
Rani tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, ia duduk jauh dari calon suaminya yang siap mengucapkan ikrar janji pernikahan. Tak sampai 20 orang yang menghadiri acara sakral tersebut.
Tak jauh dari belakang tubuh calon mempelai pria, ada Laras yang duduk berusaha tegar menghadapi kenyataan suaminya menikah lagi dengan wanita yang dikenalnya.
Laras sengaja mempertahankan rumah tangganya karena ia begitu mencintai suaminya.
Rani tak bisa menghindari pernikahannya karena ia tidak mungkin kembali lagi dengan Alka. Apalagi keluarga besar mantan suaminya sangat membencinya dan rasa penyesalan akhirnya datang padanya.
Rani merasa telah dibohongi oleh Andri yang akan menceraikan istrinya namun tetap mempertahankannya.
Janji pernikahan pun diucapkan secara lantang, Rina yang duduk di samping Laras dengan sengaja menyenggol bahunya, kemudian ia melemparkan senyum kemenangannya kepada wanita itu
Laras menarik ujung bibirnya, "Saat ini kalian bisa tertawa bahagia, tapi nanti apa yang aku lakukan!"
Selesai mengucapkan janji pernikahan, Andri membawa Rani ke rumah mewah yang ia sewa buat istrinya.
"Kita sudah menikah, kapan kamu menceraikan istrimu?"
"Laras tak mau aku ceraikan," jawab Andri.
"Kamu harus melakukannya, Andri. Kamu sudah berjanji padaku!"
"Iya, aku akan melakukannya!"
Rani memilih masuk ke kamarnya dengan wajah kesal.
-
Laras yang hatinya tak karuan memilih menenangkan hatinya di sebuah kafe tak jauh dari kantor suaminya.
Bimo yang sedang rapat memperhatikan wanita dari kejauhan.
Hingga rapat selesai, Laras belum juga beranjak. Bimo mendekati wanita itu. "Apa aku boleh duduk di sini?"
Laras mendongakkan kepalanya lalu menjawab, "Silahkan!"
"Hari ini pernikahan suamimu dengan adik iparku. Hatimu pasti sedang tidak baik-baik saja," ujar Bimo.
"Semua wanita juga hatinya takkan baik-baik saja jika orang yang dicintainya mengkhianatinya," Laras berkata dengan dingin.
"Bagaimana jika kita kerja sama?" Bimo menawarkan diri.
__ADS_1
"Kerja sama?" Laras mengernyitkan keningnya.
"Kamu ingin membalas rasa sakit hatimu, kan?" tebak Bimo.
"Ya, aku ingin merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!"
"Apa kamu siap jatuh miskin jika jabatan suamimu diturunkan?"
Laras terdiam.
"Kamu hanya mencintai hartanya!" tebak Bimo lagi.
"Wanita itu pun juga sama, melepaskan Alka demi Andri!"
"Ya."
"Katakan kerja samanya apa?"
"Aku sangat membencinya, aku menginginkan jabatannya," jawab Bimo.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Jadilah selingkuhan ku!"
"Aku tidak bercanda Laras, aku mencintaimu sejak kita satu sekolah," ujar Bimo.
Laras terdiam.
"Jika aku berhasil mendapatkan posisi Andri, aku akan menikahimu!"
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Aku akan menjadi dia seperti kamu saat ini!"
"Aku tidak bisa menerima tawaranmu!" Laras menolaknya.
Sementara dilain tempat, kabar pernikahan Rani juga terdengar oleh Alka. Pria itu mendapatkan sebuah kiriman foto dari mantan kakak iparnya Rina.
Melihat foto pernikahan Rani dan Andri membuat hatinya tak karuan. Alka mencoba mengatur nafasnya agar tetap tenang.
Alka menghapus foto tersebut dari ponselnya. Ia lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
__ADS_1
Di tengah aktivitas bekerjanya, Shireen datang membawa kue. Ia menyapa para karyawan bengkel.
"Mas Alka!" sapanya tersenyum manis.
"Shireen, kenapa kemari?"
"Kangen sama Mas Alka!"
Alka mengerutkan dahinya.
"Tak usah terkejut begitu, Mas. Biasa saja!"
"Kamu kalau ke sini hanya untuk mengganggu saya bekerja lebih baik pulang saja!" ucapnya dingin.
"Jangan marah-marah, Mas. Kalau tidak bertemu, nanti Mas Alka pasti mencari saya!"
"Jangan terlalu percaya diri!" ketusnya.
Shireen tertawa kecil, "Mas, saya lagi belajar buat kue. Mas Alka mau coba!" ia membuka wadah makanan.
"Tidak!" tolaknya.
"Mas, harus coba. Jika enak, saya akan buat lagi yang banyak untuk calon suami," ujar Shireen.
Alka terdiam lalu menoleh, menatap wanita yang ada disampingnya.
"Calon suami saya dalam bulan ini akan datang, tapi kami belum pernah bertemu," ungkap Shireen.
"Kamu dijodohkan?"
"Ya, Mas."
"Lalu kamu terima?"
"Jika tak ada pria yang memperjuangkan saya, mau tak mau diterima," jawab Shireen tersenyum tipis.
Alka menggerakkan bibirnya sedikit lalu kembali bekerja memperbaiki motor.
"Nanti kalian datang 'ya di pernikahan saya!"
Alka mengangguk tanpa menatap Shireen.
__ADS_1
"Mas, aku berharap dengan kamu. Tapi, jika kamu tidak menyukaiku, aku tak bisa memaksakan."