
Alka pulang dari bengkel sengaja lebih awal, ia membawa motor kesayangannya yang sudah menemaninya hampir 8 tahun ke tempat pencucian kendaraan.
Ya, malam ini Alka akan mengajak Shireen mengobrol berdua di sebuah kafe.
Jarum jam mendekati angka 7, Alka telah bersiap-siap berdandan yang rapi biar kelihatan tampan.
Ketiga buah hatinya sudah ia titipkan di rumah Mama Lilis, karena jika anak-anak berada di rumahnya pasti mereka akan bertanya hendak kemana ayahnya pergi dan itu hanya membuat waktunya tersita karena menjawab pertanyaan anak-anaknya.
Alka mengendarai motornya menuju rumah Shireen dan wanita itu sudah menunggunya.
Dengan malu-malu, Shireen duduk di belakang. Mereka berangkat ke kafe yang dituju.
Sesampainya di sana, Alka sengaja memesan meja yang khusus untuk berdua dengan pemandangan kota yang dihiasi lampu berwarna-warni.
"Mas, bukankah tempat kita di sini lebih mahal? Kenapa tidak dibawah saja?" tanya Shireen. Karena ia tahu kemampuan keuangan Alka seperti apa walaupun ia punya bengkel milik pribadi dan 3 orang karyawan. Tapi, ada 3 orang anak yang harus Alka perjuangkan.
"Ya, memang. Tapi, saya malu kalau bicara berdua dilihatin banyak orang. Apalagi pengunjung di sini masih banyak para pemuda. Saya sudah tua dan punya tiga orang anak lagi," ungkap Alka.
Shireen tertawa kecil, "Mas Alka itu awet muda tahu."
"Benarkah?"
"Iya, Mas Alka mirip aktor Kim Soo-hyun. Makanya saya suka," jawab Shireen jujur.
"Kamu memujinya terlalu berlebihan," ujar Alka.
"Memangnya Mas Alka tahu wajah Kim Soo-hyun?"
"Rani suka menonton drama. Jadi, saya tahu beberapa pemerannya," jawabnya.
"Oh." Shireen tersenyum tipis.
"Maaf, saya menyebut namanya."
"Tidak apa, Mas."
Pesanan Alka akhirnya datang, pelayan menyajikannya.
"Silahkan dimakan!" ucap Alka.
Shireen mengangguk.
"Aku mau tanya sama kamu," Alka menghentikan sejenak sendok garpunya.
"Aku?"
"Tidak apa-apa, kan?"
"Ya, tidak apa-apa. Itu bisa membuat kita semakin akrab," ungkap Shireen.
"Kalau begitu mulai sekarang ganti aku, biar lebih akrab," ucap Alka.
"Baiklah, Mas," Shireen tersenyum. "Memangnya Mas Alka mau tanya apa?"
"Apa benar Gani, beberapa hari lagi akan melamar kamu?"
Shireen menggelengkan kepalanya.
"Dia mengatakan padaku dua hari yang lalu kalau seminggu lagi dia dan keluarganya akan datang melamarmu," ujar Alka.
"Keluarga kami tak ada membahas hal itu," ucap Shireen.
"Jadi, dia berbohong?" Alka tampak serius.
"Ya."
"Astaga, kenapa bisa-bisanya dia membohongiku," gerutunya.
"Jika Gani tidak berbohong dan tak mengatakan apapun, apa Mas Alka tetap menyimpan perasaan itu?"
Alka terdiam.
"Mas, aku menyukaimu!"
Alka masih bergeming.
Shireen melanjutkan makannya, "Aku sungguh tak tahu malu, ya!"
"Aku juga menyukaimu, Shireen!"
Wanita itu kembali diam, memandang wajah Alka. "Kamu serius, Mas?"
__ADS_1
"Ya." Masih menatap.
Shireen tersenyum bahagia, "Terima kasih, Mas!"
"Aku seharusnya yang terima kasih, kamu lebih dahulu mencuri hati anak-anakku," ujar Alka.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu menyayangi mereka," ucap Shireen.
