Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 45 - Aku Percaya Padamu


__ADS_3

Selesai acara lamaran, Arman dan Sudiro mengaku kalau mereka adalah sahabat. Hal itu menjadi kejutan bagi keduanya yang pernah mengatakan beberapa puluh tahun lalu jika memiliki anak berniat akan dijodohkan ternyata terkabulkan.


Arman memang tidak pernah tahu istri pertama Sudiro karena sahabatnya itu menikah ketika dirinya sedang berada di luar negeri.


Shireen semakin bahagia karena papanya dan calon papa mertuanya sahabatan.


Ratih yang awalnya menolak hubungan putrinya akhirnya menerimanya karena sudah tahu siapa ayah dari calon menantunya itu.


Sudiro pemilik penginapan mewah yang berada di salah satu kota di Pulau Sumatera.


Alka tahu usaha milik papanya dari Mama Lilis hal itu ia juga pernah ungkapkan kepada Rani. Namun, ia juga mengatakan kalau tidak pernah bertemu dan berkomunikasi setelah 16 tahun lalu. Mantan istrinya itu berpikir jika dirinya adalah salah satu pewaris Sudiro Star Hotel.


Ketika menjalin hubungan dengan Shireen, Alka menyatakan bahwa kedua orang tuanya berpisah namun dirinya tak mengatakan jika dirinya adalah putra dari Adi Sudiro.


Ia ingin calon istrinya hanya tahu keadaannya sekarang dan wanita itu menerimanya dengan senang hati.


Ketika hendak meninggalkan kediamannya, Arman berkata, "Kapan-kapan kita minum kopi bersama lagi."


"Kamu yang datang ke rumahku, aku tidak bisa ke mana-mana seperti ini. Shila yang selalu membantuku dan menuntunku," ujar Sudiro.


"Kenapa kamu tidak kembali lagi dengan istri pertamamu?"


Sudiro diam sejenak, "Lain waktu aku akan ceritakan, sampai jumpa!"


"Ya, aku akan menagihnya. Sampai jumpa juga, hati-hati," ucap Arman.


Sudiro memasuki mobil dibantu Arman, "Terima kasih."


"Ya, sama-sama." Arman melambaikan tangannya.


"Kalau begitu, kami pamit, Om." Shila memohon izin.


"Ya."


Mobil mewah itu meninggalkan kediaman Arman. Sedangkan mobil yang membawa rombongan Alka, keluarganya dan tetangganya telah berlalu 30 menit yang lalu.


Ratih menghampiri kamar putrinya dan mengajaknya berbicara. Ratih memasuki ruangan dengan tersenyum sumringah.


"Kenapa Mama begitu bahagia hari ini? Padahal tadi sebelum acara wajahnya cemberut," celetuk Shireen sembari menghapus riasan wajahnya.


"Mama tak menyangka kalau calon suami kamu itu anak dari Om Sudiro," ujarnya.


"Seandainya Mas Alka bukan anak Om Sudiro, apa Mama akan sebahagia ini?" Shireen memutar tubuhnya yang berdiri di depan cermin menatap Ratih.


Wanita paruh baya itu tak bisa menjawabnya.


"Ma, aku tidak melihat siapa orang-orang yang berada di sekitar Mas Alka bagiku dia pria yang terbaik," ungkap Shireen.


Lagi-lagi Ratih di bungkam.


...----------------...


Keesokan harinya, Alka yang hendak berangkat ke bengkel mendapatkan kiriman lagi. Ya, kali ini akan diberikan kepada Lisa dan putrinya.


Kurir mengantarkan paket berisi beberapa potong pakaian dewasa dan anak-anak.


"Dari siapa, Mas?" tanya Alka.


"Dari Pak Sudiro."


Alka menerimanya.


Kurir pun pergi.


Alka membawa paket ke dalam rumah dan menyerahkannya kepada Lilis. "Ma, kiriman dari papa untuk Lisa."


"Kenapa dia baik sekali?" sindir Lilis.


Alka menaikkan bahunya, ia lalu kembali berpamitan dan berangkat kerja.


Setibanya di bengkel ia kedatangan seorang tamu wanita.

__ADS_1


Alka mempersilakan duduk di kursi tunggu pelanggan. "Ada yang bisa saya bantu, Mba?"


"Apa kamu yang bernama Alka?"


"Ya, benar."


"Saya Widya, teman Rani."


"Maaf, sepertinya kita belum pernah bertemu."


"Ya, memang kita belum pernah bertemu."


"Kami sudah berpisah dan tidak pernah saling berkomunikasi lagi. Lebih baik Mba Widya datangi saja kantornya atau rumahnya," ujar Alka.


