
Ditengah makan malam Alka bersama anak-anaknya, Raline menanyakan keberadaan Shireen.
"Ayah, Tante Iren kenapa tidak datang ke sini?"
"Apa benar itu Varrel?" tanya Alka.
"Iya, Yah. Dari aku ulang tahun sampai sekarang Tante Shireen tak pernah ke sini lagi," jawabnya.
Alka mengingat jika ulang tahun putranya itu 4 hari yang lalu.
"Apa Ayah memarahi Tante Iren?" tanya Raline.
Alka menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa dia tak mau ke sini lagi?"
"Mungkin dia sibuk," jawab Alka.
"Besok aku dan nenek mau ke rumah Tante Iren," ujar Raline.
"Mau apa ke sana?"
"Aku mau tanya kenapa Tante Iren tak pernah ke sini," jawab Raline.
Alka tersenyum. "Kalau Tante Shireen tak sibuk, dia juga akan kemari menemui anak ayah yang sangat cerewet dan cantik ini!" mencubit lembut pipi putrinya.
"Ayah sakit!" omelnya.
"Oh, maaf!" Alka menunjukkan wajah lucunya.
Raline tertawa melihatnya begitu juga dengan Varrel dan Sean.
Menjelang tidur, Alka menatap ponselnya dan mencari kontak atas nama Shireen namun ia hanya memandanginya tanpa berani menghubunginya.
Alka meletakkan ponselnya di atas nakas tak lama kemudian ia raih lagi dan kembali diletakkannya. Hal itu ia lakukan berulang kali.
"Tidak, aku tak boleh meneleponnya. Nanti jadi salah paham lagi. Ingat Alka! Shireen akan menikah, jangan rusak kebahagiaannya bukankah kamu bilang tidak menyukainya." Berbicara lirih pada diri sendiri.
Alka berusaha memejamkan matanya, namun tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikiran tentang Shireen terus menari-nari di kepalanya.
Alka terbangun dan duduk, "Kenapa aku terus memikirkannya?"
Suara ponsel berdering membuyarkan lamunannya. Alka bergegas mengangkatnya dan menjawabnya sebuah nomor tak dikenal. "Halo!"
"Halo, Mas Alka!"
"Rani?"
"Mas, masih kenal suaraku?" nada bicara Rani tampak senang ketika mantan suaminya mengenali suaranya.
"Ada apa?"
"Apa anak-anak sudah tidur?"
"Kamu menelepon jam sepuluh, tentunya mereka sudah tidur."
"Aku tidak melihat jam, Mas."
"Kenapa kamu menelepon? Bagaimana jika suami kamu tahu?"
"Andri tidak di rumah, dia sedang bersama istri pertamanya."
"Oh."
"Mas, aku ingin kita bertemu sekaligus membawa anak-anak," ujar Rani.
"Untuk apa lagi Rani? Bukankah semua sudah berakhir?"
"Mas, aku sangat merindukan anak-anak."
"Kamu bisa mengunjungi mereka ketika aku tidak di rumah dan ingat jangan membawa mereka keluar atau kabur. Kamu paham?"
"Mas, aku juga ingin bertemu dengan kamu."
"Ingat posisi kamu sekarang, Rani!" berkata dengan tegas.
Rani terdiam.
Alka lantas menutup teleponnya.
...----------------...
Pagi ini, Alka sengaja datang ke tempat katering dan laundry Shireen. Ya, biasanya ia membawa pakaian kotor 2-3 hari sekali. Dan pakaian Sean terkadang di cuci Lilis.
Alka lantas bertanya kepada salah satu karyawan katering, "Apa saya bisa bertemu dengan Bu Shireen?"
"Bu Shireen dua hari ini tidak datang kemari, Pak."
"Memangnya kemana dia?"
"Saya juga kurang tahu, Pak."
__ADS_1
Alka tak bertanya lagi, ia lalu berlalu.
Karyawan tersebut lantas meraih ponselnya dan menelepon seseorang. "Dia menanyakan Bu Shireen."
"Jika dia bertanya lagi katakan saja saya tidak pernah berada di sini lagi!"
"Siap, Bu!" karyawan tersebut menutup teleponnya.
Di bengkel, Alka selalu memikirkan keberadaan Shireen. "Ayo Alka lupakan dia, Shireen calon istri orang lain. Ingat kamu bukan siapa-siapanya!"
...----------------...
Keesokan paginya, Alka melakukan hal yang sama pergi ke tempat usaha Shireen setelah mengantarkan putranya ke sekolah sesampainya di sana para karyawan mengatakan jika wanita itu tak ada.
Tanpa diketahui Alka, Shireen mendatangi kediaman pria itu. Ya, dia sangat merindukan anak-anak yang selalu menjadi semangat di hari-harinya beberapa bulan belakangan ini.
Shireen membawa buah jeruk dan apel yang menjadi kesukaan putra putri Alka.
"Pagi!" sapanya.
"Tante!" Raline berteriak menghampirinya dengan berlari dan memeluknya.
Sean menepuk tangannya karena melihat kakaknya kegirangan.
Lilis tersenyum melihat kedatangan Shireen.
"Tante, ke mana saja?"
"Tante sibuk, jadi baru sempat ke sini," jelasnya.
"Oh."
"Shireen, kata Alka kamu tak pernah ada di tempat katering. Memangnya kamu ke mana?" tanya Lilis.
"Saya masih di sini saja, Bi."
"Kamu ingin menghindari Alka?" tebak Lilis.
Shireen sejenak lalu menggerakkan sedikit dagunya.
"Raline temani Sean main, ya. Nenek mau berbicara dengan Tante Shireen," perintah Lilis.
"Iya, Nek." Raline menghampiri adiknya.
