
...🫒🫒🫒...
Semua para bangsawan berbisik bisik, mereka tak menyangka jika Permaisuri yang sekarang membela seorang pelayan! Itu memang bukan sebuah aib, namun di kalangan bangsawan masih merasa tabu jika seorang berpangkat tinggi membela seorang pelayan rendahan, apa lagi ini seorang Permaisuri.
Sedangkan Moza tidak terlalu memusing'kan bisikan itu ... ia adalah Permaisuri nya di sini, dan Permaisuri selalu benar! Jika pun dirinya salah, maka harus kembali lagi ke kata awal, jika Permaisuri selalu benar dan tidak pernah salah.
Jika pun membuat kesalahan yang fatal, Permaisuri bisa mengkambing hitamkan seseorang bukan?
Ingin sekali Moza tertawa jahat, namun sayang nya Moza harus terlihat anggun dan lemah lembut. Moza hanya menyungging'kan bibirnya sedikit sembari menyeruput teh yang dia pegang.
Moza sangat puas menjadi penguasa di di Negri ini ... dan dia bisa menindas orang sombong seperti mereka yang terlihat seperti badut.
''Oh enaknya ... jadi Permaisuri.'' Gumam Moza dalam hati.
•
Setelah serangkayan perbincangan yang sangat membosankan, akhirnya Moza bisa bernafas lega setelah berada di dalam kereta menuju pulang ke Istana.
''Oh ya ampun ... bibir dan pipiku terasa kaku.'' Cicit Moza memijat kedua pipinya.
Sedangkan Jingmi, yang berada di luar kereta hanya tersenyum mendengar Jun-jungan nya menggerutu tak jelas.
''Jingmi, aku lapar.''
''Sebentar lagi kita sampai di Istana Yang Mulia.''
''Aah ... baiklah, aku akan menahan nya.''
Kereta itu pun berjalan menuju Istana.
•
Kerajaan Xin•
Sedangkan di kerajaan Xin, semua orang tengah berkabung dan bersedih karna kepergian Kaisar mereka untuk selamanya.
Ibu suri begitu terpukul melihat anaknya terbujur kaku, ia sangat menyesal membiarkan anaknya pergi, sementara para Selir sama terpukulnya atas kematian suami mereka.
Semua rakyat tengah bersedih dengan kabar duka yang terdebar di penjuru kerajaan, namun ada sebagian juga yang tersenyum bahagia ketika mendengar kabar Kaisar Xin meninggal.
•
•
•
•
•
__ADS_1
Tengah malam, Yuan dan Moza memacukan kuda mereka menuju kota Sun Ya. Namun di tengah perjalanan ada sekelompok orang bertopeng yang sedang bersembunyi di depan sana.
Mereka tengah bersiap menghadang Yuan dan Moza, jika waktunya sudah di tentukan.
Sreeengg ...
Orang orang bertopeng itu menarik pedangnya, dan bersiap ketika suara kuda terdengar semakin dekat dan dekat.
Sementara Moza dan Yuan yang peka terhadap sekitar, mereka menoleh satu sama lain dan mengangguk.
Orang orang bertopeng itu sudah siap meyerang, dan melangkah secara perlahan saat kuda mendekat ke arah mereka..
Di kegelapan malam dengan rintiknya hujan, kuda itu akhirnya datang di depan mereka. Namun orang orang bertopeng itu merasa heran karna melihat dua kuda tanpa ada yang menunggangi..
Syyuuutt ...
...Thak!!...
Jleb!!
Dua orang terkapar di tanah, dengan belati menancab di kening mereka. Orang orang bertopeng saling pandang dan berwaspada, saat tau jika orang yang mereka hadapi bukan orang biasa.
Orang orang bertopeng melihat kanan kiri dan ...
Sreeng!!
Yuan ingin melihat seberapa hebat istri bisa beladiri dan mengalahkan mereka.
Triinggg!!
...Bugh!!...
Dugh!!
...Braaakkk!!...
Meoongg ...
Pedang mereka saling menyerang dan bertahan, tinjauan demi tinjuan mereka keluarkan hanya untuk mengalahkan Moza. Lima lawan satu memang tidak'lah seimbang, namun bagi Moza ini tidak seberapa.
Moza memukul mundur orang orang bertopeng itu, namun bukan Moza namanya jika nyawa mereka berkeliaran dengan bebas.
Moza mengejar dan menebas kepala mereka satu persatu, bambu bambu terbelah bersamaan dengan matinya orang orang bertopeng..
Yuan bertepuk tangan, melihat Permaisuri nya bisa mengalahkan orang bertopeng. ''Kau begitu hebat Permaisuri ku..''
Moza tersenyum senang saat Yuan memujinya. ''Siapa mereka?''
Yuan tersenyum dan melihat tubuh yang tergeletak tanpa kepala di tanah.. ''Mereka sebagian para bandit yang khusus menjaga di perbatasan kota.'' tutur Yuan..
__ADS_1
''Ayo kita lanjutkan perjalanan.'' ucapnya lagi yang di angguki Moza..
Hap!!
Mereka pun menunggangi kuda dan memacunya dengan cepat menuju kota Sun Ya..
•
•
•
•
•
Pagi hari•
Matahari perlahan terbit dari timur, membangunkan dua orang yang sedang berpelukan dj dekat sungai. ''Mmmm ... badanku remuk karna tidur di tanah.'' ucap Moza
Kreek. Kreek.
''Aahh ... lega rasanya.''
Mereka semalam tidur dengan alas kain dan menyalakan api unggun, karna masih jauh ke kota Sun Ya dan tidak ada penginapan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Yuan bangun dan memeluk Moza dari belakang, menempelkan wajahnya di pundak sang istri. ''Aku lapar.'' ucap Yuan manja.
''Kau lapar?'' tanya Moza yang di angguki oleh Yuan.
''Baiklah tunggu di sini.'' Moza berdiri dan melihat sungai, apakah ada ikan untuk santapan mereka.
Yuan menghampiri Moza yang tengah memerhatikan sungai. ''Kau sedang apa?''
''Aku sedang melihat ikan! Namun kenapa tak ada satu pun ikan di sungai ini. ''tutur Moza dengan kesal.
''Sudah lah, kita lanjutkan perjalanan karna sebentar lagi kita akan sampai di kota Sun Ya.''
''Ahhh ... Baiklah.''
...•••••...
...JANGAN LUPA...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...
__ADS_1