
Alka, Mama Lilis, Lisa dan suaminya sedang mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa saat acara lamaran esok hari di ruang tamu.
Raline, Sean dan Varrel sibuk membuat Bella tertawa riang.
Kegiatan keluarga itu dikejutkan dengan kedatangan 2 orang pria tak dikenal yang memakai seragam salah satu merek sepeda motor ternama.
"Apa benar ini rumah Bapak Alka Adhitya Sudiro?" tanya salah satunya.
"Ya, benar. Saya orangnya," jawab Alka kelihatan bingung.
"Ini motor buat Pak Alka!" ucap karyawan dealer motor yang lainnya.
"Saya tidak ada pesan, Mas. Mungkin salah orang," ujar Alka.
"Mungkin kalian salah orang, coba lihat lagi alamatnya!" timpal Aldy.
Karyawan tersebut menunjukkan alamat yang diberikan kepada Alka dan keluarganya.
Mereka membacanya tampak heran.
"Motor ini siapa yang beri?" tanya Alka.
"Bapak Adi Sudiro," jawab salah satunya.
"Papa!" ucap Alka lirih.
"Katanya ini kado buat Pak Alka," jelas karyawan tersebut.
Alka mengangguk dan tersenyum tipis.
Keduanya menurunkan motor dari atas mobil pick up.
"Silahkan tanda tangan, Pak!"
Alka lalu menandatanganinya.
"Kalau begitu kami permisi, Pak!"
"Terima kasih," ucap Alka.
Ucapan juga dilontarkan Aldy dan Lisa.
Lilis tak terlalu antusias melihat kado yang diberikan mantan suaminya kepada putranya.
Anak-anak Alka keluar dan melihat motor baru terparkir di teras rumahnya.
"Ayah ini punya siapa?" tanya Raline.
"Ini punya ayah kamu," jawab Aldy.
"Ayah beli motor baru?" tanya Raline lagi.
"Tidak, Nak."
"Terus ini dari siapa?" Varrel kini bertanya.
"Kakek," jawab Alka.
"Kakek siapa?" tanya Varrel dan Raline heran.
"Ya, kakek kalian," jawab Alka.
"Memangnya kami punya kakek?" tanya Raline.
"Kami hanya punya Nenek, Opa Andi dan Oma Rita," tutur Varrel.
Alka melihat adiknya meminta bantuan mencari cara agar dapat menjelaskannya.
"Raline, Varrel, motor ini pemberian dari Kakek Sudiro buat ayah kalian," jelas Lisa.
"Kakek Sudiro itu siapa?" Varrel bertanya lagi.
__ADS_1
"Ayah kandung ayah kamu dan Bibi Lisa," jelasnya lagi
"Jadi, kami punya kakek?" tanya Raline polos.
"Iya," jawab Lisa.
"Kapan kami bisa bertemu dengannya?" tanya Raline lagi.
"Kita lihat saja nanti, ya. Sekarang kalian jaga adik Bella," Alka mengalihkan pertanyaan kedua buah hatinya yang tak pernah ada habisnya dan panjang untuk dijelaskan.
Kedua bocah itu mengangguk lalu kembali menghampiri Sean dan Bella.
Alka memandangi motor baru tersebut, ia tak memiliki nomor ponselnya papanya untuk mengucapkan terima kasih.
Lilis mendekati putranya yang masih menatap motor, "Jangan dipandangi saja, jika papa kamu datang nanti tanya alasannya membelikan kamu ini."
"Iya, Ma."
"Ayo masuk kita lanjutkan lagi pekerjaan tadi," ajak Lilis.
Alka mengiyakan.
Sementara itu, Arman menelepon sahabat semasa kuliahnya untuk dapat hadir di acara lamaran putrinya.
"Bisakah kamu hadir di acara putriku?"
"Aku tidak bisa, besok putraku juga akan melamar."
"Apa kamu sudah menemukan putramu?"
"Aku belum melihat wajahnya tapi, undangan lamaran datang ke rumahku. Jadi, aku ingin menebus kesalahanku dahulu dengan menemaninya melamar," jelasnya.
"Baiklah, tidak masalah. Yang penting kamu sudah menemukan mereka," ujar Arman.
"Maafkan aku, ya!"
"Tidak apa-apa, aku berharap kamu datang ke acara pernikahan putriku."
Arman menutup teleponnya.
...----------------...
Hari lamaran pun tiba, Shireen tersenyum kala penata rias menata rambutnya. Ya, hari ini ia akan dilamar seseorang yang dicintainya.
Suara sumbing terdengar di telinganya, beberapa keluarga dan saudara pada protes kepada Arman dan Ratih yang menerima pinangan dari seorang duda beranak tiga.
