
Hari yang ditunggu Varrel pun tiba, Alka bersama ketiga buah hatinya dan Mama Lilis berangkat ke sekolah.
Mereka sangat penasaran siapa yang akan menjadi juara pada lomba mewarnai. Perasaan Varrel terus berkecamuk dan deg-degan.
Para tamu undangan pun sudah memenuhi kursi-kursi yang disediakan panitia acara.
Alka, ibu dan ketiga anaknya duduk di barisan kedua dari panggung.
Pukul 9 pagi acara pun dimulai, pembaca acara membacakan tata tertib acara dan pembukaan di isi dengan tarian tradisional.
Tiba saatnya acara puncak pengumuman lomba juara mewarnai. Bu Siska membacakan nama-nama pemenang lomba berbagai kategori.
"Saya akan umumkan nama pemenang lomba mewarnai kategori kelas satu dan dua sekolah dasar," ucap Siska.
Lilis memeluk tubuh Varrel, "Semoga kamu menang!"
Bu Guru Siska sudah membacakan nama pemenang dari juara harapan ketiga hingga juara dua.
Alka, Lilis dan Varrel menunggu dengan harap-harap cemas.
"Dan untuk juara pertama jatuh kepada...." Siska menarik sudut bibirnya lalu menatap ke arah keluarga Alka.
"Varrel Alra Sudiro dari SD Insani."
Varrel berteriak riang lalu memeluk ayahnya, di sambut tepukan dari para tamu undangan.
Alka yang memangku Sean dan mendapatkan pelukan dari putra pertamanya membuat matanya berkaca-kaca penuh haru. "Selamat, Nak!"
Lilis dan Raline juga memeluk bocah laki-laki itu.
Varrel berjalan ke atas panggung untuk menerima piala beserta hadiah lainnya.
Siska mengacungkan dua jempol sembari tersenyum bangga.
-
Jam 12 siang, acara pun berakhir. Alka dan keluarganya pun pulang. Mereka singgah di sebuah restoran terdekat dari rumahnya.
Keempatnya menikmati makan bersama atas kemenangan yang di raih Varrel.
Sean belum bisa memakan menu masakan yang ada di restoran sehingga Lilis membawa makanan yang dibuat khusus untuk bayi laki-laki itu.
Varrel dan Raline menikmati ayam goreng begitu lahap. Sedangkan Alka menyuapkan Sean.
"Mama sudah selesai makannya, sini biar Mama yang gantian menyuapi Sean," ujar Lilis.
"Ini sedikit lagi, Ma." Ucap Alka karena memang hanya tinggal 2 suapan lagi.
Lilis pun akhirnya fokus memperhatikan 2 cucunya yang belum selesai makan.
Beberapa menit kemudian, Alka menyerahkan Sean di gendong Mama Lilis karena dirinya akan makan.
Alka berjalan ke arah wastafel mencuci tangannya, ketika wajahnya menatap cermin ia melihat istrinya baru saja keluar dari minimarket yang berada di seberang restoran dengan seorang pria.
Alka lantas membalikkan badannya lalu mengarahkan pandangannya ke arah anak-anak dan Mama Lilis. "Jangan sampai mereka melihatnya," batinnya.
Alka pun berjalan dengan cepat ke meja, sesekali ia memperhatikan mobil yang perlahan meninggalkan minimarket sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Tak ingin ibu dan anak-anaknya curiga, Alka bersikap biasa. Padahal ia ingin menghampiri istri dan teman prianya itu.
Setelah mengantar Mama Lilis ke rumahnya, Alka pun juga pulang.
Sesampainya di rumah, istrinya sudah berada di rumah. Varrel berlari kecil ke dalam sembari berteriak memanggil nama ibunya karena ia tahu jika pintu terbuka.
Rani pun menghampiri putranya. "Ada apa, Varrel?"
"Ibu, aku juara pertama!" jawabnya dengan kegirangan.
"Wah, selamat!" Rani memeluk putranya.
"Ayah juga mentraktir kami makan di restoran karena aku juara, coba Ibu tadi ikut pasti lebih seru," celotehnya.
__ADS_1
Rani terdiam mendengar ocehan putranya.
"Bu, aku mau ke kamar dan tidur!" ucap Varrel.
"Jangan lupa ganti pakaiannya!" ujar Rani.
"Iya, Bu!" Varrel berjalan ke kamarnya.
Alka mendekati istrinya lalu menyerahkan Sean padanya.
Rani menerima Sean dan menggendongnya, tampak wajah suaminya begitu dingin.
Alka memilih pergi ke kamar mengganti pakaiannya dan tak bertanya tentang pria yang bersama istrinya tadi.
Tak lama kemudian Alka keluar dari kamar lalu menghampiri istrinya. "Aku mau ke bengkel, mungkin pulang terlalu malam," pamitnya.
"Iya, Mas."
Alka pun berlalu.
-
-
Pukul 10 malam, Alka baru tiba di rumah. Karena masing-masing memiliki kunci sendiri, Alka membuka pintu dan ia tak ingin menganggu keluarganya beristirahat.
Rani yang sedang bertelepon di kamar tak menyadari jika suaminya sudah pulang.
