Perjuangan Cinta Tuan Muda

Perjuangan Cinta Tuan Muda
EP. 52


__ADS_3

Pagi hari pun tiba. Akhirnya, hari yang di nanti pun telah datang. Ya, hari pernikahan Nicha dan Great.


Nicha tengah bersiap didalam kamarnya. Dengan senyum yang terus mengembang, ia menatap kearah pantulan dirinya dicermin meja rias.


Babak baru dalam hidupmu, akan segera dimulai, Nicha. Kau harus mempersiapkan dirimu, untuk semua hal yang akan terjadi dimasa depan. Kamu pasti bisa, Nicha. Fighting! Gumam Nicha.



Berbeda dengan Great, yang seperti orang kebingungan didalam kamarnya. Dengan ponsel yang menempel ditelinganya, ia terus berjalan mondar-mandir tak tentu arah.


"Jadi, jam berapa lo bisa datang kesini?" tanya Great dengan raut wajah panik.


"Gue akan usahakan secepatnya, bro," jawab seseorang dari seberang telepon.


"Ya, secepatnya itu kapan? Gue butuh kepastian. Lo tahu nggak sekarang jam berapa? Pernikahan gue akan berlangsung jam 9. Dan sekarang sudah jam 8."


"Iya, man. Gue ngerti, perasaan lo pasti lagi panik. Tapi, gue juga nggak bisa apa-apa. Sekarang, Preem masih belum bisa keluar rumah, karena masih sarapan pagi bareng kedua orang tua kalian."


"Ck..." Great berdecak kesal.


"Udah, lo tenang aja. Gue janji, akan bawa Preem tepat waktu ke acara pernikahan lo. Sekarang lo nggak usah panik gitu. Ntar bisa luntur make up lo. Nggak seru kan, kalo calon mempelai pria mukanya kusut kayak jemuran yang belum disetrika. Apa kata dunia coba. Hehehe."


"Ah, bisa aja lo. Keadaan lagi genting begini, masih aja ngajak gue bercanda."


"Rileks, man. Semua akan berjalan sesuai yang lo inginkan, tuan muda."


"Ya, okelah. Gue pegang kata-kata lo."


Sejurus kemudian, Great langsung menutup sambungan teleponnya.


Didepan pintu kamar Nicha.


Tampak ibu Nat sedang berdiri menghadap ke pintu kamar Nicha.


TOK! TOK! TOK!


"Nicha, boleh ibu masuk?"


"Ya, Bu," sahut Nicha dari dalam kamar.


CEKLEK!


Setelah membuka pintu kamar anaknya, ibu Nat berjalan masuk dan menghampiri Nicha yang masih duduk dikursi meja riasnya.


"Kau sangat cantik, Nak," ucap ibu Nat seraya mengelus kepala Nicha.


Nicha hanya membalas tersenyum menatap pantulan wajah ibunya dicermin. Sesaat suasana menjadi hening, kala cairan bening menetes dari pelupuk mata ibu Nat. Nicha yang melihat ibunya menangis, langsung membalikkan badannya menghadap ibunya.


"Ibu... Kenapa ibu menangis?" ucap Nicha seraya mengusap wajah ibunya.


"Ini tangisan bahagia seorang ibu yang akan melepas putrinya untuk menjalani kehidupan baru dalam bahtera rumah tangga, sayang."

__ADS_1


Mendengar ucapan ibunya. Sontak, Nicha langsung memeluk ibunya, dengan deraian airmata yang juga mengalir.


"Ibu... Nicha minta maaf pada ibu. Selama ini Nicha belum bisa menjadi anak yang berbakti. Nicha belum bisa membahagiakan ibu dan Han. Tapi, ibu selalu mendukung Nicha atas semua keputusan yang Nicha pilih."


"Kau tidak perlu meminta maaf, Nich. Ibu sangat bangga terhadapmu. Kau adalah anak lerempuan ibu yang sangat kuat dan mandiri. Selama ini, kau sudah berjuang dengan susah payah untuk bertahan hidup sendiri di Bangkok. Dan sekarang saatnya, kau harus merasakan kebahagiaanmu, Nak."


Sepintas, ibu Nat melepaskan pelukannya.


"Dengar, Nicha. Ibu sudah cukup bahagia melihat kau menikah dengan seorang laki-laki baik seperti Great. Dan mulai saat ini, berbahagialah bersama calon suamimu. Jangan khawatirkan keadaan ibu. Ibu akan baik-baik saja. Selama ini, ibu terus saja merasa bersalah padamu, karena telah membiarkanmu bertahan hidup sendiri di Bangkik. Dan sekaranglah saatnya, kau harus memikirkan tentang kebahagiaanmu bersama Great. Hum."


Ibu Nat membelai kepala Nicha dengan lembut dan mengusap airmata di pipi Nicha.


