
Rani pulang dengan perasaan jengkel karena ia tak dapat mempengaruhi putrinya untuk membenci istri dari mantan suaminya.
Setibanya di rumah kontrakannya malam harinya, Andri sudah menunggu di teras rumah.
"Mau apa lagi kamu ke sini?"
"Aku ingin memastikan, apa benar kamu memiliki hubungan dengan Roy?"
"Ya, tapi sekarang tidak lagi."
"Kenapa? Apa kamu hanya diberi harapan palsu?"
"Cukup, ya. Jangan mencampuri urusanku lagi, kita tidak memiliki hubungan apa-apa!"
"Rani, kamu memang wanita licik dan matre!"
"Aku butuh uang untuk perawatan diri, aku ingin orang lain memandangku!"
"Perbuatan kamu itu salah, Rani!"
"Ya, aku memang salah dari awal. Demi hartamu, aku meninggalkan suami dan anak-anakku!"
"Harusnya kamu belajar dari kesalahan itu!"
"Kamu juga harus belajar, demi aku kamu kehilangan Laras!"
Andri terdiam.
"Sekarang kamu pergi dari sini, aku ingin beristirahat!"
Andri memegang lengan mantan istrinya, "Rani, kembalilah padaku!"
Rani menatap genggaman Andri lalu kemudian ia turunkan.
"Rani, mari kita mulai kehidupan baru!" pinta Andri.
"Jika aku ingin memulai hidup baru yaitu bukan dengan kamu tapi bersama Mas Alka dan anak-anakku!"
"Dia sudah menikah, kamu ingin menjadi duri di pernikahan mereka?"
"Apa bedanya kamu dengan aku? Kita sama-sama merusak rumah tangga orang lain!"
"Justru itu, sekarang aku menyesal. Kita belum memiliki hubungan apa-apa dengan orang lain. Apa salahnya kita mencoba?"
"Aku tidak mau," tolak Rani tegas.
Andri menghela nafas.
Rani memilih masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.
Andri dengan perasaan kecewa meninggalkan kediaman mantan istrinya.
...----------------...
Keesokan paginya, Andri mendatangi kantor milik Roy. Begitu tiba, pria itu menyambutnya dengan pelukan di ruang kerjanya.
Andri mendorong pelan tubuh temannya. "Aku tidak ingin berbasa-basi lagi!"
"Silahkan!" ucap Roy santai.
"Kenapa kau mengkhianati pertemanan kita?" merapatkan giginya.
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari wanita seperti Rani," jawab Roy.
"Kau sudah merusak rumah tanggaku!"
"Jika memang Rani mencintaimu, dia takkan bisa digoda!"
Andri terdiam.
"Wanita seperti itu tak perlu dipakai," ujar Roy.
"Aku sangat mencintai Rani!"
"Ternyata kau sangat bodoh!" Roy tertawa sinis.
Lagi-lagi Andri dibungkam.
"Lebih baik kau pulang saja, lupakan dia!" Roy tersenyum.
Andri tak bisa berkata-kata lagi akhirnya ia pergi dari kantor temannya.
......................
Shireen ditemani suaminya pergi ke sebuah gedung untuk memantau katering miliknya. Ya, karena pembayaran sudah lunas ia dan pelanggan tersebut hanya berkomunikasi lewat pesan singkat saja.
"Mas, nama pengantin wanitanya mirip mantan istri pertamanya suami Rani, ya," ujar Shireen.
"Mungkin hanya mirip saja," ucap Alka melihat papan bunga. "Kenapa pengantin prianya namanya mirip Mas Bimo, ya?
"Mas Bimo siapa, Mas?"
"Mantan suaminya Kak Rina."
__ADS_1
"Daripada penasaran kita lihat saja, yuk!" Shireen menarik tangan suaminya.
Shireen dan Alka melihat dari kejauhan pengantin yang sedang mengucapkan janji pernikahan.
"Mas, pengantin wanitanya itu benar-benar Laras," ucap Shireen.