Shireen membawa buah tangannya dan meletakkannya di atas meja makan.
"Kamu marah pada Alka?" tanya Lilis.
"Apa benar kamu akan menikah?"
"Tidak, Bi. Saya dan calon baru tahap pengenalan belum ada lamaran," jelas Shireen.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan dengan Alka?"
Shireen menatap wajah Lilis lalu menggelengkan kepalanya penuh ragu.
"Bibi tahu kamu menyukai Alka," tebaknya.
"Saya tidak mau berharap lebih, Bi. Mas Alka belum bisa membuka pintu hatinya," ungkap Shireen.
"Bibi bisa bantu kamu untuk mendapatkan hati Alka," ujar Lilis.
"Tidak, Bi. Saya tak mau Mas Alka terpaksa," ucap Shireen.
Lilis tak bisa berkata-kata lagi.
-
Sore harinya, Alka pulang bekerja. Ia melihat Raline dan Varrel menikmati buah jeruk. "Siapa yang membelikan kalian ini?" tanyanya.
"Tante Iren."
"Kapan Tante Shireen ke sini?"
"Tadi pagi."
Alka menarik sudut bibirnya, ia lalu berjalan menghampiri Mama Lilis. "Ma, apa benar Shireen ke sini?"
"Ya."
"Tapi kata karyawannya beberapa hari ini ia tak pernah datang," ungkap Alka.
"Dia menyuruh karyawannya untuk berbohong," ujar Lilis.
"Supaya apa dia menyuruh karyawannya berbohong?"
"Untuk menghindari kamu!" jawab Lilis.
"Memang apa salahku?" tanya Alka.
Lilis mengangkat bahunya.
__ADS_1
Alka lalu berjalan ke kamarnya membersihkan dirinya, selesai mandi ia menyugar rambutnya dengan handuk kecil.
Jawaban Mama Lilis yang mengatakan Shireen menghindarinya terngiang di pikirannya. Alka duduk di sisi ranjang, "Apa dia sedang menjaga perasaan calon suaminya?"
-
Menjelang tidur, Alka akhirnya menghubungi Shireen. Tak menunggu lama terdengar suara dari kejauhan.
"Halo!" sapa Alka ragu-ragu.
"Ya, Mas. Ada apa?"
"Shireen kita perlu bicara," jawab Alka.
"Ya, sudah. Silahkan, Mas."
"Saya tidak mau berbicara di telepon," ujar Alka.
"Saya tidak bisa, jika Mas Alka ingin berbicara katakan saja sekarang," ucap Shireen.
"Kenapa kamu tidak ingin bertemu, Shireen?"
"Tidak apa-apa, Mas."
"Pasti kamu memiliki alasannya!"
"Ya, saya yang memiliki alasan tapi tidak akan saya katakan."
"Shireen, apa kamu masih marah?"
"Tidak, Mas."
"Shireen, saya minta maaf."
"Mas, cukup 'ya. Saya mau istirahat, selamat malam!" Shireen menutup teleponnya.
...----------------...
Alka yang tak mendapatkan alasan pasti kenapa Shireen menjauhinya berusaha mengejar penjelasan wanita itu.
Alka mendatangi katering, "Saya tidak memesan lauk hari ini, tapi ingin bertemu dengan Bu Shireen. Apakah saya bisa bertemu dengannya?"
"Bu Shireen belum datang, Pak. Kemungkinan sejam lagi ke sini," jawabnya.
"Baiklah, saya akan menunggunya."
Alka duduk di kursi tamu.
Sejam berlalu, Shireen juga belum datang. Alka tetap masih menunggu.
Akhirnya, salah satu karyawan menghampirinya. "Maaf, Pak Alka. Bu Shireen hari ini tak datang, dia baru saja memberi kabar," ucapnya berbohong. Padahal sejam yang lalu karyawan tersebut telah menghubungi Shireen.
"Baiklah, terima kasih." Alka pun berlalu.
Alka akhirnya memilih mendatangi kediaman Shireen yang tak jauh dari tempat usahanya.
Dengan bertanya-tanya kepada warga sekitar jalan, akhirnya ia menemukan rumah Shireen yang sempat wanita itu beritahu beberapa bulan lalu.
Alka menatap rumah berlantai dua dan terparkir 2 mobil dan 2 motor dihalaman. Ia menekan bel yang berada di dekat pagar.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya muncul dan menghampirinya, "Cari siapa, Mas?"
"Bu Shireen."
"Mba Shireen tidak mau bertemu dengan siapapun hari ini, Mas."
"Bibi, saya mohon katakan kalau saya Alka ingin bertemu dengannya."
"Sebentar, ya." Wanita itu pun masuk tak lama kemudian keluar. "Maaf, Mas. Anda disuruh pulang saja!" ucapnya.
Alka tak mau berdebat dan memaksa. "Baiklah, Bi. Terima kasih!" berusaha tersenyum.
Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah, "Mba, sepertinya Mas-nya ingin sekali bertemu."
"Saya lagi malas saja bertemu dengannya," ujar Shireen.
"Mba, diluar sepertinya mau hujan. Semoga saja Mas-nya tidak kehujanan."
Shireen lantas mengintip dari balik gorden, apakah Alka sudah pergi atau belum.
Shireen melihat jika Alka sedang berusaha menghidupkan mesin motornya.
Angin bertiup cukup kencang, Alka berusaha menutup matanya agar tidak terkena debu yang berterbangan.
Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan deras. Alka masih belum beranjak pergi karena motornya mogok.
Shireen yang menatap dari jendela, hatinya tak tega melihatnya. Ia mengambil payung dan akhirnya keluar menghampiri Alka. "Mas!"
Alka menoleh kemudian tersenyum.
"Ayo masuk!" ajak Shireen.
__ADS_1