
Di kediaman Andri.....
Laras berjalan dengan cepat ke kamarnya saat suaminya hendak pergi ke kantor. "Ada hubungan apa Mas Andri dengan Rani?" mencoba tetap tenang.
"Dia kekasihku," Andri memakai dasi terlihat santai menjawabnya.
Laras mendengarnya syok, "Mas, selingkuh dari aku!"
"Aku tidak selingkuh darimu, Laras. Aku mencintainya sejak sembilan tahun yang lalu!"
"Apa!"
"Kamu tidak perlu terkejut, aku takkan menceraikanmu," ujarnya.
"Tapi, Mas Andri sudah mengkhianati pernikahan kita!"
"Kamu pilih aku lepas atau bertahan?"
Pilihan yang sulit untuk Laras.
"Aku mau ke kantor, kemungkinan pulang malam. Aku ingin berduaan dengan Rani," berjalan keluar kamar.
"Mas, tunggu!" Laras menyusul suaminya. "Kita belum selesai bicara," ujarnya.
"Tak ada yang perlu dibicarakan!"
"Mas, apa salahku hingga berani menduakan aku?"
"Aku tidak mencintaimu!"
Seketika dunia Laras runtuh mendengar kata-kata suaminya.
Andri bergegas ke kantor tanpa sarapan.
Sejak 5 bulan terakhir, Andri terlihat berubah. Sering melewati sarapan dan makan malam bersama dengan keluarganya. Sikapnya selalu marah dan mudah tersinggung.
Laras terduduk di lantai, seluruh tubuhnya terasa lemas, air matanya mengalir. "Jika tidak mencintaiku, kenapa menikahiku?" lirihnya.
Cukup lama merenungi, Laras menghapus air matanya. Ia bangkit lalu berjalan ke kamarnya, mengganti pakaiannya menghubungi seseorang tak lama ia keluar.
Dengan cepat berjalan ke arah mobil, mengendarainya menuju sebuah kafe. Begitu sampai, Laras memilih duduk di pojok dan menunggu seseorang.
Tak lama seorang wanita sebaya dengan usianya duduk dihadapannya. "Ada apa mengajakku bertemu?"
"Mas Andri selingkuh dengan Rani!"
Wanita itu tersenyum smirk.
"Apa kau tidak bisa menasehatinya?"
"Aku malah senang adikku dengan suamimu!" tersenyum puas.
Laras mengerutkan keningnya.
"Mereka saling mencintai sejak lama, apa salahnya?"
"Rina, Andri sudah menikah denganku dan kami memiliki putri. Apa kau tidak punya rasa empati sesama wanita? Perbuatan yang dilakukan adikmu itu menghancurkan rumah tangga orang lain," ucap Laras mulai emosi.
"Laras, kau yang harusnya mengalah. Kau dulunya hanya gadis biasa yang kebetulan saja dinikahi Andri. Jadi sekarang, nikmati saja kehidupanmu yang bergelimang harta," ujarnya santai.
"Apa kau tidak takut jika hal ini terjadi padamu?"
"Aku percaya Mas Bimo bukan seperti itu."
"Semoga saja," Laras menarik ujung bibirnya.
-
Laras kembali pulang, berteriak sekencang-kencangnya menahan amarahnya. Ia terduduk di ujung ranjang dan menangis. "Aku tidak akan melepasmu Mas Andri!"
__ADS_1
Memandangi foto pernikahan mereka di dinding kamar. "Kau sudah merebutnya dariku, Rani!" mengepalkan tangannya.
Beberapa jam yang lalu....
Laras berniat hendak mencuci pakaian suaminya ke dalam mesin namun ditemukan sebuah kwitansi pembayaran buket bunga untuk nama Indah Maharani di saku celana.
Laras lantas menanyakan hal itu kepada suaminya, namun jawaban yang diterimanya sungguh menyakiti hatinya.
Suami yang selalu ia percaya setia dan sayang keluarga ternyata mengkhianati pernikahan yang berjalan lebih dari 5 tahun.
Ya, Laras menikah dengan Andri karena dijodohkan keluarga besarnya. Kebetulan suaminya itu bawahan adik ipar papanya Laras.
Andri menerima perjodohan ini dan tak menunggu lama ia melamar dan menikahi Laras.
...----------------...
Laras bersikap biasanya seperti tak terjadi apa-apa, dia tak peduli dengan suaminya yang selalu pulang malam.
Setiap pagi dia menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
"Mas, mau teh atau kopi?" tawarnya.
"Teh saja," jawab Andri.
"Baiklah, aku akan buatkan," Laras ke dapur.
"Papa, kapan kita liburan ke luar negeri lagi?" tanya putrinya.
"Papa sibuk, jika kamu mau pergi dengan Mama saja," jawab Andri.
"Aku ingin kita pergi sama-sama," ucapnya.
"Papa kamu sibuk mengurus orang lain, jika memang mau kita akan pergi besok pagi. Bagaimana?" tanya Laras pada putrinya.
"Mau, Ma!"
"Selesaikan sarapanmu, kita berangkat ke sekolah. Mama akan meminta izin pada gurumu," ujar Laras.