"Ya, Mas Bimo ternyata orang yang ku maksud," ujar Alka.
"Apa Kak Rina tahu jika mantan suaminya menikah dengan mantan istri dari suami adiknya?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Biarkan sajalah," jawab Alka.
"Ya, Mas."
"Mungkin ini balasan untuk mereka yang membiarkan Rani meminta pisah dariku dulu dan juga balasan buat Andri," batin Alka.
Alka lalu memperhatikan istrinya yang sibuk bolak-balik memantau dan memerintah para karyawannya. "Tapi, aku bersyukur mendapatkan istri seperti dia!"
Alka tersenyum kala istrinya melempar senyuman.
"Mas, tidak ingin makan sesuatu?"
"Tidak," jawabnya.
"Ya sudah, aku lanjut kerja. Jika butuh sesuatu temui aku, ya!" ucap Shireen lembut.
"Ya, istriku!"
Sementara itu sepasang pengantin baru yang sedang duduk di pelaminan memperhatikan Alka dan istrinya.
"Itu Alka, Mas. Mantan adik iparmu!" ucap Laras mengarahkan pandangannya kepada pria berkemeja biru.
"Ya, aku baru tahu jika katering yang kita pesan milik istrinya," ujar Bimo.
"Sungguh bodoh sekali Rani meninggalkan pria seperti dia!"
"Ya, padahal Alka itu suami yang baik dan penyayang dengan keluarganya," tutur Bimo.
"Semoga kamu mampu menjadi suami yang penyayang!" harapan Laras.
"Aku akan berusaha menjadi suami yang baik buatmu!" Bimo tersenyum.
-
Alka dan Shireen pulang lebih awal, karena ada Alshe yang masih bayi belum bisa ditinggal terlalu lama.
Menaiki mobil keduanya menjemput anak-anaknya di rumah Mama Lilis. Begitu mereka tiba, Rani juga berada di sana.
Alka tak menegur mantan istrinya itu dan terlihat cuek.
"Silahkan, Kak!" ujar Shireen.
"Kalian dari mana?" tanya Rani.
"Dari acara pernikahan kebetulan mereka menggunakan jasa katering kami," jelas Shireen.
"Apa kalian tidak diundang Mas Bimo atau Laras ke acara itu?" tanya Alka.
"Maksudnya?" Rani bingung.
"Mas Bimo menikah dengan Laras," jawab Alka.
"Laras mantan istrinya Andri?" tanya Rani.
"Ya," jawab Alka.
"Oh, jadi selama ini mereka berselingkuh," gumamnya.
"Kak Rani mau aku buatkan minuman apa?" tanya Shireen.
"Tidak usah, tadi aku sudah banyak minum."
"Kamu tidak pulang, Andri nanti mencarimu," ucap Alka.
"Aku dan Andri tidak bersama lagi," ungkap Rani.
Shireen yang mendengarnya menjadi gelisah.
"Kenapa kamu harus gagal lagi?"
"Sudah tidak ada kecocokan lagi, Mas."
-
-
Malam harinya menjelang tidur dan anak-anak juga sudah terlelap. Shireen mengajak suaminya berbicara.
"Mas, mantan istrimu sudah berpisah dengan suaminya. Aku takut saja......"
"Kamu takut aku kembali lagi padanya," sambung Alka dan berusaha menebak.
Shireen mengangguk.
__ADS_1
Alka mengenggam tangan istrinya. "Aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita dan ku tak mau ada dua ratu di hatiku. Walaupun awal perpisahan kami, aku menginginkan dia kembali tapi lambat lain semua menghilang sejak ada kamu."
"Mas, tidak memiliki perasaan lagi dengan dia, kan?"
"Tidak, Shireen. Aku hanya mencintaimu dan menua bersama," jawab Alka.
Shireen tersenyum lalu meletakkan kepalanya di dada suaminya.
Alka mengelus rambut istrinya. "Alshe sudah mau jalan dua bulan."
