
Alka mengantarkan Varrel ke sekolah seperti biasanya dan membawa pakaian kotor ke laundry.
Siska yang sudah lama tak bertemu dengan Alka tersenyum senang, akhirnya ia bisa melihat wajah pria tampan itu.
Siska menyapa siswanya dengan begitu hangat. "Pagi, Varrel. Bagaimana kondisinya? Apa sudah sehat?"
"Sudah, Bu." Varrel menyalim lalu berjalan ke arah kelasnya.
"Bu, jika jam sepuluh nanti saya belum menjemput tolong titip sebentar dia, ya!" pinta Alka.
"Ya, Pak." Siska tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi," Alka pun berlalu.
Mengendarai motornya ke tempat laundry, selesai membayar tagihan ia bergegas memesan makanan untuk buat siang dan malam.
Shireen yang kebetulan melayani pemesanan Alka. Wanita itu tersenyum walau hanya dibalas dengan senyum sekedarnya.
"Saya mau pesan semur ayam, tumis kacang panjang dan perkedel untuk empat orang buat dua kali makan," ucap Alka.
"Baik, Mas. Saya akan buatkan dan diantar," Shireen tersenyum.
Alka menyerahkan selembar uang berwarna merah pada wanita itu. "Kembaliannya tolong belikan anak-anak jajanan."
"Baik, Mas." Shireen kembali tersenyum. "Bagaimana dengan Varrel, Mas? Apa panas tubuhnya sering naik?" lanjut bertanya.
"Sudah tidak," jawab Alka.
"Syukurlah," Shireen menampilkan senyumnya.
"Kalau begitu saya permisi, terima kasih." Alka pun pergi menggunakan motornya.
"Kenapa suami orang begitu tampan?" gumamnya.
-
Jam 11 siang, Alka belum menjemput Varrel. Akhirnya, Siska mengirimkan pesan kepada ayah dari siswanya itu.
Alka yang masih sibuk dengan pekerjaannya, tak mendengar suara ponsel yang berbunyi.
Siska akhirnya mengantarkan Varrel pulang ke rumah walau Alka belum membalas pesannya.
Begitu sampai, Varrel turun dari motor tak lupa menyalim tangan ibu guru. "Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, jaga kesehatan dan rajin belajar. Sampai jumpa besok," Siska tersenyum.
Lilis yang mendengar suara motor di depan pagar, keluar dari rumah. "Terima kasih, Bu. Sudah mengantarkan cucu saya," ucapnya.
"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi!" pamitnya.
Siska memutarkan motornya namun terhalang oleh mobil yang berhenti di depan pagar rumah Alka.
Shireen turun dari mobil, tersenyum pada Siska yang hendak pergi.
Siska pun membalasnya dengan senyuman juga setelah itu ia berlalu dalam hati bertanya, "Siapa wanita tadi?"
Shireen mengeluarkan pakaian yang sudah di laundry dan juga makanan yang dipesan Alka dari dalam mobil.
Barang yang terakhir dijinjing Shireen yaitu 2 kantong plastik berisi jajanan.
Raline begitu senang dengan jajanan yang dibawa Shireen.
"Kenapa kamu membawa jajan sebanyak ini?" tanya Lilis.
"Mas Alka yang meminta saya untuk membelinya," jawab Shireen.
"Oh, begitu."
Meminta izin pada Lilis, Shireen mengisi lemari es milik rumah tersebut.
-
-
__ADS_1
Jam 6 sore, Alka pulang dari bengkel. Membersihkan diri dan bercengkrama dengan anak-anaknya sebelum makan malam.
Jam 7 malam keempatnya berkumpul di meja makan, Mama Lilis sudah pulang ketika dirinya tiba di rumah.
"Ayah, terima kasih!" ucap Varrel.
Alka mengerutkan keningnya.
"Ayah hari ini banyak sekali membelikan kami jajanan," ujar Varrel.
"Iya, Yah. Di lemari es penuh susu kotak kesukaan aku!" celetuk Raline.
Alka berdiri dan melangkah ke lemari es, membukanya. Tampak aneka minuman botol, susu kotak, coklat dan buah-buahan. Seingatnya, sisa uangnya hanya sedikit paling cukup membeli 3 bungkus makanan ringan ukuran kecil.
Alka lalu kembali ke meja makan. "Itu bukan Ayah yang belanja."
"Jadi, Tante Shireen yang membelikan untuk kami?" tanya Varrel.
Alka mengangguk.
"Tante Shireen baik, ya. Besok aku minta jajan lagi padanya!" ujar Raline.
"Tidak, Nak. Jangan minta apapun pada orang lain kecuali pada Ayah. Kamu paham, kan?" Alka menatap putrinya.
"Ayah jarang membelikan aku susu kotak," protesnya.
"Ayah akan membelikan untukmu tapi tidak bisa banyak," ujar Alka.
"Apa kita kembalikan saja makanan pemberian Tante Shireen, Yah?" tanya Varrel.