-
Selesai makan malam berdua, Alka mengantarkan Shireen ke rumahnya setelah itu bergegas pulang.
Alka tidak menjemput anak-anaknya karena juga sudah terlalu malam, pasti ketiga buah hatinya telah tertidur.
Alka merebahkan dirinya di ranjang, ia memandangi langit-langit kamar. "Sepertinya aku harus segera melamarnya."
Sementara itu, Shireen yang baru selesai mencuci wajah dan mengganti pakaiannya menatap cermin dengan tersenyum. "Sebahagia inikah, jika cinta kita terbalas!"
Bayangan dan ucapan Mama Ratih sekilas muncul dipikirannya, "Kamu akan dijodohkan, jangan beri hatimu kepada siapapun. Ingat itu, Shireen!"
Shireen lantas berdiri, "Aku mencintai Mas Alka, Ma!"
Shireen menggelengkan kepalanya. "Aku akan berusaha mendapatkan restu dari papa terutama mama!"
...----------------...
Keesokan, kebetulan hari Minggu. Alka sebelum jam 7 pagi sudah berada di rumah Mama Lilis. Ya, tak ingin anak-anaknya terbangun dan menanyakan keberadaan ayahnya.
Ternyata, ketika sampai ia sudah disambut wajah cemberut dari gadis kecilnya.
"Raline, kamu sudah bangun?" Alka menghampiri putrinya yang berdiri di depan pintu. Gadis kecil itu berlari ke arah teras rumah ketika mendengar suara motor ayahnya.
"Ayah, semalam ke mana? Kenapa tidak menjemput kami?" cecarnya.
"Ayah ada urusan, Nak."
"Urusan apa? Ayah tidak pernah pergi malam-malam, memangnya ke mana?"
"Ayahmu pergi bersama Tante Shireen, Raline!" sahut Lisa dari arah belakang.
"Lisa!" ucap Alka lirih.
"Benarkah itu, Ayah? Kenapa tidak mengajak aku? Pasti seru kalau kita pergi bersama-sama lagi, kayak waktu ke mall."
Alka tersenyum pada putrinya, "Kita akan pergi bersama dan satu rumah juga. Do'akan saja!"
"Hore, aku bisa main-main dengan Tante Iren!" Raline menepuk tangan riang.
Lisa yang mendengar obrolan ayah dan anak itu ikutan tersenyum. "Semoga berhasil, Kak!"
Alka menoleh ke arah adiknya dan tersenyum.
"Raline, ajak ayahmu masuk kita sarapan bersama. Bibi akan membangunkan Varrel dan Sean!" Lisa membalikkan tubuhnya kembali masuk ke dalam rumah.
Mereka menikmati sarapan pagi bersama, sesudah itu Alka membawa anak-anaknya pulang. Mama Lilis akan menyusul dengan diantar Lisa.
Pekerjaan rumah telah Alka kerjakan sebelum menjemput anak-anaknya.
Tepat pukul 8 pagi, Alka menuju laundry milik Shireen mengantar pakaian kotornya namun wanita itu belum tampak di sana.
Begitu dirinya tiba di bengkel, sudah ramai pelanggan yang mengantri. Ketiga karyawan Alka tampak sibuk.
Ya, 2 bulan belakangan ini bengkelnya selalu ramai hingga mereka sangat kerepotan. Alka juga berencana akan membeli tanah yang ada disebelah bengkel untuk memperluas usahanya dan menambah karyawan lagi.
Ditengah kesibukannya, seorang wanita datang untuk memperbaiki motornya. "Pagi, Alka!"
Pria yang sedang memperbaiki motor pelanggan lainnya, mendongakkan kepalanya lalu berdiri, "Laras!"
"Motorku sepertinya sedang bermasalah, tolong bantu perbaiki, ya?"
"Pastinya, mau ditunggu atau nanti dijemput?"
"Dijemput saja," jawab Laras.
"Baiklah," ucap Alka. "Saya akan menghubungi anda," lanjutnya.
"Baiklah," Laras pun berlalu.
