
Alka mendapatkan kado pernikahan dengan menginap di hotel selama 2 malam. Bukan hanya dia saja, tapi keluarganya yang lainnya termasuk kedua mertuanya.
Sudiro dan Shila sudah menunggu di lobi hotel, Varrel dan Raline sempat berdecak kagum.
"Apa kabar cucu-cucu Kakek?" sapa Sudiro.
"Baik, Kek!" ucap keduanya.
"Silahkan memasuki kamar kalian, saya akan menunggu di restoran," ujar Sudiro.
Dibantu pelayan hotel, mereka memasuki kamar yang saling berdekatan.
Alka dan Shireen memasuki kamarnya yang menghadap pemandangan kota.
Setelah meletakkan barang-barang dan tahu kamar masing-masing mereka berkumpul di restoran yang tersedia di hotel tersebut.
Lilis memilih diam sementara Sudiro mencuri pandang mantan istrinya itu.
Mereka menikmati makan malam bersama sambil mengobrol.
Selesai mengisi perut mereka memasuki kamar hotel, Lilis akan tidur dengan ketiga anaknya Alka. Ada 4 kamar yang digunakan keluarga besarnya.
Shireen memandangi kota dengan lampu warna warni yang meneranginya.
Alka memeluk tubuh istrinya dari belakang membuat Shireen memutuskan menutup tirai jendela.
Shireen membalikkan tubuhnya, "Kenapa Mas Alka senang sekali memelukku dari belakang tanpa izin?"
"Karena aku suka," jawabnya manja.
"Mas..."
Alka membenamkan ciuman di bibir istrinya, Shireen juga menikmati sentuhan lembut dari suaminya.
Tanpa melepaskan pagutannya, Alka membawa istrinya ke ranjang dan melucuti pakaiannya satu persatu.
Shireen yang sudah paham permainan sang suami mengambil alih memimpin, ia kini berada di atas tubuh suaminya.
Suara deru nafas saling memburu yang keluar dari mulut keduanya menambah kenikmatan bercinta sepasang pengantin baru ini.
Sejam bergulat di ranjang, akhirnya permainan berakhir. Alka tertidur dengan memeluk istrinya yang memunggunginya.
__ADS_1
Shireen membalikkan tubuhnya hingga hidung keduanya saling menyentuh.
Hal itu membuat Alka terbangun, tanpa memberikan aba-aba ia membenamkan ciuman lama dibibir istrinya. Shireen yang mendapatkan serangan mendelikkan matanya.
Alka kembali melanjutkan permainan panasnya bersama Shireen hingga menjelang pagi. Bisa dikatakan mereka baru tertidur 2-3 jam lalu sebelum matahari terbit.
Shireen yang sangat kelelahan tak sanggup membuka matanya kala anak-anak sambungnya mengetuk pintu.
Alka juga masih tertidur pulas mendekap istrinya.
Raline yang mengetuk pintu memasang wajah cemberut kembali ke kamarnya.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Lisa yang juga lagi berada di kamar Lilis.
"Aku berkali-kali mengetuk kamar ayah tapi mereka tak keluar juga. Apa mereka meninggalkan kami di sini?" ocehnya.
Lisa dan Lilis saling pandang kemudian tertawa kecil.
"Mama juga lagi di mana? Ini sudah pagi biasanya mereka selalu membangunkan aku," omelnya lagi.
"Raline mungkin ayah dan mama masih tertidur dan sangat kelelahan. Sebentar lagi mereka juga akan bangun dan sarapan bersama kita," jelas Lisa.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?" ajak Lilis.
"Ayo, Nek!" Raline begitu semangat.
Keduanya keluar dari ruangan kamar sementara itu Lisa menghubungi nomor ponsel kakaknya.
Panggilan pertama tak dijawab kemudian yang kedua cukup lama baru ada sahutan.
"Halo, Lisa!" suara parau Alka terdengar di ujung.
"Kakak, ayo bangun! Raline dari tadi mengetuk kamar kalian," ucap Lisa.
"Hah!" Alka menutup teleponnya.
Lisa mengerutkan keningnya menatap ponselnya yang panggilannya ditutup secara kasar.
Lisa berdecak, "Dasar pengantin baru!"
Alka meletakkan ponselnya setelah mendapatkan telepon dari adiknya buru-buru membangunkan istrinya.
__ADS_1
"Shireen... Shireen...ayo bangun!" memanggil dengan suara pelan.
Shireen menggeliatkan tubuhnya, membuka matanya sebentar lalu ia pejamkan lagi.
Alka melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 7 pagi.
"Shireen, ini sudah jam tujuh!" ucapnya.
Shireen lantas terbangun, "Astaga, kita terlambat, Mas!" tampak kebingungan.
"Sayang, kita sedang liburan bukan di rumah!" Alka tergelak.
"Ih, Mas Alka. Aku pikir ...."
"Raline tadi mengetuk pintu cuma kita tak mendengarnya. Cepat sana pergi mandi," ujar Shireen.
"Mas Alka tidak mandi?"
"Memangnya kamu mau kita mandi bersama?"
"Kenapa tidak? Untuk menghemat waktu tetapi jangan menambah lagi, ya!"
"Baiklah, istriku!"
Keduanya mandi bersama selesai membersihkan tubuhnya, Shireen mengambil hairdryer dari koper yang sengaja ia bawa.
"Mas, tolong bantu keringkan rambutku!" pintanya.
Alka membantu istrinya mengeringkan rambutnya. "Memangnya kenapa kalau basah?"
"Mas, aku malu bertemu dengan mereka jika rambut basah. Mereka akan meledekku," jawab Shireen.
"Kita 'kan sudah suami istri," ujar Alka.
"Iya, Mas. Tapi, kita bukan di rumah. Jangan buat aku malu, dong!" mengerucutkan bibirnya.
Alka membalikkan tubuh istrinya dan mengecup bibirnya. "Baik, sayang!" sambil tersenyum.
"Mas Alka selalu saja mengambil kesempatan!" gerutunya.
Alka hanya tersenyum dan mematikan hairdryer . Shireen menyisir rambutnya lalu keduanya keluar kamar menuju restoran untuk sarapan pagi.
__ADS_1