Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 41 - Menolak Permintaan Rani


__ADS_3

Rani mendatangi bengkel Alka karena jika dia menemui mantan suaminya di rumah pasti dirinya akan mendengar kata-kata bentakan yang menusuk hati.


"Mas, ada Kak Rani," Derry memberitahunya.


"Mau apa dia ke sini?"


"Tidak tahu, Mas."


"Suruh kemari!"


"Baik, Mas!" Derry pun memanggil Rani.


Rani datang menghampirinya dengan tersenyum manis.


"Ada keperluan apa kamu ke sini?" tanya Alka ketus.


"Aku ingin kita membahas anak-anak, Mas."


"Kenapa dengan anak-anak?"


"Aku tidak suka, wanita itu merebut hati mereka dan ku menginginkan dia menjauhinya," jawab Rani.


"Aku rasa kamu tidak perlu lagi membahas tentang anak-anak yang sudah memilih kebahagiannya," ujar Alka.


"Mas, aku ingin bertemu dengan anak-anak, bermain, bercanda dan liburan bersama mereka!"


"Kenapa baru sekarang kamu menginginkan itu?" tanya Alka tetap lembut.


"Aku minta maaf, Mas. Aku menyesal," jawab Rani.


"Baiklah, besok pagi Varrel akan bertamasya ke kebun binatang dengan teman-teman sekolahnya. Apa kamu bersedia menemani dia?"


"Besok aku kerja, Mas."


"Ya, kalau begitu kamu tidak bisa menemui mereka."


"Mas, jika hari libur kerja aku bisa menemaninya," ujar Rani.


"Tapi, pihak sekolah mengadakan di hari biasa," ucap Alka.


"Mas, bagaimana kalau akhir pekan nanti kita berenang?"


"Aku tidak bisa, sangat sibuk!"


"Mas, kamu boleh mengajak Shireen bersama kita," ujarnya.


"Tetap tidak boleh," ucap Alka.


"Bagaimana kalau kita ke pasar malam?"


"Baiklah, aku akan mengajak Shireen."


Rani tersenyum senang.


...----------------...


Hari ini Shireen menemani Varrel ke sekolah karena diminta oleh kekasihnya.


Shireen melakukannya dengan senang hati, apalagi dia akan jalan-jalan bersama calon anak sambungnya.


Siska melihat Shireen menemani Varrel tampak tak suka, ia berharap Alka yang datang.


"Pagi, Varrel!" Siska tersenyum begitu hangat.


"Pagi, Bu!" Shireen yang membalas sapaannya.


"Kenapa bukan Pak Alka yang menemaninya?" tanya Siska.


"Ayahnya Varrel sedang sibuk jadi saya yang disuruhnya," jawab Shireen.


Varrel berlari menghampiri teman-temannya.


"Sebenarnya anda itu calon istri Pak Alka atau hanya pengasuh anak-anaknya?" tanya Siska.


Shireen tersenyum lalu menjawab, "Apapun yang orang lain pikirkan tentang saya, Mas Alka tetap memilih saya sebagai calon istrinya yang akan mendampinginya."


Siska yang mendengar jawaban Shireen tampak kesal.


"Oh, ya Bu Guru. Busnya yang mana, ya?" mencair kekesalan Siska.


"Yang warna merah itu bus untuk kelasnya Varrel," jawab Siska.


"Terima kasih, Bu Guru!" ucap Shireen kemudian mencari Varrel dan mengajaknya menaiki bus.


Jam 8 lewat 15 menit, bus rombongan meninggalkan sekolah. Shireen dan Varrel bersebelahan. Bocah laki-laki duduk dekat jendela dan menatap jalanan.


"Tante, pasti akan lebih seru jika kita pergi bersama Ayah, Raline, Sean, Nenek, Bibi Lisa, Paman Aldy dan Bella," celotehnya.


"Kapan-kapan kita akan pergi bersama," ujar Shireen.


"Asyik!" Varrel tersenyum riang.


Shireen membalasnya dengan senyuman juga.


Begitu sampai, Shireen tak melepaskan genggamannya dari tangan Varrel walaupun bocah itu sudah berusia 7 tahun namun masih dalam pengawasannya.


"Tante, aku ingin ke sana!" menunjuk ke arah teman-temannya.


"Jangan jauh-jauh, Varrel!"


"Iya, Tante!" Varrel berlari menghampiri temannya.


Shireen mengikuti langkah kakinya Varrel. Siska selalu di samping wanita itu.


"Kapan kalian akan menikah?"


"Secepatnya."


"Kamu yakin akan menikah dengan Pak Alka?"


