
Seketika kedua mata Reinhard terbelalak mendengar ucapan Great.
"Jadi, kalian berdua telah...?" Reinhard tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Bu-bukan seperti itu Rei." Nicha hendak menyangkal tapi lagi-lagi Great mempererat pelukan tangannya dibahu Nicha.
"Ya, Tuan Reinhard. Nicha adalah kekasihku. Dan aku kesini untuk mengantarnya pulang," ucap Great dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
"Oh. Maaf Tuan Great. Maafkan kelancanganku. Karena aku tidak tahu bahwa Nicha adalah kekasihmu," ucap Reinhard dengan ekspresi malu.
"Tidak apa-apa Tuan Rei. Kami memang sengaja menyembunyikan hubungan kami. Agar tidak menjadi konsumsi publik."
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku akan segera pergi. Silahkan lanjutkan urusan kalian berdua," ucap Reinhard hendak pergi sambil senyum terpaksa kepada Great dan Nicha.
Lalu, Reinhard berjalan menuju mobilnya. Sejurus kemudian, mobil Rei telah meninggalkan Great dan Nicha. Sekarang, hanya tinggal Great dan Nicha yang masih berdiri terdiam.
"Jadi... Anda adalah Tuan muda dari keluarga Warinton. Hah!"
Great hanya terdiam menatap Nicha.
"Anda sangat pandai dalam bersandiwara Tuan Great. Pantas saja, wajahmu terlihat sangat familiar. Haha... Mungkin selama ini, anda menertawakan kebodohanku yang bahkan tidak mengenali wajah seorang pengusaha besar sepertimu."
"Aku mohon jangan berpikir seperti itu Nicha. Aku bisa menjelaskannya kepadamu."
"Bullshit! Kamu hanyalah seorang penipu! Semua kata-kata yang keluar dari mulutmu hanyalah kebohongan. Aku tidak akan mempercayaimu lagi!"
Nicha segera pergi meninggalkan Great. Tapi, Great langsung menyusul dan menggendong Nicha.
"Hei! Kau ini apa-apaan, hah! Kenapa kamu menggendongku. Turunkan aku!"
"Kalau kamu sudah tidak mau mendengarkan perkataanku, maka aku terpaksa berbuat kasar kepadamu."
"Apa!? Dasar laki-laki brengsek. Kau sungguh tidak sopan. Cepat turunkan aku!"
Sejurus kemudian, Nicha telah terduduk didalam mobil Great. Lagi-lagi, Great memborgol tangan Nicha agar dia tidak bisa kabur.
"Sialan! Kamu benar-benar laki-laki gila. Lepaskan borgol ini dari tanganku! Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!"
"Kamu menyebutku gila? Sebenarnya siapa yang seperti orang gila disini? Bukankah kamu mengatakan itu untuk dirimu sendiri?"
Nicha benar-benar kesal dengan ucapan Great. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap tajam kearah Great.
Tak berapa lama, mobil Great melaju meninggalkan restoran. Setelah beberapa menit, mobil Great berhenti didepan rumah Nicha. Lalu Great segera membuka borgol yang mengikat tangan Nicha. Kali ini Nicha hanya terdiam dan langsung membuka pintu mobil seraya keluar dari mobil.
Great yang melihat Nicha sudah sedikit lebih tenang, langsung mengikuti Nicha menuju rumahnya. Namun, ketika Great hendak mengikuti Nicha masuk kedalam rumah. Tiba-tiba, Nicha langsung menutup pintu rumahnya dan menguncinya.
__ADS_1
"Aduh!" Great mengaduh, kala hidung dan dahinya menabrak pintu rumah Nicha.
"Hei! Kenapa kamu mengunci pintunya? Apa kamu lupa, aku juga mempunyai kunci rumahmu?"
Great segera mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya.
KLIK!
Seketika pintu terbuka. Dan Great langsung masuk kedalam rumah Nicha. Lalu kembali menguncinya lagi. Dan tanpa disangka, ketika Great telah berada didalam rumah, ia tidak mendapati keberadaan Nicha. Great langsung menuju kamar Nicha. Benar saja, pintunya terkunci. Dengan kencang Great mengetuk pintu kamar Nicha.
"Nicha! Aku tahu kamu didalam. Tolong keluarlah Nich. Dengarkan dulu penjelasanku."
"Aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu. Sebaiknya kau segera pergi dari rumahku. Cepat pergi!" Nicha berteriak sambil melempar jam wekernya kearah pintu.
"Aku tidak akan pergi. Sebelum kamu keluar dan kita bicara secara baik-baik!"
"Terserah kau saja! Aku mau tidur!" ucap Nicha sambil menutup kepalanya dengan selimut.
Waktu telah menunjukkan jam 12 malam. Tiba-tiba Nicha merasa haus. Ia segera keluar dari kamarnya. Dan seketika ia terkejut, kala matanya menangkap Great yang sedang tertidur diatas sofa. Karena merasa kasihan, kemudian Nicha kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil selimut dilemarinya. Sejurus kemudian, Nicha telah menyelimuti tubuh Great dengan selimut yang ia bawa.
