Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 6 - Alka ke Sekolah


__ADS_3

Senin pun tiba, Varrel berangkat ke sekolah penuh semangat. Ya, hari ini ia akan mengikuti perlombaan mewarnai tingkat sekolah dasar.


Alka berjalan di samping putra sulungnya.


Seorang wanita muda menghampiri keduanya dengan senyuman. "Selamat pagi, Varrel!" sapanya.


"Selamat pagi juga, Bu Siska!" bocah laki-laki itu pun membalasnya dengan senyuman juga.


"Pagi, Pak!" Siska tersenyum begitu juga dengan Alka.


"Ayah, Bu Siska yang memilihku untuk mewakili sekolah," ujarnya.


"Terima kasih, Bu. Sudah mempercayakan putra saya untuk menjadi salah satu perwakilan dari sekolah ini," ucap Alka.


"Sama-sama, Pak. Varrel memiliki bakat mewarnai yang sangat baik, jadi kita harus membantunya mengembangkan bakatnya," ujar Siska.


Alka mengangguk.


"Ayo, kita ke sana. Lomba akan dimulai!" ajak Siska.


Varrel dan Alka berjalan di belakang ibu guru.


Bocah laki-laki itu duduk bersama peserta lomba yang lainnya.


Sementara itu Alka duduk bersama dengan para orang tua yang menemani putra-putrinya lomba.


Dari tempatnya duduk, Alka mengarahkan ponselnya kepada Varrel. Ia mengabadikan kegiatan putranya dan akan ditujukan pada Rani dan Mama Lilis.


Tepat jam 12 siang, lomba pun selesai. Varrel menghampiri ayahnya dan melemparkan senyuman.


"Sekarang kita pulang!" ajaknya.


"Hari Sabtu nanti pengumuman lomba, aku harap Ayah dan Ibu datang juga," ungkap Varrel.


"Ayah pasti datang," ucap Alka.


"Apa Ibu juga datang, Yah?"


"Ayah tidak tahu," jawab Alka.


Tiba-tiba Varrel memasang wajah cemberut.


"Kamu kenapa?"


"Aku ingin ibu datang juga, Yah."


"Nanti ayah akan bicara pada ibu, ayo senyum lagi!" Alka menampilkan senyumnya.


Varrel pun kembali tersenyum.


Keduanya meninggalkan sekolah dengan menggunakan sepeda motor.


Ditengah perjalanan pulang, Alka melihat Siska mendorong motornya ia lalu mendekatinya dan berhenti.


"Bu Guru!" panggil Varrel.


Siska membalas sapaan dengan tersenyum.


"Kenapa dengan motornya, Bu Siska?" tanya Alka.


"Saya juga tidak tahu, Pak."


"Tunggu sebentar, kebetulan bengkel dekat dari sini. Saya akan bawakan salah satu pegawai," Alka menawarkan diri.


"Oh , ya Pak. Maaf telah merepotkan," ujar Siska.


"Tidak apa-apa, Bu." Alka menghidupkan mesin motornya dan menuju bengkelnya.


Tak sampai 10 menit, Alka datang berboncengan dengan salah satu pegawainya.

__ADS_1


"Biar dia saja yang bawa ke bengkel. Bu Siska biar saya yang mengantarkan pulang," ujar Alka menunjuk pegawainya.


"Pak, saya sungguh banyak merepotkan," ucap Siska.


"Tidak apa, Bu. Mari!" ujar Alka.


Siska pun duduk di belakang Alka, ketiganya menuju rumah Ibu Guru.


Sesampainya di tujuan, Siska turun dari motor. "Terima kasih banyak sudah menolong saya hari ini, Pak."


"Sama-sama, Bu," ucap Alka. "Kalau begitu kami pamit pulang," lanjutnya.


Siska membalasnya dengan tersenyum.


Varrel melambaikan tangannya pada Siska dan di balas wanita itu.


Alka dan Varrel meninggalkan kediaman ibu guru.


Begitu sampai, Alka membawa kedua buah hatinya pulang ke rumah. Tak lupa juga menunjukkan video Varrel yang sedang mewarnai kepada Lilis. Wanita paruh baya itu tersenyum bangga pada cucunya, teringat dengan mantan suaminya yang memiliki hobi dan bakat sama.


Raline dan Sean sudah makan siang di rumah neneknya, kini hanya Alka dan Varrel yang belum mengisi perutnya.


Alka membuka tudung saji, tak ada makanan ia akhirnya memilih memasak mie rebus instan.


Tak menunggu lama, 2 porsi di santap lahap oleh keduanya.


Alka tidak balik ke bengkel ia memilih menemani anak-anaknya di rumah.


