Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 23 - Shireen vs Siska


__ADS_3

Malam sebelumnya, Siska mengirimkan pesan kepada Alka. Meminta izin membawa Varrel jalan-jalan ke Mall dan pria itu mengizinkan.


Jam 10 pagi, Siska sudah berada di rumah Alka. Lilis sibuk mendandani cucu pertamanya itu.


Sementara Siska mengajak Raline dan Sean mengobrol matanya tak sengaja memandang foto Varrel bersama orang tuanya dan adik-adiknya.


"Raline, Tante Shireen sering ke sini?"


"Tiap hari, Bu Guru," jawabnya.


"Tante Shireen memangnya siapanya kamu?"


"Tante Iren teman aku, dia selalu mengajak aku bermain dan dia sangat baik suka belikan aku jajan yang banyak," celotehnya.


"Begitu, ya."


"Dia suka bawa makanan untuk makan siang kami," lanjut Raline berceloteh.


"Oh."


"Biasanya Tante Shireen datang jam berapa?"


Raline menaikkan bahunya.


"Bu Siska, aku sudah siap. Ayo kita berangkat!" ajak Varrel semangat.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!" Siska berdiri dan berpamitan pada Lilis.


Tak lama Siska dan Varrel pergi, Shireen datang membawa pesanan Alka. Padahal ia bisa saja menyuruh karyawannya yang mengantar namun dirinya ingin sekali dekat dengan keluarga calon pujaan hatinya.


Shireen meletakkan lauk pauk dan sayur mayur di atas meja makan, Lilis yang akan menempatinya ke dalam mangkok atau piring.


Shireen mengajak Raline dan Sean bermain sejenak sebelum kembali ke tempat usahanya. Ia mengedarkan pandangannya mencari Varrel.


"Bukankah Varrel hari ini libur? Di mana dia?" tanya Shireen pada Raline.


"Kak Varrel pergi sama Bu Guru," jawabnya.


"Ke mana?"


"Mall."


"Baik sekali 'ya Bu Guru mengajak Varrel ke sekolah, apa ayah kamu tahu?"


Raline menaikkan bahunya.


"Apa Bu Siska memiliki rasa juga dengan Mas Alka?"


"Shireen!" Lilis memanggil dari arah dapur.


"Ya, Bi."


"Bisakah Bibi minta tolong antarkan bubur ayam ke bengkel? Tadi Alka menelepon kalau sedang sakit perut, makanya di minta masakan bubur."


"Baik, Bi. Nanti saya akan antarkan," ujar Shireen.


Lilis telah menyiapkan wadah berisi bubur ayam.


Shireen berpamitan dan pergi ke bengkel milik Alka.


-


Shireen bertanya pada Derry keberadaan Alka, pria itu menunjukkan ruangan istirahat bosnya.


Shireen mengetuk pintu yang tidak tertutup. "Mas Alka!"


Alka yang sedang memegang perut menoleh. "Maaf, membuatmu repot."


"Tidak apa, Mas." Shireen masuk ke dalam ruangan. Ia membuka wadah berisi bubur. "Mau makan, sekarang?" tanyanya.


Alka mengangguk.


Shireen menyodorkan wadah berisi bubur ayam.


"Terima kasih," Alka meraihnya.


"Apa obatnya sudah di beli?" tanya Shireen.


"Sudah."

__ADS_1


Shireen tersenyum.


Alka menikmati bubur ayam buatan Mama Lilis. "Kamu sudah makan?"


"Nanti di ruko saja," jawabnya.


Shireen menatap pria yang ada dihadapannya dengan senyuman.


Alka menghentikan suapannya karena melihat Shireen memperhatikannya. "Apa ada yang aneh?"


Shireen menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa melihat saya seperti itu?" tanyanya sambil melanjutkan makannya.


"Ternyata Mas Alka tampan juga, ya." Jawab Shireen tanpa sadar.


Alka tersedak mendengar pujian wanita yang ada dihadapannya.


Shireen bergegas mengambil gelas berisi air putih dan menyodorkannya kepada Alka.


Dengan cepat Alka meraihnya dan meminumnya.


"Apa ada kata-kata saya yang salah, Mas?"


"Ya," jawab Alka kembali melanjutkan makan.


"Maaf, kalau begitu."


"Seharusnya kamu tidak memuji saya selain kekasihmu," ujar Alka.


"Kekasih?" menatap bingung.


"Bukankah pria yang keluar dari mobil bersama denganmu waktu itu kekasihmu?"


Shireen masih bingung, "Mungkin Mas salah lihat."


"Bagaimana mungkin saya salah lihat kamu memarkirkan mobil di depan usaha milikmu!"


"Itu waktu kapan, Mas?"


"Dua bulan yang lalu."