Shireen berhenti lalu menatap Siska. "Anda ingin mempengaruhi saya juga agar menolak menikah dengan Mas Alka?"

__ADS_1


Siska tak mampu menjawab.


Karena lawan bicaranya tak bisa menjawab, akhirnya Shireen pergi menyusul Varrel yang rasa ingin tahunya sangat besar dengan aneka binatang di kebun ini.


Pukul 3 sore, Shireen dan Varrel tiba di rumah. Alka juga sudah pulang karena tadi pagi ia yang menjemput kekasihnya.


"Ayah mau mengantarkan Tante Iren pulang dulu, ya!"


Ketiga buah hatinya mengangguk mengiyakan.


Shireen berpamitan kepada Lilis dan juga ketiga buah hati kekasihnya.


Di perjalanan menuju pulang, Alka mengajak Shireen singgah ke sebuah warung bakso.


Keduanya duduk saling berhadapan dengan 2 mangkok bakso di atas meja.


"Sepertinya Bu Siska menyukai Mas Alka," ujar Shireen.


Alka melihat wajah kekasihnya lalu tersenyum tipis.


"Mas, aku serius!" memasang wajah manyun.


"Iya, aku tahu kamu serius." Alka tersenyum sangat manis.


"Berarti Mas Alka tahu jika Bu Siska suka?"


"Aku tahu juga dari kamu," jawab Alka.


"Selama di sana selalu menanyakan aku kenapa memilih kamu dan lain-lain buat aku kesal saja!" keluhnya.


"Sekarang kamu masih kesal?"


Shireen menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu jangan kesal tetap tersenyum," pinta Alka.


Shireen mengangguk.


"Besok malam Sabtu, kamu tidak ke mana-mana 'kan?"


"Tidak, Mas."


"Besok kita ke pasar malam dengan anak-anak, kamu mau?"


"Mau, Mas." Shireen begitu semangat.


"Tapi, bersama Rani."


Mimik wajah Shireen berubah.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan merubah hatiku," ujar Alka.


"Bagaimana dengan anak-anak, Mas? Aku takut mereka akan menjauhi aku dan melarangku mendekati kamu juga," ucapnya sendu.


"Tidak akan, Shireen."


Shireen menundukkan wajahnya.


Shireen memaksakan tersenyum.


"Kamu sudah selesai makannya, hari juga sudah sore. Aku takut kalau mama kamu mencecar pertanyaan padaku," ujar Alka.


"Sudah, Mas."


"Ayo kita pulang!" ajaknya.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Shireen.


Begitu sampai Alka sudah di sambut wajah ketus calon mama mertuanya.


"Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Ratih.


"Tadi singgah makan bakso, Ma."


"Ya sudah, kamu masuk sana," perintahnya pada putrinya. Lalu Ratih menoleh ke arah Alka, "Kamu mau apa lagi di sini? Pulang sana!"


"Iya, Tante." Alka menyalim tangan Ratih. "Saya pamit pulang, Tante!" izinnya.


"Ya," ucapnya ketus.


...----------------...


Keesokan malamnya, Rani datang menjemput anak-anaknya menggunakan mobil. Ia tampak antusias bertemu dengan ketiga buah hatinya.


Mereka berenam berangkat ke pasar malam menaiki mobil, Alka mengambil alih menyetir dan Rani duduk di samping mantan suaminya sembari memangku Sean.


Balita itu terus merengek meminta Shireen yang duduk di kursi penumpang untuk memangkunya.


Rani terpaksa menyerahkan putra bungsunya itu kepada calon ibu sambung anak-anaknya.


"Kamu mau duduk bersama Tante?" Shireen menatap wajah Sean.


Balita itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu tetap bersama Tante," Shireen mendekapnya penuh cinta.


Diperjalanan, Rani berkata, "Andai kita seperti ini dulu, pasti bahagia 'ya, Mas." Melirik mantan suaminya.


Alka tak menjawab dan wajahnya tampak datar


"Maksudnya dia apa coba bicara seperti itu?" batin Shireen kesal.


"Mas, aku ingin membawa anak-anak jalan-jalan ke Bali. Apa kamu mengizinkan?"


"Tidak," jawab Alka.


"Kamu boleh ikut," ucap Rani.


"Tidak, simpan saja uangmu itu!" ujar Alka tanpa menatap.


Varrel dan Raline yang duduk di kursi penumpang bersama Shireen tak terlalu antusias ketika mendengar ibunya ingin mengajak mereka ke Pulau Dewata.

__ADS_1


Rani menoleh ke belakang melihat kedua buah hatinya, "Kalian mau pergi bersama Ibu ke Bali?"


