
Empat bulan kemudian.....
Hari ini Raline mulai memasuki sekolah taman kanak-kanak. Gadis kecil itu begitu semangat dan antusias.
Shireen yang sedang hamil 3 bulan menunggu putrinya sampai sekolah berakhir maklum hari pertama sekolah.
Tepat pukul 10 pagi, Raline dan Shireen pulang ke rumah dijemput oleh Alka.
Raline berlari memasuki rumah dan menghampiri Lilis yang sedang memberikan makan Sean.
"Cucu Nenek yang cantik sudah pulang, bagaimana dengan sekolahnya?"
"Seru, Nek. Aku punya kawan banyak, kami nyanyi bareng," celotehnya.
"Wah, pasti kamu betah di sana," ujar Lilis.
"Guru-gurunya baik sama aku, Nek." Terus berceloteh.
"Syukurlah, nanti kamu harus menurut sama guru 'ya!" nasehat Lilis.
"Ya, Nek."
"Tadi Raline dia maju ke depan dan menyanyi loh, Nek," ujar Shireen.
"Wah, benarkah?"
"Iya, Nek. Raline 'kan memang suka menyanyi," jelas gadis kecil itu.
"Tadi kalian dijemput Alka, di mana dia?" tanya Lilis.
"Balik ke bengkel, Ma."
"Kamu tidak ke ruko 'kan?" tanya Lilis lagi.
"Tidak, Ma."
"Baguslah, jangan terlalu lelah. Kamu 'kan lagi hamil muda, nanti Varrel dijemput sama Beno saja," ucap Lilis menyebutkan nama pengemudi ojek online kebetulan tetangga Alka yang sering menjemput Varrel ke sekolah.
__ADS_1
"Iya, Ma."
"Mama mau pulang, tadi Mama juga buatkan bubur jagung dan jus alpukat untukmu," ujar Lilis.
"Terima kasih, Ma."
"Ya, sama-sama. Kalau begitu Mama pulang, ya!" Lilis mengendarai motornya sendiri meninggalkan rumah anak dan menantunya.
Pukul 12 lewat 30 menit, Beno menelepon Shireen dan mengatakan jika Varrel dijemput ibu kandungnya.
"Kalau begitu, maaf Mas Beno sudah merepotkan karena saya juga tidak tahu kalau ibunya menjemputnya," ujar Shireen.
"Tak apa, Mba."
"Sekali lagi maaf dan terima kasih," ucap Shireen.
"Ya, Mba." Beno menutup sambungan teleponnya.
Setelah selesai berbicara dengan Beno di telepon, Shireen segera menghubungi suaminya.
"Halo, Mas!"
"Apa Kak Rani menelepon Mas Alka?"
"Tidak ada, memangnya kenapa?"
"Tadi Mas Beno ke sekolah untuk menjemput ternyata Varrel sudah dijemput ibunya," jawab Shireen.
"Nanti aku akan telepon Rani dan menanyakannya, kamu jangan khawatir 'ya?"
"Ya, Mas." Shireen menutup teleponnya.
Tak sampai 5 menit, Alka menghubungi Shireen lagi.
"Halo, Mas. Apa benar Varrel bersama ibunya?" tanyanya begitu panik.
"Iya, Varrel bersama ibunya. Sejam lagi mereka akan pulang, kamu tenang saja."
__ADS_1
"Syukurlah, kalau begitu, Mas!"
"Ya sudah, aku mau lanjut bekerja. Jangan lupa makan dan awasi Sean yang mulai aktif!"
"Ya, Mas!"
Alka menutup teleponnya dan kembali bekerja.
-
Jarum jam menunjukkan pukul 3 siang, Varrel belum juga diantar ibunya pulang. Shireen semakin gelisah karena kata suaminya, putranya itu akan pulang sejam lagi. Nyatanya, ini sudah lebih dari 1 jam.
Shireen lantas membaringkan tubuhnya di samping Raline dan Sean yang tertidur di ranjang kamar.
Baru saja Shireen memejamkan matanya, suara ketukan pintu terdengar diiringi suara Varrel memanggil dirinya.
"Mama Ren!" teriak Varrel.
Shireen bergegas membuka pintu, ia tersenyum melihat putranya itu. "Kenapa lama sekali?"
"Tadi Ibu mengajakku makan dan belanja pakaian, Ma," jawab Varrel.
"Ya sudah, pergi mandi setelah itu kerjakan tugas sekolah," titahnya.
"Baik, Ma." Varrel berjalan ke kamarnya.
"Mas Alka tadi bilang kalau kalian pergi tidak lama, kenapa baru mengantar Varrel pulang?"
"Varrel putra yang ku lahirkan, kenapa jadi kamu yang repot?"
"Memang Kak Rani yang melahirkan dia, tapi selama ini Varrel bersamaku."
"Kamu baru saja menjadi ibu barunya, jadi tidak perlu merasa paling baik dan benar. Kamu mendekati anak-anak hanya untuk mencari perhatian Mas Alka saja, kan?" tudingnya.
Shireen menggelengkan kepalanya mendengar tudingan itu.
"Aku ingatkan padamu, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah mengganti posisi aku di hati mereka!"
__ADS_1
Shireen berusaha menahan kesabarannya.
"Kalau begitu aku pamit," Rani pun pergi.