"Tidak perlu, Ayah akan mengganti uangnya. Kalian boleh memakannya," jawab Alka.
Selesai makan malam, Alka memilih tidur di kamar pribadinya. Karena Varrel sudah sehat.
Alka membuka isi dompet dan buku tabungannya yang mulai menipis. "Semoga saja aku mampu membahagiakan anak-anakku!" lirihnya.
Alka memejamkan matanya.
...----------------...
Seperti biasa memesan makanan di tempat katering milik Shireen dengan menu untuk 4 orang.
Alka menyodorkan 2 lembar uang berwarna merah dan selembar warna biru.
"Ini banyak sekali, Mas!" menatap lembaran uang yang dipegangnya.
"Buat menggantikan uang belanja kemarin," ucap Alka dingin.
"Mas, saya ikhlas membelinya untuk mereka," ujar Shireen.
"Tapi, saya tidak suka!" berkata tegas.
"Maaf, Mas." Shireen tampak bersalah.
Alka pun berlalu.
-
Siang harinya, Shireen mengantarkan pesanan Alka ke rumahnya. Begitu sampai, wanita itu menyerahkannya kepada Lilis setelah itu ia bergegas pergi.
"Tante mau ke mana?" tanya Raline.
"Tante mau kembali lagi ke tempat kerja, Raline," jawabnya.
"Tante, tidak mau bermain denganku lagi?" Raline menunjukkan wajah sedihnya.
"Lain waktu, ya. Sampai jumpa!" Shireen menghidupkan mesin motornya dan pergi.
"Tante kenapa main pergi saja, Nek?" tanya Raline.
"Mungkin Tante Shireen sedang sibuk, kamu main dengan Sean dan Kak Varrel saja," jawab Lilis lalu membawa cucu dan makanan ke dalam rumah.
-
__ADS_1
Jam 4 sore, Alka tiba di rumah. Lilis yang sedang memandikan Sean tak tahu jika putranya sudah pulang.
"Ayah, Tante Shireen tak mau bermain denganku," Raline mengadu.
"Kamu bisa main dengan Sean dan Kak Varrel," ujar Alka.
"Kak Varrel tidak mau ku ajak main masak-masakan," ungkapnya.
"Ya, kalau begitu kamu main sendiri," ujar Alka.
Raline mengerucutkan bibirnya.
"Alka kamu cepat pulang hari ini," ucap Lilis yang baru saja selesai memandikan Sean.
"Ya, Ma. Sudah tidak ada pelanggan jadi biar Rino dan Derry yang menjaga bengkel sampai jam enam," ujarnya.
"Oh," ucap Lilis singkat.
"Tadi siapa yang mengantar makanan, Ma?"
"Seperti biasa Shireen."
"Oh."
"Tadi Shireen buru-buru pergi, makanya Raline protes. Biasanya dia akan di sini lebih lama sekedar menemani Raline dan Sean bermain," tutur Lilis.
"Apa dia marah karena aku mengembalikan uangnya?"
"Alka!"
"Ya, Ma."
"Besok, anak-anak bawa ke rumah Mama saja, ya."
"Mama mau ke mana?"
"Lisa mau pergi dengan Aldi. Jadi tak ada yang menjaga Bella," jawab Lilis.
"Ya, Ma. Aku akan mengantar mereka ke sana," ucap Alka.
...----------------...
Keesokan paginya, Alka meminta tolong tetangganya mengantarkan Varrel ke sekolah dan menjemputnya sekolah.
Alka mengantarkan Raline dan Sean ke rumah Mama Lilis. Setelah itu, ia kembali ke rumah membawa pakaian kotor.
Mengendarai motor dengan kecepatan sedang menuju laundry dan katering.
"Mbak, nanti pakaiannya tak perlu di antar ke rumah. Saya akan menjemputnya," ujar Alka.
"Baik, Pak."
Alka lalu berjalan memesan makanan, sesampainya di sana ia tak melihat sosok Shireen.
"Mau pesan apa, Pak?"
"Nanti siang saya akan ambil, tapi siapkan saja. Saya pesan balado telur, sop sayur dan nugget ayam untuk sekali makan. Sekitar jam sebelas saya kembali ke sini," jelasnya.
"Baik, Pak." Pelayan tersebut menyebutkan total belanja.
Alka menyodorkan uang sesuai jumlah yang disebutkan. Lalu ia pun berlalu.
-
Kembali tepat pukul 11 siang, Alka mengambil pesanannya dan pakaiannya yang sudah di cuci dan di setrika.
Shireen pun juga tak tampak di tempat usaha miliknya. Alka tak terlalu memperdulikannya.
Saat hendak menghidupkan mesin motornya, Alka melihat Shireen turun dari mobil bersama dengan seorang pria yang lebih muda darinya.
Shireen menoleh sekilas lalu kembali membuang wajahnya. Ia berjalan beriringan masuk ke dalam ruko.
Alka menarik sudut bibirnya dan meninggalkan tempat.
__ADS_1