
Shireen menggandeng tangan Raline dengan tersenyum riang. Ya, akhirnya ia bisa berlama-lama dengan pria yang ditaksirnya.
Sean digendong Alka tampak menunjuk ke arah toko yang menjual mainan.
Mereka memasuki toko, Raline dan Varrel tampak begitu senang dan antusias.
"Ayah, aku mau ini!" Varrel mengangkat mainan senjata api.
"Aku ini, Ayah!" Raline juga menunjuk sebuah boneka kucing betina.
"Raline, Varrel lain waktu saja, ya. Hari ini Ayah mau belikan mainan untuk Sean," ujar Alka.
Raline menundukkan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya.
"Biar saya saja yang belikan, Mas!" Shireen menawarkan diri.
"Tidak usah, Shireen. Mainan mereka juga sudah banyak di rumah," ucap Alka.
"Anggap saja ini hadiah dari saya, Mas."
"Mereka belum berulang tahun," ujar Alka.
"Tidak apa, Mas."
"Tidak, Shireen. Jika saya katakan tidak tetap tidak, kamu paham, kan!" berkata dengan nada dingin.
Shireen tak berani berbicara lagi.
Alka membayar mainan yang dipilih Sean, sebuah bola berwarna-warni.
Shireen dan Raline berjalan di belakang.
"Ayah, aku mau es krim!" Varrel menarik kemeja yang dikenakan Alka.
"Tidak, Varrel!" larangnya.
__ADS_1
Shireen menggenggam tangan Raline dan membawanya ke tempat penjual es krim.
Varrel hendak menyusul namun lengannya di tahan. Akhirnya, ia hanya berdiri dan melihat kedua wanita itu berbelanja es krim.
Raline menggenggam cone ice cream dan Shireen memegang dua es krim.
Satunya Shireen berikan kepada Varrel dan bocah itu menerimanya dengan senang hati.
"Buat Mas!" Shireen menyerahkan satunya lagi.
"Tidak, makasih!" tolaknya.
Shireen menyodorkannya ke mulut Alka namun pria itu berusaha menghindar hingga membuat hidungnya mengenai es krim.
Varrel dan Raline tertawa melihat hidung Alka.
Tanpa perintah, Shireen membersihkan hidung ayahnya Varrel dengan jemarinya sembari mengulum senyum.
"Sekarang kamu puas 'kan sudah membuatku malu di depan anak-anak, Shireen," ketusnya.
"Maaf, Mas. Saya tidak sengaja," Shireen malah tertawa kecil.
"Ini sangat enak, Mas!" Shireen kembali menyodorkannya.
Sean berusaha menarik cone ice cream dari Shireen.
Namun, Alka menghalangi tangan putra bungsunya.
"Kamu mau?" tanya Shireen pada Sean.
Balita itu mengangguk.
"Jangan kasih, buat saya saja!" ucap Alka.
"Buka mulutnya!" titah Shireen.
__ADS_1
Alka menuruti titah wanita yang dihadapannya.
"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Shireen.
"Ya," jawab Alka singkat.
"Biar saya yang menggendong Sean!" menawarkan diri.
Alka menyerahkan Sean pada Shireen.
"Ayah, itu Ibu!" tunjuk Raline ke sebuah restoran Jepang.
Alka, Shireen dan Varrel mengikuti jari telunjuk Raline.
"Iya, Yah. Ayo kita ke sana!" ajak Varrel.
"Tidak, Nak!" Alka melarang.
"Kenapa, Yah?" tanya Varrel.
"Ayo kita main saja!" ajak Alka. Ia tak mau anak-anaknya menangis karena Rani menjauhi mereka saat didekatnya. Apalagi ini tempat umum dan akan menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Ayah, aku rindu Ibu," rengek Raline.
Alka mengangkat tubuh putrinya dan menggendongnya.
"Raline, kita main saja. Lalu kita beli jajan yang banyak, kamu mau?" bujuk Shireen.
Raline menghapus air matanya yang hampir jatuh lalu mengangguk.
"Anak pintar!" puji Shireen mengelus pipi bocah itu.
Varrel ingin berlari dan memeluk ibunya namun ayahnya melarangnya jadi ia mengurungkan niatnya. Ia hanya memandangi wanita yang melahirkannya dari kejauhan.
Tangannya di tarik Alka menjauh.
__ADS_1
Rani yang duduk di restoran itu dari kejauhan melihat mantan suaminya dan anak-anaknya. Ia ingin memeluk buah hatinya namun saat ini ia bersama dengan Andri.
"Maafkan Ibu, Nak!"