"Tidak!" jawab Varrel.


"Kenapa?"


"Kami mau pergi jika dengan Tante Iren!" Raline turut ikut menjawab.


"Tiketnya cukup untuk kita saja, sayang," ujar Rani.


"Kalau begitu, kami tidak mau!" sahut Varrel.


Rani begitu kecewa mendengar penolakan anak-anaknya.


Begitu sampai di pasar malam, Raline dan Varrel menikmati wahana permainan sementara Sean digendong Alka sembari memperhatikan kedua kakaknya bermain.


Rani menarik lengan Shireen sedikit menjauh dari Alka.


Shireen menurunkan tangan Rani dari lengannya.


"Pasti kamu yang sudah mempengaruhi anak-anakku!" tuding Rani.


Shireen tersenyum. "Aku sangat hebat, bukan?"


"Aku akan memberitahu Mas Alka jika kamu tidak tulus menyayangi anak-anak kami," ancamnya.


"Silahkan, tulus atau tidak bukan untuk diucapkan cukup dirasakan," Shireen berkata santai.


Obrolan keduanya berhenti kala Raline berlari menghampiri mereka dan memeluk Shireen.


Rani tak suka putrinya sangat begitu akrab dengan kekasihnya Alka.


"Aku mau makan, Ayah!" ucap Raline.


Alka mengangguk.


"Ayo kita cari makan!" Rani mengulurkan tangannya pada Raline tapi gadis kecil itu ogah menyambutnya.


"Pegang tangan ibu kamu, Raline," titah Shireen dengan lembut.


Raline menyambut uluran tangan Rani dengan wajah takut.


Rani tersenyum begitu hangat.


Mereka menikmati makanan di restoran cepat saji depan pasar malam.


Shireen dengan telaten menyuir ayam untuk Raline dan Sean.


Alka menyuapi Sean dengan nasi ditaburi ayam suwir.


Shireen juga menikmati makanannya sembari memperhatikan Varrel dan Raline makan.


Rani melihat Shireen begitu sangat perhatian kepada anak-anaknya.


Selesai Sean makan Rani mengambil alih menggendongnya.


Namun, Sean ketakutan dan melihat ke arah Shireen.


Alka akhirnya membujuk Sean agar mau digendong ibu kandungnya.


"Ini ibu kamu, Sean. Jangan takut, ya!" Shireen melirik wanita yang ada dihadapannya.


"Ibu sayang kamu, Sean!" mencium pipi balita itu.


Sean akhirnya menurut dan diam.


Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam, Rani menawarkan agar Shireen diantar pulang terlebih dahulu. Namun, Alka menolaknya.


"Mas, ini juga sudah malam. Biarkan kita mengantarkan Shireen pulang," Rani memaksa.


"Biar Shireen aku yang mengantarkannya pulang, anak-anak akan ku titipkan dengan mama. Aku sudah mengirimkan pesan kepada Aldy agar mengantarnya ke rumah," ujar Alka.


Rencana Rani gagal lagi, padahal ia ingin berduaan dengan Alka dan anak-anaknya tanpa Shireen.


Begitu tiba di rumah, Rani tanpa keluar mobil bergegas melajukan kendaraannya.


Lilis sudah menunggu di rumah Alka tampak juga Aldy yang sedang duduk di atas motornya.


"Tidak lama menunggu, kan?" tanya Alka.


"Baru lima menit, Kak." Jawab Aldy.


"Ini untuk kamu dan Lisa!" menyerahkan sekotak martabak manis.


"Terima kasih, Kak!" Aldy meraihnya dengan sumringah.


"Ya."


Aldy pun pamit pulang.


Alka juga membawakan martabak telur kesukaan Lilis.


"Ma, aku mau mengantarkan Shireen pulang," ujar Alka.


"Ya, pergilah. Kalian hati-hati," ucap Lilis.


"Ya, Bibi." Shireen menyalim tangan wanita paruh baya itu.


Lilis tersenyum.


Alka dan Shireen pun berlalu.


Di perjalanan menuju kediaman kekasihnya, Alka singgah ke pedagang penjual kerak telur karena papanya Shireen suka dengan makanan itu


Sambil menunggu Shireen dan Alka saling mengobrol. "Kenapa Mas tidak menerima ajakan Kak Rani jalan-jalan ke Bali?"


"Apa kamu menerima aku dan dia berduaan di sana meskipun ada anak-anak?"


Shireen menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak memberi kesempatan lagi kepada Rani untuk mendekat, kamu jangan khawatir!" ucap Alka lembut.

__ADS_1


"Ya, Mas. Aku percaya," Shireen tersenyum tipis.


__ADS_2