Pesona Ayahku

Pesona Ayahku
Bab 69 - Merebut Mantan Suami Kembali


__ADS_3

Rani tak pantang menyerah untuk mendapatkan hati mantan suaminya kembali. Tujuannya sekarang bukan uang atau barang-barang mewah lainnya melainkan ketulusan dan cinta dari seorang pria.


Rani sengaja datang ke rumah Alka sore harinya dengan alasan anak-anaknya. Ia berharap dapat mempengaruhi buah hatinya agar membenci Shireen.


Rani datang membawa berbagai jajanan yang ia beli di minimarket terdekat dari rumah mantan suaminya.


Tak lama Rani datang sang pemilik rumah pun tiba.


Shireen menghampiri suaminya dan mengecup punggung tangan pria yang dicintainya itu.


"Ada tamu, ya?"


"Ya, Mas."


"Siapa?" Alka membuka helmnya.


"Ibunya anak-anak."


"Oh," ucap Alka singkat.


Keduanya masuk bersama ke dalam rumah, Alka tak menegur dan menyapa mantan istrinya. Ia memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bermain bersama putrinya dari pernikahannya dengan Shireen.


Hampir 30 menit Rani menunggu Alka ikut bergabung dengannya di ruang tamu namun tak kunjung datang. Berkali-kali ia melihat kamar yang dahulunya menjadi tempat istirahat dan bercinta dirinya dengan mantan suaminya itu.


"Mas Alka, mana?"


"Di kamar, tadi sih' lagi mandi."


"Oh," ucapnya singkat.


"Kamu tidak repot mengurus empat orang anak?"


Shireen menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu repot dan kesulitan aku bisa membantumu mengurus mereka," ujar Rani.


"Selama ikhlas semuanya akan mudah dan tidak repot, lagian Mas Alka turut membantu mengurus anak-anak," ucap Shireen.


"Tapi, Mas Alka bekerja dan kamu memiliki usaha laundry dan katering."


"Mama Lilis yang membantu kami, sesibuk apapun aku diluar membantu suami mencari nafkah tapi masih ingat keluarga. Aku hanya berharap Mas Alka tidak mengkhianati pernikahan kami."


"Bagaimana jika Mas Alka selingkuh?"


"Aku yakin dan percaya padanya."


"Shireen......" Rani ingin berbicara.


Alka keluar menggendong bayinya, "Sayang, sepertinya Alshe haus."


"Oh, ya Mas." Shireen berdiri dari duduknya dan menghampiri suaminya dan putrinya. Mengambil alih menggendongnya dan membawanya ke kamar, Alka juga menyusul istrinya.


Shireen duduk lalu memangku putrinya dan menyusuinya.


Alka duduk di samping istrinya.


" Mas tidak menemani Kak Rani mengobrol?"


Alka menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin kamu salah paham."


"Mas, aku percaya padamu," ucap Shireen lembut.


Alka tersenyum.


"Sudah sana temani!"


"Tidak mau!" tolaknya.


"Mas takut kalau benih cinta kembali muncul, ya!" tuding Shireen.

__ADS_1


"Ya, apa kamu tidak takut?"


"Takut, sih," jawab Shireen.


"Makanya lebih baik dihindari demi menjaga hati, itu langkah terbaik. Sekuat apapun kita mengatakan tidak akan mengkhianati namun jika kesempatan terbuka lebar pasti kita akan tergoda."


"Uh, suamiku makin sayang!" Shireen mengecup pipi Alka.


"Aku juga!" Alka membalas kecupan istrinya.


Shireen keluar bersama suami dan putrinya, Alka dan menggendong Alshe sengaja sedikit menjauh.


"Aku mau pamit pulang, terima kasih sudah mengizinkan ku menemui anak-anak," ujar Rani.


"Sama-sama," ucap Shireen.


"Mas, lain waktu kita ajak anak-anak jalan-jalan ke luar kota, yuk!" usul Rani.


"Aku tidak bisa ikut," Alka menolak yang tatapannya hanya tertuju pada putrinya kecilnya.


"Kenapa, Mas?"


"Jika ingin mengajak mereka, Mama Lilis dan istriku juga harus ikut," jawab Alka.


"Mas, biarkan anak-anak dekat dengan kedua orang tua kandungnya berikan mereka kesempatan merasakan kebahagiaan itu," Rani berusaha agar Alka bisa menemaninya.


"Kenyataannya sekarang berbeda, Rani. Kita bukan suami istri lagi, aku sudah memiliki kebahagiaan," ujar Alka.


Shireen yang mendengar jawaban suaminya mengulum senyum.


"Ya sudahlah, Mas. Lain waktu kita pergi bersama, Mas Alka boleh bawa Mama Lilis dan Shireen."


"Tentunya," ucap Alka.


"Bagaimana kalau kita menginap di hotel kakek?" usul Varrel.