"Terima kasih, Bu. Aku pasti akan bahagia, berkat doa ibu."


"Ibu pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, sayang."


Nicha menatap wajah ibunya dengan sendu dan airmata yang terus mengalir. Begitupun dengan ibu Nat. Lalu mereka kembali berpelukan dan saling menumpahkan kebahagiaan mereka dengan airmata.


Waktu menunjukkan tepat jam 9 pagi. Great telah bersiap dengan mengenakan jas berwarna abu-abu dan celana panjang dengan warna senada. ia berjalan keluar kamarnya, menuju ruang tengah. Tampak, satu persatu tamu undangan berdatangan. Namun, ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Nicha. Lalu, dilihatnya Han sedang merapikan kursi untuk para tamu.


"Han! Bisa kesini sebentar," panggil Great.


"Ada apa, Kak?" tanya Han seraya menghampiri Great.


"Dimana Nicha? Apa dia masih belum siap?"


"Sepertinya begitu. Mungkin, Kak Nicha masih berada dikamarnya... Eh, itu dia orangnya muncul," seru Han sambil menunjuk kearah belakang Great.



Setelah berdiri tepat dihadapan Great. Nicha berhenti dan menatap Great dengan ekspresi heran. Namun, seakan terhipnotis oleh penampilan Nicha, Great masih tetap terpaku dengan menatap Nicha tanpa berkedip.


TIK!


Nicha memetik jari tepat didepan wajah Great, berharap ia akan kembali tersadar.


"Hei! Kamu kenapa Great? Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Nicha menyadarkan Great.


"Hah! Oh... tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Great gugup.


Ibu Nat dan Han tersenyum simpul melihat tingkah Great.


"Oya, apa Preem sudah datang?" tanya Nicha.


"Belum. Mungkin sebentar lagi."


"Apa kamu sudah menghubunginya?" cecar Nicha.


"Ya. Tadi, aku sudah menelepon Roni. Sepertinya, mereka sedang dalam perjalanan."


"Oh, begitu."

__ADS_1


"Oh, itu petugas Khet sudah datang, Bu," seru Han.


"Oh iya, kau benar Han. Ayo Nicha, Great, kita temui petugas itu."


"Baik, Bu," jawab Nicha dan Great bersamaan.


"Sawadhi kha! (Halo!)," sapa ibu Nat pada petugas tersebut.


"Sawadhi kab (Halo juga)," balas petugas tersebut seraya menangkupkan kedua tangannya.


"Mari silahkan duduk!" ucap ibu Nat.


"Ya, terima kasih. Ngomong-ngomong, apa semua saksi sudah siap?"


"Hanya tinggal menunggu saksi dari mempelai pria, Pak. Mungkin sedang dalam perjalanan," sahut ibu Nat.


"Oh, begitu. Baiklah, akan saya beri waktu 30 menit lagi."


Waktu berjalan terasa sangat lambat. Menunggu memang suatu hal yang sangat menegangkan. Apalagi untuk kedua calon mempelai. Terlihat guratan kepanikan terpancar dari raut wajah Nicha dan ibunya. Sedangkan Great, kakinya sudah gemetar dengan wajah yang berembun, saking paniknya menunggu kedatangan Preem. Sesekali ia mengelap keringat diwajahnya, dengan tisu yang diberikan oleh Nicha.


"Tenang saja, Great. Tidak perlu panik begitu. Semua akan baik-baik saja. Hum," bisik Nicha.


"Ya, Nich. Tapi, ini sudah hampir 45 menit. Dan Preem belum juga muncul."


"Bagaimana, Bu. Apa kita harus menunggu lagi?" tanya petugas tersebut kepada ibu Nat.


"Hmm... Mungkin sebentar lagi, Pak."


"Baiklah. Akan saya tunggu sampai 15 menit lagi. Tapi, jika saksinya tidak kunjung datang. Maka dengan berat hati, pernikahan ini akan saya batalkan."


"I-iya, Pak. Terima kasih, karena audah bersedia menunggu."


"Nicha, bagaimana? Apa adik, nak Great sudah tiba?" bisik ibu Nat.


"Sebentar, Bu. Great sedang mencoba menghubunginya."


Kemudian Great beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh, seraya menempelkan ponsel ditelinganya.


Dan tak berapa lama, ia kembali duduk disamping Nicha.


"Bagaimana?" bisik Nicha.


"Tidak dijawab," ucap Great lemas.


"Bagaimana, Bu? Saya tidak bisa menunggu lagi, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Saya mohon maaf, Pak," ujar ibu Nat dengan wajah malu.


"Baiklah. Saya permisi dulu," kata petugas tersebut.


"Tunggu!" seru seseorang.

__ADS_1


Seketika, semua mata tertuju pada seorang gadis muda yang tengah berdiri, lalu berjalan menghampiri petugas Khet.


__ADS_2