Dan ketika Nicha hendak pergi. Tiba-tiba, Great menarik tangannya sehingga membuat tubuhnya terjatuh diatas tubuh Great.
"Terima kasih untuk selimutnya," bisik Great ditelinga Nicha.
Nicha hendak pergi. Tapi lagi-lagi, Great menahannya dan menyuruh Nicha untuk duduk. Lalu Great berusaha bangkit dari tidurnya dan duduk disebelah Nicha.
"Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu Nich..."
Kali ini, Nicha hanya terdiam. Ia seperti sudah kehabisan tenaga untuk melawan Great.
Melihat Nicha sudah menjadi lebih tenang. Lalu Great memulai pembicaraannya.
"Sebelumnya, aku meminta maaf kepadamu, karena aku telah berbohong mengenai jati diriku kepadamu. Hal itu aku lakukan karena aku takut, kamu akan menghindariku jika kamu mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Aku ingin selalu bersamamu Nich. Berada didekatmu."
"Haha... Kenapa kamu selalu ingin bersama wanita miskin sepertiku? Bukankah, sangat mudah bagimu untuk mendapatkan wanita yang paling cantik sekalipun di negeri ini? Itu sangat konyol!"
"Karena aku merasa nyaman bersamamu," ucap Great sambil menatap dalam kearah Nicha.
Nicha hanya terdiam mendengar ucapan Great.
Flashback On.
Didalam kamar, terlihat Nicha sedang memandang sebuah bingkai dengan foto keluarga didalamnya.
Bu. Aku bertemu seseorang yang sangat baik disini. Dia sangat lembut dan baik sepertimu. Entah kenapa, aku merasa nyaman ketika berada didekatnya, Bu. Dan hari ini, dia menyuapiku makan. Sama seperti yang Ibu lakukan dulu. Bu, aku merindukanmu dan Han. Aku sangat kesepian disini Bu. Hiks, Hiks.
__ADS_1
Flashback Off.
Kenapa Great merasakan hal yang sama, seperti yang aku rasakan terhadap Rei. Batin Nicha.
"Jadi aku mohon, jangan menghindariku Nich. Aku tidak akan mampu jika harus menjauh darimu."
"Ini tidak masuk akal Great. Kenapa kamu selalu ingin bersama wanita sepertiku. Bahkan jika kamu mau, seluruh wanita tercantik di negeri ini pun dengan mudah kamu dapatkan?"
"Aku pun tidak mengerti Nicha. Tapi setelah kejadian malam itu. Aku selalu merasa ingin kembali kerumahmu dan melihat wajahmu. Hanya itu saja yang bisa membuat hatiku merasa nyaman."
Nicha hanya terdiam mendengar ucapan Great.
"Lalu, untuk apa kamu berbohong kepada Rei tentang hubungan kita?"
"Karena aku ingin melindungimu. Aku sangat khawatir kepadamu."
"Khawatir? Tentang apa?"
"Nicha. Apa kamu masih belum mengerti. Reinhard adalah tunangan dari Bella. Dan Bella bukan wanita sembarangan. Jika Bella mengetahui bahwa kamu selalu dijemput oleh Rei. Maka dia bisa melakukan apapun terhadapmu. Karena dia berpikir, kamu telah mengganggu tunangannya."
Nicha menunduk. Perasaan gelisah, bingung dan takut bercampur dalam hatinya. Ia merasa ucapan Great ada benarnya juga.
"Nicha. Aku akan berusaha melindungimu dari orang-orang yang akan menyakitimu. Karena aku..." Great berhenti sejenak.
"Mencintaimu..." Great menatap mata Nicha dalam. Sedangkan Nicha masih merasa bingung akan perasaan Great terhadap dirinya.
Seketika, Great berusaha mendekatkan wajahnya kearah wajah Nicha. Semakin dekat dan mengarah pada bibir Nicha. Dan Nicha seakan tahu maksud gerakan Great. Segera Nicha menahan bibir Great dengan jari telunjuknya.
"Apa kamu berusaha merayuku untuk mendapatkan ciuman dariku?"
Great terdiam menatap Nicha.
"Maaf Tuan Great, aku tidak akan terjebak lagi olehmu."
"Lagi? Apa maksudmu? Dan kapan aku pernah menjebakmu?"
"Mmm, itu..."
"Benarkah, aku telah mendapatkannya?" Great menggoda Nicha.
"A-apa maksudmu? Itu hanya kejadian yang tidak disengaja. Jadi tidak perlu aku memberitahukannya kepadamu. Sudahlah, lebih baik kamu lanjutkan tidurmu. Aku akan kembali kekamarku. Selamat malam!"
Nicha bergegas kembali kekamarnya. Sementara Great tersenyum geli melihat perilaku Nicha.
Kenapa dia terlihat gugup seperti itu? Apa benar, aku telah menciumnya sebelumnya. Tapi, kenapa aku tidak ingat? Ujar Great dengan wajah bingung.
__ADS_1