-


-


Rani pulang di antar mobil oleh seseorang. Wanita itu melambaikan tangannya pada pengemudi, lalu berjalan memasuki rumahnya.


"Kenapa tidak meneleponku?" tanya Alka ketika istrinya berada di kamar.


"Kebetulan ada tumpangan dari teman, Mas. Makanya tidak menelepon," jawabnya.


"Pria, Mas."


"Yang menelepon kamu tempo hari?"


"Ya, Mas."


"Aku rasa dia menyukaimu," tebak Alka.


"Mas, kami hanya sekedar teman. Kamu jangan cemburu begitu," ujar Rani meraih handuk yang tergantung di dinding kamar.


"Rani, kamu sudah bersuami. Hargai aku juga, bagaimana kalau orang-orang menganggapnya lain?"


"Jangan pedulikan omongan orang lain, Mas."


"Selama perkataan yang dikatakan benar, kenapa tidak? Rani, kamu seorang istri. Harusnya tahu batasanmu, tak ada sahabat pria bagi kamu begitu sebaliknya juga dengan aku!"


"Mas, aku tahu batasan diriku. Kamu jangan khawatir," Rani tersenyum lalu berjalan ke kamar mandi.


Jam 7 malam, keempatnya menikmati makan bersama. Sean sedang asyik bermain karena tadi sore Alka sudah memberinya MPASI.


Rani makan sembari memegang ponselnya, hal itu tidak luput dari perhatian suaminya.


"Rani!" tegur Alka.


Rani pun meletakkan ponselnya lalu kembali melanjutkan makannya.


"Jika ada pekerjaan yang belum sempat diselesaikan, lebih baik setelah makan baru di kerjakan," ujar Alka.


"Ya, Mas."


"Ayah tunjukkan video aku lomba tadi," pinta Varrel penuh semangat kepada Alka.

__ADS_1


"Kita lagi makan, Nak. Nanti Ayah akan tunjukkan," ujarnya lembut.


"Baiklah, Yah." Varrel paham.


Selesai makan, Rani dan Alka membereskan piring dan membersihkannya.


Keduanya duduk bersama di ruang keluarga, menikmati siaran televisi. Alka lalu menunjukkan video Varrel ketika di sekolah.


Rani tersenyum melihat video tersebut.


"Sabtu nanti pengumuman, Ibu datang, ya!" pinta Varrel.


"Lihat nanti, ya!" ujar Rani.


"Kenapa lihat nanti? Bukankah Sabtu kamu libur bekerja?" tanya Alka.


"Sabtu nanti aku berencana pergi bersama Kak Rina," jawab Rani.


"Mau ke mana?" tanya Alka.


"Salah satu teman Kak Rina, buka restoran dan dia diundang. Jadi, aku menemaninya karena Kak Fikri lagi di luar kota," jelas Rani.


"Aku ikut 'ya, Bu!" Raline menawarkan diri.


"Tidak bisa, Raline," ucap Rani menolaknya dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Alka.


"Dia sangat lasak, aku tidak sanggup menjaganya," jawab Rani.


Alka menghela nafasnya. "Kalau begitu batalkan janjimu pada Kak Rina, temani Varrel saja," ujarnya.


"Tidak bisa, Mas. Aku sudah terlanjur janji pada Kak Rina."


"Rani, Varrel juga ingin ibunya hadir," ujar Alka.


"Aku tidak bisa, Mas. Minta temani Mama Lilis saja," saran Rani.


"Ya, sudahlah." Alka hanya pasrah.


Varrel tampak cemberut karena ibunya tak bisa menemaninya.


...----------------...


Keesokan harinya, Alka menjemput putranya ke sekolah.


Siska yang melihat kehadiran pria itu menghampirinya melemparkan senyumnya. "Terima kasih, Pak. Sudah mengantarkan motor ke rumah dan tak mau diberi upah," ujarnya. Karena kemarin pegawai Alka mengantar motor dan menolak diberi upah perbaikan.


"Sama-sama, Bu."


"Saya sungguh segan, Bapak terlalu baik," Siska tertawa basa-basi.


"Itu hanya hal kecil saja, Bu. Tak perlu berlebihan," ujar Alka.


"Tapi, bagi saya sangat membantu, Pak."


Alka hanya tersenyum.


Tak lama Varrel pun datang menghampiri ayahnya.


"Oh, ya Pak. Ibu Rani ke mana, ya? Sudah beberapa hari ini tak menjemput Varrel?" tanya Siska.


"Istri saya sudah bekerja jadi tak sempat untuk menjemput Varrel," jawabnya.


"Oh, begitu."


"Ya, Bu."


Siska mengangguk paham.

__ADS_1


Alka dan Varrel pun berpamitan pulang.


__ADS_2