Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 46 - Menerima Maaf Terpaksa


__ADS_3

Alka pulang dengan ujung bibir sedikit memerah. Hal itu membuat Lilis bertanya apa lagi putranya sudah berada di rumah jam 3 siang.


"Kenapa dengan kamu?" menyentuh bibir Alka.


"Andri memukulku, Ma."


"Kenapa dia sampai memukulmu?"


"Dia salah paham hanya karena Rani memelukku, Ma."


"Kamu memeluk Rani?"


"Dia yang memelukku, Ma. Bukan aku."


"Terus bedanya apa?"


"Ya, dia tiba-tiba menangis dan hampir jatuh lalu aku membantunya eh dia malah memelukku."


"Kenapa kamu bisa bertemu dengan Rani?"


"Aku mengantarkan sebuah amplop dari wanita yang mengaku temannya Rani. Begitu sampai di sana, Rani melihat isinya dan ternyata foto-foto suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain."


Lilis tampak terkejut.


"Beruntung Shireen berada di sana dan membelaku," ujarnya.


"Lalu Rani dan suaminya?"


"Aku dan Shireen meninggalkan mereka!"


"Rani pantas mendapatkannya!" ucap Lilis.


Alka menatap wajah ibunya seakan bertanya maksudnya.


"Rani sudah mengkhianati kamu, jadi dia mendapatkan balasannya," ujar Lilis.


"Ma, aku menganggap apa yang dilakukan Rani dahulu semua karena salahku," ucap Alka.


"Kamu sudah dikhianatinya tapi masih saja membelanya," protes Lilis.


"Ma, biarkan itu menjadi masa laluku dan masa depanku bersama Shireen."


Sementara itu, Shireen yang kini di dalam kamarnya memikirkan kejadian sejam lalu apalagi Mas Alka sempat mengkhawatirkan keadaan mantan istrinya.


"Apa Mas Alka masih mencintainya?" batinnya.


Shireen dengan cepat menghilangkan pikiran negatif


di kepalanya. "Aku percaya Mas Alka pria yang setia!" lirihnya.


...----------------...


Beberapa hari kemudian....


Persiapan pernikahan Alka dan Shireen sudah 70 persen. Perdebatan kecil sempat terjadi diantara keduanya. Namun, mereka berhasil menyelesaikannya secara baik.


Undangan pernikahan siap di sebarkan.


Sudiro juga sudah menyiapkan hadiah buat putranya, walaupun Alka tak pernah memintanya.


Meskipun hari pernikahan Alka akan dilaksanakan beberapa hari lagi, ia masih tetap bekerja di bengkelnya. Di tengah aktivitas pekerjaannya, Andri datang berkunjung.


"Ada perlu apa lagi?" tanya Alka berusaha tetap santai.


"Aku mau minta maaf."


"Kejadian itu sudah lewat beberapa hari, anda baru datang sekarang meminta maaf," Alka tersenyum sinis.

__ADS_1


"Aku juga terpaksa kalau bukan Rani yang memintanya," ucap Andri.


"Kalau begitu saya terima maaf dari anda juga terpaksa karena Rani juga," ujar Alka.


"Aku minta padamu jangan pernah dekati istriku apapun alasannya."


"Jangan khawatir, saya tidak akan menggangu rumah tangga kalian," Alka berkata dengan santai.


"Baiklah, aku pegang janjimu itu!"


"Ya."


-


-


Sepulang bekerja, Alka bergegas ke rumahnya. Begitu sampai ia kedatangan tamu mantan mertuanya, Papa Andi dan Kak Rian.


"Papa!" sapanya mencium tangan Andi.


"Apa kabar, Nak?"


"Baik, Pa. Sudah lama kalian menunggu?"


"Baru lima menit kami sampai, Papa rindu cucunya," jawab Rian.


Lilis muncul membawa 2 cangkir teh hangat, ia menyajikannya kepada tamunya. Ia lalu duduk bersama di samping putranya.


Varrel kini duduk di pangkuan Andi. Sementara Sean dan Raline bersama Alka dan Lilis.


"Apa benar kamu akan menikah?" tanya Andi.


"Iya, Pa. Empat hari lagi," jawabnya. "Raline, tolong ambilkan undangan yang ada di meja kamar Ayah," perintahnya pada putrinya.


"Baik, Yah." Gadis kecil itu melaksanakan perintahnya.


Raline datang membawa satu kantong plastik yang berisi beberapa undangan.


"Ini, Pa!" Alka menyodorkan sebuah undangan.


Andi menerimanya dan membacanya tertera tulisan, 'Keluarga Besar Papa Andi'.


"Selamat, ya!" ucap Rian.


"Terima kasih, Kak."