Alka mendengar suara istrinya sesekali tertawa saat dirinya hendak membuka kenop pintu kamar. Ia pun mengurungkannya dan sejenak memilih duduk di kursi tamu.
Setelah ia rasa sudah tenang, Alka berdiri lalu menuju kamarnya. Ia membuka pintu dan membuat istrinya gelagapan.
"Mas, kamu sudah pulang?" Rani menyapa dengan ponsel masih menempel di telinga.
"Ya," jawabnya.
"Sudah lama?" tanya Rani gugup.
"Baru saja," jawabnya singkat dan ketus.
"Tidak usah, aku ingin tidur saja. Hari ini sangat lelah sekali," Alka pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian ia keluar mengacak rambutnya yang basah dengan handuk lalu menaiki ranjang dan berusaha memejamkan matanya.
Tampak istrinya juga sudah terlelap tidur.
...----------------...
Beberapa hari kemudian....
Rani berangkat kerja ke kantor menggunakan transportasi umum, Alka pernah menawarkan diri untuk mengantarnya namun istrinya itu menolak di antar karena jarak kantor dan sekolah Varrel cukup jauh dan jadwal keduanya juga saling berdekatan. Takutnya salah satu dari mereka akan terlambat.
Lilis hari ini juga mulai menjaga cucunya di rumah putranya karena tidak ingin Alka repot mengantar Raline dan Sean ke rumahnya.
Tiba di sekolah, Siska yang kebetulan juga berdiri bersama guru-guru lain berdiri di pagar melemparkan senyumnya pada Alka dan putranya.
Alka pun membalasnya dengan senyuman juga.
Setelah Varrel turun dari motor, ia pun bergegas ke bengkel.
"Ternyata, Pak Alka sangat tampan, ya!" bisik Ayu teman Siska yang berada di sebelahnya.
"Hush, suami orang tuh!" Siska menjawab bisikan temannya.
"Ya, ampun mulut ini tak bisa dijaga," Ayu tersenyum nyengir.
-
-
Karena bengkel ramai, Alka menghubungi Siska. "Halo, Bu!"
__ADS_1
"Iya, Pak."
"Saya belum bisa menjemput Varrel, bisakah saya menitipkannya kepada Ibu?"
"Oh, bisa," jawab Siska semangat.
"Satu jam lagi, saya akan datang menjemputnya."
"Baik, Pak."
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Pak."
Keduanya pun menutup teleponnya.
Sejam berlalu Alka belum juga datang menjemput Varrel. Siska pun kembali menghubungi ayah dari muridnya itu namun tak di jawab.
Akhirnya, Siska mengirimkan pesan kepada Alka bahwa Varrel akan diantar ke rumah oleh dirinya.
Sebelum sampai ke rumah, Siska mengajak Varrel makan bakso dan bocah laki-laki itu pun mengiyakan.
Keduanya menikmati makan bakso bersama, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.
Pesan dari Alka kepada Siska yang isinya mengatakan terima kasih karena telah mengantarkan putranya pulang.
Siska pun membalas pesan dari Alka.
Tepat pukul 1 siang, Varrel tiba di rumah. Lilis keluar karena melihat cucunya pulang di antar seseorang, ia pun menghampiri keduanya.
Lilis lalu mengucapkan terima kasih kepada Siska dan wanita itu menjawabnya, "Sama-sama, Bu!"
Siska pun pamit pulang.
"Kenapa bukan ayahmu yang menjemput?" tanya Lilis.
"Kata Bu Siska, ayah sedang di bengkel dan lagi ramai-ramainya pelanggan," jawab Varrel.
"Ayahmu juga tiga jam yang lalu mengatakan itu, Nenek pikir dia akan menjemputmu. Tapi, itu juga tak masalah bila kamu pulang bersama Bu Guru," ujar Lilis.
"Ya, Nek."
"Ganti pakaiannya, Nenek akan siapkan makanan untukmu," ucap Lilis.
"Aku masih kenyang, Nek."
"Memangnya kamu makan di mana?"
"Bu Siska tadi mengajakku makan bakso," jawabnya.
"Oh, ya sudah."
Varrel pun berjalan ke kamarnya.
-
Malam harinya, ketika kedua orang tuanya berada di rumah. Varrel bercerita tentang kegiatannya tadi pagi. Penuh semangat ia menceritakan kebaikan Bu Siska kepadanya.
"Bu Siska wali kelas kamu, kan?" tanya Rani.
"Iya, Bu. Dia kasih aku jajan dan traktir makan bakso," jawab Varrel.
Rani menatap suaminya.
"Aku tadi tak sempat menjemputnya, jadi ku titipkan bersama gurunya," jelas Alka.
"Bu Siska masih muda, kamu tidak tertarik padanya 'kan, Mas?" Rani menuduh.
"Memangnya kenapa dia kalau masih muda?" balik bertanya.
"Siapa tahu kalian semakin dekat setelah kamu membantunya waktu itu," Rani mengingatkan suaminya.
__ADS_1
"Sepertinya aku masih ingat dan sadar posisiku saat ini yaitu masih suami kamu!" ucap Alka menyindir.
Rani yang mendengarnya seketika terdiam.