Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 10 - Menelepon Rani


__ADS_3

Sepulang dari bengkel Alka pergi ke tempat penjual makanan yang bersebelahan dengan tempat laundry. Mama Lilis dan Varrel begitu menyukai masakannya.


Sesampainya di sana, Alka memarkirkan motornya lalu memesan menu makanan buat keluarganya.


Shireen yang sedang berada di warungnya tersenyum menyapa, "Selamat sore, mau pesan apa?"


Alka tampak terkejut jika wanita yang tak sengaja ia tabrak mobilnya bekerja di situ. Kemudian membalasnya dengan tersenyum juga. "Saya pesan kari telur bebek, capcay dan semur tempe untuk porsi tiga orang."


"Baiklah, saya akan buatkan," Shireen kembali melemparkan senyumnya.


Wanita itu menyiapkan pesanan yang diminta Alka.


"Berapa semuanya?"


"Empat puluh lima ribu, Mas."


Alka menyerahkan selembar uang berwarna biru kepada Shireen.


Wanita itu mengambilnya lalu mengembalikannya. "Terima kasih," ucapnya tersenyum.


"Sama-sama," Alka sedikit menggerakkan kepalanya.


"Bu, ada telepon dari Bu Ratih," ujar salah satu pegawai warung.


"Saya akan menghubunginya lagi," ucap Shireen.


Pegawai tersebut pun berlalu.


Alka juga bergegas pergi.


Shireen yang mengalihkan pandangannya pada Alka kembali untuk mengobrol namun pria itu telah berlalu.


-


Alka tiba di rumah pukul 5 sore, Sean tertawa riang bertemu dengan ayahnya.


Alka meletakkan makanan yang dibelinya di meja. "Kita makan bareng 'ya, Ma!" ajaknya.


"Ya."


"Nenek tidur di sini saja, ya?" mohon Raline.


"Nanti yang jaga rumah Nenek siapa?" tanya Lilis pada cucunya.

__ADS_1


"Biar Bibi Lisa saja yang jaga," jawab Raline.


"Mama tidur di sini saja," pinta Alka.


"Baiklah, Mama akan tidur di sini. Tapi, Mama mau ambil pakaian dahulu," ucapnya.


"Ya, Ma."


"Hore, Nenek tidur di sini!" Raline berteriak riang.


-


Makan malam pun tiba, keempatnya berkumpul di meja yang sama menikmati hidangan yang tersaji.


"Ma, ternyata pemilik warung ini. Wanita yang aku tabrak mobilnya," ujar Alka.


"Benarkah?"


"Ya, Ma. Aku tahu karena beli tadi dia yang melayaninya," jawab Alka.


"Tak menyangka, ya. Tapi masakan dia sungguh enak, sudah cantik lagi," puji Lilis.


Alka hanya tersenyum sekedarnya.


"Memangnya dia sudah menikah?" tanya Alka.


"Mama juga tak tahu, hanya menebak saja. Ya, walaupun dia menikah pasti beruntung suaminya," tutur Lilis.


"Oh."


"Rani kapan pulang?" tanya Lilis.


"Belum tahu, Ma."


"Kamu tidak meneleponnya?"


Alka menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus menelepon dia, Alka. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya? Kamu tak takut kalau istrimu itu mengkhianatimu."


"Jangan berkata seperti itu, Ma. Aku yakin dan percaya kalau Rani itu istri yang setia," ujar Alka.


"Semoga saja," ucap Lilis. "Mama tirimu juga dahulunya seorang istri namun mengkhianati suaminya dan merebut papa kamu dari kita," lanjutnya.

__ADS_1


"Jangan sampai terjadi, Mama doakan kebaikan untuk keluarga kami saja," ujar Alka.


Lilis mengangguk.


-


-


Menjelang tidur, Alka menghubungi istrinya karena sudah 2 hari mereka tak saling memberikan kabar.


Alka sampai 2 kali mencoba menelepon istrinya namun belum juga di jawab.


Akhirnya yang ketiga kalinya, Rani baru mengangkat telepon dari Alka.


"Halo, Mas!" sapa wanita dari kejauhan.


"Halo, Rani. Kamu apa kabar?"


"Baik, Mas."


"Kenapa tidak mengabari aku? Anak-anak rindu kamu," ujar Alka.


"Aku tadi lagi di pantai, Mas. Katakan pada mereka, ibunya pulang lima hari lagi," ucap Rani.


"Kenapa lama sekali, Rani? Itu lebih dari seminggu," ujar Alka.


"Mas, aku ingin keliling kota ini bersama dengan temanku mumpung berada di sini," ucap Rani.


"Ya, sudahlah. Terserah kamu saja!" Alka menutup teleponnya.


Sementara itu Rani tampak terkejut ketika suaminya menutup teleponnya.


"Suami kamu, ya?"


Rani menoleh ke arah suara. "Ya, dia menanyakan kapan aku pulang."


"Kamu jawab apa?"


"Aku bilang lima hari lagi."


"Bagus," pria itu menoel pipi Rani dengan jemarinya.


Rani pun tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2