Alka menatap heran.


"Mas Alka pikir Kak Radit kekasihku," ucap Shireen.


"Jadi, nama pria itu Radit?"


"Iya, Mas. Kak Radit itu kakak kandungku," jawabnya. "Kebetulan saja dia berada di kota ini untuk mengunjungiku," lanjutnya.


"Oh."


Shireen mengulum senyum.


Di tengah obrolan mereka terdengar suara Varrel berteriak memanggil.


Alka dan Shireen bergegas menghampirinya.


"Ayah!" Varrel tersenyum riang mendekati kedua orang dewasa itu.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Alka.


"Siang, Pak!" Siska tersenyum. "Motor saya mogok sekitar sini, jadi Varrel menyarankan agar di bawah kemari," lanjutnya menjelaskan seraya melirik Shireen.


"Oh, begitu."


Siska tersenyum.


"Silahkan tunggu di sini!" menunjuk ruangan istirahat miliknya.


Siska mengangguk.


"Tante kenapa di sini?" tanya Varrel pada Shireen.


"Nenek kamu menyuruh Tante untuk membawakan bubur buat ayahmu," jawab Shireen.


"Pak Alka, sakit?" sahut Siska menimpali.


Shireen menarik ujung bibirnya.

__ADS_1


"Hanya sakit perut, Bu."


"Sudah minum obat?" Siska menunjukkan perhatiannya.


"Baru saja, Bu," jawab Alka.


"Syukurlah, semoga cepat sehat, Pak." Siska menampilkan senyumnya.


Hal itu membuat Shireen semakin tak suka dengan gurunya Varrel.


"Ayah, tadi Bu Guru mengajak aku bermain di Mall. Kapan-kapan kita ke sana lagi, ya?" Varrel menatap wajah Alka.


"Iya, Nak." Mengelus rambut Varrel. "Ayah mau membantu mereka memperbaiki motor Bu Guru. Kamu di sini saja, ya!" pintanya pada Varrel.


"Iya, Yah."


Alka pun meninggalkan ketiganya di ruangannya.


Siska dan Shireen saling berpandangan namun tidak berbicara. Menghilangkan kecanggungan keduanya memilih memainkan ponsel.


Setengah jam kemudian, Alka kembali. Ia mengatakan kalau motor Siska selesai diperbaiki.


"Kamu mau pulang dengan siapa, Varrel?" tanya Alka pada putranya.


"Dengan saya saja!" jawab kedua wanita serentak.


Alka dan Varrel melihat kedua wanita itu.


"Tadi Varrel pergi bersama saya, jadi dia pulang dengan saya juga," tutur Siska. "Bagaimana, Varrel?" lanjut bertanya.


Bocah laki-laki itu mengangguk.


Siska tersenyum senang, akhirnya dia berhasil membuat Varrel pulang dengannya.


"Kalau begitu saya pamit, Mas." Ucap Shireen.


"Ya, terima kasih," ujar Alka.


"Jangan lupa minum obatnya, jika butuh sesuatu hubungi saya," ucap Shireen melirik Siska.


Alka membalas ucapan Shireen dengan menggerakkan perlahan dagunya.


Shireen tersenyum ia kemudian berlalu.


Disusul Siska dan Varrel yang juga ikutan pulang.


"Mas Alka, pilih yang mana?" celetuk Rino.


"Maksudnya?"


"Dua-duanya cantik dan memiliki wajah keibuan. Mas Alka, apa tidak tertarik dengan salah satunya?" tanya Rino.


Alka tertawa tipis.


"Dengan Mas Alka menikah, anak-anak tidak selalu menanyakan Kak Rani," sahut Derry.


"Aku belum siap menggantikan posisi Rani," ujar Alka.


"Mau sampai kapan, Mas?" tanya Derry.


"Belum tentu nanti anak-anakku cocok dengan ibu barunya yang ada akan menjadi masalah untukku," jelasnya.


"Kelihatannya Varrel sangat dekat dan akrab dengan keduanya," ujar Rino.


Alka hanya tersenyum tipis.


"Mas, jangan sampai kedua wanita itu memilih hati yang lain!" celetuk Derry.


"Kalau mereka memilih yang lain, itu tandanya tidak berjodoh," ujar Alka.


"Benar juga, sih." Derry mengangguk-angguk.


"Cepat selesaikan pekerjaan kalian, sebelum yang punya motor datang!" titah Alka.


"Iya, Mas. Ini kami mau lanjut lagi bekerja," ujar Rino.


Derry pun juga kembali melanjutkan pekerjaannya.


Alka kembali ke ruangannya, ia menyunggingkan senyumnya ketika mengingat obrolan dirinya dengan karyawannya. "Aku masih mengharapkan Rani!"

__ADS_1


__ADS_2