
Alka dan Raline tiba di rumah dengan wajah sumringah.
"Mama!" panggil Raline.
Shireen keluar dari kamar mendengar suara panggilan putrinya. "Ya, Nak. Ada apa?"
"Lihatlah, di sana!" menunjuk ke arah pintu.
Shireen melihat ke pintu, tampak suaminya sedang memegang buket bunga mawar dan tangan kirinya menjinjing kotak kue.
Alka mendekati Shireen, "Buat istriku tersayang!" memberikan buket bunga dan kue.
Shireen meraihnya. "Terima kasih!"
"Ini buat Mama juga!" Raline menyodorkan kantong kertas.
Shireen menerimanya.
"Mana adik, Ma?"
"Di kamar."
"Aku ingin bertemu dengannya."
"Cuci tangan dan ganti pakaianmu!" titah Shireen.
"Baik, Ma." Raline begitu semangat.
"Mas, tak perlu repot membelikan semua ini untukku!" ujar Shireen.
"Aku tidak repot dan malah senang," Alka tersenyum.
"Aku tahu Mas memberikan ini agar mendapatkan maaf dariku, kan!" tebaknya.
Alka menoel dagu istrinya, "Kamu tahu saja!"
"Tidak semudah itu mendapatkan maaf dariku!" Shireen masuk ke dalam kamar.
Alka mengikuti langkah istrinya, "Sayang, tolong jangan siksa aku seperti ini!"
"Aku tidak menyiksamu atau menghukum kamu, Mas."
"Jadi, apa?"
"Aku kesal, kecewa dan marah saja dengan Mas!"
Alka memeluk istrinya, "Jangan begitulah!" mengecup pipi.
"Adik, aku datang!" Raline masuk ke kamar, berlari kecil menaiki ranjang.
Raline mencium kedua pipi adik perempuannya.
"Mas, lepaskan pelukannya. Malu dilihat Raline," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Maafin aku, baru aku lepaskan!" bisik Alka.
"Ya," ucapnya terpaksa.
"Terima kasih!" Alka mengecup pipi istrinya lebih lama.
"Ih, Ayah cium Mama!" celetuk Raline.
Alka melepaskan kecupannya, "Kamu juga ingin dicium!" menaiki ranjang dan mendekap putrinya.
"Aku tidak mau, Ayah!" tolaknya.
Alka mendaratkan kecupan di kening Raline.
"Ih, Ayah aku tak mau!" Raline menunjuk wajah cemberut.
"Kalau begitu Ayah mau cium adik saja!" Alka mendaratkan bibirnya di pipi sang bayi.
Hal itu membuat sang bayi terbangun dan menangis.
"Ayah lihatlah, adiknya menangis!" ucap Raline.
Shireen mengangkat tubuh putrinya dan memangkunya. Berusaha menenangkan, ia pun menyusuinya.
"Adik bayi rupanya haus, Yah!" celoteh Raline.
"Ayah juga haus, bisakah kamu ambil segelas air putih?" pintanya.
Alka tersenyum melihat istri dan putrinya. "Dia mirip sekali dengan kamu, ya!"
Shireen mengangkat wajahnya dan menatap suaminya. "Ya, Mas. Tapi, hidungnya sepertimu." Melihat wajah putrinya.
"Shireen!"
"Ya, Mas."
"Aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku!"
Shireen tertawa kecil. "Kenapa baru sekarang mengungkapkannya?"
"Karena aku baru tahu jika kamu begitu berarti."
Shireen menarik sudut bibirnya. "Mas, takut kalau menjadi duda untuk kedua kalinya?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku takut kehilangan cintamu!"
Shireen terdiam dan menatap serius suaminya.
"Ayah, ini minumnya!" Raline menyodorkan gelas.
__ADS_1
"Terima kasih putri Ayah yang cantik!" ucap Alka.
Raline tersenyum ia lalu kembali duduk di samping mamanya.
"Mama, kita belum memberi nama buat adik bayi," ujar Raline.
"Mama dan Ayah belum membicarakan tentang nama," ucap Alka.
"Kenapa belum? Aku sudah tidak sabar menunggu nama adik bayi."
"Mama lagi merajuk," celetuk Alka.
"Mas!" Shireen menegur suaminya.
"Pasti Mama merajuk karena Ayah," tebak Raline.
Shireen tertawa kecil.
"Astaga, kenapa kamu bisa tahu?" Alka memangku putrinya.
"Mama tidak pernah marah dan merajuk pada kami, siapa lagi yang buat Mama Iren seperti itu," ujar Raline.
"Kenapa sih' kamu tahu saja?" tanya Alka.
"Karena Mama Iren selalu curhat padaku," jawabnya.
Shireen mendelikkan matanya.
"Memangnya Mama curhat apa?" Alka penasaran.
"Mama bilang...."
"Raline, Mama ingin buah jeruk. Bisakah kamu ambilkan," ucap Shireen memotong pembicaraan putrinya.
Raline turun dari pangkuan ayahnya dan berlari ke dapur.
"Memangnya kamu curhat apa dengan Raline?" tanya Alka.
"Tidak ada, Mas."
"Pasti kamu menceritakan aku 'kan," tebak Alka.
"Jangan kepedean, Mas!" ucap Shireen.
"Tapi kenapa wajahmu memerah?" goda Alka.
Shireen meletakkan putrinya di ranjang lalu menyentuh pipinya sendiri.
"Benarkan kamu pasti...."
"Mas, jangan bicara apapun!" mohonnya.
Alka tergelak melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak malu.
__ADS_1