Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 56


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Burung-burung saling bersiul. Hempasan angin sepoi bertiup membuat setiap helai daun ikut menari. Suasana pagi yang nyaman di Nakhon Sawan, tepatnya disebuah rumah ditepi sungai. Tampak, seorang gadis yang sedang menikmati pemandangan sungai yang tenang.


"Kau sedang apa, Preem?" tanya Nicha seraya menghampiri Preem.


"Eh, kakak. Aku hanya sedang menikmati pemandangan."


"Oh, begitu. Ngomong-ngomong, apa kau sudah bertemu dengan Roni?"


"Belum. Sedari tadi, aku belum melihat batang hidungnya."


"Oh. Mungkin dia masih tidur dikamar Han. Aku pun belum melihat Great sejak tadi."


"Hmmh... Udara pagi disini, sangat segar. Rasanya, aku masih ingin berlama-lama disini."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menginap lagi disini?" tawar Nicha.


"Tidak bisa, Kak. Ibuku pasti akan cemas dan curiga nanti. Mmm... Kak, boleh aku mengatakan sesuatu padamu."


"Tentu saja boleh. Memangnya, apa yang ingin kau katakan?'


"Jika nanti, Kak Great akan mengajak kakak untuk bertemu dengan orang tua kami. Apa kakak akan menyetujuinya?" tanya Preem ragu.


"Hhhmmh... Ya. Tentu saja aku akan ikut bersamanya untuk menemui orang tua kalian," ujar Nicha dengan penuh keyakinan seraya menarik napas panjang.


"Hmm... Kakak tenang saja. Ketika nanti, Kak Nicha sudah tiba dirumah kami. Aku pasti akan membela Kak Nicha dihadapan Papa dan Mama. Dan 1 hal yang ingin aku minta dari kakak."


"Apa itu?"


"Apapun yang terjadi nanti, kakak harus tetap kuat dan yakin bahwa keputusan kakak menikah dengan Kak Great adalah benar. Tidak ada kesalahan pada pernikahan kalian. Hanya saja, jalan yang harus kalian lewati memang penuh dengan rintangan. Maka dari itu, kakak harus kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan selanjutnya. 1 hal yang harus selalu kakak ingat, bahwa Kak Great akan selalu menjaga dan melindungi kakak dari siapapun yang akan menganggu pernikahan kalian nanti. Dan seperti Kak Nicha tahu, bahwa Kak Great sangat mencintai kakak," jelas Preem dengan tatapan dalam kearah Nicha.


"Ya, Preem. Aku akan mengingat semua pesanmu. Dan terima kasih, karena kau sudah sangat peduli kepada kami. Aku beruntung mempunyai adik ipar sepertimu."


Lalu, kedua wanita tersebut tersenyum dan saling berpelukan.


"Hei, kalian sedang apa?" tanya Great sambil melangkah menghampiri Preem dan Nicha.


"Kakak! Kau sudah bangun," sahut Preem.


"Tentu saja sudah. Memangnya, aku tipe laki-laki pemalas yang selalu bangun sampai siang," ucap Great dengan wajah sombong.


"Lalu dimana Roni?"


"Kau lihat saja kekamar Han. Sebaiknya kau ambil se-ember air untuk membangunkan pacarmu itu."


"Apa!? Dia masih tidur? Ish, awas saja. Aku akan segera membangunkannya."


Preem dengan cepat berjalan menuju kamar Han, ia sangat gemas dengan Roni yang mempermalukan dirinya. Sementara Great berpaling menatap Nicha dengan senyum mengembang dan penuh makna.


"Selamat pagi, sayangku."


Great mendekat hendak mencium bibir istrinya. Namun, dengan sigap Nicha mengelak.


"Great... Apa yang kamu lakukan?"


Tanpa aba-aba, Great meraih pinggang Nicha dan menariknya lebih dekat.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingin mendapatkan morning kiss dari istriku tersayang," ujar Great seraya memajukan bibirnya mendekati wajah Nicha.


Tapi, lagi-lagi Nicha menahan bibir suaminya dengan sebelah tangannya.


"Eeeh, kenapa kamu ingin memintanya ditempat terbuka seperti ini. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat kita?"


"Memangnya kenapa? Lagi pula, semua orang sudah tahu, bahwa kita sudah menjadi suami istri."


"Tetap saja, aku merasa malu, Great."


"Hmm... Baiklah. Jika kamu malu untuk melakukannya disini, bagaimana kalau kita kekamar sekarang. Hum?"


"Apa!? Kenapa harus sekarang?" tanya Nicha gugup.


"Ya karena aku ingin mendapatkan morning kiss darimu, sayang. Karena ini masih pagi, jadi ayo kita kekamar."


Great begitu bersemangat dan langsung menggendong Nicha.


"E-eh... Apa yang kamu lakukan? Aku bisa berjalan sendiri. Cepat turunkan aku!" seru Nicha sambil menggerak-gerakkan kakinya.


"Tidak akan. Aku akan tetap menggendongmu sampai kita tiba dikamar. Jika aku lepaskan, kamu pasti akan kabur. Ya, kan?"


"Hhh... Aku tidak akan kabur aku janji. Atau, aku akan memberikannya disini, tapi kamu harus turunkan aku. Bagaimana?"


Nicha mencoba bernegosiasi dengan suaminya.


"Aku tidak mau. Aku pikir, dikamar adalah tempat yang terbaik untuk kita melakukan morning kiss, karena setelah itu aku ingin melakukan beberapa ronde bersamamu," ucap Great dengan tatapan nakalnya.