Laras kini menatap suaminya, "Kami mau ke Singapore, tempat dirimu dan Rani menghabiskan liburan. Jadi, kirimkan uangnya sekarang juga!" berbicara pelan.
Andri lantas meraih ponselnya lalu mengirimkan sejumlah uang kepada istrinya.
Laras tersenyum, ia menyebutkan nama negara itu karena mendapatkan informasi dari teman kerja suaminya jika Andri pergi ke sana bersama Rani dengan alasan pekerjaan.
Selepas Andri pergi, Laras ke kamarnya membuka lemari mengambil seluruh perhiasannya dan buku tabungan jika ditotalkan sebesar seratus juta. Ia melakukannya jika suatu waktu suaminya menyita harta miliknya ia tak sempat menyelamatkannya.
Selesai mengantarkan putrinya ke sekolah, ia pergi ke bank untuk menitipkan perhiasannya. Setelah itu ia ke rumah orang tuanya dan mengatakan yang sebenarnya.
Kedua orang tua Laras tampak syok.
"Apa kamu akan tetap bertahan dengannya, Laras?" tanya Ibu.
"Ya, Bu. Aku masih mencintai Mas Andri dan aku tidak mau hartanya habis untuk perempuan itu!"
"Kamu akan tersiksa jika bertahan, Laras!" ujar Ayah.
"Percaya padaku, Yah. Wanita itu hanya akan mendapatkan sisa dariku!"
"Jika kamu butuh bantuan, Ayah akan berbicara pada pamanmu untuk menurunkan jabatannya!"
"Tidak, Ayah. Aku bisa mengatasinya kalian jangan khawatir," Laras tersenyum.
-
Laras pergi ke bengkel mantan suaminya Rani. Ia turun dari mobil tanpa membuka kacamata hitamnya.
"Ada yang bisa kami bantu, Kak?" tanya Derry.
"Aku ingin bertemu dengan pemilik bengkel ini!"
__ADS_1
"Mas Alka?"
"Ya."
"Saya akan panggilkan," Derry pun berlalu.
Tak lama kemudian, Alka muncul menghampiri Laras yang tersenyum padanya.
Laras memperhatikan pakaian yang dikenakan mantan suami Rani.
"Maaf, anda siapa?" tanya Alka.
"Aku ingin kita berbicara berdua, bisakah aku meminta nomor ponselmu?"
"Tapi, anda siapa?"
Laras membuka kacamata hitamnya. "Aku istri Andri Wiguna!"
Alka baru ingat dengan wanita yang ada dihadapannya itu.
"Apa kamu sudah mengingatku?"
"Ya, kita bertemu saat liburan waktu itu."
"Apa aku bisa minta nomor ponselmu? Tidak mungkin kita mengobrol di tempat ini," ujar Laras.
"Baiklah," Alka memberikan kartu namanya.
Laras menerimanya. "Nanti sore kita bertemu, aku akan mengabarimu tempatnya. Terima kasih." Ia pun berlalu.
-
Sepulang dari bengkel, Alka menuju tempat yang dikatakan Laras via chat. Sesampainya di sana, Laras sudah menunggunya.
Wanita itu berdiri menyambut kehadiran Alka tersenyum tipis lalu kembali duduk.
Laras memanggil pelayan kafe untuk memesan minuman.
Selesai memesan menu dan pelayan berlalu Laras berbicara, "Aku tidak tahu kalau sebelumnya Mas Andri dan Rani memiliki sebuah hubungan."
"Sekarang anda sudah tahu, kan?"
"Ya, alasan cinta lama menjadi Mas Andri mengkhianati pernikahan kami."
"Lalu apa yang ingin anda lakukan?"
"Menjauhi wanita itu!"
Pesanan keduanya pun datang.
"Saya tidak bisa membantu anda."
"Kenapa?"
Alka bergeming.
"Apa kamu tidak mencintainya?"
"Saya sangat mencintai Rani tapi dia memilih pria lain. Apa yang harus saya lakukan?"
"Kamu harus mengejarnya dan merebut hatinya!"
"Itu hanya membuang waktu saja, masih banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang harus saya selesaikan bukan hanya sekedar mengejar wanita yang tak menghargai perjuangan prianya."
Laras terdiam.
"Saya memang berharap Rani kembali tapi tidak dengan cara saya, biarkan dia datang sendiri sebelum saya benar-benar menutup pintu hati." Alka pernah berteriak seperti orang aneh memanggil nama Rani agar mengingat anak-anaknya ternyata cara itu membuat dia semakin rendah. Akhirnya ia memilih membahagiakan buah hatinya tanpa mantan istrinya.
Laras meraih cangkir kopi dan menyesapnya. Niat dia ingin menghancurkan wanita perebut suaminya melalui Alka ternyata gagal.
__ADS_1
"Jika Andri memang mencintai anda, dia takkan mengkhianati pernikahan kalian meskipun banyak godaan di luar sana," ujar Alka.
Sementara di kafe yang sama, di ujung ruangan. Sebuah mata menatap ke arah Laras dan Alka. "Dengan siapa dia?"