Shireen bangun lalu duduk dan menghadap suaminya. "Ya, dia mau dua bulan. Mas ingin apa?"
"Sepertinya nambah adik buat Alshe terlalu cepat, ya," celetuknya.
"Ya, iyalah. Bayangan melahirkan tanpa suami masih terngiang di sini!" Shireen menunjuk kepala sendiri.
"Astaga, kenapa jadi dibahas?" Alka mencubit pipinya.
"Sakitnya melahirkan lebih sakit dicuekin oleh suami. Rasanya tak bisa dilukiskan," ungkap Shireen.
Alka yang mendengarnya tertawa, "Aku janji kelahiran yang kedua, aku takkan ke mana-mana. Akan menjadi suami siaga dan tanggap untukmu."
"Mas Alka harus janji tidak mudah termakan fitnah," ujar Shireen.
"Aku janji, tidak akan melakukan kesalahan yang sama," ucapnya.
Shireen tersenyum, "Aku akan tunggu janjimu!"
"Kalau begitu mari mulai prosesnya," ajak Alka.
"Mas, aku belum siap hamil anak kedua," ungkap Shireen.
"Aku tidak menuntutmu, aku hanya rindu ingin menyentuhmu," Alka menggoda.
Shireen tersenyum, ia mulai membuka kancing kemeja piyama suaminya.
"Kamu mau apa?"
"Bukankah Mas Alka ingin disentuh?" Shireen mendekatkan wajahnya.
Alka yang mendapatkan kesempatan tak menyia-nyiakannya, ia membenamkan kecupan di bibir istrinya begitu dalam.
Shireen mulai merasakan hangatnya cinta dari tubuh suaminya. Ia pun membalas ciuman yang diberikan Alka.
Dengan cepat, Alka membuka piyama tidur istrinya. Menyusurinya dari mulai leher hingga bagian sensitif.
Shireen mulai merasakan sensasi kenikmatan yang diberikan suaminya hingga puncaknya terdengar suara bayi.
Alka menghela nafas pasrah, ia menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya dengan terlentang.
"Alshe bangun, maaf!" Shireen tersenyum lalu berlari ke tempat tidur khusus bayi.
Alka tertawa kecil. "Aku lupa jika memiliki bayi!"
Shireen tertawa juga, ia lalu mengangkat bayi Alshe lalu menyusuinya.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, Rani dengan sengaja datang ke bengkel Alka. Ia menghampiri ruangan istirahat mantan suaminya.
"Ada apa kamu ke sini?"
Rani duduk dengan sedikit menunduk.
"Rani, aku tidak memiliki waktu dan ku harus menjemput Varrel ke sekolah."
"Tunggu sebentar, Mas. Ada yang ingin aku sampaikan tentang anak-anak."
"Kenapa dengan mereka?"
"Aku ingin dekat dengan mereka, Mas."
"Kamu boleh mengajak jalan-jalan atau menginap mereka semalam di rumahmu."
"Aku tidak bisa begitu, Mas. Aku ingin lebih," ucap Rani.
"Lebih bagaimana?" Alka mengerutkan keningnya.
"Aku ingin kita menjalin hubungan lagi, Mas."
"Maksudnya apa, aku sungguh tidak mengerti," ucap Alka.
"Aku ingin kembali lagi padamu, Mas!"
Alka tampak terkejut.
"Mas, aku menyesal meninggalkan kalian. Aku ingin kita menjalin pernikahan demi anak-anak," Rani memberikan penjelasan.
"Aku tidak bisa menerimamu lagi, Rani!"
"Kenapa Mas?"
"Aku tidak ingin menduakan Shireen."
__ADS_1
Rani yang mendengarnya begitu sangat kecewa.
"Kamu datang ke sini, hanya membuang waktuku untuk mendengarkan permintaan anehmu itu!" Alka meraih kunci motornya dan meninggalkan Rani sendirian di ruangan istirahat.