"Hotel?" tanya Rani.


"Iya, Bu. Kami pernah liburan ke hotel Kakek Sudiro, dia beli mainan kami yang banyak. Ayah juga dapat mobil," ungkap Varrel.


"Sudah, waktu aku dan Shireen menikah dia datang menghadirinya," jelas Alka.


"Kenapa dahulu Mas Alka tak mengundangnya?" tanya Rani.


"Mama tak mengizinkannya," jawab Alka.


"Itu artinya Mas Alka pewaris Sudiro Star Hotel," ucap Rani.


"Bukan!" ujar Alka.


"Bukankah Mas Alka anak kandungnya?"


"Ya, memang," jawab Alka lagi.


"Aku harus merebut kembali Mas Alka!" batinnya.


"Katanya kamu mau pulang, kenapa tidak pergi juga," celetuk Alka.


"Ini aku mau pulang, Mas."


"Sayang, tolong antarkan dia ke depan pagar. Aku mau main dengan Alshe," ujar Alka.


"Ya, Mas," ucap Shireen.


Rani berjalan keluar beriringan dengan Shireen.


Begitu dekat pintu mobil Shireen berkata, "Aku tahu Kak Rani ingin merebut Mas Alka dariku apalagi setelah tahu jika suamiku merupakan salah satu pewaris Sudiro Star Hotel."


Rani tersenyum sinis, "Ternyata tebakanmu tepat sekali!"


"Aku tidak akan tinggal diam, jika Kak Rani berani mengusik rumah tanggaku!"


"Apa kamu lupa jika aku dan Mas Alka memiliki ketiga buah hati kami?"

__ADS_1


"Apa Kak Rani lupa siapa yang lebih dahulu meninggalkan mereka sehingga ada orang lain yang mengobati luka dan menghibur hatinya?"


Rani terdiam.


"Aku beri saran pada Kak Rani, jangan menjadi wanita murahan yang merusak kebahagiaan wanita lain demi sebuah ambisi!" Shireen tersenyum menyindir.


Lagi-lagi Rani dibungkam, dengan cepat ia membuka pintu mobil dan meninggalkan kediaman mantan suaminya.


Shireen tersenyum puas dalam hatinya karena ia dapat membuat mantan istri suaminya tak berkutik.


Rani mengepalkan tangannya, ia berusaha menahan amarahnya.


Mobilnya melaju ke sebuah kafe. Ya, dia ingin memenangkan dirinya.


Rani memesan kopi, tak menunggu lama pada pesanannya datang.


Saat hendak menyesap minumannya, matanya tertuju pada pria yang baru saja masuk ke dalam kafe sedang merangkul pinggang seorang wanita. Hati Rani kembali kesal, ia meletakkan cangkir kopi di atas meja.


Ia pun mendekati pria itu, "Dasar brengseeekk!" Rani memukul Roy dengan tasnya.


"Hei, apa yang kau lakukan pada kekasihku!" bentak teman wanita Roy.


"Berapa kau dibayar untuk tidur dengannya?" tanya Rani.


"Kenapa kau bertanya hal itu?" wanita itu tak senang.


"Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa, lebih baik menjauhlah dariku!"


Rani memukul tubuh Roy kembali dengan tasnya. "Aku benci kamu!" menekankan kata-katanya.


Rani lalu pergi meninggalkan kafe. "Kenapa semua orang hari ini sungguh menyebalkan?" desisnya.


Ia melajukan kendaraannya menuju rumahnya, karena kurang hati-hati ia menyenggol sebuah mobil.


Penumpang dan pengendara mobil keluar melihat kondisi mobilnya.


"Sial!"


Rani keluar dari mobilnya.


"Bu Rani!" sapa seorang wanita.


"Maaf, siapa 'ya?"


"Saya Siska, wali kelas Varrel."


"Oh, jadi kalian saling kenal?" tanya seorang pria.


"Oh, jadi kamu wali kelas Varrel," Rani terlihat ketus.


"Ya, Bu." Siska tersenyum.


"Aku tak mau berlama-lama, berapa biaya perbaikan mobil kalian ini?" tanya Rani.


"Lima juta, Bu!" jawab sang pria sekaligus pemilik mobil.


"Apa! Sebanyak itu, kalian tidak salah?"


"Memang segitu harganya," jawab pria itu yang diketahui merupakan suami dari Siska.


"Aku akan transfer kirimkan rekeningnya!" pintanya.


Siska pun memberikan nomor rekening bank miliknya, Rani lantas mengirimkannya.


"Aku sudah kirim!" menunjuk ponselnya.


"Ya, Bu."


"Kalau begitu, urusan kita selesai!"


"Ya, Bu," sahut suami Siska.


Rani kembali ke mobilnya dan melesat.

__ADS_1


"Sombong sekali wanita itu!"


"Memang, Mas!"


__ADS_2