"Tapi, saya tidak tahu alamatnya. Saya minta tolong kepada anda berikan ini kepadanya," ucapnya.


"Baiklah, saya akan antarkan!"


"Saya mohon hari ini juga," pintanya.


Alka mengangguk.


-


Selesai makan siang, Alka menghubungi Shireen untuk menemaninya ke tempat Rani namun ponsel calon istrinya itu tidak aktif.


Alka pun pergi sendirian ke kantor Rani menitipkan amplop kepada satpam.


Namun, satpam mengatakan kalau Rani sedang sakit tidak masuk ke kantor. Alka lantas pergi ke rumah mantan istrinya yang sebelumnya menelponnya.


Begitu sampai, Shireen menghubunginya. "Halo, Mas. Ada apa tadi menelepon?"


"Aku ingin mengajak kamu menjumpai Rani."


"Kenapa kita menemuinya?"


"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita jadi mau mengajak kamu," jelas Alka.


"Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya," ucap Alka.


Alka tak bergegas masuk karena ia ingin menunggu kekasihnya.


Karena sudah hampir 15 menit menunggu akhirnya Alka memberanikan diri mengetuk pintu.


Rani tersenyum ketika melihat Alka datang.


"Aku tidak ingin berlama-lama, ini ada titipan dari Mba Widya untukmu!"


"Widya?"


"Ya."


"Tapi, aku tidak punya teman yang namanya Widya, Mas."


"Aku juga tidak tahu, katanya begitu."


"Mungkin temannya Andri," ucap Rani.


"Mungkin!"


Rani baru mengingat kalau wanita yang ia temui beberapa waktu lalu bernama yang sama. Rani bergegas membuka isi amplop berukuran besar itu.


Rahangnya mengeras kala melihat foto-foto tersebut. Rani mengepalkan tangannya berusaha menahan amarahnya.


Alka mengerutkan keningnya.


Tubuh Rani hampir ambruk, beruntung Alka segera menangkapnya.


Rani tiba-tiba menangis dan memeluk Alka.


Belum sempat Alka melepaskan pelukan Rani, Andri sudah memergokinya yang datang bersamaan dengan Shireen. "Apa yang kalian lakukan?" bersuara lantang.

__ADS_1


Alka dan Rani segera menoleh.


"Ini tidak seperti dibayangkan!" Alka memberikan alasan.


Andri melayangkan pukulan ke wajah Alka.


Rani dan Shireen tersentak kaget sekuat tenaga memisahkannya.


"Apa yang kau lakukan padanya?" sentak Shireen.


"Dia memeluk istriku!" jawab Andri menunjuk Alka.


"Apa kau sudah mendengar penjelasannya, hah?" tanya Shireen dengan marah.


Rani menampar pipi Andri dengan keras.


Shireen mendelikkan matanya kala melihat Andri ditampar oleh istrinya.


"Kamu pembohong!" teriaknya lantang.


Shireen lantas mendekati Alka, memegang bibir calon suaminya itu. "Mas, tidak apa-apa 'kan?" tanyanya lirih.


Alka mengangguk.


"Apa maksudmu, Rani?"


Rani mencampakkan amplop berisi foto-foto kemesraan suaminya dengan Widya.


Andri mendelikkan matanya tak percaya. "Ini fitnah, Rani!"


"Kamu berselingkuh dengan wanita itu!" tuduhnya.


"Tidak, Rani. Aku bisa jelaskan!" ucap Andri.


Alka dan Shireen tanpa berpamitan meninggalkan rumah sepasang suami istri yang sedang bertengkar itu.


Di tengah perjalanan, motor Alka berhenti membuat Shireen menghentikan laju kendaraannya juga.


"Ada apa, Mas? Kenapa berhenti di sini?" tanya Shireen.


"Aku takut terjadi apa-apa dengan Rani, Shireen."


"Mas, mengkhawatirkan dia?"


"Aku bukan mengkhawatirkannya tapi aku takut kalau Andri bakal memukul Rani."


"Mas, mau kita balik lagi untuk memastikan kalau mantan istri Mas Alka baik-baik saja," ucap Shireen yang cemburu sekaligus menyindir.


"Bukan begitu, Shireen."


"Lalu apa, Mas?"


"Shireen, aku minta maaf."


"Hmm."


"Kamu marah padaku?"


"Tidak, Mas."


"Ya sudah, kalau begitu kita pulang saja!" ajak Alka.


"Mas, tidak jadi balik lagi ke rumahnya?"


"Tidak."


"Mas, aku percaya padamu!"


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa," ucap Alka.


"Semoga saja, Mas!"

__ADS_1


Keduanya melanjutkan perjalanannya pulang.


__ADS_2