"Kenapa Mas Arman menerima pria itu untuk jadi calon suami Shireen?" tanya sepupu perempuan Arman.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Shireen akan dijadikan pengasuh saja, dia cantik dan bisa mendapatkan pria yang lebih tampan serta kaya lagi."
"Shireen mencintainya dan yakin dengan pilihannya. Kenapa aku harus melarangnya?"
"Apa kalian tidak kasihan dengannya?"
"Justru kami kasihan jika cinta putri kami tidak terbalas," jelas Arman. "Aku yakin pria pilihan Shireen terbaik," lanjutnya.
Sementara itu, Ratih yang tidak setuju dengan pria pilihan putrinya semakin tambah besar rasa bencinya kala mendengar hasutan orang-orang disekitarnya.
"Kenapa mau sih' Shireen dilamar duda?"
"Pilihan dia," jawab Ratih.
"Aku pikir Shireen bakalan dengan Gani ternyata bukan," ucap yang lainnya.
"Shireen menolaknya," ujar Ratih.
"Padahal Gani tampan, masih muda dan kaya," celetuk yang lainnya.
Ratih yang semakin kepanasan pergi ke kamar putrinya, ia duduk di samping Shireen yang sedang di rias dengan cemberut dan kesal.
__ADS_1
"Kenapa, Ma?"
"Lihatlah, mereka menceritakan kamu. Mama jadi malu," jawab Ratih.
"Kenapa Mama malu?"
"Mereka bertanya kepada Mama kenapa membiarkan kamu dilamar duda."
"Mama diamkan saja, mereka belum tahu kalau calon suamiku itu sangat tampan dan mempesona," Shireen tersenyum memujinya.
"Mama serius Shireen," Ratih tampak kesal.
"Mereka juga sebentar lagi akan datang, Mama jangan buat acaraku batal," ujar Shireen.
Dilain tempat waktu yang sama, Alka sudah bersiap hendak menaiki mobil yang dipinjam adik iparnya dari temannya.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mobil yang akan ditumpangi Alka.
Seorang wanita muda berusia 19 tahun turun menuntun pria paruh baya yang menggunakan tongkat.
"Ayah, kakek itu siapa?" tanya Varrel.
Alka tak menjawabnya.
"Kalian mau berangkat, ya?" tanya Sudiro.
"Siapa dia?" bisik-bisik beberapa tetangga yang turut ikut mewakilkan.
"Papa!" ucap Alka lirih.
Sudiro menghampiri Alka lalu memeluknya erat, tak terasa air mata keduanya menetes.
Raline dan Varrel tampak bingung.
Alka dapat memeluk papanya setelah 16 tahun tak bertemu, ia pernah mencoba mencari 10 tahun yang lalu tapi selalu gagal.
Sudiro dan Lilis berpisah ketika usia Alka 13 tahun. Lima tahun kemudian mereka bertemu di sebuah acara di Mall.
Keduanya sempat saling berpelukan dan makan siang bersama namun ibu tirinya datang. Tak ingin mencari keributan di tempat umum, Alka dan Lilis memilih pergi dan menjauh setelah itu tak pernah ada komunikasi lagi.
Mama Lilis selalu mengatakan jika papanya seorang pengusaha penginapan. Namun, tak pernah memberitahu di mana alamat tempat tinggalnya.
Pernikahan yang kedua ini, Alka memohon kepada Lilis untuk memberitahu papanya dan keinginannya pun terwujud.
"Bukankah acaranya sejam lagi?" tanya Sudiro.
"Iya, Pa." Jawab Alka.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajaknya.
"Iya, ayo!" sahut yang lainnya.
Hampir 20 menit perjalanan mereka tiba dikediaman Shireen. Beberapa orang menyambut kedatangan Alka dan rombongan.
Para ibu-ibu penasaran ingin melihat wajah calon suami dari Shireen.
"Tampan juga, ya!"
"Iya, pintar juga Shireen memilihnya."
"Beruntung sekali Bu Ratih punya menantu setampan artis."
"Ma, lihatlah mereka memuji Mas Alka!" bisik Shireen di telinga Mama Ratih.
Alka duduk berhadapan dengan Shireen yang tersenyum tampak begitu cantik dan anggun dengan balutan kebaya berwarna biru muda.
Alka tampak grogi walaupun bukan yang pertama namun jantungnya berdegup cukup kencang.
Panitia membacakan beberapa rangkaian acara lamaran. Para tamu mendengarnya dengan seksama.
Hampir 90 menit, acara selesai dilaksanakan dan diberi keputusan jika pernikahan akan dilakukan 2 minggu sesuai permintaan kedua calon pengantin.
__ADS_1
Arman yang tak tahu sebelumnya jika Sudiro adalah ayah kandung calon menantunya tampak bahagia karena ini menjadi kejutan bagi dirinya.