
Di pagi yang cerah sosok cantik dan menawan, tengah menikmati teh yang sangat ia sukai terlebih pemandangan di kediamannya begitu indah untuk di pandang..
Sedangkan sang suami Yuan, sedang mengadakan pertemuan dengan para wali kota untuk mengadakan perjamuan terbuka untuk rakyat..
Para dayang dan pelayan bukannya menikmati pemandangan, namun mereka malah menikmati permaisuri mereka yang sedang tersenyum.. wajah nya begitu cantik dengan pakaian yang ia pakai berwarna biru membuat kulit putihnya semakin berkilau..
Namun ketenangan yang Moza rasakan tak begitu lama, karma sang kasim memberi tahu jika Nyonya kediaman Lin dengan putrinya berkunjung..
Wajah Moza berubah menjadi datar dan dingin, pancaran mata yang penuh akan kekejaman itu terlihat. Namun hanya sekilas saja, karna wajah itu berubah dengan senyuman yang ramah dan penuh kelembutan..
Moza berdiri dan menoleh ke arah para dayang.. ''Antarkan aku menemui mereka..
''Baik yang Mulia.'' ucap mereka membungkuk..
.
.
Disisi lain Shuwan dan sang ibu Molian tengah duduk dengan nyaman menunggu permaisuri datang, Molian membayangkan jika sang anak tinggal dan menjadi penguasa di istana belakang. Hidup nya pasti terjamin dengan kekayaan yang berlimpah...
Sementara Shuwan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kaisar Yuan, rumor tersebar jika Kaisar mereka sangat tampan dan baikhati penuh dengan kasih.. Angan angan Shuwan sudah terlalu jauh membayangkan hal yang tak senonoh..
__ADS_1
Di saat mereka tengah berangan angan, kasim berteriak mengumumkan kedatangan permaisuri. Yang mana membuat anak dan ibu itu terbangun dari khayalannya dan langsung berdiri menunduk..
''Yang Mulia Permaisuri telah tibaaaaa..'' teriak kasim
Moza melangkah dan berdiri di hadapan mereka.. ''Salam Yang Mulia Permaisuri.'' ucap Shuwan dan sang ibu secara bersamaan..
Namun saat Shuwan membungkuk, ia seperti mengenali wanita yang berada di depannya ini.. Shuwan pun mendongkakkan kepalanya dan melihat Moza, Alangkah terkejutnya Shuwan saat mengingat wanita yang ada di hadapannya ini adalah wanita yang kemarin ia maki..
Shuwan menelan salivanya susah payah, sementara Moza tersenyum melihat reaksi Shuwan saat dirinya tau bahwa orang yang kemarin dia maki adalah seorang permaisuri..
''Duduklah Nyonya Lin, anda terlalu sungkan.'' ujar Moza dengan nada lemah lembut dan anggun, Moza langsung duduk di hadapan mereka..
Nyonya Lin tersenyum dan memandangi Moza, di dalam pikirannya Moza adalah wanita lemah lembut dan gampang untuk ditipu. Nyanya Lin tersenyum senang membayangkan sang anak memiliki saingan yang lemah..
''Nyonya Lin, ada apa gerangan berkunjung ke diamanku? adakah lah penting.? tanya Moza.
Nyonya Lin tersenyum kepura puraan. ''Yang Mulia hamba kemari hanya untuk memperkenalkan putri hamba, siapa tau putri hamba akan menjadi teman baik yang Mulia.'' ucapnya melirik Shuwan dengan bangga..
Sedangkan Shuwan sendiri menjadi salah tingkah, ia sudah tak tau harus bagaimana menghadapi Moza. Karna kemarin ia memaki dan mencela Moza...
''Tentu saja aku akan menerima siapapun yang akan menjadi temanku, namun hati ku sedang kacau sedari kemarin.'' ucap Moza berpura pura lemah di hadapan Nyonya Lin..
Nyonya Lin mengelus tangan Moza. ''Jika hamba boleh tau, mengapa hati yang Mulia kacau.? Maaf jika hamba lancang..''
__ADS_1
''Kemarin permaisuri ini di caci dan di maki oleh seorang wanita yang angkuh dan sombong, permaisuri ini belum bisa melupakan caciannnya..'' jawab Moza pura pura meneteskan airmatanya..
Nyonya Lin terkejut mendengarnya, namun dalam hati ia tersenyum dan berkata. ''Kau pantas di caci dan di maki, karna kau tidak pantas menjadi permaisuri negri Yin ini.'' gumamnya dalam hati..
''Lancang.!! siapa orang itu yang telah berani mencaci yang Mulia.? orang itu harus di hukum." Ucapnya
Sedangkan Shuwan menelan salivanya sudah payah, ia sangat takut untuk di hukum...
Moza menarik sudut bibirnya karna melihat Shuwan yang sudah tak berkutik..
''Hukuman apa yang pantas untuk seseorang yang telah menghina seorang permaisuri.? tanya Moza.
''Tentu saja hukuman cambuk atau potong lidahnya, kalau tidak hukum mati saja dia.'' ucap Nyonya Lin begitu gampangnya, tanpa mengetahui jika sang anak sudah berkeringat dingin dengan perkataan sang ibu..
Moza tersenyum.. ''Baiklah jika hukuman itu yang pantas untuk putrimu, maka akan aku kabulkan semua itu..'' ucap Moza dalam hati..
.
.
.
...SEE YOU IN THE NEXT CHAPTER ZIYENG LIKE.KOMEN.VOTE JANGAN LUPA YAA ...
__ADS_1