja."


Lalu Renata melepas pelukannya dan berjalan masuk kedalam mobilnya. Sejurus kemudian, mobil Renata melaju pergi. Setelah mobil Renata pergi, Nicha segera masuk kedalam rumahnya. Dan betapa terkejutnya ia, ketika mendapati sosok pria yang sedang tertidur diatas sofanya.


Astaga! Mengagetkanku saja. Dasar laki-laki yang tidak memiliki sopan santun. Seenaknya saja dia tidur dirumahku sekarang. Bahkan dia tidak meminta maaf, karena tidak menepati janjinya semalam. Huh! Batin Nicha.


Dengan segera Nicha berjalan kearah sofa. Ia hendak membangunkan pria tersebut dengan paksa.


"Hei bangun! Dasar orang yang tidak mempunyai sopan santun. Seenaknya saja keluar masuk rumah orang tanpa izin. Hei! Aku bilang bangun!"


Nicha sangat kesal, mendapati Great yang tak kunjung bangun. Akhirnya, ia menarik paksa tangan Great untuk membangunkannya. Namun ia kembali terkejut, ketika memegang tangan Great yang terasa panas.


Ya ampun! Kenapa tangannya terasa panas! Batin Nicha.


Lalu Nicha meraba kening Great dan benar saja, keningnya pun terasa panas.


Apa dia sedang sakit? Batin Nicha lagi.


Nicha merasa terenyuh melihat kondisi Great. Dan, ketika Nicha hendak mengambil air ke dapur untuk mengompres kepala Great. Tiba-tiba, ada suara pintu diketuk.


TOK! TOK! TOK!


Segera Nicha melihat ke jendela. Seketika mata Nicha terbelalak, melihat wanita yang sedang berdiri didepan pintu rumahnya.


Kenapa Renata kesini lagi? Gumam Nicha.


Nicha menjadi panik. Langsung saja dia menarik tangan Great untuk membangunkannya.


"Great bangun! Ayo bangun!" ucap Nicha sambil terus menarik tangan Great.


Namun, alih-alih Great terbangun. Nicha malah membuat tubuh Great terjatuh dari sofa.


"Aduh!" pekik Great pelan.


"Eh... Maaf-maaf Great." Nicha merasa bersalah dan bertambah panik.


"Kamu sedang apa sih? Kenapa menyiksaku seperti ini. Dasar gadis gila!"


"Maafkan aku. Tapi bisakah sekarang kamu pindah kekamarku?"


"Memangnya kenapa?" tanya Great sambil memegangi kepalanya.


"Sudahlah. Ikuti saja perintahku. Ayo cepat masuk kamar!" ucap Nicha sambil mendorong tubuh Great.


"Hei! Sebenarnya siapa bosnya disini?"

__ADS_1


"Sudahlah. Ayo cepat masuk!"


Setelah memastikan Great masuk kedalam kamarnya. Langsung saja, Nicha mengunci pintu kamarnya.


__ADS_2