"Ron-ronde? Apa maksudmu?"


"Ronde olahraga. Aku ingin olahraga pagi bersamamu. Masa' kamu tidak mengerti?"


"Maaf, Great. Tiba-tiba aku merasa lelah. Jadi, aku tidak bisa berolahraga bersamamu. Maaf ya," ucap Nicha dengan wajah memelas.


"Oh, kalau begitu. Aku akan mengantarkanmu kekamar ya. Agar kamu bisa beristirahat."


Haish... Sepertinya aku salah bicara lagi. Dia sangat pintar dalam membalas segala ucapanku. Kau sudah tidak bisa melakukan apapun, Nicha. Pasrah saja lah. Batin Nicha.


"Ehem, ehem..."


Terdengar suara wanita berdehem dari arah belakang. Sontak, Great dan Nicha menoleh kearah suara tersebut.


"Eh, ibu..." ujar Nicha dan Great serempak.


Great langsung menurunkan tubuh Nicha dari gendongannya. Wajah mereka berdua tampak memerah karena menahan malu kepada ibu Nat.


"Ibu... Ada apa ibu kemari?" tanya Nicha kikuk.


"Ah, tidak apa-apa. Ibu hanya sedang berjalan-jalan pagi. Lalu, melihat kalian sedang berdiri di dermaga. Makanya ibu kesini."


"Oh, begitu," sahut Nicha sambil menggaruk kepalanya.


"Kak Great! Kak Nicha!" seru Preem hendak menghampiri mereka.


"Eh... Selamat pagi Tante," sapa Preem dn Roni ketika melihat wajah ibu Nat.

__ADS_1


"Pagi, Preem. Apa kalian, juga sedang berjalan-jalan disekitar dermaga?" tanya ibu Nat.


"Tidak, Tante. Kami kesini ingin berpamitan."


"Loh, kenapa terburu-buru. Bahkan kita belum sarapan bersama."


"Tidak perlu, Tante. Kami akan makan dijalan saja nanti," sahut Roni.


"Eh, tidak boleh begitu. Tradisi kami disini, jika ada tamu datang, tidak boleh pergi sebelum perut terisi."


Mendengar ucapan ibu Nat, semua hanya tersenyum sambil menunduk.


"Baiklah, ayo kita kembali kedalam. Ibu sudah membuatkan sarapan yang enak untuk kalian."


Kemudian semua mengikuti langkah ibu Nat menuju kedalam rumah. Dan benar saja, diatas meja makan telah tersedia berbagai macam lauk pauk. Mulai dari ikan bakar, tumis bekicot, berbagai sayur dan juga sambal.


"Wah, semua ini terlihat sangat lezat, Tante. Sepertinya aku ingin makan semuanya," ujar Roni dengan mata yang berkeliaran menyapu seluruh sudut meja makan.


"Kak Ron..." bisik Preem menyenggol Roni.


Dan Roni hanya membalas tersenyum kuda. Kemudian mereka semua telah bersiap dikursi masing-masing untuk menyantap sajian yang terhidang diatas meja. Entah karena lapar atau memang masakan ibu Nat sangat enak, mereka tampak sangat lahap menyantap semua hidangan, sampai tak bersisa. Setelah semua menyelesaikan urusan perut masing-masing. Preem berinisiatif untuk membereskan semua piring dan gelas kotor. Namun, ibu Nat dengan sigap menahan tangan Preem.


"Eh, tidak usah nak Preem. Biar ibu saja yang membereskannya."


"Tidak, Tante. Biar aku saja."


"Eh, tidak perlu. Ayo biarkan saja tetap ditempatnya. Disini, tamu tidak boleh membereskan apapun. Tamu adalah Raja dan Raja harus diperlakukan dengan baik."


Preem merasa tidak enak karena terlalu banyak merepotkan, tapi ia juga tidak bisa membantah ucapan ibu Nat.


"Biar aku saja yang membereskannya, Bu," sahut Nicha.


"Eh, tidak usah. Kamu sebaiknya mengantarkan nak Preem saja. Biar ini semua ibu yang membereskan."


"Hemm, kalau begitu. Kami langsung pamit dulu, Tante. Terima kasih atas jamuannya. Dan maaf sudah banyak merepotkan," ucap Roni.


"Iya, sama-sama. Ibu senang kok, kalian datang kesini. Nanti sering-sering main kesini ya."


"Baik, Tante," ucap Roni dan Preem berbarengan.


Great dan Nicha bangkit dari duduknya hendak mengantarkan Preem dan Roni. Sesampainya didepan mobil Preem, Nicha dan Preem kembali berpelukan mengucapkan selamat tinggal.


"Awas ya, Preem. Kalau setelah ini, kau kembali lagi kesini. Aku akan membuatmu tidur di dermaga dan tidak akan aku buka pintu kamarku lagi," ancam Great.


"Hush! Kamu ini bicara apa, Great. Kenapa kamu sangat tega bicara seperti itu pada adikmu sendiri?" ucap Nicha.


Great hanya terdiam mendengar perkataan istrinya.


"Biarkan saja Kak Nicha. Kak Great telah lupa, siapa yang berjasa membuatnya menikah sekarang," sindir Preem.


"Hei, sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar terus. Ayo, Preem kita harus segera berangkat," ajak Roni.


"Ya, Kak Ron... Aku pamit ya Kak, Kak Nicha."


"Ya. Hati-hati ya," ucap Nicha dan Great.

__ADS_1


Tak berapa lama. Mobil Preem melaju meninggalkan Nicha dan Great.


__ADS_2