-
Alka sengaja hari ini tidak meminta Shireen mengantarkan lauk ke rumahnya karena Mama Lilis akan memasak jadi ia meminta kekasihnya itu untuk datang ke bengkel saja.
__ADS_1
Dengan senang hati, Shireen mengantarkan lauk dan mereka akan menikmati makan siang bersama.
Shireen menyediakan aneka lauk dan sayur di atas nasi lalu menyodorkan piring kepada Alka, "Ini, Mas!"
"Terima kasih," Alka menerimanya dengan senyuman.
"Wah, enak sekali!" Derry duduk dihadapan bosnya.
"Kalian ambillah, saya sengaja bawa banyak karena biasanya Mas Alka yang belikan kalian makan siang," ujar Shireen.
"Ya, Mba." Derry penuh semangat mengambilnya.
"Sekarang pergilah!" ucap Alka pelan.
"Iya, Mas. Aku tidak akan mengganggu kalian, tenang saja," ujar Derry, ia berdiri lalu membawa makanan yang diberi Shireen.
Alka menoleh ke arah kekasihnya, "Kamu tidak makan?"
"Tidak, Mas. Masih kenyang," jawab Shireen.
"Shireen, ini sudah jam makan siang. Kamu bilang masih kenyang, memangnya sarapan jam berapa?"
Shireen tersenyum nyengir, "Jam sepuluh."
"Kamu sering sarapan jam segitu?"
"Tidak juga, Mas. Tadi karena sibuk."
"Sekarang ayo makan!" Alka mengarahkan sendok ke mulut Shireen.
"Mas, aku tidak mau!" tolaknya.
"Ayo makan, kalau kamu sakit. Raline pasti sedih," ucap Alka.
"Memangnya Mas Alka tidak bersedih?"
"Aku juga akan sedih jika hal buruk terjadi padamu," jawabnya. "Sekarang, buka mulutnya!" titahnya.
Shireen membuka mulutnya dan Alka menyuapkannya.
"Sesibuk apapun sempatkan waktu untuk mengisi perutmu," ucap Alka.
"Iya, Mas."
Selesai makan siang, Shireen membereskan wadah makanan. Ia berdiri dan hendak berpamitan pulang namun seorang wanita menghampiri Alka membuat ia menunda kepulangannya.
"Apa motor aku sudah selesai, Alka?"
"Sudah," tunjuknya ke arah motor berwarna abu-abu.
"Berapa tagihannya?"
"Silahkan bayar kepadanya saja!" Alka menunjuk karyawannya Rino.
"Baiklah," Laras berjalan ke arah Rino dan membayarnya.
Alka lantas membalikkan badannya tampak Shireen masih berdiri di belakangnya. "Kenapa belum pulang?"
"Aku tunggu wanita itu pulang, Mas!" menunjuk Laras.
Alka tersenyum, "Kamu cemburu?"
"Idiih, Mas Alka. Apaan, sih?" Shireen tampak malu.
Laras kembali menghampiri Alka, "Terima kasih, ya. Kapan-kapan kita minum kopi lagi, apa kamu mau?"
Alka melirik wanita yang ada disampingnya dengan wajah cemberut, "Tidak, saya sangat sibuk!"
"Baiklah, jika kamu tidak sibuk. Kita bisa mengobrol lagi di kafe," ucap Laras.
"Tidak juga, anda seorang istri. Saya tak ingin merusak rumah tangga anda," ujar Alka.
Laras tertawa kecil, "Rumah tangga saya juga sudah rusak dibuat mantan istrimu!"
Shireen tampak terkejut lalu mengarahkan pandangannya kepada Alka.
"Laras, maaf kita tidak bisa melanjutkan obrolan lagi. Saya ingin mengantarkan calon istri pulang," Alka memegang lembut tangan Shireen dan menariknya menjauh dari Laras.
Laras membalikkan badannya menatap Alka yang menggenggam erat tangan wanita itu.
Alka menghidupkan mesin motornya dan menyuruh Shireen untuk duduk dibelakangnya. Shireen pun menuruti perintah kekasihnya.
__ADS_1
Laras menarik sudut bibirnya.