"Semoga pernikahan kamu ini yang terakhir, Papa selalu doakan dirimu bahagia," ujar Andi.


"Semoga, Pa. Terima kasih," ucap Alka tersenyum.


Andi menyesap tehnya begitu juga putranya.


"Opa, sering-sering main ke sini sekalian ajak oma," ujar Varrel.


"Nanti Opa akan ke sini bersamanya, tadi Oma Rita mau ikut tapi dia lagi kurang sehat," ungkap Andi.


"Tapi, nanti Opa datang 'ya, ke nikahan ayah," mohon Varrel.


"Iya, Opa janji akan datang," ucap Andi tersenyum. "Kalau begitu kami pamit, mau ke rumah Rani lagi," lanjutnya.


"Iya, Pa," ucap Alka. "Sampaikan juga undangan dariku untuk Rani, Pa," lanjutnya. Alka menyodorkan undangan yang tertulis nama mantan istrinya dan suaminya.


"Kami akan sampaikan," ucap Rian.


"Paman terima kasih sudah membelikan kami jajanan yang banyak," Varrel memeluk Rian.


"Sama-sama keponakan ku," pria itu mengecup pucuk kepala Varrel.

__ADS_1


"Sampai jumpa," ucap Raline melambaikan tangannya.


Andi dan Rian tersenyum, setelah saling berjabat tangan dengan penghuni rumah keduanya berlalu.


Raline, Varrel, Sean, membuka isi 2 kantong plastik berukuran besar pemberian dari Opa Andi dan Paman Rian. Mereka tampak antusias membongkarnya, begitu banyak aneka makanan dan minuman mulai dari susu kotak siap minum beraneka merek berbagai ukuran, coklat dan jajanan ringan lainnya.


"Varrel, bagi rata dengan yang adiknya!" Alka mengingatkan putranya.


"Iya, Yah!" ucapnya.


Sean bertepuk tangan dan tersenyum karena mendapatkan makanan begitu banyak. Ia lalu berdiri berjalan ke arah Alka meminta untuk dibukakan snack cemilannya.


Alka pun membukanya.


-


Andi dan Rian tiba di rumah putrinya namun mereka tak melihat Andri di sana karena menantunya itu harus mengantarkan putrinya berobat.


Rani mencium punggung tangan papa dan kakaknya.


"Kami tadi singgah ke rumah Alka," ucap Andi menjatuhkan tubuhnya ke kursi.


"Anak-anak sehat 'kan, Pa?" tanyanya.


"Ya, mereka sehat," jawab Andi.


"Kami juga membawa undangan dari Alka untukmu!" Rian menyodorkan kertas undangan.


Rani menerimanya dan membacanya, "Akhirnya Mas Alka jadi nikah juga!" tersenyum sinis.


"Ya, dia juga 'kan ingin bahagia," sahut Rian.


"Mas Alka selama ini selalu mempersulit aku bertemu dengan anak-anak," ujar Rani.


"Semua salah kamu di awal, coba tidak pergi meninggalkan mereka. Pasti dia takkan melakukannya," ucap Andi.


"Alka waktu itu berusaha menemui kamu agar menjenguk anak-anak, tapi dirimu malah asyik dengan kesibukanmu," sambung Rian.


"Aku sudah bersalah pada mereka, Andri juga melarangku bertemu dengan anak-anak. Ia takut kalau aku dan Mas Alka menjalin hubungan lagi," ucap Rani.


Rian tersenyum menyeringai, "Sudah dia yang menghancurkan rumah tangga kamu, dia juga yang sangat ketakutan. Kamu hanya dijadikan istri keduanya bukan satu-satunya."


"Aku menyesal, Kak."


"Semua sudah terlambat," ucap Rian.


"Pasti anak-anak tak mau jika ku ajak bertemu," tebaknya.


"Tentunya," sahut Rian. "Apa lagi aku dengar calon istri Alka sangat begitu perhatian kepada anak-anak."


"Ya, dia karena ingin merebut hati anak-anak," tudingnya.


"Semoga saja, calon ibu mereka memang benar tulus menyayangi mereka," ujar Alka.


"Semoga saja, Pa. Bukan seperti ibu kandungnya," Rian menyindir adiknya.


Rani hanya diam tak mau berdebat.


Di tengah obrolan, Andri tiba di rumah. Ia menyapa dan mencium punggung tangan mertua dan iparnya.


"Bagaimana kesehatan putrimu?" tanya Andi pada menantunya.


"Dia hanya flu dan batuk saja, Pa."


"Oh, begitu. Semoga lekas sehat," ucap Andi.


"Terima kasih, Pa."

__ADS_1


Mereka melanjutkan obrolan, 30 menit kemudian Andi dan Rian pamit pulang.


__ADS_2